Page 3 of 4 FirstFirst 1234 LastLast
Results 41 to 60 of 61

Thread: Mata pencaharian di kampung

  1. #41
    Chief Barista cha_n's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    11,544
    aduh tersindir saya lulusan ipb
    cuma masalahnya jurusan saya ilmu komputer, kurang cocok juga ngendon di desa.
    mungkin yang lulusan pertanian perkebunan peternakan perikanan dan kedokteran hewan lebih cocok (ngelirik suami yang anak pertanian)

    setuju banget mbok, emang harusnya gitu sih. pendidikan itu materinya lokal. setahuku sih emang sudah begitu. misal di daerah pesisir ada muatan lokal soal perikanan.
    cuma kurang tahu juga efektif ga nya.

    bisa juga dengan cara memberikan jaminan distribusi hasil pengolahan seperti yang dilakukan fadel muhammad dulu di gorontalo.

    masyarakat mengelola kebun dan buat olahan kelapa. hasilnya dijamin dibeli dengan harga sekian. walau musim panen harga ga akan jatuh. fadel juga punya jaringan distribusi hasilnya hingga ke mancanegara. jadi masyarakat benar2 merasakan hasil.

    industri paska panen di indonesia tuh yang belum digarap dengan baik.
    misal di blitar, pas panen rambutan, kebuang2 aja rambutannya ga diolah. kalau mau bisa dengan buat pengalengan buah lalu cari jaringan distribusi ke pasar2 di kota
    ...bersama kesusahan ada kemudahan...

    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” ― -Mohammad Hatta
    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama akses internet, karena dengan internet aku bebas.” ― -cha_n

    My Little Journey to India

  2. #42
    pelanggan setia mbok jamu's Avatar
    Join Date
    Oct 2012
    Posts
    3,417
    Hmm.. Di pasar sini buah-buahan kaleng, tepung, kelapa kering, gula aren, beras, semua produksi Thailand. Santan, bumbu masak, dari Malaysia. Rempah-rempah dari Srilanka. Dari Indonesia cuma Indomie. Too bad so sad.

    Untuk sampai ke manca negara butuh orang-orang seperti Fadel ya, yang punya modal dan network yang kuat.

  3. #43
    pelanggan tetap Alip's Avatar
    Join Date
    May 2011
    Posts
    1,635
    Quote Originally Posted by cha_n View Post
    aduh tersindir saya lulusan ipb
    cuma masalahnya jurusan saya ilmu komputer, kurang cocok juga ngendon di desa.
    Ooooo.... Di IPB ada ilkom ya?
    "Mille millions de mille milliards de mille sabords!"

  4. #44
    Barista BundaNa's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Location
    Na...Na...Na
    Posts
    12,679
    Quote Originally Posted by mbok jamu View Post
    Hmm.. Di pasar sini buah-buahan kaleng, tepung, kelapa kering, gula aren, beras, semua produksi Thailand. Santan, bumbu masak, dari Malaysia. Rempah-rempah dari Srilanka. Dari Indonesia cuma Indomie. Too bad so sad.

    Untuk sampai ke manca negara butuh orang-orang seperti Fadel ya, yang punya modal dan network yang kuat.
    mbok mbok...lah di indonesia juga beras thailad masuk sinih...ironis ya, katanya negeri agraris, tapi hasil pertanian yang diawetkan justru import lho...contohnya garam....bentar lagi mau impor bawang sama cabe lho

  5. #45
    Quote Originally Posted by mbok jamu View Post
    Ingin ke Indonesia dan tinggal di kampung. Buka sekolah lengkap dengan workshopnya dengan modal tabungan dan dana pensiun. Anak-anak yang ndak mampu bisa sekolah gratis. Tapi apakah bisa bertahan? Sampai kapan? Bagaimana ketika anak-anak itu lulus sekolah? Kerja di mana mereka? Kalau semua ke kota maka kampung akan kembali sepi.

    Apakah bisa menetap dan bekerja membangun kampung? Di kampung orang bekerja apa saja? Ada yang bisa cerita-cerita?
    Tinggal di kampung ?
    Asyik banget tuh. Kampung itu maknanya apa ?
    Kalau kampung itu adalah sebuah desa, OK banget tuh.

    Bisa bertani tebu.
    bertani cengkeh
    bertani padi
    beternak sapi, kambing
    Yang penting, kalau tinggal di desa. Harus dapat ngelola lahan yang luas. Semakin luas, semakin baik.
    Walau hanya SEWA.
    Gambang suling, ngumandhang swarane
    tulat tulit, kepenak unine
    uuuunine.. mung..nreyuhake ba-
    reng lan kentrung ke-
    tipung suling, sigrak kendhangane

  6. #46
    pelanggan setia mbok jamu's Avatar
    Join Date
    Oct 2012
    Posts
    3,417
    Alfa? Is that you?? Where have you been, man?

  7. #47
    Chief Barista cha_n's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    11,544
    Quote Originally Posted by Alip View Post
    Ooooo.... Di IPB ada ilkom ya?

    *nangis guling guling*
    ...bersama kesusahan ada kemudahan...

    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” ― -Mohammad Hatta
    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama akses internet, karena dengan internet aku bebas.” ― -cha_n

    My Little Journey to India

  8. #48
    Chief Barista cha_n's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    11,544
    Quote Originally Posted by mbok jamu View Post
    Alfa? Is that you?? Where have you been, man?
    nah ini success story sosok yang tadinya tinggal di luar negeri, bertahun2 sekolah dan kerja di sana lalu kembali ke tanah air, mengajar di sebuah kota dan membangun desa.

    salut untuk om alfa.
    ...bersama kesusahan ada kemudahan...

    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” ― -Mohammad Hatta
    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama akses internet, karena dengan internet aku bebas.” ― -cha_n

    My Little Journey to India

  9. #49
    pelanggan tetap jojox's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Location
    Jekardah
    Posts
    1,169
    Mulai dari funding/donor mbok,
    kok ini sepertinya model2 legalitasnya kayak NGO/CSO alias LSM pendidikan/pemberdayaan masyarakat ya?
    Visinya kearah development sector gitu, atau? kalo bankrut, aset disita negara lho. he he he he. Mending CV sekalian, tpi gak terlalu profitable.

    *First and foremost, Semuanya bisa jalan / terealisasikan kalo ada duit cash keras.
    *Business plan/perencanaan matang, termasuk sumberdaya yg ada; lahan, sdm, sarpras, etc
    *Networking minimal dg stakeholder lokal/regional/international kuat: Government (pemda), Swasta (program CSR), Edu (akademis-profesor-anak KKN), Konsultan profesional (kayak kontraktor2 Ausaid, USAid, lembaga kursus etc), Perbankan (biasanya buat due dilligence, audit keuangan etc).

    *pssstt...cek proyek2 AUSaid, lgi gede tuh fundingnya buat poverty reduction (TNP2K), program kemiskinan selalu terhubung erat ma edukasi.
    Any views or opinions presented above are solely those of the author. Thus the author may disclaim accuracy on warranties and liabilities they may cause including loss of intellectual properties, economical benefit, and coordinated mental responses.

  10. #50
    ★★★★★ itsreza's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    10,216
    buat program pengembangan pedesaan, duit cash keras ga jamin bakal jalan lancar
    dari yang ada, sebagian besar program berjalan selama proyek aja, setelah selesai,
    warga pun balik ke kehidupan semula.

  11. #51
    Quote Originally Posted by mbok jamu View Post
    Alfa? Is that you?? Where have you been, man?
    I'm in Malang
    Gambang suling, ngumandhang swarane
    tulat tulit, kepenak unine
    uuuunine.. mung..nreyuhake ba-
    reng lan kentrung ke-
    tipung suling, sigrak kendhangane

  12. #52
    pelanggan setia mbok jamu's Avatar
    Join Date
    Oct 2012
    Posts
    3,417
    Ini Jenis Usaha yang Cocok di Masa Tua

    Sudah atau segera pensiun tapi masih ingin menghasilkan uang? Dengan sedikit kreatifitas, Anda bisa kembali membuat ‘mesin uang’ yang produktif.

    Banyaknya pilihan bisnis terkadang sering kali membuat kita bimbang dalam menentukan mana yang cocok. Karakteristik pilihan usaha yang cocok bagi para pensiunan adalah sektor usaha yang tidak berisiko tinggi agar masa tua pensiunan tidak berfikir terlalu keras.

    Kemudian mudah dioperasikan mengingat kesehatan dan stamina pensiunan sudah tidak seaktif dulu saat masih menjadi karyawan.Yang paling penting adalah sektor usaha yang sesuai dengan hobi ataupun keahlian Anda akan menjadi nilai tambah, bisnis tersebut bisa membuat Anda lebih enjoy dalam menjalankannya.

    Berikut ini 4 bisnis yang mungkin bisa Anda coba saat masuk masa pensiun:

    1. Bisnis di Sektor Pertanian, Perkebunan dan Peternakan
    Sektor ini merupakan pilihan bisnis yang sangat tepat bagi para pensiunan. Sektor pertanian, perkebunan dan peternakan biasanya disenangi sebagian besar orang tua. Terlebih kebutuhan akan hasil pertanian dan peternakan sangatlah besar, sementara produsen yang ada belum menyerapnya secara maksimal.Contoh: Bisnis peternakan ayam kampung, beternak lele atau ayam kate, membudidayakan ikan hias, bisnis makanan organik, bisnis tanaman hias.

    2. Bisnis di Sektor Properti
    Pilihan lain yang cocok bagi pensiunan adalah bidang properti. Bisnis ini merupakan salah satu dari kebutuhan yang diperlukan oleh banyak orang dan enaknya lagi, Anda dapat menjalankannya dengan santai dari rumah saja. Investasi properti tidak ada ruginya, karena nilai jualnya selalu meningkat setiap tahun. Atau berbisnis kost-kostan dirumah atau lahan kosong yang Anda miliki juga sangat berpeluang, apalagi lokasinya di daerah kampus dan perkantoran pasti akan banyak yang membutuhkannya.Contoh: Bisnis Kontrakan/Guest house, Bisnis Kost-kostan, Lahan yang Anda punya bisa dijadikan tempat penitipan kendaraan bermotor.

    3. Bisnis di Sektor Sarana Transportasi
    Sarana transportasi sudah menjadi kebutuhan penting bagi masyarakat dewasa ini. Membuka bisnis sarana transportasi juga merupakan pilihan bisnis yang menjanjikan bagi pensiunan. Sama seperti bisnis properti, bisnis ini pun dapat Anda jalankan dari rumah saja.Contoh: Bisnis jasa antar jemput anak sekolah, bisnis penyewaan mobil, motor, sepeda maupun bus.

    4. Bisnis yang Sesuai dengan Hobi Anda
    Tentunya bisnis ini akan Anda jalankan dengan hati senang karena bisnis jenis ini sesuai dengan hobi Anda. Misalnya Anda senang menulis, Anda bisa mencoba menulis buku atau jika Anda hobi membaca dan mempunyai koleksi buku yang lumayan banyak, Anda bisa memulai bisnis membuka taman bacaan.
    Last edited by mbok jamu; 03-11-2014 at 12:31 PM.
    "The two most important days in your life are the day you are born and the day you find out why." - Mark Twain

  13. #53
    pelanggan setia porcupine's Avatar
    Join Date
    Jun 2011
    Location
    Bintan
    Posts
    4,132
    Saya pilih yang Nomor 4 Mbo

    Salon dan Spa nya jalan...walo keuntungan nya ngga seberapa, yg penting bisa spa gratis kalo lagi pengen

    yang lagi on progress itu Day care and Kids Spa. Berawal dari susah nya nyari Nanny yang bagus n sebentar lagi bakal punya dua momongan. Ahkirnya gw ama istri memutuskan untuk bikin Day Care, jadi sekalian bisa nitipin anak sendiri disana nantinya dan kalo jalan nya bagus, istri bisa resign dari kerjaan nya

    Mudah mudahan Desember ini udah buka.

    Mohon doa restunya..
    ~Radio Kopimaya~

  14. #54
    pelanggan setia mbok jamu's Avatar
    Join Date
    Oct 2012
    Posts
    3,417
    Quote Originally Posted by porcupine View Post
    Saya pilih yang Nomor 4 Mbo

    Salon dan Spa nya jalan...walo keuntungan nya ngga seberapa, yg penting bisa spa gratis kalo lagi pengen

    yang lagi on progress itu Day care and Kids Spa. Berawal dari susah nya nyari Nanny yang bagus n sebentar lagi bakal punya dua momongan. Ahkirnya gw ama istri memutuskan untuk bikin Day Care, jadi sekalian bisa nitipin anak sendiri disana nantinya dan kalo jalan nya bagus, istri bisa resign dari kerjaan nya

    Mudah mudahan Desember ini udah buka.

    Mohon doa restunya..
    Mbok doakan semoga lancar dan sukses!

    Di sini punya tetangga yang buka day care juga. Apakah di rumah sendiri atau di tempat lain? Mengurus ijin-nya mudah atau ribet?

    Kalau di kampung sini perlu ada sertifikat untuk bekerja sebagai childcare. Bagaimana dengan di Indonesia?
    "The two most important days in your life are the day you are born and the day you find out why." - Mark Twain

  15. #55
    pelanggan setia porcupine's Avatar
    Join Date
    Jun 2011
    Location
    Bintan
    Posts
    4,132
    Quote Originally Posted by mbok jamu View Post
    Mbok doakan semoga lancar dan sukses!

    Di sini punya tetangga yang buka day care juga. Apakah di rumah sendiri atau di tempat lain? Mengurus ijin-nya mudah atau ribet?

    Kalau di kampung sini perlu ada sertifikat untuk bekerja sebagai childcare. Bagaimana dengan di Indonesia?
    Sewa tempat Mbo, baru DP buat 2 tahun. kalo dari tanya tanya, izin yang diperlukan cuma Izin keramaian ama NPWP doang.
    Kebetulan istri Dosen Akademi Perawat, jadi sertifikatnya nya masih bisa dipake. Doctor visit juga gampang lah, minta bantuan ama rekan rekan istri aja

    yang susah itu nyari pegawai nya lagi sebulan buka belum dapet pegawe

    Plan B nya sih mau minta mahasiswa Akper yang mau nyambi
    ~Radio Kopimaya~

  16. #56
    pelanggan setia
    Join Date
    May 2011
    Posts
    4,926
    Pensiunan enak kalo punya kos-kosan. Nggak ribet ngelolanya.

    Kalo orang tua saya keanya pilih opsi nomor satu. Maklum, asalnya dari kampung dan sepertinya mereka rindu suasana kampung, jadi ada rencana beli tanah di luar kota buat ditanam-tanam segala rupa.
    There is no comfort under the grow zone, and there is no grow under the comfort zone.

    Everyone wants happiness, no one wants pain.

    But you can't make a rainbow without a little rain.

  17. #57
    pelanggan setia Porcelain Doll's Avatar
    Join Date
    Mar 2011
    Posts
    6,347
    ortu g juga niatnya bikin kos2an
    emang lebih enak sih kaya gini, apalagi kalo tempatnya lumayan strategis
    Popo Nest

  18. #58
    pelanggan setia neofio's Avatar
    Join Date
    Dec 2013
    Posts
    2,688
    tapi, pemuda kampung/desa pergi ke kota buat kerja

    ada juga mereka kuliah di kota besar dgn cita2 akan membangun desanya, tapi setelah lulus gak balik2 ke desanya
    gak punya ongkos?



  19. #59
    pelanggan setia mbok jamu's Avatar
    Join Date
    Oct 2012
    Posts
    3,417
    Srini Maria, "Ibu Sayur Organik" dari Lereng Merapi

    MAGELANG, KOMPAS.com - Siang itu, gerimis mengguyur sebagian kawasan lereng Gunung Merapi. Udara seketika menjadi dingin dan berkabut. Namun cuaca itu tidak membuat Srini Maria Margaretha berdiam diri di dalam rumah.

    Wanita setengah baya itu masih terlihat sibuk melayani sekelompok mahasiswa yang ingin berkonsultasi terkait penelitian perkebunan organik dengannya.

    "Ya begini, setiap hari banyak yang datang ke rumah saya untuk belajar bersama tentang bercocok tanam dan ternak secara organik," tutur Srini kepada Kompas.com saat bertandang ke rumahnya, Minggu (6/3/2016).

    Warga Dusun Gowok Ringin, Desa Sengi, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, itu memang dikenal sebagai petani wanita yang gigih mengggerakkan para petani, khususnya petani wanita, sekitar lereng merapi untuk gemar bercocok tanam.

    Rumah Srini tidak begitu besar. Hanya saja memiliki pekarangan sekitar 2.500 meter persegi mengelilingi rumah. Aneka macam tanaman sayuran, seperti sawi, pokcoy, peterseli, tomat, cabai, rosemary, lettuce, buncis, hingga buah-buahan seperti jeruk, srikaya, dan bit.

    Di belakang rumahnya, ada belasan kambing dan sapi ternak miliknya sendiri dan milik mitra taninya. Tampak seorang pegawai yang sedang sibuk membersihkan kandang binatang ternak itu.

    "Coba cium baunya, tidak bau kotoran kambing dan sapi kan?" ujar Srini saat kami mendekat kandang kambing dan sapinya.

    "Kandang jadi tidak bau kotoran karena kami pakai sistem organik, rumput atau pakan ternak difermentasi dahulu sebelum diberikan ternak. Kotoran dan air kencing juga dipisah untuk nantinya diolah lagi menjadi pupuk tanaman," ungkapnya.

    Menggunakan sistem organik, lanjut dia, memiliki banyak keuntungan. Tidak ada kotoran maupun limbah yang terbuang sia-sia. Semua bisa diolah lalu dimanfaatkan kembali. Di samping ramah lingkungan, pengelolaan ternak menjadi lebih hemat dari segi biaya dan tenaga.

    "Kami tidak lagi ngarit (merumput) setiap hari karena rumput sudah difermentasi. Kami tidak lagi perlu bermacam-macam pupuk kimia yang harganya mahal. Semua pupuk kami olah dari bahan-bahan sekitar kami," tutur dia.

    Sarjana pendidikan bahasa

    Belakangan Srini memang dikenal sebagai wanita yang handal dan gigih mengkampanyekan budaya bercocok tanam dan beternak organik. Dia tidak pelit ilmu sehingga para petani sekitar dan dari luar daerah kerap bertandang ke rumahnya untuk berkonsultasi.

    Dari latar belakang pendidikan, sejatinya Srini bukanlah sarjana pertanian. Ia merupakan alumnus jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Tidar Magelang.

    Lulus kuliah, Srini pun menekuni profesi yang bertolak belakang dengan aktivitas bercocok tanam. Dia pernah menjadi guru TK di Kecamatan Muntilan dan guru SMA di Kota Magelang. Srini juga pernah menekuni bisnis multilevel marketing (MLM).

    Kemudian saat mulai pensiun, dia beraktivitas sebagai pendamping wisata Live In untuk anak-anak kos yang tinggal di desanya. Saat itu, tanpa sengaja dia bertemu dan berkenalan dengan seorang petugas Dinas Pertanian Propinsi Jawa Tengah. Dari perkenalannya itu, ia kenal dengan dunia pertanian.

    Di dunia barunya itu, dia seolah menemukan kehidupan yang jujur. Kehidupan yang senantiasa berdampingan dengan alam dan masyarakat sekitar. Dia pun optimistis untuk menghabiskan masa pensiunnya dengan bertani dan berternak.

    "Kehidupan seperti ini tidak saya temukan di dunia pekerjaan saya sebelumnya. Saya benar-benar belajar kehidupan di sini (pertanian). Karena kalau kita baik dengan alam maka alam juga memberi imbas baik kepada kita," ungkapnya.

    Pertama kali ia tertarik dengan tanaman baby buncis yang kemudian mengantarkannya menjadi eksportir baby buncis sejak pertengahan 2010 silam. Ia sempat belajar tentang pertanian di Bandung Jawa Barat.

    Setiap dua hari sekali, dia mengirim puluhan kuintal sayuran ke luar Singapura, Malaysia dan berbagai negara. Dari usaha ekspor sayuran itu, dia mampu membangun rumah packing sayuran samping rumahnya.

    Berbagi

    Menjadi petani perempuan sukses bukan perkara mudah. Dia juga berpikir ilmu yang didapatkannya harus ditularkan kepada perempuan-perempuan sekitarnya yang saat itu menjadi petani konvensional.

    Dia rajin pergi ke berbagai arisan maupun pertemuan untuk sosialisasi hingga akhirnya terkumpul 28 orang petani perempuan untuk membentuk Kelompok Wanita Tani (KWT) Merapi Asri sampai sekarang.

    Namun, baru saja merintis usaha packing sayuran bersama anggota KWT-nya, erupsi Merapi 2010 nyaris menggagalkan semuanya. Tanamannya habis, modal ludes diterjang bencana.

    Dengan sisa semangat dan modal dari bantuan suami yang juga pensiunan PNS, dia bertekad memulai lagi pertaniannya.
    "The two most important days in your life are the day you are born and the day you find out why." - Mark Twain

  20. #60
    pelanggan jakhost's Avatar
    Join Date
    Apr 2014
    Location
    Jakarta Barat
    Posts
    200
    usaha konveksi klau dikampung lagi trend nih

Page 3 of 4 FirstFirst 1234 LastLast

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •