yup.. orang kampung udah gak ada lagi yang polos. Tapi jangan sampe hal itu menciutkan niat mulia karna niat yang teguh bisa menghasilkan dampak yang baik
papa pernah dan sampe sekarang ngasih rumah di kampung buat dikontrakin, hasilnya cuma dikirimin 2 kali sama org tsb. Bayangin selama 22 tahun, kontrakan cuma dikirimin 2 x aja. Alasannya perbaikin rumahlah.. apalah.. Oh too creepy to be true, that person is my family
Oke kembali ke masalah enterpreneur.. pas dosen ngajarin tentang kemungkinan rugi, saya awalnya gak percaya 100% dan dengan modal nekat plus pemaksaan maka saya buat resto ini bersama 8 teman lainnya. Sukur kita semua bisa melaluinya dengan baik, yang penting itu proses bukan masalah resultnya.
Dan menurut saya kerugian di tahun pertama itu wajar aja, yang penting perhitungkan dulu BEP nya di 2 bulan awal usaha. Kira-kira bisa dicapai selama berapa tahun atau berapa bulan, jika terasa terlalu lama.. baru kerahkan semua bahan-bahan yang bisa dijual, seperti jual buah.. jual tenaga dan hal-hal lain yang gak mainstream di kampung
![kopimaya [dot] kom - Secangkir Kehangatan di Dunia Maya - Powered by vBulletin](images/misc/vbulletin4_logo.png)




Reply With Quote
), dan ayahku pernah coba melakukan bbrp inisiatif ('eksperimen') pribadi, seperti ngumpulin puluhan anak2 perkampungan, biasa anak2 pemulung, tukang becak, dll, dan minta sala satu anak karyawannya dan temennya (yang juga supposedly pinter dan berprestasi di sekolah, dan juga masih sma ato kuliah gitu) untuk menjadi guru buat anak2 kampung ini, dan dia ini dibayar ya oleh ayahku sendiri. maksudnya biar anak2 kampung ga cuman jadi anak jalanan, mending sore2nya dikumpulin trus dibikin acara apa yang produktif gitu, belajar kek, bikin pe er kek, maen bersama kek, olahraga kek, ato apa. ayahku kadang juga ikut ngeramein
tapi yah you just have to make do dengan segala keterbatasannya ya



beberapa kali beli tanah di daerah pinggiran Depok dan Cinere, lalu dijual setelah ada pembangunan jalan tol. Lumayan harganya 150% dalam tiga tahun. 
