@om Alip: itu kan lagi-lagi pinternya ortu memilih sekolah (meskipun ada label sekolah agama) yang sevisi sama orang tua. Di SD Muhammadiyah pun beban belajar agamanya lebih banyak daripada di SD negeri, yaitu untuk kelas 1 ada 7 jam belajar (1 jam belajar=35 menit) tapi muatannya lebih banyak ke akhlaq dan tauhid setau saya. Ada BTA yang memang khusus hapalan juz amma dan membaca iqro (lho, TK saja kita udah ngajarin anak ngaji, masak iqro aja gak mau di sekolah?), tetapi cuma 1 jam belajar dalam 1 minggu.

SD negeri sekarang pun ketika mayoritas muridnya muslim, saya sudah menemukan, sekolahnya memberi muatan hapalan asmaul husna dan surat2 juz amma yang lebih panjang sebagai mata pelajaran muatan lokal, di sekolah si sulung malah cuma ngajarin asmaul husna gak lebih dari 10, tidak seluruhnya.

Ketika pengajuan peraturan diadakannya mata pelajaran agama disesuaikan dengan yang dianut siswa untuk sekolah-sekolah dibawah naungan yayasan beragama, yang paling kenceng menolak bukannya sekolah dibawah yayasan katolik ya?