.... Aku terduduk lemas diatas kursi lipat yang rapuh, rapuh namun masih kokoh. Karat terlihat dibeberapa bagiannya, sama seperti tubuh tuaku, tubuh yang sudah tidak kuat lagi mendukung apa yang otakku ingin lakukan, tubuh lemas dengan keriput yang membalut hampir seluruh bagiannya. Inilah masa tuaku. Sepi. Sunyi. Tapi aku tidak sendiri. Disini, dirumah sakit ini, aku setia menemani isteriku yang terbaring lemah dihadapanku. Perempuan yang sangat aku cintai, perempuan yang dapat mengubah hidupku, mewarnai setiap hariku dengan keceriaanya, keceriaan yang kini hilang berganti sendu. Dia adalah alasanku untuk tetap bertahan, terlihat kuat dihadapan anak-anak dan cucu-cucuku. Cucu-cucu kami.
"Ra... ma... " suara lemah itu memanggil namaku.
Aku datang menghampirinya. Suaranya yang nyaris berbisik terdengar jelas ditelingaku.
"Aku haus..."
Kuambilkan segelas air dan kutopang kepalanya dengan tangan kiriku. Dengan perlahan, diseruputnya segelas air yang kupegang. Tangannya yang keriput menyentuh tanganku. Setelah selesai meminum air dalam gelas tersebut, dia tersenyum, tersenyum manis, senyum yang sama dengan senyum dimasa lalu yang selalu membuatku senang.
"Terima kasih.."
Aku tersenyum seraya membelai rambutnya yang sudah tidak hitam lagi.
"Kamu mau makan sekarang, Kartika?" tawarku.
Dia menggeleng lemah. "Nanti saja, aku belum lapar. Sekarang aku mau kembali tidur.."
Aku mengangguk dan membaringkan kepalanya kembali diatas bantal.
Beberapa saat setelah Kartika tertidur, aku kembali dengan kesunyianku, duduk menatap jendela, memperhatikan langit yang begitu biru, cerah sekali. Indah. Aku ingat masa-masa itu. Perlahan kupejamkan mataku. Aku tertidur.
[... dan penulis tidak pernah tahu akhir kisah ini~]
![kopimaya [dot] kom - Secangkir Kehangatan di Dunia Maya - Powered by vBulletin](images/misc/vbulletin4_logo.png)

Reply With Quote


Popo Nest 
