Bisa dijelaskan dengan cara ilmiah (atawa sekuler) sebenarnya.

Pertama, manusia cenderung mengingat sesuatu yang berpola dan unik. Itu sebabnya, pepatah, kata-kata yang dibuat dalam bentuk rima, analogi, metafora, cenderung lebih mudah diingat dan diwariskan beberapa generasi;

Kedua, bahasa menunjukkan tingkat pendidikan. Coba bandingkan antara tulisan Sun Tzu, Machiavelli, dan Musashi, kau pasti akan menemukan perasaan beda. Musashi adalah yang paling kasar, Machiavelli di tengah-tengah, dan Sun Tzu yang paling halus. Kemampuan untuk merangkai kata akan menunjukkan pendidikannya dan itu akan membuatnya didengarkan orang.


Nah, bila Tuhan itu ada (karena ada anggota Kopimaya yang atheis), seandainya dia menurunkan wahyu, pasti dia mau menunjukkan kecerdasannya. Salah satunya adalah dengan bersyair-syair ria.

Tentu saja tiap agama dan pemahaman pemeluknya beda-beda.
Ada yang percaya bahwa kitab sucinya benar-benar salin-rekat dari kata-kata Tuhan.
Ada yang percaya bahwa kitab sucinya adalah buatan manusia yang diilhami oleh Roh Tuhan dan hasilnya adalah upaya maksimal dari manusia terpilih itu.