kalau dapat agen yang ga informatif gini mending ganti agen ajakarena agen asuransi ketika menawarkan produk
pake istilah menabung, bahkan sampai polis keluar
pun, ngga pernah dijelaskan kalau yang investasi
sekian, dan yang buat proteksi sekian, jadi kalau
mau berharap nilai tunai, yang jadi hitungan adalah
tabungan dari investasi, kalau yang proteksi itu su
dah jatahnya agen
betul.terlewat, sebenernya gini masalahnya: unit link itu produk hybrid asuransi dan investasi, jadi sebagian uang
yang dibayarkan digunakan untuk bayar premi asuransi, bagian lain masuk pool investasi. Orang cenderung
lupa dia beli polis asuransi itu tujuan utamanya untuk proteksi, ini akibat iming-iming insurance sales juga
sih yang menjanjikan return yang besar. Akibatnya ketika return dari unit linked produk itu rendah, kecewa.
kita harus lebih memahami soal asuransi, tujuan asuransi itu ya proteksi.
investasi ya investasi.
kalau mau maksimal, jangan digabung, jadi bisa kelihatan lebih jelas berapa besar kenaikan investasi, plus bisa lebih bebas mau milih jenis investasinya apa, mau ditempatkan di mana.
tapi, ga semua orang juga ngerti milih2 jenis investasi macam ini.
bagi sebagian orang, unit link itu ga maksimal, dan itu benar
tapiiii bagi orang2 yang ga begitu punya waktu buat bisnis dan ga punya waktu ngikutin pergerakan saham, serta ga begitu ngerti soal reksadana, unit link ini lumayan banget sebagai sarana investasi karena ga ribet, apalagi punya agen/fund manager yang bantu urus pilihan2 investasinya.
aku juga ada unit link, awalnya rada menyesal juga, tapi pas dipikir2, uangku ga seharusnya 100% masuk ke bisnis, tapi kalau investasi di reksadana aku ga gitu ngerti dan ga ada waktu, jadi untung juga asuransiku yang unit link sekaligus sebagai sarana investasi.
ditambah lagi aku jadi dapat proteksi, dobel proteksi malah ama suami.
setelah lima tahun, aku juga ga usah bayar premi udah bisa, bahkan bisa bayarin premi suami sekalian (tapi nilai investasinya jadi ga nambah)
jadi kalaupun aku top up masuk 100% investasi aja. ga ribet mikir, tinggal pilih mau yang high risk, medium risk, atau low risk. gitu doang. bagiku yang PNS dengan gaji berkala yang tetap cara ini cocok.
jadi mending didefinisikan dulu karakteristik diri kita kayak apa, investasi itu cocok2an.
sekedar contoh, ortuku 5 tahun yll beli tanah per meter 1jt/m2, sekarang ditawar orang 3.5jt/m2er, tapi realistis kah kenaikan properti segede itu dan yang tidak berakhir itu?
ok, memang saya bukan ambil contoh di indo, tapi bukankah itu masalah di amrik? pas real estate bubble meletus, justru nilai properti menurun dan malah underwater.
penulis artikel itu mengambil asumsi yang sangat besar tuh.
setahuku di indonesia masih jauh lebih mending dari di amrik ya soal kredit, di sini orang ga segampang di amrik dapat kredit (termasuk kredit card) ditambah karakteristik orang indonesia ga suka ngutang, jadi nilai kredit macet di indonesia tuh kecil banget.
yang bikin bubble di amrik kalo ga salah (CMIIW) gara2 kita bisa kredit dengan agunan kredit/barang yang lagi dikredit.
kredit x dengan agunan rumah yang lagi dikredit aja bisa kalo di amrik (ga tau kalo sekarang)
itu yang bikin chaos di sana. ngasih nilai rumah/tanah ketinggian, biar dapat kredit tinggi, jadi pas dijual beneran, ga ada yang mao beli dengan nilai segitu.
kalau di sini, ya emang banyak yang beli, harga segitu orang rebutan kayak kacang goreng.
terus soal emas ya?
aku karena cuman punya dikit, ya disimpen sendiri aja (kalau aslan simpen di dalam kipas angin noh katanya)
kalau udah banyak, kemungkinan mempertimbangkan simpan di safe deposit.
kalau sekarang sih simpen di bank juga gu, karena lagi digadai![]()
![kopimaya [dot] kom - Secangkir Kehangatan di Dunia Maya - Powered by vBulletin](images/misc/vbulletin4_logo.png)




Reply With Quote