Quote Originally Posted by cha_n View Post
prakteknya gini ya, secara garis besar aja sharing dari aku.
kalau ini kondisiku, suamiku usaha.
anggaplah profit 30%-50%
emas sesuai inflasi 7-10%
saham bisa sampai 21%, tapi ya ga selalu. kadang 15% pernah juga minus 50% (pernah ngerasain pas 2007)
obligasi seingat ku masuk ke medium risk, profit sekitar 14-16%
trus ada deposito dll
keren nih bu chan, dari penjelasannya terlihat tujuan apa juga diversifikasi aset & investasi. memang
semua harus disesuaikan dengan karakteristik individu, jadi ga bisa satu jurus untuk semua orang

obligasi tergantung jenisnya, macam SBI, ORI, SUN yang dirilis pemerintah masuk low risk, dengan return
ga jauh dari BI rate sedang swasta di angka yang lebih tinggi. 14-16% itu high yield, biasanya junk bonds,
rating nya memang jelek tapi return bagus.

saham jika tujuannya investment bukan trading, selama saham bagus, di hold terus juga gpp naik turun.
Dari tahun 2007 ke tahun ini indeks udah naik 200%. kalau dilepas di hari tua, chan bisa seperti warren buffet

Quote Originally Posted by tuscany View Post
Oke, jadi aku simpulkan gini:

Tahap 1. Kumpulin modal dikit-dikit, masuk ke low risk investment seperti deposito sambil belajar manage fund.
Tahap 2. Deposito udah agak banyakan maka sebagian (sesuai prinsip diversifikasi) ditaruh di tempat lain yang resikonya lebih tinggi dan lebih dipahami. Misal: emas tapi untuk jaga nilai atau obligasi untuk ambil profit, sambil belajar memupuk rasa pede untuk ambil resiko lebih besar lagi
Tahap 3. Sebagian investasi ke saham yang resikonya lebih gede sambil belajar bisnis
Tahap 4. Berbisnis ==> ini bukannya kudu di awal ya

Other question: aku dengar yang namanya unit link itu sebenarnya nggak segitu profitable yang diiklankan. Mending kalo mau asuransi ya asuransi aja, kalo mau invest ya invest aja, jangan dicampur. Bener nggak sih?
Bisa, but not eveyone are into business. Coba lihat lagi model alokasi untuk investasi. kumpulin modal
juga kalau bisa banyak-banyak dong jangan cuma dikit-dikit Saya bukan pengagum diversifikasi
tapi untuk aset tentunya harus terdiversifikasi.

my case illustration: single, kuliah sambil kerja, mid term goals: pendidikan, rumah, kendaraan, menikah.
gimana cara memenuhi tujuan jangka pendek dengan keadaan belum memungkinkan buat investasi jangka panjang,
maka pilihan saya mengakumulasi aset cair. in case, nanti dapat sponsor tapi tidak membiayai kebutuhan pendidikan
dan kehidupan secara penuh, berarti ada dana sendiri harus keluar atau pakai opsi pinjaman. Belum lagi buat simpanan
dana darurat. Model yang dipakai income - expenditures = discretionary, tapi karena mayoritas auto debet saya tetap
anggap sebagai expenditures.

Saya juga ga terlalu memikirkan return & inflation, karena itu mudah berubah. Inflasi memang tidak bisa diprediksi,
tapi dengan pola pembangunan saat ini, dalam jangka menengah akan tetap single digit. Saving dan insurance utama,
ga dianggap sebagai investasi. Masuk time deposit per 1 bulan biar ga dipakai jajan, biar kalau buat cairin males.
Jalan investasi aman, saya pilih mutual fund, dengan model rutin, karena untuk medium/long-term, ga perlu menunggu
kondisi pasar atau nilai aktiva naik buat inject dana. Jadi top up akun tiap bulan, istilah umumnya dollar-cost-averaging.
Kenapa mutual fund, karena seperti deposito namun return yang lebih baik, mudah dicairkan, biaya transaksi murah,
managed, tenang beresin kuliah dan ga perlu pusing buat analisa.

Quote Originally Posted by ndugu View Post
dari penjelasan DPLK, in some way prakteknya agak2 seperti traditional IRA amrik ya

jadi DPLK itu bukan badan dari negara? negara hanya berperan mengawasi aja ya? dan apakah customer mempunya suara dalam menentukan investasinya, atau keputusan itu murni diambil oleh penyedia jasa DPLK?
Iya mirip IRA. Keputusan investasi disini mungkin dana mau dimasukin ke kolam mana,. biasanya dikasih pilihan mau
di fixed income: money market->government/private bonds atau di equity: stock market. tapi bagaimana dana dikelola
itu murni keputusan penyedia jasa.

Quote Originally Posted by ndugu View Post
dan deposito itu sama dengan CD (certificate of deposit) ya?
time deposit, kalau CD kan disini jadi sertifikat deposito, bisa ditransfer ke orang lain untuk dicairkan.
Quote Originally Posted by ndugu View Post
oh iya, deposito di indo biasa brapa persen sih (untuk taon bervariasi)?
apakah kekejar dengan inflasi? kapan saya pernah denger dari sapa gitu di indo, katanya gedean inflasi daripada return dari depositonya ini beneren gitu?
BI Rate 5.75%, tingkat suku bunga untuk deposito biasanya dibawah rate itu, antara 4.00-5.00% p.a. tergantung
dari nominal dan tenor. interest sebesar ini jelas marginal, karena inflasi tertulis 4.30 yoy. bisa punya selisih
1% per tahun aja udah bagus. Kalau ga salah, di BPR interest rate untuk deposito lebih tinggi.

Quote Originally Posted by ndugu View Post
'masa yang sudah ditentukan' ini di umur pas pensiun bukan sih? dan brapa batas umur pensiun di indo? and, can you borrow against it biarpun sebelum saat umur pensiun? dan setoran ke DPLK ini apakah ada limitnya?
fitur dan setoran tergantung produk yang dipilih deh. ketentuan setiap penyedia juga berbeda.
saya kan ga kerja di sektor keuangan dan ga dikasih fasilitas dana pensiun ndugu, maka kelola mandiri.

Quote Originally Posted by ndugu View Post
kok kasian brokernya (ini orangnya ya)? apakah kalau maen di pasar saham, selalu harus berhubungan dengan seseorang (broker)? bisa ngga customer trade sendiri lewat institusi brokeragenya, tanpa lewat orang broker itu sendiri?

ini masalah saya dengan account pensiunku dengan perusahaan, musti lewat broker / fund managernya. dan skali trade, 100 dolar. jual beli udah 200 dolar. so i have to make sure returnnya aja cover trading cost dulu sebelum i even make a profit. dan dengan praktek seperti itu, i can't be convinced dia ngasi recommendation for the sake of HIM (karena that's how he earns money, trading cost), or ME, in mind ntah lah, mungkin begitulah jasa dplk yang di-engaged oleh perusahaanku, mungkin yang laen ada yang lebih ringan. sedangkan kalo saya trade sendiri dengan bank brokerage laen, skali trade di bawah 10 dolar. mending saya lakukan sendiri donk hanya saja memang ada batas mengenai jenis investmen apa yang bisa dilakukan kalo dilakukan sendiri, broker may have some extra privileges dengan jenis2 investmen yang bisa dia bantu kita ambil.
mahal juga ya ndugu, itu berarti full-service ya? karena broker ndugu merangkap juga sebagai fund manager. Enak kalau
punya jumlah cukup besar untuk dimainkan, biaya transaksinya kan flat ga pakai pakai broker discount? ketentuan
disana buat minimum investment gimana sih? cuma kalau discount diri kita yang jadi fund manager. Di Indonesia kalau di
stock market jelas bisa, dengan kan ada online trading, biaya transaksinya sangat rendah dibawah 0.3 persen. Lewat broker
jauh lebih mahal, cuma dapet prioritas lebih untuk transaksi.

Quote Originally Posted by ndugu View Post
oh another thing, bank2 di indo ada insurancenya seperti FDIC ngga ya?
ada LPS, lembaga penjamin simpanan. cmiiw, 2 milyar per (single/joint) account dalam satu bank. makanya kalau tabungan
cukup besar selain diversifikasi aset, diversifikasi tempat menabung juga.