Buatku film yang bagus adalah film yang membawa ide, walaupun pembuatnya merendah dengan bilang 'ah saya cuma mau menghibur'.

Bahkan film seperti Transformer pun punya ide, 'bagaimana memanfaatkan nostalgia mainan dan film kartun masa kecil'.

Soal layak tonton atau tidak di bioskop,
film yang layak tonton di bioskop adalah film yang jelas durasinya cocok untuk bioskop (bervariasi antara 90 menit hingga 180 menit) dan ada kesatuan tema.

Aku tidak terlalu masalah soal kualitas produksi seperti pemilihan kamera yang sebenarnya lebih cocok untuk film indie dengan syarat si pemegang kamera menyadari bahwa layar bioskop itu besar dan karena itu, kalau bisa hindarilah adegan close-up kecuali perlu, dan kesalahan kecil seperti salah menyetel white-balance, bisa sangat terasa di layar bioskop dibandingkan di televisi.

Demi Ucok, yang sebenarnya kualitas produksinya masih mirip FTV, tetapi mereka memahami beda menonton bioskop dengan di rumah. Karena itu, menonton Demi Ucok, mata penonton tidak terganggu walau kualitas kameranya bukan tipe yang biasa dipakai di bioskop. Begitu juga film-film produksi Demi Gisela Citra Sinema yang awal-awal.

Dulu, zaman Raam Punjabi masih setengah hati, menonton filmnya di bioskop itu benar-benar merupakan siksaan. Sumpah, silau banget. Mana cerita filmnya diobrak-abrik pula. Keluar dari bioskop aku sampai ngedumel, masa orang kaya seperti Raam Punjabi gak punya duit buat membeli kamera yang bagus dan sinematografer yang bagus sih. Minimal walaupun ceritanya norak, gak akan bikin silau mata.