Results 1 to 20 of 143

Thread: Pernikahan Beda Agama

Hybrid View

Previous Post Previous Post   Next Post Next Post
  1. #1
    pelanggan tetap 234's Avatar
    Join Date
    Jun 2012
    Posts
    737
    Kalo persoalannya boleh ato ndak boleh, menurutku, agama apapun pada dasarnya melarang (tidak membolehkan) nikah beda agama. Jadi kalo mau pake patokan agama ya sebaiknya nikah beda agama dihindari.

    Tapi kalo ndak mau pake patokan agama atau menurut istilah yg muncul disini "agama bukanlah visi n misi hidup", kenapa ndak sebaiknya kedua belah pihak sama2 "murtad" pindah ke agama baru (dalam kasus ini misalnya sama2 pindah ke Hindu ato ke Buddha) lalu kemudian baru menikah scr aturan agama tsb?

    Menurutku, secara "dunia" (baca: sosial) itu resikonya lebih kecil daripada kalo salah satu pihak harus "murtad" mengikuti agama yg dianut oleh pasangannya ataupun kedua belah pihak sama2 tetap mempertahankan agama masing2. Tapi bagaimana dgn resiko "akhirat"? Silahkan baca paragraf pertama!

    Btw...Ada orang tipe safety player, ada juga tipe risk taker.

    Gusti iku dumunung ing atine wong kang becik, mulo iku diarani Gusti... Bagusing Ati.

  2. #2
    pelanggan tetap Parameswara Li's Avatar
    Join Date
    Aug 2011
    Location
    天京
    Posts
    1,093

    Cool

    Quote Originally Posted by 234 View Post
    Kalo persoalannya boleh ato ndak boleh, menurutku, agama apapun pada dasarnya melarang (tidak membolehkan) nikah beda agama. Jadi kalo mau pake patokan agama ya sebaiknya nikah beda agama dihindari.
    Sepertinya tidak juga. Tidak semua agama begitu. Setidaknya dalam agama Buddha tidak ada larangan seperti itu. Tentu saja ada banyak juga penafsiran lain dalam Agama Buddha, tapi setidaknya arus utama yang banyak dianut orang adalah yang tidak melarang.


  3. #3
    pelanggan tetap 234's Avatar
    Join Date
    Jun 2012
    Posts
    737
    Ya berarti pihak yg ndak serius (dlm beragama) lah yg mesti mengikuti agama dari pihak yg serius spy pihak yg serius bisa membimbing pasangannya.

    Tapi kalo dua2nya memang pada dasarnya ndak pandang serius agama ya mendingan dua2nya pindah ke agama baru yg lain misalnya aja Hindu, trus nikah scr Hindu. Beres. Urusan adminnya ndak ribet krn udah satu agama.

    Kalo suatu saat nanti ada yg "sadar" n mulai tertarik untuk serius mendalami agama ya dibicarakan baik2 berdua sampe keduanya benar2 mantap memilih satu agama n serius menjalaninya, baik itu agama barunya (Hindu) atopun salah satu dari agama mereka sebelumnya (Islam ato Kristen). Ndak ada kata terlambat bagi orang yg ingin "bertobat" (serius beragama), dan kalo selamanya mereka ndak pernah bisa serius pun ndak bakalan bisulan juga kok. Kalo memang ndak bisa serius ya ngapain juga mesti mikirin resiko "akhirat", toh minimal kehidupan "dunia" (rumah tangga) mereka baik2 aja.

    Itu sebenarnya poin yg ingin saya sampaikan di posting awal yg ini...:

    Quote Originally Posted by 234 View Post
    ...kenapa ndak sebaiknya kedua belah pihak sama2 "murtad" pindah ke agama baru (dalam kasus ini misalnya sama2 pindah ke Hindu ato ke Buddha) lalu kemudian baru menikah scr aturan agama tsb?
    Sedangkan opsi pertama yg berikut ini...:

    Jadi kalo mau pake patokan agama ya sebaiknya nikah beda agama dihindari.
    Itu krn dari awal kedua belah pihak sama2 ndak mau melepaskan agamanya krn alasan tertenu. Kalo alasannya krn "jumud" ya mendingan bubarin aja secepatnya! Jgn cari penyakit di kemudian hari!

    Tapi kalo alasannya bukan krn jumud, entah itu krn sikap inklusif, toleran, dll bahkan mungkin hanya krn gengsi, malu, takut ato ndak enak dgn lingkungan keluarga n sekitar, maka sebaiknya keduanya sama2 mencari "nilai2 (universal)" yg sama, entah itu nilai moral, kasih, dll bahkan nilai budaya, adat n nilai2 kearifan lokal tertentu. (Tapi kalo cuman sekedar kesamaan yg bersifat "hobi n kesenangan" menurutku itu ndak cukup.)

    Saya ambil misal kasus "nikah beda agama" yg banyak banget saya temui di Jogja. (Maaf kalo saya ambil misal kota ini krn saya pernah menghabiskan waktu hidup saya dari lahir sampe dewasa shg rasa2nya saya sangat paham betul dgn akar budayanya. CMIIW. Dan saya sengaja pilih kata "misal" lho, bukan "contoh", jadi bukan berarti untuk dicontoh).

    Kenapa disana banyak sekali dijumpai pasangan beda agama yg hidupnya rukun2 aja? Ya karena mereka memiliki "nilai2 tertentu" yg mereka tempatkan diatas "agama" (baca: agama scr FORMAL) yaitu nilai2 "Kejawen" (saya sengaja kasih tanda kutip krn saya ndak mau berdebat soal ini yg sering asal dicampur-adukkan shg muncul tudingan dan cap aneh2,...klenik kek, tahyul lah,...HIV!).

    Secara kasat mata bisa saja mereka menikah di gereja dgn cara Katolik ato menikah scr Islam di KUA, tapi secara "tidak kasat mata" sejatinya mereka "menikah scr Kejawen di penghulu". Jadi tidak ada "nikah BEDA" (dua agama), tapi yg ada adalah "nikah SAMA" (satu nilai).

    Jadi sangat wajar, selama "nilai2" tsb mereka pegang teguh, mereka bisa hidup rukun n keduanya bisa menjalankan agama masing2 scr khusuk penuh ketaatan. Lalu bagaimana dgn anak2 mereka (kelak)? Ya sami mawon! Buah ndak akan jauh2 dari pohonnya! Mau masuk Islam kek, mau Katolik lah,...podho wae! Sing penting guyub-rukun toto-titi-tentrem kerto-raharjo!

    (Tapi kalo dijumpai ada yg ndak seperti itu ya berarti itu adalah "oknum".)

    Gusti iku dumunung ing atine wong kang becik, mulo iku diarani Gusti... Bagusing Ati.

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •