LAH, yaitu purOriginally Posted by purba
gw sendiri jg herman
palingan ujung2nya kan mao cari legalitas atau
katakanlah lembaga yng mao mengakui pernikahan mereka.
Di Indonesia tdk mengakomodir pernikahan campur (beda keyakinan)
bukan tanpa sebab, tentu ada alasannya, salah satunya mungkin klo terjadi
sengketa atau perselisihan misalnya, tdk bisa menggunakan sistem peradilan yng ada
bikin ribet bin ruwet kan?
betulKalo masing-masing pihak yg berbeda agama sudah setuju utk menikah, tinggal dilaksanakan saja,
entah mau mengikuti ritual agama yg mana, tidak jadi masalah. Menikahnya sudah sah karena
sudah sesuai ketentuan agama, jadi tidak masuk kategori kumpul kebo.
klo mao pragmatis seh dah beres soal sah pa gaknya
BetulMeski negara tidak memberikan surat nikah karena beda agama, itu bisa diakali dgn membuat
surat perjanjian (di depan notaris misalnya) antara dua belah pihak mengenai keuangan keluarga,
pengurusan anak, perceraian, harta gono-gini, dst.
Sepanjang mereka berdua sepakat/kompromi jika ada perselisihan akan mampu menyelesaikan
sendiri secara kekeluargaan, klo gak atau katakanlah ada salah satu yng ingkar?
tentu akan ada yng pengen menempuh jalur hukum to?, lalu pake sistem peradilan yngmn?
pdhl diperadilan umum (baca perdata) tdk mengatur hal2 spt gono-gini, waris dsbnya![]()
![kopimaya [dot] kom - Secangkir Kehangatan di Dunia Maya - Powered by vBulletin](images/misc/vbulletin4_logo.png)



Reply With Quote





) kalau Nailah binti Farafishah yang terkenal teladannya itu masih beragama Nasrani ketika dinikahi oleh sahabat Rasul, Usman bin Affan... lalu ada pula sahabat-sahabat lain yang menikah dengan wanita Yahudi dan Nasrani, misalnya Hudzaifah yang menikah dengan seorang wanita Yahudi dari Madain (sayang tidak disebut namanya) ...

Popo Nest
