Page 5 of 8 FirstFirst ... 34567 ... LastLast
Results 81 to 100 of 143

Thread: Pernikahan Beda Agama

Hybrid View

Previous Post Previous Post   Next Post Next Post
  1. #1
    Quote Originally Posted by purba
    Ane kurang mudeng dgn mereka (terutama selebritas) yg menikah beda agama di luar negeri. Buat apa?
    LAH, yaitu pur
    gw sendiri jg herman
    palingan ujung2nya kan mao cari legalitas atau
    katakanlah lembaga yng mao mengakui pernikahan mereka.

    Di Indonesia tdk mengakomodir pernikahan campur (beda keyakinan)
    bukan tanpa sebab, tentu ada alasannya, salah satunya mungkin klo terjadi
    sengketa atau perselisihan misalnya, tdk bisa menggunakan sistem peradilan yng ada
    bikin ribet bin ruwet kan?

    Kalo masing-masing pihak yg berbeda agama sudah setuju utk menikah, tinggal dilaksanakan saja,
    entah mau mengikuti ritual agama yg mana, tidak jadi masalah. Menikahnya sudah sah karena
    sudah sesuai ketentuan agama, jadi tidak masuk kategori kumpul kebo.
    betul
    klo mao pragmatis seh dah beres soal sah pa gaknya

    Meski negara tidak memberikan surat nikah karena beda agama, itu bisa diakali dgn membuat
    surat perjanjian (di depan notaris misalnya) antara dua belah pihak mengenai keuangan keluarga,
    pengurusan anak, perceraian, harta gono-gini, dst.
    Betul
    Sepanjang mereka berdua sepakat/kompromi jika ada perselisihan akan mampu menyelesaikan
    sendiri secara kekeluargaan, klo gak atau katakanlah ada salah satu yng ingkar?
    tentu akan ada yng pengen menempuh jalur hukum to?, lalu pake sistem peradilan yngmn?
    pdhl diperadilan umum (baca perdata) tdk mengatur hal2 spt gono-gini, waris dsbnya
    Last edited by pasingsingan; 10-01-2013 at 01:14 PM.
    mbregegeg ugeg-ugeg hemel-hemel sak dulito

  2. #2
    pelanggan setia opi77's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    3,601
    @ bun...

    kalo ampe ke pengadilan negeri ribet banget yah..belum lagi birokrasi di PN bisa abis puluhan tuch ampir sama aja kaya di luar negeri...kalo ikut ritual salah satu agama...kok gue sangsi yah emank bisa???...hhhmmm....kalo cerita seleb gitu sich gak yakin..sejak kapan gereja gak bikin persyaratan kalo harus ada akte baptis dll, kalo mo akad nikah sejak kapan KUA gak minta KTP dan keliatan kan agamanya apa di KTPnya...

  3. #3
    Barista BundaNa's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Location
    Na...Na...Na
    Posts
    12,679
    di KUA lo bisa akalin nikah siri dulu trus daftarin ke KUA. ya sekarang yg jd p'tanyaan, apa yg lo cari dr pernikahan?

  4. #4
    pelanggan setia serendipity's Avatar
    Join Date
    Mar 2011
    Location
    Jakarta
    Posts
    4,775
    setau gw sih emang orang yg mau nikah beda agama dan mau prosesnya berlangsung dengan cepat baiknya ke luar negri, kalo dibikin di Indonesia terlalu lama dan ribet.

    Mungkin masalah pertentangan boleh apa enggak itu tergantung pribadi masing-masing aja, kalo dalam pernikahan se-agama aja banyak jurangnya ya apalagi yang beda agama. Pasti makin banyak perdebatan dalam pernikahan yang kadang ga bisa diduga oleh org yang nikah seagama.

    Contoh sederhananya aja: suaminya yang meninggal masih beragama kristen, sedangkan istrinya beragama islam. Pasti dalam proses penguburannya bakalan terjadi konflik antar keluarga si suami dan istri yg masih hidup. Biasanya sih anak-anaknya juga ikutan repot. Nah disini letak perbedaannya kalo orang yg menikah se-agama gak usah repot ribut tentang proses penguburan secara agama apa

  5. #5
    Barista BundaNa's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Location
    Na...Na...Na
    Posts
    12,679
    kalo lo cari keselamatan dunia akhirat, pi, sebenernya dari hati kecil lo tau apa yg harus dilakukan. p'tanyaan: berani?

  6. #6
    pelanggan tetap 234's Avatar
    Join Date
    Jun 2012
    Posts
    737
    Kalo persoalannya boleh ato ndak boleh, menurutku, agama apapun pada dasarnya melarang (tidak membolehkan) nikah beda agama. Jadi kalo mau pake patokan agama ya sebaiknya nikah beda agama dihindari.

    Tapi kalo ndak mau pake patokan agama atau menurut istilah yg muncul disini "agama bukanlah visi n misi hidup", kenapa ndak sebaiknya kedua belah pihak sama2 "murtad" pindah ke agama baru (dalam kasus ini misalnya sama2 pindah ke Hindu ato ke Buddha) lalu kemudian baru menikah scr aturan agama tsb?

    Menurutku, secara "dunia" (baca: sosial) itu resikonya lebih kecil daripada kalo salah satu pihak harus "murtad" mengikuti agama yg dianut oleh pasangannya ataupun kedua belah pihak sama2 tetap mempertahankan agama masing2. Tapi bagaimana dgn resiko "akhirat"? Silahkan baca paragraf pertama!

    Btw...Ada orang tipe safety player, ada juga tipe risk taker.

    Gusti iku dumunung ing atine wong kang becik, mulo iku diarani Gusti... Bagusing Ati.

  7. #7
    pelanggan tetap Parameswara Li's Avatar
    Join Date
    Aug 2011
    Location
    天京
    Posts
    1,093

    Cool

    Quote Originally Posted by 234 View Post
    Kalo persoalannya boleh ato ndak boleh, menurutku, agama apapun pada dasarnya melarang (tidak membolehkan) nikah beda agama. Jadi kalo mau pake patokan agama ya sebaiknya nikah beda agama dihindari.
    Sepertinya tidak juga. Tidak semua agama begitu. Setidaknya dalam agama Buddha tidak ada larangan seperti itu. Tentu saja ada banyak juga penafsiran lain dalam Agama Buddha, tapi setidaknya arus utama yang banyak dianut orang adalah yang tidak melarang.


  8. #8
    pelanggan tetap 234's Avatar
    Join Date
    Jun 2012
    Posts
    737
    Ya berarti pihak yg ndak serius (dlm beragama) lah yg mesti mengikuti agama dari pihak yg serius spy pihak yg serius bisa membimbing pasangannya.

    Tapi kalo dua2nya memang pada dasarnya ndak pandang serius agama ya mendingan dua2nya pindah ke agama baru yg lain misalnya aja Hindu, trus nikah scr Hindu. Beres. Urusan adminnya ndak ribet krn udah satu agama.

    Kalo suatu saat nanti ada yg "sadar" n mulai tertarik untuk serius mendalami agama ya dibicarakan baik2 berdua sampe keduanya benar2 mantap memilih satu agama n serius menjalaninya, baik itu agama barunya (Hindu) atopun salah satu dari agama mereka sebelumnya (Islam ato Kristen). Ndak ada kata terlambat bagi orang yg ingin "bertobat" (serius beragama), dan kalo selamanya mereka ndak pernah bisa serius pun ndak bakalan bisulan juga kok. Kalo memang ndak bisa serius ya ngapain juga mesti mikirin resiko "akhirat", toh minimal kehidupan "dunia" (rumah tangga) mereka baik2 aja.

    Itu sebenarnya poin yg ingin saya sampaikan di posting awal yg ini...:

    Quote Originally Posted by 234 View Post
    ...kenapa ndak sebaiknya kedua belah pihak sama2 "murtad" pindah ke agama baru (dalam kasus ini misalnya sama2 pindah ke Hindu ato ke Buddha) lalu kemudian baru menikah scr aturan agama tsb?
    Sedangkan opsi pertama yg berikut ini...:

    Jadi kalo mau pake patokan agama ya sebaiknya nikah beda agama dihindari.
    Itu krn dari awal kedua belah pihak sama2 ndak mau melepaskan agamanya krn alasan tertenu. Kalo alasannya krn "jumud" ya mendingan bubarin aja secepatnya! Jgn cari penyakit di kemudian hari!

    Tapi kalo alasannya bukan krn jumud, entah itu krn sikap inklusif, toleran, dll bahkan mungkin hanya krn gengsi, malu, takut ato ndak enak dgn lingkungan keluarga n sekitar, maka sebaiknya keduanya sama2 mencari "nilai2 (universal)" yg sama, entah itu nilai moral, kasih, dll bahkan nilai budaya, adat n nilai2 kearifan lokal tertentu. (Tapi kalo cuman sekedar kesamaan yg bersifat "hobi n kesenangan" menurutku itu ndak cukup.)

    Saya ambil misal kasus "nikah beda agama" yg banyak banget saya temui di Jogja. (Maaf kalo saya ambil misal kota ini krn saya pernah menghabiskan waktu hidup saya dari lahir sampe dewasa shg rasa2nya saya sangat paham betul dgn akar budayanya. CMIIW. Dan saya sengaja pilih kata "misal" lho, bukan "contoh", jadi bukan berarti untuk dicontoh).

    Kenapa disana banyak sekali dijumpai pasangan beda agama yg hidupnya rukun2 aja? Ya karena mereka memiliki "nilai2 tertentu" yg mereka tempatkan diatas "agama" (baca: agama scr FORMAL) yaitu nilai2 "Kejawen" (saya sengaja kasih tanda kutip krn saya ndak mau berdebat soal ini yg sering asal dicampur-adukkan shg muncul tudingan dan cap aneh2,...klenik kek, tahyul lah,...HIV!).

    Secara kasat mata bisa saja mereka menikah di gereja dgn cara Katolik ato menikah scr Islam di KUA, tapi secara "tidak kasat mata" sejatinya mereka "menikah scr Kejawen di penghulu". Jadi tidak ada "nikah BEDA" (dua agama), tapi yg ada adalah "nikah SAMA" (satu nilai).

    Jadi sangat wajar, selama "nilai2" tsb mereka pegang teguh, mereka bisa hidup rukun n keduanya bisa menjalankan agama masing2 scr khusuk penuh ketaatan. Lalu bagaimana dgn anak2 mereka (kelak)? Ya sami mawon! Buah ndak akan jauh2 dari pohonnya! Mau masuk Islam kek, mau Katolik lah,...podho wae! Sing penting guyub-rukun toto-titi-tentrem kerto-raharjo!

    (Tapi kalo dijumpai ada yg ndak seperti itu ya berarti itu adalah "oknum".)

    Gusti iku dumunung ing atine wong kang becik, mulo iku diarani Gusti... Bagusing Ati.

  9. #9
    pelanggan setia opi77's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    3,601
    nikah siri emank gak ada persyaratan soal agama yah???..baru tau gue kalo itu..hhhmmm....kalo ditanya apa yang dicari dipernikahan yah sama kaya pasangan yang nikah umumnya bukan???..kalo soal akhirat??...nah itu gue rasa gue gak bisa bisa ikut campur....bukan hak gue buat nentuin ntar gue di akhirat ada dimana...itu haknya Allah..

  10. #10
    pelanggan tetap Alip's Avatar
    Join Date
    May 2011
    Posts
    1,636
    Ada yang bilang (silakan kata 'ada' digarisbawahi lagi kalau mau) kalau Nailah binti Farafishah yang terkenal teladannya itu masih beragama Nasrani ketika dinikahi oleh sahabat Rasul, Usman bin Affan... lalu ada pula sahabat-sahabat lain yang menikah dengan wanita Yahudi dan Nasrani, misalnya Hudzaifah yang menikah dengan seorang wanita Yahudi dari Madain (sayang tidak disebut namanya) ...

    Eh, ada yang tau nggak, istri Rasulullah, Siti Mariah, sudah masuk Islam belum ketika dinikahi oleh Rasulullah (kalau ikut interpretasi yang beliau dinikahi Rasul, bukan cuma selir)?
    "Mille millions de mille milliards de mille sabords!"

  11. #11
    pelanggan tetap 234's Avatar
    Join Date
    Jun 2012
    Posts
    737
    -> Prameswara Li

    Kalo kata "larangan" tsb dilihat pake kacamata agama wahyu sbg sesuatu yg "jika dilanggar maka berdosa"... Yup, setahuku ajaran Buddha memang tidak "melarang" nikah beda agama (termasuk dlm pengertian "nikah secara non-Budhist"). CMIIW.

    Tapi kalo itu dilihat pake kacamata umum sbg sesuatu yg "sebaiknya dihindari" rasa2nya tanpa perlu buka kitab/ajaran agama pun itu udah cukup jelas.

    Dan kalo saya sengaja memilih kata "sebaiknya" dlm posting sebelumnya krn saya memang sdg bicara soal "resiko" (untuk kedua belah pihak).

    *Ngambil kacamata sambil kabooorrr...

    Gusti iku dumunung ing atine wong kang becik, mulo iku diarani Gusti... Bagusing Ati.

  12. #12
    pelanggan setia spears's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    6,733
    Quote Originally Posted by Alip View Post
    Ada yang bilang (silakan kata 'ada' digarisbawahi lagi kalau mau) kalau Nailah binti Farafishah yang terkenal teladannya itu masih beragama Nasrani ketika dinikahi oleh sahabat Rasul, Usman bin Affan... lalu ada pula sahabat-sahabat lain yang menikah dengan wanita Yahudi dan Nasrani, misalnya Hudzaifah yang menikah dengan seorang wanita Yahudi dari Madain (sayang tidak disebut namanya) ...

    Eh, ada yang tau nggak, istri Rasulullah, Siti Mariah, sudah masuk Islam belum ketika dinikahi oleh Rasulullah (kalau ikut interpretasi yang beliau dinikahi Rasul, bukan cuma selir)?
    tapi kan ujung2nya mereka itu masuk islam
    artinya syarat yg di syaratkan oleh pendapat no 1 itu sudah dpt dijalankan.


    BTT..
    klo soal nikah beda agama, in the real life sih mnurut gw kuat2an aja.... siapa yg paling ngotot.
    kayak bokap nyokap gw...akhirnya bokap gw yg ngalah pindah ikut nyokap gw (Alhamdulillah ya...soalnya nene gw ngancem ga mao dateng klo nyokap gw nekat kawin beda agama. akhirnya krn nyokap gw lebih berat ke ortunya ya dia ultimatum bokap gw)
    ehh ksini2 bokap gw malah jadi yg paling aktif di Muhammadiyah. malah yg nyuruh gw pake jilbab aja adalah bokap. gw nyanyi jingle bells aja dirumah dilarang no sara mohon maaf ya buat temen2 gw dsini yg nasrani (harap maklum). tp hub keluarga nyokap en bokap sih baik2 aja. klo ada acara keluarga, menunya di bikin 2 meja. yg pork dan no pork.
    pernah ada kejadian lucu, pas lg dirumah nene gw yg dr bokap kan udah masuk magrib...
    eh bokap gw ngeloyor sholat magrib dulu...DAN dia adzan dunk dirumah nene gw ::tepokjidat:: dengan suaranya yg cetar membahana itu...


    trus kakak gw. dia tuh pacaran ud jungkir balik cinta mati ama ceweknya. tp beda agama.
    emak gw rada ga rela klo kakak gw kawin sama si doi.
    pdhal ama keluarga disuruh pengertian, kan dulu kasusnya sama.
    kakak gw jg keliatannya udah can't live without her.
    gw dah yakin aja, kakak gw nih yg bakal pindah (secara si ceweknya jg dpt tekanan dr keluarganya dia ga bole pindah agama).


    eh ga tau gmn ceritanya, malah cewek kakak gw yg pindah agama. en sehari sesudah ijab kabul langsung pake jilbab
    malah mnurut gw, si ipar gw ini lebih rajin puasa drpd kaka gw ya alhamdulillah deh ^^v

    oh iya, cerita satu lagi.
    klo dlm gereja ada yg nikah trus yg duduk di kursi gereja itu warna warni..ada yg pake jilbab dan ada yg enggak..itu pasti keluarga gw.

    yoweslah, demikian sekelumit cerita perbedaan dalam harmoni. caelah
    Last edited by spears; 11-01-2013 at 09:16 AM.

    love came down and rescue me, i am yours, i am forever yours

  13. #13
    pelanggan setia Porcelain Doll's Avatar
    Join Date
    Mar 2011
    Posts
    6,347
    mau nanya yg masih berhubungan dengan nikah beda agama (tapi kalo ternyata kurang cocok dan perlu dibuat thread lain, nanti g pisah)

    seandainya ada wanita muslim dan pria non muslim menikah, tapi tanpa restu dihadiri oleh ortu pihak wanita
    apakah pencatatannya bisa disahkan di KUA?
    atau mereka hanya bisa menikah siri dengan kehadiran pihak2 tertentu saja? misal wali hakim?
    Popo Nest

  14. #14
    @podol:

    tentu saja bisa, hanya jika si pria bersedia mengikuti persyaratan (tatacara islam)
    klo nikah sirri mah gak perlu wali hakim, krn dlm nikah siri gak perlu ada hakim yng terlibat.

    persoalan yng timbul kemudian adlh:
    perlu legitimasi (pengakuan) dari lembaga tertentu gak?
    klo tidak perlu, krn yng dibutuhkan hanya syarat sahnya saja scr agama
    yowis, nikah model daun siripun dah cukup.

    tetapi klo kemudian berfikir dari sisi legal aspek untuk kedepannya
    tentu harus dilegalkan kelembaga yng mengakomodir pencatatan perkawinan
    soal pencatatan ini penting, tdk bisa diremehkan sbg sekedar perlengkapan
    administratif belaka misalnya, krn didalamnya terkandung aspek perlindungan
    jika timbul perselisihan/sengketa hukum.
    Last edited by pasingsingan; 10-01-2013 at 07:41 PM.
    mbregegeg ugeg-ugeg hemel-hemel sak dulito

  15. #15
    pelanggan setia Porcelain Doll's Avatar
    Join Date
    Mar 2011
    Posts
    6,347
    kalo yg udah nikah itu ngakunya mereka punya akta nikah gimana?
    pernikahan mereka dilaksanakan secara islam atau ga jadinya?
    bilangnya wali hakim yg mensahkan, karena salah satu pihak keluarga tidak hadir (tidak merestui)

    lalu kalo tentang masalah warisan gimana ya?
    apa pihak wanitanya masih bisa menuntut waris dari ortunya? (kayanya harus bikin thread baru masalah ini)
    Popo Nest

  16. #16
    Barista BundaNa's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Location
    Na...Na...Na
    Posts
    12,679
    Siti Mariah atau Mariyah al-Qibtiyah?

    Rasulullah mengirim surat kepada Muqauqis melalui Hatib bin Baltaah, rnenyeru raja agar memeluk Islam. Raja Muqauqis menerima Hatib dengan hangat, namun dengan ramah dia menolak memeluk Islam, justru dia mengirimkan Mariyah, Sirin, dan seorang budak bernama Maburi, serta hadiah-hadiah hasil kerajinan dari Mesir untuk Rasulullah. Di tengah perjalanan Hatib rnerasakan kesedihan hati Mariyah karena harus rneninggalkan kampung halamannya. Hatib rnenghibur mereka dengan menceritakan Rasulullah dan Islam, kemudian mengajak mereka merneluk Islam. Mereka pun menerirna ajakan tersebut.

    Rasulullah teläh menerima kabar penolakan Muqauqis dan hadiahnya, dan betapa terkejutnya Rasulullah terhadap budak pemberian Muqauqis itu. Beliau mengambil Mariyah untuk dirinya dan menyerahkan Sirin kepada penyairnya, Hasan bin Tsabit. Istri-istri Nabi yang lain sangat cemburu atas kehadiran orang Mesir yang cantik itu sehingga Rasulullah harus menitipkan Mariyah di rumah Haritsah bin Nu’man yang terletak di sebelah masjid.

    saus
    bisa chek ini juga

    Pada tahun ini, Hātib b. Abi Balta'ah kembali dari al-Muqawqis membawa Māriyah dan saudaranya Sīrīn, bagal betinyanya Duldul, dan keledainya Ya'fūr, dan pakaian-pakaian. Dengan dua wanita al-Muqawqis, telah dikirimkan kepadanya seorang kasim, dan surat tersebut ada padanya. Hātib telah mengajaknya masuk Islam sebelum akhirnya tiba bersama mereka, dan begitu pula Māriyah saudaranya. Rasulullah menempatkan mereka untuk sementara dengan Ummu Sulaym binti Milhān. Māriyah sangat cantik. Nabi mengirim saudaranya Sīrīn kepada Hassān bin Tsābit dan dia melahirkan 'Abdul Rahmān bin Hassān.
    —Tabari, Tarikh at-Tabari.[2]

    chek this

    mengenai Na'ilah binti Al-Farafishah, ada beberapa riwayat, semoga tidak menjadikan fitnah

    Farafishah meminta anak lelakinya yang Muslim, Dhab, untuk menikahkan adiknya itu dengan Utsman. Na’ilah saat itu pun masih seorang Nasrani. Setelah diboyong ke Madinah dan menikah dengan Utsman, barulah ia memeluk Islam

    bacal
    artinya ketika berumah tangga, Na'ilah dengan rela masuk agama Islam dan satu aqidah dengan suaminya...jadi merekatidak membangun rumah tangga dalam 2 agama yang berbeda.

    Dalam masa Rasulullah memang diperbolehkan....tapi kalau saya ulas panjang2 di sini, gak guna sih....apakah penganut agama samawi non Islam disini masih bisa dikategorikan ahli kitab? pasti puanjanggggggggggggg debatinnya

    Jadi simpelnya sih saya tetap pada prinsip, kalau kamu yakin perbuatanmu benar, silahkan, seperti kata kalian, dosa kalian dan urusan kalian itu kuasa Allah...simpel sih pertanyaannya kemudian, Allah sudah menurunkan syari'atnya, tinggal kalian mau membuka pikiran dan nurani kalian, mau tunduk gak sama Allah atau terus mencari dalil sekedar membenarkan tindakan kalian

  17. #17
    Quote Originally Posted by Porcelain Doll
    kalo yg udah nikah itu ngakunya mereka punya akta nikah gimana?
    pernikahan mereka dilaksanakan secara islam atau ga jadinya?
    bilangnya wali hakim yg mensahkan, karena salah satu pihak keluarga tidak hadir (tidak merestui)
    LAH, klo dah nikah secara dicatatkan ke lembaga yng menangani urusan pernikahan
    ya tentu saja punya akta/surat nikah dong?

    jika dlm kasus yng podol contohkan, yakni
    pria non-muslim bersedia mengikuti tatacara calon istrinya yng muslim
    tentu saja pernikahan dilaksanakan dlm tatacara islam.

    dlm kasus mengapa hingga ada wali hakim pada tatacara pernikahan islam
    tentu ada konsiderannya, spt misal:
    yng berhak menjadi wali mempelai peremp spt ayahnya, saudara laki2 ayahnya
    kakeknya atau kakak laki2nya tidak ada/terputus pertaliannya (sudah pada meninggal atau
    tdk diketahui rimbanya). Atau dng pertimbangan menjaga kemaslahatan umat dan mencegah
    terjadinya hubungan illegal, maka hakim pengadilan agama mengambil alih perwalian mempelai
    yng minta untuk segera dinikahkan, tetapi terkendala oleh persyaratan perwalian.

    dlm tatacara pernikahan islam, keharusan ada wali adlh hanya mempelai peremp
    untuk menikah yng pertama kali.


    lalu kalo tentang masalah warisan gimana ya?
    apa pihak wanitanya masih bisa menuntut waris dari ortunya? (kayanya harus bikin
    thread baru masalah ini)
    klo dari pihak peremp (muslim) tanpa harus menuntut warisan dari ortunya
    jika ada yng diwariskan, tentu akan mendapatkan haknya.

    tetapi klo yng dimaksud adlh warisan dari pihak ortu pria (non-muslim), entahlah
    apakah dlm agama/keyakinan pria dimaksud ada mengatur soal waris spt halnya islam?
    mbregegeg ugeg-ugeg hemel-hemel sak dulito

  18. #18
    pelanggan setia Porcelain Doll's Avatar
    Join Date
    Mar 2011
    Posts
    6,347
    makasih infonya, mbah
    berarti g bisa ambil kesimpulan, kalau dia dinikahkan wali hakim itu untuk alasan kedua
    mencegah hubungan illegal ya?
    karena wali yg sah sebetulnya masih ada semua dan diketahui keberadaannya
    hanya tidak bersedia menjadi wali karena tidak merestui pernikahan tersebut

    kalau ada adik laki2, bisa jadi wali juga tidak ya?
    Popo Nest

  19. #19
    LAH, piye to iki?

    podol:
    justru konsideran kedua itulah sbg solusi (emergency exit)
    untuk kasus2 pernikahan yng perwaliannya diboikot oleh pihak keluarga
    krn atas desakan mempelai sendiri yng minta untuk segera dinikahkan
    maka, hakim memandang situasinya menjadi darurat, sehingga
    perwalian diambil alih oleh hakim untuk melaksanakan pernikahan

    orang sudah sama2 seneng n ngebet pengen kawin jgn dihalangi
    atau dipersulit, daripada mereka nanti melakukan hal2 yng tdk terpuji
    itulah dasar pertimbangannya.


    wali adik laki2 tdk bisa diterima
    krn kedewasaannya dianggap dibwh yng dinikahkan.
    Last edited by pasingsingan; 10-01-2013 at 11:13 PM.
    mbregegeg ugeg-ugeg hemel-hemel sak dulito

  20. #20
    Chief Barista cha_n's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    11,544
    boleh kok adik laki2 jadi wali asal sudah baligh.
    saya beberapa kali mengikuti pernikahan dengan wali adik laki2
    ...bersama kesusahan ada kemudahan...

    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” ― -Mohammad Hatta
    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama akses internet, karena dengan internet aku bebas.” ― -cha_n

    My Little Journey to India

Page 5 of 8 FirstFirst ... 34567 ... LastLast

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •