Page 3 of 3 FirstFirst 123
Results 41 to 46 of 46

Thread: Selamat, Mas Hanung. Anda bikin kontroversi lagi dengan "?"

  1. #41
    Quote Originally Posted by false id View Post
    Maaf menggangu diskusinya, tolong arah diskusinya ke depan di persempit seputar film ? (Tanda Tanya) aja ya, jangan sampai menjurus terlalu panjang (dan dalam) ke arah pembahasan agama. Terima kasih.

    Silakan di lanjut~
    Ho'oh , meski letak kontrversinya , letak masalah ada disitunya !

    Memang kaliatannya salah satu masalah/hakekat sebuah sebuah film , itu suatu karya budaya !
    Dia adalah media penyampai idea atau pendapat "pembuatnya". Kepiawaian pembuatnya sangat berpengaruh thdp penerimaan masyarakat thdp film tersebut.
    Sekontroversi apapun tetapi kalau disampaikan dengan tepat , masyarakat akan bisa melihat itu dengan jelas dan "netral". Produk kesenian akan bisa dinikmati keindahan seninya , sajian jurnalis akan mapu menonjolkan sisi bobot beritanya . Pengambilan angle yg kurang pas bisa justru menjadikan misleading bagi penerimanya , bak masakan kebanyakan bumbu shg bahan rasa bahan pokonya tenggelam oleh menyengatnya aroma bumbunya !
    Nggak tahu kalo memang tujuan pembuat film /chef kepalanya , memang hanyao menyuguhkan masakan yg terdiri dari ramuan "bumbu" tanpa bahan pokok yg perlu ditonjolkan rasanya ! pokoknya hanya nyodorin kontroversi , maka judulnya "Tanda tanya" !
    Sebuah potret sosok seorang anak yg menangis --dengan fokus yg sharp-- yg sedang berlari ditengah jalan , dengan latar belakang asap yg mengepul dan out of fokus (bluur) sambil merentangkan tangannya dg tubuh telanjang penuh luka bakar , atau seorang perwira yg menempelkan pestolnya kekepala seorang laki laki yg mukanya lebam lebam bekas pukulan , bisa saja itu jadi suatu foto horror sadisme atau berubah menjadi suatu foto tragedi humanisme penggondol hadiah Pulitzer !

    Itu semua tergantung kepada kepiawaian sang tukang foto , sang pembuat film dalam mengambil angle ,mencetak da menyajikannya ke publik !
    Last edited by Dadap serep; 19-04-2011 at 01:29 PM.
    ADEM_AYEM_TENTREM

  2. #42
    pelanggan setia TheCursed's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    3,231
    Ini beneran Hanung ? Asli Hanung ? Bukan Klonengan ?

    well, eniwei, gue ngerti maksud kontroversi ini pilem. Mungkin.

    Ini salah satu yang gue tangkep dari pilem ini: Saat penganut suatu agama nggak menemukan keagungan agama yang di anutnya di dalam masyarakat yang mengaku diri mereka paling mengagungkan agama tersebut, salah nggak(siapa ?) mereka nyari perlindungan pada agama lain ?

    Kalo gue liat konten diskusi di FB itu, terutama kasus si Aktor yang berperan sebagai Yesus, well, nggak beda jauh dengan kasus, katanya, banyak orang nggak mampu yang pindah suatu agama karena merasa di bantu hidupnya oleh pemeluk agama barunya. Salah siapa kalo pemeluk agama lama si miskin itu nggak membantu duluan ?

    Perempuan berjilbab kerja di rumah makan nggak halal ? Well, si ngkoh-nya, sebagai manusia, baik kok. Lagian mana pengusaha Muslim yang mau memberikan penawaran kerja yang lebih baik sama si perempuan itu ?

    Terus perempuan yang mau pindah agama karena nggak mau di madu ? Bukannya ada aturan boleh poligami asal bisa berlaku adil ? Nah ini, adil sebelah mananya kalo sampe si perempuan ini terdorong mau pindah agama ?

  3. #43
    Kalo dari baca-baca synopsinya, ini memang potret kehidupan masyarakat Indoneisa -- atau lebih tepatnya masyarakat Jakarta. Saya rasanya beberapa kali menemukan situasi yang seperti di film ini di Jakarta.

  4. #44
    pelanggan Jevo Jett's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Location
    Timbuktu
    Posts
    253
    filmnya emang memotret realita yang ada di Indonesia kok, yang pada ribut tuh emang dasarnya aja mental-mental kampungan, belum nonton udah teriak-teriak film ini sesat...cuma berdasarkan asumsi doang. Yeah, emang ada tokohnya yang murtad, itu kayaknya yang diributin... padahal di alam nyata orang murtad juga biasa toh. Kalo cerita soal mualaf, baru mungkin pada girang. FPI menfatwa haram....halah, gue kencingi aja tuh fatwanya, gue tetep nonton...dosa juga gue sendiri yang nanggung kok.

  5. #45
    Quote Originally Posted by Jevo Jett View Post
    filmnya emang memotret realita yang ada di Indonesia kok, yang pada ribut tuh emang dasarnya aja mental-mental kampungan, belum nonton udah teriak-teriak film ini sesat...cuma berdasarkan asumsi doang. Yeah, emang ada tokohnya yang murtad, itu kayaknya yang diributin... padahal di alam nyata orang murtad juga biasa toh. Kalo cerita soal mualaf, baru mungkin pada girang. FPI menfatwa haram....halah, gue kencingi aja tuh fatwanya, gue tetep nonton...dosa juga gue sendiri yang nanggung kok.

    mungkin maksudnya gini kali bro,

    penggemar film / penontonnya, tidak semua mempunyai intelegensia yg tinggi, bahkan banyak nonton film ini adalah orang orang yg pendalaman ilmu agamanya cetek, sehingga ditakutkan nanti kalau dia nonton film itu, merasa benar apa yg dilakukan dalam film ini.

    mungkin film film kontroversial kayak gini dikasih embel embel kayak "Dont try this at home"

    heheheh

  6. #46
    Penafian:
    1. Setiap kata di dalam tanda petik (") artinya aku menggunakan pengertian orang awam atau pengertian MUI walaupun sebenarnya aku tak sepakat tetapi daripada berkutat pada perdebatan label lebih baik pakai pandangan sama dulu;
    2. sangat mungkin spoiler. Tetapi toh jalan ceritanya sudah diumbar di mana-mana baik oleh MUI, banser, Yenny Abdurrachman dan Hanung sendiri. Pembelaan oleh Hanung : http://dapurfilm.com/2011/04/dialog-...m-tanda-tanya/ .

    Pertama,
    Tanda Tanya tidak mendukung tidak pula menentang "murtad". Orang "murtad" di sini digambarkan sebagai kenyataan hidup. Kalau si "murtad" sering nraktir makan bakso, masak orang muslim yang ditraktir dilarang bilang si "murtad" baik?

    Hmph.. MUI dan FPI ada-ada saja. Malah ada wartawan Islam yang bilang orang murtad harusnya dibunuh. Ya udah, silakan lakukan apa yang anda anggap benar di dunia nyata tuh, wartawan.. jangan cuma cuap-cuap dan kemudian bila ditantang ngelak "nanti kalau syariat Islam udah ditegakkan".

    Di sini Hanung dan gue yakin Hanung mewakili banyak orang, berpendapat bahwa memilih agama adalah hak asasi seseorang, pilihan pribadi seseorang dan gak boleh dihalang-halangi sebenci apapun pada keputusan orang tersebut.

    Kedua,
    Karakter Soleh tidak mewakili Banser. Dia adalah anak baru di antara banser. Bahkan awalnya dia gak suka tugas menjaga gereja. Ketika dia menyerbu restoran Tionghoa pun, yang dia bawa adalah kawan-kawan kampungnya, bukan kawan-kawan Bansernya dan motivasinya pun karena kecemburuan. Tetapi justru di akhir hayatnya, dia ingat apa yang dia bilang ke istrinya mengapa dia ingin masuk Banser (ingin berjihad) dan ingat pula apa kata kawan-kawan Bansernya yang akhirnya membuat keputusan mengorbankan diri.

    Jadi Banser adalah tempat yang akhirnya mengubah sikap Soleh. Tindakan2 Soleh sebelumnya yang picik dan kasar tidak mencerminkan Banser. Dan, iya, karakter Soleh memang butuh kerja, tetapi ia memilih Banser bukan hanya karena bekerja tetapi ia ingin berjihad dan Banser adalah sarana untuk mendekatkan dirinya pada tujuan itu. Jadi sebenarnya Hanung menggambarkan Banser adalah pengabdian bukan sekedar pekerjaan.

    Ketiga,
    Tanda tanya tidak mempromosikan "pluralisme". Dari semua karakter, hanya satu orang yang berpaham "pluralisme" dan apakah kemudian film ini menjadi film "pluralisme". Film ini mempromosikan toleransi, mempromosikan bahwa keberagaman itu kenyataan, mengatakan bahwa orang kadang-kadang tidak bisa idealis. Si jilbaber, demi keluarga dan adik ipar bekerja di restoran yang menjual babi. Si aktor, berperan sebagai tokoh suci agama lain demi membuktikan bahwa walau mukanya garang, ia bisa berperan sebagai orang baik.

    Keempat,
    si Tionghoa, masuk Islam bukan karena naksir si jilbaber. Jauh lebih dalam dari itu. Si Tionghoa sudah tertarik masuk Islam dari awal cerita. Ada petunjuknya. Tapi ada yang mengganjal di hatinya dan karena itu ia tidak masuk Islam, alasan yang sama mengapa ia bentrok dengan ayahnya sendiri. Si jilbaber menikah dengan Soleh. Bahkan di akhir cerita, setelah si jilbaber menjadi janda, si Tionghoa menjaga jarak.. iya benar, menjaga jarak dengan si jilbaber.

    Kelima,
    si aktor yang memerankan tokoh suci agama lain tidak menganggap pilihannya sebagai benar. Itu sebabnya setelah memerankan drama, ia mengucilkan diri di dalam Masjid membaca kitab sucinya di ayat tentang keesaan. Si aktor memilih menerima peran karena ia ingin membuktikan bahwa ia bisa jadi tokoh protagonis, tokoh utama pula. Ia sendiri, sebenarnya masih fanatik. Si mBak "murtad" bahkan sengaja memberikan novel "pluralisme" agar si aktor bisa memahami si mBak.

    Keenam,
    Si mBak "murtad", walau ke agama lain, tetapi pemahamannya cenderung ke agama lamanya. Itu sebabnya, ia gak terlalu cocok ama kawan baru di gereja yang fanatik dan born-again. Ia sendiri seorang "pluralis", satu-satunya "pluralis" secara eksplisit dan itu sebabnya ia tetap memasukkan anaknya ke pengajian (bukan ke sekolah Minggu). Apa MUI dan FPI kesal karena si mBak "murtad" ini tadinya berjilbab?

    Ketujuh,
    film ini dituding sebagai menjelekkan umat Islam karena karakter2 umat Islamnya digambarkan berbuat kerusakan. Kenyataannya, ada karakter-karakter seperti jilbaber atau ustadz yang berusaha mendamaikan. Sementara dari umat agama lain, ada karakter born again (diperankan oleh Glenn Friedly) yang fanatismenya juga nyaris menyebabkan anarkis seandainya tidak didamaikan oleh sang pendeta. Jadi film ini tidak mendiskreditkan agama apapun.
    Last edited by kunderemp; 13-05-2011 at 11:28 AM. Reason: Tambah point ketujuh

Page 3 of 3 FirstFirst 123

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •