-
pelanggan
Untuk pak Asum , kalau AAC sih saya tidak mengomentari HB nya ya , karena dia memfilmkan novel ! Saya sependapat dengan anda bahwa penggambaran muslim dihadapkan dengan diluar muslim jadi nggak imbang . Sekali lagi setuju juga bahwa gambaran yg muncul "stereotip bahwa kalangan pesantren (muslim) itu bodoh dalam memahami agamanya".
Saya tidak bilang bahwa tidak ada umat yg spt digambarkan dalam snapshot itu , tetapi pengangkatan or menonjolkannya , itu yg kelihatannya menjadikan kesan yg miring !
Dalam film "Tanda Tanya" --ini saya baca jawaban HB dalam koran-- , bahwa dia mendasarkan diri pada srt Mumtahanahy ayat 7 (yg ternyata setelah saya chek adalah ayat 8) yg berbunyi sbagai berikut :"[60:8] Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil."
Yg jadi tanda tanya memang apakah : Surya (?) yg muslim , dikisahkan memerankan tokoh Yesus dalam peringatan kebangkitannya (Paskah) , dimana jelas dalam ajaran Islam tidak ada keimanan spt ini, sesuai dg acuan dasar itu.
Inikah yg diterjemahkan oleh Hanung sebagai "Allah menyukai orang yg berlaku adil" ?. Dari mereka yg :"Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu ". Dalam ayat diatas ?
Setiap orang bisa saja menmaknai ayat itu , seperti Hanung ,dan menyampaikan kepada masyarakat.
Adalah wajar kalau itu kemudian jadi kontroversi di masyarakat.
Tapi kalau itu dimaksud sebagai lontaran Hanung sebagai suatu "Tanda Tanya" , yg ada dalam dirinya , mestinya jawabannya sudah jelas kok ! Saya rasa kalau itu masalah Hanung dalam memahami Islam banyak uztad yg bisa ngejelasin
Similarry case , malah sudah ada fatwanya , yaitu tentang menghadiri perayaan natal beberapa puluh tahun yg lalu , dan rasanya masih valid.
Kalau Hanung kemudian bisa dipersepsikan sebagai "menggugat" kevalidan fatwa itu , maka dia sudah bermain diarea yg kelihatannya bukan bidangnya , keahlian dia adalah menuangkan idea (naskah/tulisan) dalam film , masalah agama rasanya dia perlu harus banyak mendalami nya , karena dia sudah melempar ke ranah publik !
Kalau mengenai Banser yg ikut mengamankan sih okeh saja , seperti sang taoke restoran yg memberi kesempatan mudik karyawan muslimnya , itu suatu bentuk toleransi yg bisa diterima.
Kalau mengenai pindah agama sekali lagi itu issue yg sangat sensitive. Kalau disitu digambarkan sebagai suatu kejadian yg ber-ending happy dg diterimanya oleh ortu, muncul kesan , pindah agama itu akan baik baik saja akhirnya , its ok, karena dalam kenyataan ada juga yg endeingnya unhappy !
Tetapi persepsi seperti ini --memilih ending yg happy-- jelas tidak pararel dg ajaran setiap agama.!
Itu memang potert , tetapi kenapa dia menyajikan potert itu dari angle yg tanpa "komen" ? Tanpa dipotret dan disajikanpun masyarakat tahu tentang kondisi ini , lalu maunya apa kalau dia menolak untuk dibilang bukan kampanye pluralisme , tetapi jelas tergambar dia mau bicara toleransi umat beragama. (bhn dri wawancara HB deng wartawan Republika/mahaka group pendukung dana film ini.6/4/2011 dll.)
Dan akhirnya memang menjadi "Tanda Tanya" besar tertuju pada Hanung sendiri , yg mau tidak mau akan menjadi "marking" yg tidak gampang hapus dari ingatan umat.
Posting Permissions
- You may not post new threads
- You may not post replies
- You may not post attachments
- You may not edit your posts
-
Forum Rules