Quote Originally Posted by AsLan View Post
Tapi kalau menilai orang sebagai paranoid, weirdo, pengecut dll hanya karena mereka memilih untuk memiliki senjata saya rasa itu penilaian yg terlalu jauh.
Ada orang yang paranoid, weirdo, dan pengecut... yang karenanya mereka menggantungkan rasa aman mereka pada senjata api. Mereka betul-betul ada dan itulah gunanya diadakan psikotes ketika seseorang ingin memiliki senjata api. Jangan sampai ada senjata api jatuh ke tangan orang-orang yang melihat musuh di mana-mana seperti ini.

Ada juga yang tidak paranoid, bukan weirdo, dan bukan pengecut, yang lulus psikotes-nya dengan baik. Jadi orang-orang ini boleh memegang senjata api.

Lucunya, banyak teman-teman yang lulus psikotes yang kalaupun kemudian memiliki senjata, mereka menitipkan senjatanya di klub menembak, jadi hanya dipakai untuk hobby dan senjata-senjata itu tidak pernah keluar dari sana.

Sebaliknya, kisah yang saya dengar justru para tidak lulus-er yang ngotot bener ingin punya senjata dan bahkan berani menyuap petugas polisi.

Nah, sudah jelas-kah posisi kita masing-masing sekarang?

Quote Originally Posted by AsLan View Post
Saya mengatakan bahwa orang yg tidak mau membawa senjata sebagai menyia-nyiakan privilege karena itu adalah logika yg sangat sederhana, pada dasarnya senjata adalah penemuan manusia yg diciptakan khusus untuk mengatasi bahaya dari suatu serangan, entah itu serangan orang lain atau serangan hewan buas.

Kalau penemuan itu sudah ada tapi tidak mau menggunakannya, ibarat orang tidak mau menggunakan kendaraan dan memilih untuk berjalan kaki dari Jakarta ke Semarang.
Sama-sama saya beri contoh ngawur.

Orang yang tidak mau menggunakan senjata api adalah ibarat orang yang pergi ke atau tinggal di negara di mana prostitusi merupakan kegiatan legal tapi memilih untuk tidak menggunakan jasa tersebut karena berbagai macam alasan yang tidak logis dan tidak masuk akal, khususnya berkenaan dengan nilai-nilai yang sifatnya abstrak dan belum dapat dibuktikan secara ilmiah. Orang-orang ini menyia-nyiakan suatu privilege, karena pada dasarnya kebutuhan untuk melakukan hubungan seksual adalah kebutuhan dasar manusia dan media penyalurannya sudah dilegalkan oleh hukum negara bersangkutan.

Orang-orang ini sungguh bodoh dan tidak mampu berpikir logis.