Ada orang yang paranoid, weirdo, dan pengecut... yang karenanya mereka menggantungkan rasa aman mereka pada senjata api. Mereka betul-betul ada dan itulah gunanya diadakan psikotes ketika seseorang ingin memiliki senjata api. Jangan sampai ada senjata api jatuh ke tangan orang-orang yang melihat musuh di mana-mana seperti ini.
Ada juga yang tidak paranoid, bukan weirdo, dan bukan pengecut, yang lulus psikotes-nya dengan baik. Jadi orang-orang ini boleh memegang senjata api.
Lucunya, banyak teman-teman yang lulus psikotes yang kalaupun kemudian memiliki senjata, mereka menitipkan senjatanya di klub menembak, jadi hanya dipakai untuk hobby dan senjata-senjata itu tidak pernah keluar dari sana.
Sebaliknya, kisah yang saya dengar justru para tidak lulus-er yang ngotot bener ingin punya senjata dan bahkan berani menyuap petugas polisi.
Nah, sudah jelas-kah posisi kita masing-masing sekarang?
Sama-sama saya beri contoh ngawur.
Orang yang tidak mau menggunakan senjata api adalah ibarat orang yang pergi ke atau tinggal di negara di mana prostitusi merupakan kegiatan legal tapi memilih untuk tidak menggunakan jasa tersebut karena berbagai macam alasan yang tidak logis dan tidak masuk akal, khususnya berkenaan dengan nilai-nilai yang sifatnya abstrak dan belum dapat dibuktikan secara ilmiah. Orang-orang ini menyia-nyiakan suatu privilege, karena pada dasarnya kebutuhan untuk melakukan hubungan seksual adalah kebutuhan dasar manusia dan media penyalurannya sudah dilegalkan oleh hukum negara bersangkutan.
Orang-orang ini sungguh bodoh dan tidak mampu berpikir logis.
![kopimaya [dot] kom - Secangkir Kehangatan di Dunia Maya - Powered by vBulletin](images/misc/vbulletin4_logo.png)




Reply With Quote