Page 6 of 7 FirstFirst ... 4567 LastLast
Results 101 to 120 of 127

Thread: Kepemilikan senjata api

  1. #101
    pelanggan tetap Alip's Avatar
    Join Date
    May 2011
    Posts
    1,636
    Maaf baru muncul, soalnya ini baru pulang dari daerah konflik yang saya ke mana-mana menyandang senjata.

    Diskusinya sudah panjang ke mana-mana, jadi saya cuma mampir sebentar menyentuh hal yang jadi topik mendasar utasan ini, sesudah itu mau liburan natal dulu. Adik ipar saya sudah menyiapkan pesta natal dan dia bilang sudah menyiapkan hadiah buat saya ('yakin deh, kali ini bukan pisau, piauw, shuriken, golok, pedang, atau sejenisnya', begitu dia bilang).

    Karena Aslan sudah menyontohkan dirinya sendiri sebagai argumen di utasan ini, yaitu pilihan dia untuk ke mana-mana membawa pisau, maka ijinkan saya membawa diri saya sendiri juga sebagai contoh. Dan saya cuma akan menyentuh ranah pribadi atau lingkungan kecil yang masih berada di dalam kontrol kita, bukan soal konstitusi sebuah negara, apalagi yang jauh banget di sana. Sesudah itu jika Aslan masih punya perbedaan pandangan, maka itu memang perbedaan pandangan dan kita mengerti sudut pandang masing-masing. Saya tidak berniat untuk membaptis Aslan untuk mengikuti agama yang saya anut.

    Pertama, apakah saya akan membawa senjata api?

    Tidak dan ya.

    Di mana batasannya?

    Tidak terlalu jelas, tapi kalau sekedar di US of A, jelas tidak, meskipun konstitusi Pamanda Sami'un membolehkan saya memiliki senjata. Saya lebih memilih menjadi warga negara yang tidak membutuhkan senjata. Tapi kalau saya sedang bertugas mengunjungi operasi kami di Irak dan Afghanistan, kenapa tidak? Hanya saja saya berikan instruksi jelas pada si security guy "Should anything happen, company's doctrine is I and the rest of the staffs stay behind the line and watch you die defending our ugly 4sses", yang dia terima dengan ngakak keras "Suits me well, sir. Lets hope that things do happen".

    Sejawat saya, warga negara Italia yang salah satu wilayah tugasnya meliputi Kolombia yang rawan penculikan orang asing, biasa membawa satu pucuk senapan serbu kalau sedang visit ke sana, meskipun dia orang sipil dan menurut aturan perusahaan setiap kali dia melakukan perjalanan di Kolombia dia harus berada dalam armored vehicle yang dikawal oleh militer atau armed escort service yang disewa oleh perusahaan. Nggak perlu bawa senjata sendiri. Tapi saya merasa pilihannya untuk membawa senjata sendiri adalah hal yang bijaksana (karena dia adalah mantan sersan pelatih di tentara terjun payung Italia sebelum mengundurkan diri dan jadi security advisor sipil. He knows the stuffs. Kalau cuma manajer manja dan jumpy, bisa-bisa saya malah gak mau deket-deket dia...).

    Jadi saya setuju dengan Aslan bahwa ada saat di mana kita sebaiknya mempersenjatai diri, hanya nampaknya kriteria Aslan jauh lebih longgar dari kriteria saya. Buat saya mematuhi hukum Indonesia yang melarang membawa pisau lebih penting daripada rasa siap menghadapi kriminalitas dengan selalu membawa pisau lipat di saku. Bahwa para kriminal dan preman membawa pisau ke mana-mana, that's their godamn business. I have my own life and I'll cowardly stay clear of their stupid path. Did I say cowardly? Guess I did and I mean it.

    Jika saya sedang mengajar di kelas dan mendadak ada pyscho yang mendobrak kelas saya sambil membawa senapan serbu apakah saya memilih sedang membawa senjata atau tidak?

    Jawabannya tidak.

    Lalu apa yang saya akan lakukan kalau psycho benar-benar mendobrak ke kelas saya sementara saya tidak bersenjata? Hell I don't know. Maybe I'll die on the spot, maybe he'll find his head rolling on the floor. I'll let you know once it really happened. Lets cut the endless what-if scenario off. Yang jelas saya ingin mengajari anak didik saya bahwa Djanggo adalah film yang bodoh dan jangan pernah mau didikte dan ditakut-takuti oleh psycho yang membawa senjata di jalanan. Kekuatan para psycho dan teroris hanya sejauh kemampuan mereka untuk membuat kita takut. Kadang-kadang memang jatuh korban, dan bisa jadi korban itu adalah kita, tapi kita jangan pernah menyerah membangun masyarakat sipil yang bebas dari ketakutan yang diciptakan para tiran, atau kita akan kembali ke jaman Atilla the Hun.

    Lalu apakah saya tidak bersiap-siap?

    Tentu saja saya akan bersiap-siap. Tapi caranya adalah merancang dan menerapkan prosedur keamanan di sekolah. Kalau penembakan di sekolah sedang sepi, maka cukup kita terapkan kontrol pengamanan yang standar. Kalau sedang marak, perlulah diterapkan prosedur yang lebih ketat, mungkin dengan minta bantuan patroli polisi (pernah masuk ke mall di Manila?). Kalau sedang marak sekali, misalnya tiga sekolah sehari (yea right...), maka liburkan sekolah, buru para predator asosial itu sampai yakin bahwa mereka semua sudah kita kubur di Laut Merah, lalu lanjutkan kegiatan belajar mengajar.

    Biarkan para psycho itu dengan masalah mereka sendiri, kita tetap memajukan peradaban. Jangan mau kalah oleh segolongan bocah ingusan yang setiap hari dimarahi ibunya lalu merasa perlu membalas dendam ke seluruh dunia. Biarkan mereka yang psycho, kita gak usah ikutan weirdo...

    Selamat natal dan tahun baruuuuu....
    "Mille millions de mille milliards de mille sabords!"

  2. #102
    Barista AsLan's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    9,288
    Terjadi peningkatan penjualan tas sekolah tahan peluru di amerika.


  3. #103
    tsu's Avatar
    Join Date
    Aug 2011
    Location
    Rainbow Trout
    Posts
    5,365
    mbah Alip. thanks nya ilang

    btw, klo saya... diantara setuju dan tidak dengan pendapat Aslan

    di satu sisi, saya termasuk orang yang belum bisa menggunakan bagian dari tubuh saya sebagai senjata, so.... yeah, i feel safer w/ some weapons with me
    di rumah nggak ada golok aja saya sekarang merasa less secure kok....

    tapi disisi lain, setelah baca penjelasan Alip.... that's the concept of being a Batman, hit the crime, not the criminal
    sulit dilakukan karena kita bukan Bruce Wayne, tapi dengan prosedur tepat semua (mungkin) bisa diatasi

  4. #104
    Barista AsLan's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    9,288
    Bisa diatasi bukan berarti bisa dihapuskan.

    Dimana sih ada negara yg bebas dari 3 hal ini: Penjara, Rumah sakit dan Kuburan ?

    Ada penjelasan panjang lebar mengapa manusia selalu berada ditengah kejahatan, penderitaan dan kematian.

    Mengapa Tuhan memberikan cakar, taring, tanduk, bisa dan berbagai peralatan tempur bagi binatang, mengapa manusia yg katanya mahluk tertinggi tidak pernah lepas dari konflik dan perang.

    Salut bagi mereka yg memegang idealisme dengan menjauhi segala macam kekerasan dan persenjataan.

    Tapi jangan juga melarang orang2 yg bersikap rasional dan memilih untuk memegang senjata walaupun mungkin saja seumur hidup takkan pernah digunakan.
    Karena dunia tempat kita hidup bukan belum bisa disebut surga.

    Tidak perlu memberi julukan weirdo dan tidak usah berteori tentang ketakutan, selama evil masih ada didunia artinya art of war adalah realita, bukan paranoia.

    Untuk memperjelas masalah intinya, kembali lagi saya membuat sebuah perumpamaan ekstrim :

    Indonesia adalah negara yg konstitusinya mengatakan bahwa negara ini akan ikut aktif memperjuangkan perdamaian dunia.

    Setujukah anda bahwa dunia akan lebih damai apabila senjata dihapuskan dari muka bumi ?

    Kalau anda setuju, tentu untuk memperjuangkan hal itu harus dimulai dari negara kita sendiri, mari kita hapuskan kekuatan militer negara kita, hapuskan TNI dan hapuskan Kepolisian.

    Jangan mau di dikte oleh negara2 agresor, jangan mau didikte oleh penjahat, yg bisa mereka lakukan hanyalah menakut nakuti kita, jangan mau ditarik ke jaman barbar.

    Mari kita tunjukkan bahwa negara kita adalah negara beradab yg menolak persenjataan dan angkatan perang.

    Angkatan perang hanya untuk negara2 weirdo, senjata hanya untuk mereka yg penakut.

    Mari kita jangan pernah menyerah perjuangkan dunia yg aman tanpa senjata dan kekerasan.
    Contoh yg sangat ekstrim untuk memagnified persoalan senjata dan realita.

    ---------- Post Merged at 11:40 PM ----------

    Quote Originally Posted by kandalf View Post
    Saya yakin, grandpa Alip, kalau dalam situasi seperti itu dan bisa dapat kesempatan dia bakal membunuh si psycho, minimal membuatnya cacat seumur hidup. Baik dengan senjata ringan seperti tongkat, golok, atau pisau, atau tanpa senjata apapun, aliran-aliran yang pernah dipelajari grandpa Alip adalah aliran-aliran yang bisa membuat senjata makan tuan.
    i see...

    rupanya menentang satu jenis senjata karena sudah punya jenis senjata lainnya.

    saya rasa ini gak fair.

    kalo seseorang punya kemampuan mematahkan leher seseorang karena latihan bela diri selama bertahun2, lalu menentang orang lain untuk memegang senjata api karena alasan bisa membahayakan orang lain.

    apa bedanya kemampuan mematahkan leher orang dengan tangan kosong atau menembak dengan pistol ?
    kemampuan bela diri dan senjata api sama2 sebuah alat untuk berkuasa atas orang lain, semuanya tergantung dari si orangnya sendiri.

    sekarang semua orang hanya menyoroti senjata, bukankah ini pandangan yg terlalu sempit ?

  5. #105
    pelanggan setia kandalf's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    6,050
    Quote Originally Posted by kandalf View Post
    Saya yakin, grandpa Alip, kalau dalam situasi seperti itu dan bisa dapat kesempatan dia bakal membunuh si psycho, minimal membuatnya cacat seumur hidup. Baik dengan senjata ringan seperti tongkat, golok, atau pisau, atau tanpa senjata apapun, aliran-aliran yang pernah dipelajari grandpa Alip adalah aliran-aliran yang bisa membuat senjata makan tuan.
    Quote Originally Posted by Alip View Post
    Jika saya sedang mengajar di kelas dan mendadak ada pyscho yang mendobrak kelas saya sambil membawa senapan serbu apakah saya memilih sedang membawa senjata atau tidak?

    Jawabannya tidak.

    Lalu apa yang saya akan lakukan kalau psycho benar-benar mendobrak ke kelas saya sementara saya tidak bersenjata? Hell I don't know. Maybe I'll die on the spot, maybe he'll find his head rolling on the floor. I'll let you know once it really happened. Lets cut the endless what-if scenario off.
    Quote Originally Posted by AsLan View Post
    i see...

    rupanya menentang satu jenis senjata karena sudah punya jenis senjata lainnya.

    saya rasa ini gak fair.

    kalo seseorang punya kemampuan mematahkan leher seseorang karena latihan bela diri selama bertahun2, lalu menentang orang lain untuk memegang senjata api karena alasan bisa membahayakan orang lain.

    apa bedanya kemampuan mematahkan leher orang dengan tangan kosong atau menembak dengan pistol ?
    kemampuan bela diri dan senjata api sama2 sebuah alat untuk berkuasa atas orang lain, semuanya tergantung dari si orangnya sendiri.

    sekarang semua orang hanya menyoroti senjata, bukankah ini pandangan yg terlalu sempit ?
    Baru nyadar, Slan?
    Makanya waktu dulu si Ciko ngancam Grandpa Alip, gue ama Ronggo kan cekikikan. Hihihihihi...

    Oke, begini, Slan,
    gue kagak nganggap elu pengecut karena membawa pisau ke mana-mana. Elu pernah latihan tinju dan pengecut gak akan bisa latihan tinju yang resiko gigi rontoknya lumayan tinggi . Elu cuma belum merasa aman tanpa senjata.

    Pernah ada masanya dahulu aku seperti itu, membawa ballpoint ke mana-mana, atau membawa ranting pohon ke mana-mana. Tapi ternyata, pengalaman gue dipalak dan gue gak bisa bergerak, apalagi mengambil ballpoint tanpa harus ditusuk, menunjukkan padaku bahwa, strategi memilih tempat duduk di bus jauh lebih penting daripada membawa senjata.


    Sekarang, apa bedanya mematahkan leher orang dengan tangan kosong dengan menembak dengan pistol?

    Bedanya adalah, kau gak perlu latihan khusus untuk bisa membunuh orang dengan pistol.

    Kemampuan mematahkan leher orang itu gak bisa didapat dalam waktu satu-dua bulan, apapun kata iklan beladirinya. Coba aja belajar satu bulan salah satu ilmu mematahkan atau mencopot sendi, entah qinna, entah aikido, entah aikijujutsu, entah jiujitsu, entah brazilian jiujitsu dan coba terapkan pada orang yang badannya lebih besar darimu. Dijamin, susyaaaaah... Yang ada lu bakal ditindih ama badannya yang berat.. Hihihihihi..

    Beda dengan memiliki pistol. Cukup punya, tau cara mengunci, melepas kunci, memasang peluru, mengokang, dan mengarahkan, tinggal ke luar, cari orang badan lebih besar, dekati tanpa menunjukkan senjata, lalu tiba-tiba keluarkan dan tembak.. dijamin pasti sukses menorehkan luka parah di badannya.

    Kemampuan instan tanpa latihan itu lah yang membuatnya menjadi berbahaya karena orang yang tidak stabil bisa menyalahgunakannya.

    Latihan lama, bukan sekedar mengasah kemampuan, tetapi juga melatih kesabaran terutama kesabaran untuk tidak menggunakan kemampuannya. Kalau kau belajar ilmu2 beladiri yang seram-seram begitu, kau harus tahu kapan lawan serius dan kapan lawan sekedar latihan dan kapan lawan hanya bercanda.

    Itu sebabnya, si satpam yang lagi libur, yang berhasil menyelamatkan nyawa banyak orang hanya dengan bermain psikologis dengan penembak brutal, karena latihan. Dia tahu bahwa kemungkinan meleset banyak. Dia bisa melihat bahwa senapan yang digunakan si penembak sedang macet jadi berani mengambil resiko itu. Dia mengamankan anaknya dahulu (artinya dia tahu prioritas utama), baru beraksi.

    Memperbolehkan kepemilikan senjata untuk orang-orang yang tidak pernah latihan mental kapan harus menembak dan kapan tidak boleh menembak adalah berbahaya.
    Lomba peluk2an di Citos: 30 November 2013
    Lomba dorong2an di Candra Naya (dkt Glodok): 8 Desember 2013

  6. #106
    pelanggan tetap Alip's Avatar
    Join Date
    May 2011
    Posts
    1,636
    @Aslan,
    Ada bedanya antara contoh ekstrim dengan contoh ngawur. Contoh ekstrim memuat kondisi yang paling parah yang bisa terjadi, tapi masih logis, sedangkan contoh ngawur memuat kejadian yang bahkan Hollywood sekalipun akan menolak skenarionya.

    Memang saya meluangkan waktu untuk berlatih memukuli orang lain selama tiga puluh empat tahun terakhir ini, termasuk di dalamnya senjata tumpul, tajam, lentur, dan api. Tapi bukan itu inti permasalahannya. Yuk lihat dalam skala yang lebih besar ketimbang selembar ego bodoh yang berpikir bahwa kalau bisa mukuli orang maka bisa jadi jagoan lelanang ing jagad.

    Mengapa kita hidup bernegara? Teori-teori yang canggih bisa ditemukan di literatur yang disebut kandalf di utasan tentang moralitas kaum atheis. Aslan TS-nya khan? Tapi yuk kita sederhanakan.

    Kita hidup bernegara, berada di bawah aturan hukum dan moral, karena kita berharap bisa membangun komunitas kolektif yang saling mendukung dan bekerjasama untuk kemajuan, baik kemajuan pribadi maupun kolektif, yang tidak bisa kita lakukan kalau hidup sendiri-sendiri. Safety, prosperity, and advancement in number. Di situ kita bisa melihat gunanya aturan dan etika, menjaga agar komunitas tetap utuh, karena kalau setiap orang memilih jalannya sendiri-sendiri, lu lu gw gw, ya itu namanya hidup sendiri, silakan cari tempat lain.

    Jika negara menyebutkan bahwa kita tidak boleh membawa pisau di jalanan, maka saya memilih mematuhinya. Mungkin saya cuma satu orang yang mematuhi aturan itu dibanding ribuan orang yang berkeras tetap membawa pisau di jalanan (demi alasan apapun), tapi itulah pilihan saya, karena buat saya cita-cita membangun komunitas yang unggul tetap lebih penting daripada kemauan pribadi.

    Pemerintah akan menyarankan menggunakan bahan bakar non subsidi, menggunakan kendaraan umum, memilah plat nomor ganjil dan genap, dan sebagainya, Insya Allah saya akan mematuhi semua itu. Saya tidak peduli bahwa nanti akan sekian banyak pejabat negara yang melanggar anjuran mereka sendiri. Saya memilih menjadi bagian yang ikut dalam cita-cita besar.

    Banyak orang akan berkilah bahwa negara ini sudah gagal dalam menyejahterakan dan mengamankan rakyatnya... jawaban saya adalah, saya berada di pihak yang ingin negara ini berhasil, bukan ikut-ikutan menggagalkannya dengan bertindak sendiri melawan anjuran negara. Lagi-lagi saya cuma satu orang, tapi itu jalan hidup yang saya pilih. Apakah itu melawan realita, bisa jadi, tapi jangan lupa bahwa realita hanya ada di dalam kepala kita. Buat orang yang dari kecil dipukuli orang tuanya (misal loh ya, anonim pulak), maka kekerasan di mana-mana adalah realita. Senyum paling tulus sekalipun bisa dianggap seringai keji. Your call.

    Realita yang dialami milisi kontinental Amerika tahun 1770-an adalah mereka tentara petani yang melawan pasukan Inggris yang lebih maju dan terlatih, realita yang dihadapi oleh Soekarno adalah dia dibuang ke Bowen, realita yang dialami Yesus adalah dia berhadapan dengan protektorat Romawi, dan realita yang dihadapi oleh Muhammad adalah dia harus kabur ke Madinah menghindari upaya pembunuhan yang diatur oleh seluruh kabilah yang ada di Mekkah. Sejarah akan berbeda kalau orang-orang itu mengikuti apa yang disebut 'realita'.

    Lalu soal keamanan,
    Sejak Agustus kemarin saya pindah ke departemen yang mengurusi keamanan operasi perusahaan, wilayah kerja saya meliputi Asia Pasifik dan Timur Tengah. Teman-teman di kantor yang kenal saya pada tertawa ngakak "Si Alip akhirnya menemukan habitatnya."

    Well, sayangnya ternyata keamanan bukan soal kemampuan kita menggunakan senjata, tapi lebih bagaimana kita menerapkan mekanisme kontrol yang mencegah terjadinya kebocoran keamanan.

    Awal-awal penugasan saya kemarin banyak dipenuhi dengan training dan pelatihan seputar membangun sistem keamanan. Bagaimana membentuk perimeter, security system dan sebagainya, bahkan sampai pada tindakan CSR juga merupakan bagian dari pola keamanan yang diterapkan perusahaan. Penempatan penjaga bersenjata malah merupakan tindakan kontra-produktif.

    Saya memang bertemu sejawat dari wilayah kerja lain yang rata-rata punya latar belakang militer (contohnya si Sersan Italia itu), tapi mereka semua sepakat bahwa senjata adalah mekanisme paling akhir dan biasanya justru yang paling tidak efektif. Bahkan pasukan elit sekalipun sangat tergantung pada perencanaan operasi, bukan senjata atau kemampuan individu. Kalau mereka terjun di perang terbuka, ya mereka tidak ada bedanya dengan infantri biasa yang akan mati oleh peluru nyasar.

    Dalam kehidupan sipil, keamanan dibentuk oleh kesadaran masyarakat untuk saling menjaga dan mengawasi, dibantu oleh bapak-bapak satpam dan polisi. Kalau kita hidup sendirian tanpa kenal tetangga (atau kita tipe yang kalau kena musibah malah disukuri tetangga), yah, wajar saja kalau kita selalu merasa perlu senapan serbu di rumah.

    Dalam kehidupan commuting, keamanan diperoleh melalui pencarian jalur yang aman, waktu-waktu yang aman, kendaraan umum yang representatif (yang memang susah nyarinya), dan banyak hal lagi. Bukan dengan membawa pedang ke mana-mana. Saya sendiri juga enjoy naik bis kota, malah bisa baca buku, tapi kalau kemaleman banget, ya ambil taksi. Itupun telpon ke pool pusat.

    Tapi to cheer you up, Lan...
    Kalau nanti Indonesia bener-bener gagal, kita jatuh ke kondisi chaos dan apokaliptik, saya akan memegang senjata. Istri dan anak-anak-pun akan saya ajari menggunakannya. Dan saya akan mulai menembaki orang, toh tidak ada bedanya lagi karena tidak ada hukum yang berlaku. Mungkin saya akan menembaki orang karena membela diri, atau sekedar memenuhi naluri haus darah saya saja. One way or another, it is apocalyptic world, a free season
    <sound effect: evil laugh... harrr..harrr...harrrrrrr>
    "Mille millions de mille milliards de mille sabords!"

  7. #107
    Barista AsLan's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    9,288
    Quote Originally Posted by kandalf View Post
    Baru nyadar, Slan?
    Makanya waktu dulu si Ciko ngancam Grandpa Alip, gue ama Ronggo kan cekikikan. Hihihihihi...

    Oke, begini, Slan,
    gue kagak nganggap elu pengecut karena membawa pisau ke mana-mana. Elu pernah latihan tinju dan pengecut gak akan bisa latihan tinju yang resiko gigi rontoknya lumayan tinggi . Elu cuma belum merasa aman tanpa senjata.

    Pernah ada masanya dahulu aku seperti itu, membawa ballpoint ke mana-mana, atau membawa ranting pohon ke mana-mana. Tapi ternyata, pengalaman gue dipalak dan gue gak bisa bergerak, apalagi mengambil ballpoint tanpa harus ditusuk, menunjukkan padaku bahwa, strategi memilih tempat duduk di bus jauh lebih penting daripada membawa senjata.


    Sekarang, apa bedanya mematahkan leher orang dengan tangan kosong dengan menembak dengan pistol?

    Bedanya adalah, kau gak perlu latihan khusus untuk bisa membunuh orang dengan pistol.

    Kemampuan mematahkan leher orang itu gak bisa didapat dalam waktu satu-dua bulan, apapun kata iklan beladirinya. Coba aja belajar satu bulan salah satu ilmu mematahkan atau mencopot sendi, entah qinna, entah aikido, entah aikijujutsu, entah jiujitsu, entah brazilian jiujitsu dan coba terapkan pada orang yang badannya lebih besar darimu. Dijamin, susyaaaaah... Yang ada lu bakal ditindih ama badannya yang berat.. Hihihihihi..

    Beda dengan memiliki pistol. Cukup punya, tau cara mengunci, melepas kunci, memasang peluru, mengokang, dan mengarahkan, tinggal ke luar, cari orang badan lebih besar, dekati tanpa menunjukkan senjata, lalu tiba-tiba keluarkan dan tembak.. dijamin pasti sukses menorehkan luka parah di badannya.

    Kemampuan instan tanpa latihan itu lah yang membuatnya menjadi berbahaya karena orang yang tidak stabil bisa menyalahgunakannya.

    Latihan lama, bukan sekedar mengasah kemampuan, tetapi juga melatih kesabaran terutama kesabaran untuk tidak menggunakan kemampuannya. Kalau kau belajar ilmu2 beladiri yang seram-seram begitu, kau harus tahu kapan lawan serius dan kapan lawan sekedar latihan dan kapan lawan hanya bercanda.

    Itu sebabnya, si satpam yang lagi libur, yang berhasil menyelamatkan nyawa banyak orang hanya dengan bermain psikologis dengan penembak brutal, karena latihan. Dia tahu bahwa kemungkinan meleset banyak. Dia bisa melihat bahwa senapan yang digunakan si penembak sedang macet jadi berani mengambil resiko itu. Dia mengamankan anaknya dahulu (artinya dia tahu prioritas utama), baru beraksi.

    Memperbolehkan kepemilikan senjata untuk orang-orang yang tidak pernah latihan mental kapan harus menembak dan kapan tidak boleh menembak adalah berbahaya.
    Kalo begitu tentu kamu setuju kalau kepemilikan senjata api harus disertai sertifikat training ?

    Latihan beladiri memang membutuhkan waktu bertahun2, tapi tidak berarti akan menempa karakter praktisinia menjadi lebih "agung".
    Memang mitosnya seperti itu, tapi jujurnya saya melihat banyak juga praktisi beladiri yg sombong, di dunia beladiri banyak orang yg mengagungkan alirannya dan meremehkan aliran lain, juga banyak kasus keributan antar aliran, juga berbagai macam kasus yg menunjukkan bahwa pelaku beladiri tidak kebal terhadap berbagai keburukan sifat manusia.

    Juga tidak ada bukti bahwa memegang senjata akan membuat seseorang menjadi jahat, bagi saya secara logika kemampuan bela diri adalah senjata, dan justru disinilah keuntungan dari kepemilikan senjata:
    Dalam beladiri, beda berat badan sedikit saja bisa membuat perbedaan, beda hormon juga bisa membuat perbedaan besar, tapi dengan sebuah pistol seorang nenek bisa menjatuhkan seorang penjahat berbobot 150 kg, keberadaan senjata semakin meratakan kekuatan manusia.

    Senjata adalah perwujudan dari kekuatan pikiran manusia, senjata diciptakan oleh pikiran manusia sehingga meskipun fisik manusia kalah dari binatang tapi manusia mampu menguasai binatang.

    ---------- Post Merged at 09:12 AM ----------

    Quote Originally Posted by Alip View Post
    @Aslan,
    Ada bedanya antara contoh ekstrim dengan contoh ngawur. Contoh ekstrim memuat kondisi yang paling parah yang bisa terjadi, tapi masih logis, sedangkan contoh ngawur memuat kejadian yang bahkan Hollywood sekalipun akan menolak skenarionya.

    Memang saya meluangkan waktu untuk berlatih memukuli orang lain selama tiga puluh empat tahun terakhir ini, termasuk di dalamnya senjata tumpul, tajam, lentur, dan api. Tapi bukan itu inti permasalahannya. Yuk lihat dalam skala yang lebih besar ketimbang selembar ego bodoh yang berpikir bahwa kalau bisa mukuli orang maka bisa jadi jagoan lelanang ing jagad.

    Mengapa kita hidup bernegara? Teori-teori yang canggih bisa ditemukan di literatur yang disebut kandalf di utasan tentang moralitas kaum atheis. Aslan TS-nya khan? Tapi yuk kita sederhanakan.

    Kita hidup bernegara, berada di bawah aturan hukum dan moral, karena kita berharap bisa membangun komunitas kolektif yang saling mendukung dan bekerjasama untuk kemajuan, baik kemajuan pribadi maupun kolektif, yang tidak bisa kita lakukan kalau hidup sendiri-sendiri. Safety, prosperity, and advancement in number. Di situ kita bisa melihat gunanya aturan dan etika, menjaga agar komunitas tetap utuh, karena kalau setiap orang memilih jalannya sendiri-sendiri, lu lu gw gw, ya itu namanya hidup sendiri, silakan cari tempat lain.

    Jika negara menyebutkan bahwa kita tidak boleh membawa pisau di jalanan, maka saya memilih mematuhinya. Mungkin saya cuma satu orang yang mematuhi aturan itu dibanding ribuan orang yang berkeras tetap membawa pisau di jalanan (demi alasan apapun), tapi itulah pilihan saya, karena buat saya cita-cita membangun komunitas yang unggul tetap lebih penting daripada kemauan pribadi.

    Pemerintah akan menyarankan menggunakan bahan bakar non subsidi, menggunakan kendaraan umum, memilah plat nomor ganjil dan genap, dan sebagainya, Insya Allah saya akan mematuhi semua itu. Saya tidak peduli bahwa nanti akan sekian banyak pejabat negara yang melanggar anjuran mereka sendiri. Saya memilih menjadi bagian yang ikut dalam cita-cita besar.

    Banyak orang akan berkilah bahwa negara ini sudah gagal dalam menyejahterakan dan mengamankan rakyatnya... jawaban saya adalah, saya berada di pihak yang ingin negara ini berhasil, bukan ikut-ikutan menggagalkannya dengan bertindak sendiri melawan anjuran negara. Lagi-lagi saya cuma satu orang, tapi itu jalan hidup yang saya pilih. Apakah itu melawan realita, bisa jadi, tapi jangan lupa bahwa realita hanya ada di dalam kepala kita. Buat orang yang dari kecil dipukuli orang tuanya (misal loh ya, anonim pulak), maka kekerasan di mana-mana adalah realita. Senyum paling tulus sekalipun bisa dianggap seringai keji. Your call.

    Realita yang dialami milisi kontinental Amerika tahun 1770-an adalah mereka tentara petani yang melawan pasukan Inggris yang lebih maju dan terlatih, realita yang dihadapi oleh Soekarno adalah dia dibuang ke Bowen, realita yang dialami Yesus adalah dia berhadapan dengan protektorat Romawi, dan realita yang dihadapi oleh Muhammad adalah dia harus kabur ke Madinah menghindari upaya pembunuhan yang diatur oleh seluruh kabilah yang ada di Mekkah. Sejarah akan berbeda kalau orang-orang itu mengikuti apa yang disebut 'realita'.

    Lalu soal keamanan,
    Sejak Agustus kemarin saya pindah ke departemen yang mengurusi keamanan operasi perusahaan, wilayah kerja saya meliputi Asia Pasifik dan Timur Tengah. Teman-teman di kantor yang kenal saya pada tertawa ngakak "Si Alip akhirnya menemukan habitatnya."

    Well, sayangnya ternyata keamanan bukan soal kemampuan kita menggunakan senjata, tapi lebih bagaimana kita menerapkan mekanisme kontrol yang mencegah terjadinya kebocoran keamanan.

    Awal-awal penugasan saya kemarin banyak dipenuhi dengan training dan pelatihan seputar membangun sistem keamanan. Bagaimana membentuk perimeter, security system dan sebagainya, bahkan sampai pada tindakan CSR juga merupakan bagian dari pola keamanan yang diterapkan perusahaan. Penempatan penjaga bersenjata malah merupakan tindakan kontra-produktif.

    Saya memang bertemu sejawat dari wilayah kerja lain yang rata-rata punya latar belakang militer (contohnya si Sersan Italia itu), tapi mereka semua sepakat bahwa senjata adalah mekanisme paling akhir dan biasanya justru yang paling tidak efektif. Bahkan pasukan elit sekalipun sangat tergantung pada perencanaan operasi, bukan senjata atau kemampuan individu. Kalau mereka terjun di perang terbuka, ya mereka tidak ada bedanya dengan infantri biasa yang akan mati oleh peluru nyasar.

    Dalam kehidupan sipil, keamanan dibentuk oleh kesadaran masyarakat untuk saling menjaga dan mengawasi, dibantu oleh bapak-bapak satpam dan polisi. Kalau kita hidup sendirian tanpa kenal tetangga (atau kita tipe yang kalau kena musibah malah disukuri tetangga), yah, wajar saja kalau kita selalu merasa perlu senapan serbu di rumah.

    Dalam kehidupan commuting, keamanan diperoleh melalui pencarian jalur yang aman, waktu-waktu yang aman, kendaraan umum yang representatif (yang memang susah nyarinya), dan banyak hal lagi. Bukan dengan membawa pedang ke mana-mana. Saya sendiri juga enjoy naik bis kota, malah bisa baca buku, tapi kalau kemaleman banget, ya ambil taksi. Itupun telpon ke pool pusat.

    Tapi to cheer you up, Lan...
    Kalau nanti Indonesia bener-bener gagal, kita jatuh ke kondisi chaos dan apokaliptik, saya akan memegang senjata. Istri dan anak-anak-pun akan saya ajari menggunakannya. Dan saya akan mulai menembaki orang, toh tidak ada bedanya lagi karena tidak ada hukum yang berlaku. Mungkin saya akan menembaki orang karena membela diri, atau sekedar memenuhi naluri haus darah saya saja. One way or another, it is apocalyptic world, a free season
    <sound effect: evil laugh... harrr..harrr...harrrrrrr>
    ok anda sudah berhasil menemukan satu kelemahan saya yaitu membawa pisau dan melanggar hukum indonesia, kalau mau terus mengeksploitasi sisi itu silahkan buka topik tersendiri karena disini kita sedang membahas kepemilikan senjata api di amerika.

    Sudah jelas saya berulang kali mengatakan bahwa saya setuju terhadap perombakan hukum kepemilikan senjata api di Amerika, tapi masalahnya sebelum hukum tersebut dirombak apakah salah bisa seseorang yg hidup disana memutuskan untuk memegang senjata api ?

    Ingat bahwa tidak semua orang punya fisik yg cukup untuk menjadi jagoan beladiri yg bisa mematahkan leher semua psycho yg bersenjata lengkap.

    Selama situasi amerika masih tetap dibanjiri senjata api seperti yg sekarang ini, maka jangan menyalahkan seseorang yg baik dan memutuskan untuk juga memegang sebuah senjata api, sampai situasi peredaran senjata bisa lebih terkontrol dinegara tersebut.

  8. #108
    pelanggan setia Ronggolawe's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    5,137
    Quote Originally Posted by AsLan View Post
    Kalo begitu tentu kamu setuju kalau kepemilikan senjata api harus disertai sertifikat training ?

    Latihan beladiri memang membutuhkan waktu bertahun2, tapi tidak berarti akan menempa karakter praktisinia menjadi lebih "agung".
    Memang mitosnya seperti itu, tapi jujurnya saya melihat banyak juga praktisi beladiri yg sombong, di dunia beladiri banyak orang yg mengagungkan alirannya dan meremehkan aliran lain, juga banyak kasus keributan antar aliran, juga berbagai macam kasus yg menunjukkan bahwa pelaku beladiri tidak kebal terhadap berbagai keburukan sifat manusia.

    Juga tidak ada bukti bahwa memegang senjata akan membuat seseorang menjadi jahat, bagi saya secara logika kemampuan bela diri adalah senjata, dan justru disinilah keuntungan dari kepemilikan senjata:
    Dalam beladiri, beda berat badan sedikit saja bisa membuat perbedaan, beda hormon juga bisa membuat perbedaan besar, tapi dengan sebuah pistol seorang nenek bisa menjatuhkan seorang penjahat berbobot 150 kg, keberadaan senjata semakin meratakan kekuatan manusia.

    Senjata adalah perwujudan dari kekuatan pikiran manusia, senjata diciptakan oleh pikiran manusia sehingga meskipun fisik manusia kalah dari binatang tapi manusia mampu menguasai binatang.
    kalau babe gw pegang lisensi senjata, gw yang
    ngga punya lisensi bisa saja menggunakan pistol
    babe gw untuk menembaki orang.

    tapi kalau babe gw pesilat dengan jurus maut ja
    ri pencabut nyawa, gw ngga bakalan bisa meng
    gunakan jari babe gw buat bunuh orang

    ok anda sudah berhasil menemukan satu kelemahan saya yaitu membawa pisau dan melanggar hukum indonesia, kalau mau terus mengeksploitasi sisi itu silahkan buka topik tersendiri karena disini kita sedang membahas kepemilikan senjata api di amerika.

    Sudah jelas saya berulang kali mengatakan bahwa saya setuju terhadap perombakan hukum kepemilikan senjata api di Amerika, tapi masalahnya sebelum hukum tersebut dirombak apakah salah bisa seseorang yg hidup disana memutuskan untuk memegang senjata api ?

    Ingat bahwa tidak semua orang punya fisik yg cukup untuk menjadi jagoan beladiri yg bisa mematahkan leher semua psycho yg bersenjata lengkap.

    Selama situasi amerika masih tetap dibanjiri senjata api seperti yg sekarang ini, maka jangan menyalahkan seseorang yg baik dan memutuskan untuk juga memegang sebuah senjata api, sampai situasi peredaran senjata bisa lebih terkontrol dinegara tersebut.
    masalahnya loe menyalahkan pilihan orang untuk
    tidak memiliki dan membawa senjata. Padahal ke
    sadaran untuk tidak memiliki senjata atau memba
    wa senjata itu, dikarenakan rasa tanggung jawab
    tidak mau senjata yang dimiliki disalahgunakan pi
    hak yang tidak berhak.

  9. #109
    Barista AsLan's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    9,288
    Quote Originally Posted by Ronggolawe View Post
    kalau babe gw pegang lisensi senjata, gw yang
    ngga punya lisensi bisa saja menggunakan pistol
    babe gw untuk menembaki orang.

    tapi kalau babe gw pesilat dengan jurus maut ja
    ri pencabut nyawa, gw ngga bakalan bisa meng
    gunakan jari babe gw buat bunuh orang



    masalahnya loe menyalahkan pilihan orang untuk
    tidak memiliki dan membawa senjata. Padahal ke
    sadaran untuk tidak memiliki senjata atau memba
    wa senjata itu, dikarenakan rasa tanggung jawab
    tidak mau senjata yang dimiliki disalahgunakan pi
    hak yang tidak berhak.
    Berarti selama senjata itu tidak dipakai oleh orang lain lu setuju dengan kepemilikan senjata api.

    Dalam hal ini kita sepakat, gw juga gak setuju kalau senjata digunakan oleh orang lain, sama seperti mobil kita dipakai oleh anak secara diam2 dan menabrak orang.

  10. #110
    pelanggan setia Ronggolawe's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    5,137
    Quote Originally Posted by AsLan View Post
    Berarti selama senjata itu tidak dipakai oleh orang lain lu setuju dengan kepemilikan senjata api.

    Dalam hal ini kita sepakat, gw juga gak setuju kalau senjata digunakan oleh orang lain, sama seperti mobil kita dipakai oleh anak secara diam2 dan menabrak orang.
    terus, apa jaminannya senjata itu tidak akan disalah
    gunakan oleh orang lain?

    kecuali pistol robocop yang tidak akan bisa digu
    nakan orang lain, karena pake sensor sidik jari.

  11. #111
    pelanggan tetap Alip's Avatar
    Join Date
    May 2011
    Posts
    1,636
    Quote Originally Posted by Aslan
    ok anda sudah berhasil menemukan satu kelemahan saya yaitu membawa pisau dan melanggar hukum indonesia, kalau mau terus mengeksploitasi sisi itu silahkan buka topik tersendiri karena disini kita sedang membahas kepemilikan senjata api di amerika.
    Kita memang sedang membahas kepemilikan senjata api di Amerika, tentang saya tidak setuju mempersenjatai guru, lalu contoh itu berlanjut bahwa saya bahkan tidak membawa pisau di Indonesia karena saya memilih untuk tidak menyerah pada rasa takut dan ingin menjadi bagian dari gerakan kebaikan bagi Indonesia. Kalau itu dianggap itu sebagai personal attack dan eksploitasi atas kelemahan Aslan, maka saya betul-betul minta maaf tapi pada saat yang sama menyarankan Aslan untuk memeriksa sistem realita yang saat ini sedang bekerja di dalam kepala Aslan. Why it is always about you being cornered by bad guys?

    Quote Originally Posted by Aslan
    Selama situasi amerika masih tetap dibanjiri senjata api seperti yg sekarang ini, maka jangan menyalahkan seseorang yg baik dan memutuskan untuk juga memegang sebuah senjata api, sampai situasi peredaran senjata bisa lebih terkontrol dinegara tersebut.
    Saya tidak menyalahkan orang yang memutuskan untuk memegang senjata api. Kepada mereka saya katakan let's agree to disagree. Didn't you read that in my earlier posts? Saya menggunakan hak jawab saya sebagai orang yang memilih untuk tidak menggunakan senjata api karena Aslan menganggap kami sebagai golongan manusia aneh yang menyia-nyiakan privilege... bukan sebagai orang yang secara sadar memilih pilihan lain.

    Quote Originally Posted by Aslan
    Namun sayang sekali meskipun Amerika memberi kebebasan kepemilikan senjata api, banyak warganya yg tidak mau memiliki atau membawa senjata... Sebuah privilege yg disia-siakan.
    Tapi tentu saja Aslan tidak bermaksud seperti itu dan saya cuma taking it too seriously and overly imaginative 'kan? ... and by the way, I am a gun lover, saya bisa menghabiskan waktu berjam-jam memandangi, membersihkan, meminyaki, dan mengelus-elus senjata api. Bajanya yang dingin memberi sensasi yang menyenangkan.

    Quote Originally Posted by Aslan
    Ingat bahwa tidak semua orang punya fisik yg cukup untuk menjadi jagoan beladiri yg bisa mematahkan leher semua psycho yg bersenjata lengkap.
    ... dan tidak semua orang yang tidak punya fisik jagoan memilih untuk menghamba pada senjata. Dalam salah satu tayangan VoA beberapa hari lalu ada seorang perempuan yang menyerahkan senjatanya pada Sherrif dalam program "turn in your gun". Dia mengatakan "I don't need them". Buat saya itu keberanian, namun jika buat Aslan itu kebodohan kita selalu bisa agree untuk disagree. Mudah sekali kan? Tanpa perlu menjadi personal attack dan kita bisa lanjut membahas topik lain tanpa perlu ada hawa permusuhan.
    "Mille millions de mille milliards de mille sabords!"

  12. #112
    Barista AsLan's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    9,288
    Quote Originally Posted by Ronggolawe View Post
    terus, apa jaminannya senjata itu tidak akan disalah
    gunakan oleh orang lain?

    kecuali pistol robocop yang tidak akan bisa digu
    nakan orang lain, karena pake sensor sidik jari.
    Penyalahgunaan bisa terjadi terhadap apapun, mobil bisa disalahgunakan untuk menabrak orang, obat bius bisa disalahgunakan oleh jungkies.
    Bahkan senjata milik polisi dan tentara pun tidak lepas dari resiko penyalahgunaan.

    Jadi yg harus ditentang adalah penyalahgunaan senjata api, bukan senjatanya.

    ---------- Post Merged at 04:19 PM ----------

    Quote Originally Posted by Alip View Post
    Kita memang sedang membahas kepemilikan senjata api di Amerika, tentang saya tidak setuju mempersenjatai guru, lalu contoh itu berlanjut bahwa saya bahkan tidak membawa pisau di Indonesia karena saya memilih untuk tidak menyerah pada rasa takut dan ingin menjadi bagian dari gerakan kebaikan bagi Indonesia. Kalau itu dianggap itu sebagai personal attack dan eksploitasi atas kelemahan Aslan, maka saya betul-betul minta maaf tapi pada saat yang sama menyarankan Aslan untuk memeriksa sistem realita yang saat ini sedang bekerja di dalam kepala Aslan. Why it is always about you being cornered by bad guys?



    Saya tidak menyalahkan orang yang memutuskan untuk memegang senjata api. Kepada mereka saya katakan let's agree to disagree. Didn't you read that in my earlier posts? Saya menggunakan hak jawab saya sebagai orang yang memilih untuk tidak menggunakan senjata api karena Aslan menganggap kami sebagai golongan manusia aneh yang menyia-nyiakan privilege... bukan sebagai orang yang secara sadar memilih pilihan lain.



    Tapi tentu saja Aslan tidak bermaksud seperti itu dan saya cuma taking it too seriously and overly imaginative 'kan? ... and by the way, I am a gun lover, saya bisa menghabiskan waktu berjam-jam memandangi, membersihkan, meminyaki, dan mengelus-elus senjata api. Bajanya yang dingin memberi sensasi yang menyenangkan.



    ... dan tidak semua orang yang tidak punya fisik jagoan memilih untuk menghamba pada senjata. Dalam salah satu tayangan VoA beberapa hari lalu ada seorang perempuan yang menyerahkan senjatanya pada Sherrif dalam program "turn in your gun". Dia mengatakan "I don't need them". Buat saya itu keberanian, namun jika buat Aslan itu kebodohan kita selalu bisa agree untuk disagree. Mudah sekali kan? Tanpa perlu menjadi personal attack dan kita bisa lanjut membahas topik lain tanpa perlu ada hawa permusuhan.
    Tergantung dari alasannya.

    Kalau alasan tidak mau memegang senjata adalah karena takut dicuri orang dan disalah gunakan seperti yg disinggung oleh Ronggo, itu saya setuju.
    Kalau alasannya takut salah tembak seperti yg disinggung oleh Kandalf juga saya setuju.

    Tapi kalau menilai orang sebagai paranoid, weirdo, pengecut dll hanya karena mereka memilih untuk memiliki senjata saya rasa itu penilaian yg terlalu jauh.

    Saya mengatakan bahwa orang yg tidak mau membawa senjata sebagai menyia-nyiakan privilege karena itu adalah logika yg sangat sederhana,
    pada dasarnya senjata adalah penemuan manusia yg diciptakan khusus untuk mengatasi bahaya dari suatu serangan, entah itu serangan orang lain atau serangan hewan buas.

    Kalau penemuan itu sudah ada tapi tidak mau menggunakannya, ibarat orang tidak mau menggunakan kendaraan dan memilih untuk berjalan kaki dari Jakarta ke Semarang.

    Sekali lagi kalau senjata ditolak atas alasan yg logis dan masuk akal, tentu saya menerima dengan baik.

  13. #113
    pelanggan setia Ronggolawe's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    5,137
    Quote Originally Posted by AsLan View Post
    Penyalahgunaan bisa terjadi terhadap apapun, mobil bisa disalahgunakan untuk menabrak orang, obat bius bisa disalahgunakan oleh jungkies.
    Bahkan senjata milik polisi dan tentara pun tidak lepas dari resiko penyalahgunaan.

    Jadi yg harus ditentang adalah penyalahgunaan senjata api, bukan senjatanya.
    pengemudi mobil harus punya SIM, dan setelah
    menabrak orang pun bisa diadili, dan ngga mung
    kin bunuh diri dengan mobil

    Obat bius jelas Ilegal


    Tergantung dari alasannya.

    Kalau alasan tidak mau memegang senjata adalah karena takut dicuri orang dan disalah gunakan seperti yg disinggung oleh Ronggo, itu saya setuju.
    Kalau alasannya takut salah tembak seperti yg disinggung oleh Kandalf juga saya setuju.

    Tapi kalau menilai orang sebagai paranoid, weirdo, pengecut dll hanya karena mereka memilih untuk memiliki senjata saya rasa itu penilaian yg terlalu jauh.

    Saya mengatakan bahwa orang yg tidak mau membawa senjata sebagai menyia-nyiakan privilege[/B] karena itu adalah logika yg sangat sederhana,
    pada dasarnya senjata adalah penemuan manusia yg diciptakan khusus untuk mengatasi bahaya dari suatu serangan, entah itu serangan orang lain atau serangan hewan buas.

    Kalau penemuan itu sudah ada tapi tidak mau menggunakannya, ibarat orang tidak mau menggunakan kendaraan dan memilih untuk berjalan kaki dari Jakarta ke Semarang.

    Sekali lagi kalau senjata ditolak atas alasan yg logis dan masuk akal, tentu saya menerima dengan baik.
    sebenarnya perbedaannya disitu... loe memanda
    dang kelebihan sebagai hak, bukan sebagai tang
    gung jawab, jadi gampangs aja loe menganggap
    "bodoh" orang yang memilih untuk tidak mengam
    bil hak nya.... padahal si "bodoh" khawatir akan
    tanggun jawab nya

    soal privillege vs responsibility ini dijelaskan sudah
    dijelaskan oleh Dr Octopus di Spiderman 2 kok

    With great power, comes great responsibility, par
    ker

  14. #114
    pelanggan tetap Alip's Avatar
    Join Date
    May 2011
    Posts
    1,636
    Quote Originally Posted by AsLan View Post
    Tapi kalau menilai orang sebagai paranoid, weirdo, pengecut dll hanya karena mereka memilih untuk memiliki senjata saya rasa itu penilaian yg terlalu jauh.
    Ada orang yang paranoid, weirdo, dan pengecut... yang karenanya mereka menggantungkan rasa aman mereka pada senjata api. Mereka betul-betul ada dan itulah gunanya diadakan psikotes ketika seseorang ingin memiliki senjata api. Jangan sampai ada senjata api jatuh ke tangan orang-orang yang melihat musuh di mana-mana seperti ini.

    Ada juga yang tidak paranoid, bukan weirdo, dan bukan pengecut, yang lulus psikotes-nya dengan baik. Jadi orang-orang ini boleh memegang senjata api.

    Lucunya, banyak teman-teman yang lulus psikotes yang kalaupun kemudian memiliki senjata, mereka menitipkan senjatanya di klub menembak, jadi hanya dipakai untuk hobby dan senjata-senjata itu tidak pernah keluar dari sana.

    Sebaliknya, kisah yang saya dengar justru para tidak lulus-er yang ngotot bener ingin punya senjata dan bahkan berani menyuap petugas polisi.

    Nah, sudah jelas-kah posisi kita masing-masing sekarang?

    Quote Originally Posted by AsLan View Post
    Saya mengatakan bahwa orang yg tidak mau membawa senjata sebagai menyia-nyiakan privilege karena itu adalah logika yg sangat sederhana, pada dasarnya senjata adalah penemuan manusia yg diciptakan khusus untuk mengatasi bahaya dari suatu serangan, entah itu serangan orang lain atau serangan hewan buas.

    Kalau penemuan itu sudah ada tapi tidak mau menggunakannya, ibarat orang tidak mau menggunakan kendaraan dan memilih untuk berjalan kaki dari Jakarta ke Semarang.
    Sama-sama saya beri contoh ngawur.

    Orang yang tidak mau menggunakan senjata api adalah ibarat orang yang pergi ke atau tinggal di negara di mana prostitusi merupakan kegiatan legal tapi memilih untuk tidak menggunakan jasa tersebut karena berbagai macam alasan yang tidak logis dan tidak masuk akal, khususnya berkenaan dengan nilai-nilai yang sifatnya abstrak dan belum dapat dibuktikan secara ilmiah. Orang-orang ini menyia-nyiakan suatu privilege, karena pada dasarnya kebutuhan untuk melakukan hubungan seksual adalah kebutuhan dasar manusia dan media penyalurannya sudah dilegalkan oleh hukum negara bersangkutan.

    Orang-orang ini sungguh bodoh dan tidak mampu berpikir logis.
    "Mille millions de mille milliards de mille sabords!"

  15. #115
    pelanggan tetap jojox's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Location
    Jekardah
    Posts
    1,169
    ^ true,

    gw lair dan besar di Jogja, cuman sekali ke Pasar Kembang dan melewatkan privillege dan quality services di sono.
    Sprtinya saya hanya takut dan concerned dg penyakit dan konsekuensi menggunakan 'senjata' saya.

    somebody needs to read between the lines...
    Any views or opinions presented above are solely those of the author. Thus the author may disclaim accuracy on warranties and liabilities they may cause including loss of intellectual properties, economical benefit, and coordinated mental responses.

  16. #116
    Barista AsLan's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    9,288
    Contoh mengenai prostitusi memang ngawur, beda dengan contoh dari saya yg ekstrim tapi benar.

    Titik perbedaannya ada di -Moral-

    Memakai jasa prostitusi adalah melanggar moral, misalnya bagi yg beragama hal tersebut adalah pelanggaran hukum agama.
    Tapi memiliki senjata Tidak melanggar hukum agama, juga tidak melanggar moral.

    Contoh yg saya berikan bukan contoh ngawur karena Menggunakan kendaraan atau Memiliki senjata memiliki aspek yg sama yaitu privillege dalam menggunakan teknologi.

    Contoh yg ngawur membuktikan logika yg lemah, beda dengan contoh yg ekstrim, contoh yg ekstrim tidak memiliki cacad analogi melainkan memperbesar fokus terhadap masalah utama.

    ---------- Post Merged at 10:55 PM ----------

    Dari pembicaraan panjang lebar kesimpulannya :

    1. Kepemilikan senjata memiliki resiko yg tidak diinginkan
    2. Kepemilikan senjata harus disertai latihan yg cukup
    3. Harus ada ijin yg ketat untuk memeriksa kesehatan mental si pemilik
    4. Kepemilikan senjata, selain sebuah hak bagi warga Amerika juga adalah sebuah tanggung jawab

    Ide2 sampingan yg mencuat di diskusi ini :

    1. Orang yg memilih tak bersenjata itu lebih mulia dari yg memilih memegang senjata, tidak terbukti
    2. Orang yg memilih tak bersenjata itu lebih pemberani dari yg memilih tidak memegang senjata, tidak terbukti.
    3. Saat diserang oleh orang bersenjata, tak bersenjata adalah pilihan terbaik, tidak terbukti.

    Silahkan melanjutkan dengan berbagai tulisan panjang lebar untuk membuktikan hal2 yg belum terbukti diatas, tapi menurut saya tulisan2 yg lalu sudah cukup panjang2.

  17. #117
    Barista AsLan's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    9,288
    Quote Originally Posted by Ronggolawe View Post
    terus, apa jaminannya senjata itu tidak akan disalah
    gunakan oleh orang lain?

    kecuali pistol robocop yang tidak akan bisa digu
    nakan orang lain, karena pake sensor sidik jari.
    kalo yg namanya penyalahgunaan, itu apapun bisa disalahgunakan.
    sensor sidik jari pun bisa disalah gunakan.

    Kemampuan beladiri ?
    sering disalahgunakan. Jangan kira orang belajar beladiri lalu jadi mulia.

    Bisakah kemampuan beladiri disalah gunakan oleh orang lain ? bisa.

    Misalnya kita membayar preman2 yg jago mukulin orang, itu artinya kita menggunakan kemampuan beladiri orang lain untuk kepentingan kita.

    Bahkan anak kecil pun bisa memperalat kekuatan orangtuanya...

    BABUJU Report.-orang tua siswa menghajar guru SMA PGRI Kota Bima hingga babak belur di teras sekolah setempat, Rabu (12/10).

    Jaharuddin, adalah guru malang yang mendapat serangan dan bogem mentah dari Nurdin, orang tua Siswi.
    Jaharudin adalah Guru Geografi pada SMA PGRI Kota Bima itu dihajar lantaran disinyalir memukul Suryani Saat kegiatan Belajar Mengajar (KBM) berlangsung pada sekitar pukul 12.00 Wita Rabu kemarin.

    Informasi yang berhasil diendus wartawan, Suryani yang tidak bisa menerima perlakuan guru tersebut langsung mengadukan peristiwa itu kepada orang tuanya.

    Selang beberapa saat kemudian, Nurdin, Orang tua siswi dan salah seorang keluarganya langsung masuk halaman Sekolah dan memukul guru tersebut didepan teras Sekolah hingga babak belur.

    Untungnya, kebrutalan Nurdin dapat dilerai dan beberapa orang guru yang langsung menghubungi aparat Kepolisian Polres Bima Kota untuk mengamankan situasi.
    Last edited by AsLan; 26-12-2012 at 01:28 AM.

  18. #118
    pelanggan tetap jojox's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Location
    Jekardah
    Posts
    1,169
    ^ wah aslan,
    susah kawan, menggunakan aspek moralitas dalam kerangka pikir kebijakan logis. Jauh lebih gampang mempolitisasi permasalahan dengan mencermati kajian akademis, FS, cost-benefit analysis, empirical studies, stats, fakta sederhana dan bukan hypothetical-what-ifs dan contoh2 extreme di negara yang mempraktekkan model kebijakan yang rasional (baca: sekuler) kek US. Di Indo okelah, di negara yang mengesampingkan logika dan cenderung terpengaruh dengan emosi dan feeling2 kedaerahan. Kita bisa judge dg bantuan infotainment bahwa senpi = amoral, maka dari sabang-merauke, opini publik mencerminkan kebijakan tak tertulis terkait. ndak perlu di paripurnakan, ndak perlu ke DPR, ndak perlu repot.

    Di US, Stakeholder kek NRA (National Rifle Association) dimana separuh lebih anggotanya yg sangatlah religious tetep keukeuh dengan pandangan bahwa kepemilikan senpi itu masih relevant dan diperlukan sepanjang masa. Ini adalah orang-orang dengan profile yang rajin ibadah ke gereja, ikut Chi Alpha rally, khatam Injil, suka hunting, patriotik, anti-abortion, anti-gay marriage etc. IMO, Aslan bisa fit bngt dengan tipikal komunitas republikan ini, btw.

    Anyhoo, gw gak yakin ini suatu ide yang menarik untuk concerned dg US politics plus gun control laws disono. Kenapa? karena gak implementatif disini, sesederhana itu. Ada gap2 banyak, dan apa yho worth it even to discuss? Isu kepemilikan senpi di dalam negeri wae lah, kek temuan bekas konflik di Poso dan Aceh yang jauh lebih dekat dan ancamannya ke kamtibmas lebih imminent di lingkungan kita.
    Any views or opinions presented above are solely those of the author. Thus the author may disclaim accuracy on warranties and liabilities they may cause including loss of intellectual properties, economical benefit, and coordinated mental responses.

  19. #119
    pelanggan setia kandalf's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    6,050
    Quote Originally Posted by AsLan View Post
    1. Kepemilikan senjata memiliki resiko yg tidak diinginkan
    2. Kepemilikan senjata harus disertai latihan yg cukup
    3. Harus ada ijin yg ketat untuk memeriksa kesehatan mental si pemilik
    4. Kepemilikan senjata, selain sebuah hak bagi warga Amerika juga adalah sebuah tanggung jawab
    Aku sepakat dengan kesimpulan ini.
    Aku masih merasa tidak nyaman dengan kepemilikan senjata api oleh individual pribadi namun kalaupun dibolehkan, jelas wajib ada pengetatan.

    Quote Originally Posted by AsLan View Post
    1. Orang yg memilih tak bersenjata itu lebih mulia dari yg memilih memegang senjata, tidak terbukti
    Dari awal gak ada yang bilang memilih tak bersenjata lebih mulia.
    Quote Originally Posted by AsLan View Post
    2. Orang yg memilih tak bersenjata itu lebih pemberani dari yg memilih tidak memegang senjata, tidak terbukti.
    Dari awal gak ada yang bilang tak bersenjata lebih berani daripada yang memilih tidak memegang senjata.
    Quote Originally Posted by AsLan View Post
    3. Saat diserang oleh orang bersenjata, tak bersenjata adalah pilihan terbaik, tidak terbukti.
    Tidak pernah ada pernyataan tak bersenjata adalah pilihan terbaik. Justru dari awal kau yang mendesak bahwa memilih bersenjata saat diserang orang bersenjata adalah pilihan terbaik, dan pernyataanmu itu yang dibantah.

    Quote Originally Posted by AsLan View Post
    Kemampuan beladiri ?
    sering disalahgunakan. Jangan kira orang belajar beladiri lalu jadi mulia.

    Bisakah kemampuan beladiri disalah gunakan oleh orang lain ? bisa.

    Misalnya kita membayar preman2 yg jago mukulin orang, itu artinya kita menggunakan kemampuan beladiri orang lain untuk kepentingan kita.
    Benar. Sepakat.
    Makanya di beladiri tradisional, beladiri itu adalah proses panjang, bukan proses singkat.

    Bahkan di masyarakat yang benar-benar tradisional, seluruh unsur anggota masyarakatnya menguasai beladiri masyarakat tersebut. Misalnya, di masyarakat Minang dahulu, silek adalah hal yang bisa diakses semua pemuda yang menginap di langgar. Dengan demikian, ketika dibutuhkan, semua masyarakat bisa berperang.

    Sementara urusan perselisihan antar pribadi tidak diselesaikan melalui pertarungan beladiri (karena akan memecah masyarakat) melainkan melalui rapat besar keluarga.

    Ketika mulai ada pergeseran nilai seperti ketika dijajah asing dan beberapa anggota masyarakat tertarik untuk memihak asing (misalnya), maka biasanya orang yang memegang semua ilmu tersebut mulai memilah-milah siapa yang layak mewarisi ilmu mereka. Sementara anggota masyarakat yang dianggap tidak layak, untuk menjaga 'ketentraman', biasanya diwarisi ilmu seadanya.

    Karena itu biasanya ada istilah semacam 'murid luar' dengan 'murid dalam'.

    Nah, untuk contoh preman,
    percayalah, semenyalak apapun preman, kalau dia benar pernah belajar beladiri, kalau ama gurunya sendiri atau kawan-kawannya yang 'murid dalam', pasti dia gak berani macam-macam.

    Nah,
    untuk kasus beladiri yang sudah benar-benar terbuka, atau bahkan beladiri instan,
    bahkan para praktisinya pun juga akan menyadari bahwa resiko terluka atau mati itu tinggi kalau dipakai di jalan. Misalnya, untuk Arnis dan Escrima yang terbuka, yang rata-rata sudah terbuka, para praktisi yang pernah diskusi (lewat internet sih..) rata-rata justru malah sengaja 'bersikap pengecut' sampai membuat gregetan.

    Selain masalah resiko luka dan mati, biasanya para praktisi beladiri juga dibekali bahaya dari segi hukum. Seorang praktisi beladiri Jepang dari Indonesia, ketika berada di Jepang pernah diomeli para senseinya karena ikut campur dalam menangani orang yang mengamuk dan berpisau. Diomeli bukan karena dia membawa resiko untuk dirinya, tapi kalau sampai ikut campurnya membuat orang lain terluka, dia bisa terkena hukuman dari pihak berwajib.

    Nah,
    benar, beladiri tetap bisa disalahgunakan. Aku tidak akan mengelak.
    Tapi yang belajar beladiri pun tetap akan ditekankan bahwa mereka punya kewajiban. Jangan mentang2 punya ilmu lebih langsung main hajar.

    Dan selayaknya, kepemilikan bersenjata api pun juga demikian.
    Lomba peluk2an di Citos: 30 November 2013
    Lomba dorong2an di Candra Naya (dkt Glodok): 8 Desember 2013

  20. #120
    Barista AsLan's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    9,288
    Sip sip... Bela diri dan senjata api adalah sebuah kekuatan sekaligus tanggung jawab.

Page 6 of 7 FirstFirst ... 4567 LastLast

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •