@Aslan,
Ada bedanya antara contoh ekstrim dengan contoh ngawur. Contoh ekstrim memuat kondisi yang paling parah yang bisa terjadi, tapi masih logis, sedangkan contoh ngawur memuat kejadian yang bahkan Hollywood sekalipun akan menolak skenarionya.
Memang saya meluangkan waktu untuk berlatih memukuli orang lain selama tiga puluh empat tahun terakhir ini, termasuk di dalamnya senjata tumpul, tajam, lentur, dan api. Tapi bukan itu inti permasalahannya. Yuk lihat dalam skala yang lebih besar ketimbang selembar ego bodoh yang berpikir bahwa kalau bisa mukuli orang maka bisa jadi jagoan
lelanang ing jagad.
Mengapa kita hidup bernegara? Teori-teori yang canggih bisa ditemukan di literatur yang disebut kandalf di utasan tentang moralitas kaum atheis. Aslan TS-nya khan? Tapi yuk kita sederhanakan.
Kita hidup bernegara, berada di bawah aturan hukum dan moral, karena kita berharap bisa membangun komunitas kolektif yang saling mendukung dan bekerjasama untuk kemajuan, baik kemajuan pribadi maupun kolektif, yang tidak bisa kita lakukan kalau hidup sendiri-sendiri.
Safety, prosperity, and advancement in number. Di situ kita bisa melihat gunanya aturan dan etika, menjaga agar komunitas tetap utuh, karena kalau setiap orang memilih jalannya sendiri-sendiri, lu lu gw gw, ya itu namanya hidup sendiri, silakan cari tempat lain.
Jika negara menyebutkan bahwa kita tidak boleh membawa pisau di jalanan, maka saya memilih mematuhinya. Mungkin saya cuma satu orang yang mematuhi aturan itu dibanding ribuan orang yang berkeras tetap membawa pisau di jalanan (demi alasan apapun), tapi itulah pilihan saya, karena buat saya cita-cita membangun komunitas yang unggul tetap lebih penting daripada kemauan pribadi.
Pemerintah akan menyarankan menggunakan bahan bakar non subsidi, menggunakan kendaraan umum, memilah plat nomor ganjil dan genap, dan sebagainya, Insya Allah saya akan mematuhi semua itu. Saya tidak peduli bahwa nanti akan sekian banyak pejabat negara yang melanggar anjuran mereka sendiri. Saya memilih menjadi bagian yang ikut dalam cita-cita besar.
Banyak orang akan berkilah bahwa negara ini sudah gagal dalam menyejahterakan dan mengamankan rakyatnya... jawaban saya adalah, saya berada di pihak yang ingin negara ini berhasil, bukan ikut-ikutan menggagalkannya dengan bertindak sendiri melawan anjuran negara. Lagi-lagi saya cuma satu orang, tapi itu jalan hidup yang saya pilih. Apakah itu melawan realita, bisa jadi, tapi jangan lupa bahwa realita hanya ada di dalam kepala kita. Buat orang yang dari kecil dipukuli orang tuanya (misal loh ya, anonim pulak), maka kekerasan di mana-mana adalah realita. Senyum paling tulus sekalipun bisa dianggap seringai keji.
Your call.
Realita yang dialami milisi kontinental Amerika tahun 1770-an adalah mereka tentara petani yang melawan pasukan Inggris yang lebih maju dan terlatih, realita yang dihadapi oleh Soekarno adalah dia dibuang ke Bowen, realita yang dialami Yesus adalah dia berhadapan dengan protektorat Romawi, dan realita yang dihadapi oleh Muhammad adalah dia harus kabur ke Madinah menghindari upaya pembunuhan yang diatur oleh seluruh kabilah yang ada di Mekkah. Sejarah akan berbeda kalau orang-orang itu mengikuti apa yang disebut 'realita'.
Lalu soal keamanan,
Sejak Agustus kemarin saya pindah ke departemen yang mengurusi keamanan operasi perusahaan, wilayah kerja saya meliputi Asia Pasifik dan Timur Tengah. Teman-teman di kantor yang kenal saya pada tertawa ngakak "Si Alip akhirnya menemukan habitatnya."
Well, sayangnya ternyata keamanan bukan soal kemampuan kita menggunakan senjata, tapi lebih bagaimana kita menerapkan mekanisme kontrol yang mencegah terjadinya kebocoran keamanan.
Awal-awal penugasan saya kemarin banyak dipenuhi dengan training dan pelatihan seputar membangun sistem keamanan. Bagaimana membentuk perimeter,
security system dan sebagainya, bahkan sampai pada tindakan CSR juga merupakan bagian dari pola keamanan yang diterapkan perusahaan. Penempatan penjaga bersenjata malah merupakan tindakan kontra-produktif.
Saya memang bertemu sejawat dari wilayah kerja lain yang rata-rata punya latar belakang militer (contohnya si Sersan Italia itu), tapi mereka semua sepakat bahwa senjata adalah mekanisme paling akhir dan biasanya justru yang paling tidak efektif. Bahkan pasukan elit sekalipun sangat tergantung pada perencanaan operasi, bukan senjata atau kemampuan individu. Kalau mereka terjun di perang terbuka, ya mereka tidak ada bedanya dengan infantri biasa yang akan mati oleh peluru nyasar.
Dalam kehidupan sipil, keamanan dibentuk oleh kesadaran masyarakat untuk saling menjaga dan mengawasi, dibantu oleh bapak-bapak satpam dan polisi. Kalau kita hidup sendirian tanpa kenal tetangga (atau kita tipe yang kalau kena musibah malah disukuri tetangga), yah, wajar saja kalau kita selalu merasa perlu senapan serbu di rumah.
Dalam kehidupan
commuting, keamanan diperoleh melalui pencarian jalur yang aman, waktu-waktu yang aman, kendaraan umum yang representatif (yang memang susah nyarinya), dan banyak hal lagi. Bukan dengan membawa pedang ke mana-mana. Saya sendiri juga enjoy naik bis kota, malah bisa baca buku, tapi kalau kemaleman banget, ya ambil taksi. Itupun telpon ke pool pusat.
Tapi
to cheer you up, Lan...
Kalau nanti Indonesia bener-bener gagal, kita jatuh ke kondisi
chaos dan apokaliptik, saya akan memegang senjata. Istri dan anak-anak-pun akan saya ajari menggunakannya. Dan saya akan mulai menembaki orang, toh tidak ada bedanya lagi karena tidak ada hukum yang berlaku. Mungkin saya akan menembaki orang karena membela diri, atau sekedar memenuhi naluri haus darah saya saja.
One way or another, it is apocalyptic world, a free season
<sound effect: evil laugh... harrr..harrr...harrrrrrr>
