Setiap terjadi kasus penembakan massal, penjualan senjata melonjak.
http://www.cnbc.com/id/100321785
alasannya:
1. orang ingin melindungi diri dan orang2 yg dicintainya
2. orang takut pemerintah mempersulit terbitnya ijin senjata
Jadi, memang kebebasan senjata api di amerika adalah hal yg buruk, tapi itu realita yg sudah terlanjur terjadi.
ibaratnya
sama dengan situasi peredaran senjata, seharusnya senjata diatur dengan ketat, hanya aparat negara yg boleh memilikinya, tapi situasinya sudah kacau, banyak orang memiliki senjata dan banyak kasus penembakan.disuatu wilayah terjadi kelangkaan pangan.
pemerintah memberi bantuan pangan yg dikirim dengan beberapa truk
situasi menjadi chaos, orang2 berebut makanan dan situasi tak terkendali
di situasi itu, apa yg kau lakukan ?
ikut berebut makanan dan mungkin bisa dapet untuk menyelamatkan keluargamu (mungkin juga gak dapet)
atau
tidak mau ikut berebut makanan dan keluargamu sudah pasti mati kelaparan
sebenarnya situasi yg terbaik adalah makanan dibagikan secara baik dan adil, tapi situasinya sudah keburu kacau dan tak bisa dikendalikan
Lan, kebebasan senjata di amrik itu ud dari ratusan taun. Kejadian2 orang gila gini kan baru2 aja. Dan semakin sering terjadi, bukan karena orang2 bisa pegang senjata, tapi karena kehidupan yg makin buruk di sana.
Kalo diliat dari efeknya di mana orang justru malah membeli senjata yg sebanyak2nya, maka penjual2 senjata lah yg diuntungkan. Jadi apa ga lebih masuk akal kalo kejadian2 ini diprakarsai oleh penjual2 senjata? Membeli senjata yg sebanyaknya artinya kemungkinan rakyat sipil saling tembak menembak lebih tinggi. Di sana telah ditumbuhkan mentalitas saling mencurigai.
maka gw bilang kondisi itu udah gak sehat.
tapi kalau lu hidup dilingkungan yg gak sehat seperti itu gimana ?
mau tunggu amerika jadi membaik dulu ?
boleh aja menunggu situasi amerika membaik, tapi apa salahnya beli dan berlatih memakai senjata api dengan baik.
nanti kalau akhrinya pemerintah amerika minta semua senjata api diserahkan ke negara, ya serahkan.
tapi itu juga gak dipaksakan sih, tergantung masing2.
kalau jiwanya seperti lily, gak mau melakukan kekerasan apapun dalam kondisi apapun, ya gak usah pegang senjata, serahkan saja pada orang baik lainnya yg mau.
Nope..
Itu senjata sang ibu.
Sang ibu bukan guru SD tersebut. Ia korban pertama, ketika masih tidur.
Si ibu pula yang memperkenalkan senjata, latihan senjata bersama pelaku. Ada dugaan, dia mencari alternatif agar bisa mengajak si anak keluar rumah, supaya si anak tidak hanya berada di depan komputer main games.
Dia membeli senapan serbu pada Bulan Maret 2010;
Sig Sauer otomatis pada Maret 2011;
Pistol Glock pada bulan Januari 2012.
Yang Bushmaster yang masih misteri kalau gak salah.
http://www.cbsnews.com/8301-18563_16...town-shooting/
Kembali ke topik,
Bukan 'kalau perlu berlindung',Originally Posted by Aslan
tapi reaksi pertama memang yang benar adalah berlindung dengan benar dahulu.
Dunia tembak menembak bukan kayak film koboi di mana kedua belah pihak sama-sama berhadapan dengan senjata masing-masing di pinggang.
---------- Post Merged at 12:29 AM ----------
Pergi dari Amerika Serikat.
Been that, done that!
Video yang ditunjukkan oleh nDableg sebelumnya,
kagak perlu punya senjata api untuk melawan senjata api. Si cewek menuruti keinginan si perampok, mengambil kapak saat lengah, dan mengayunkan dan kayaknya juga pakai perang mental supaya si perampok kagok. Toh, akhirnya ayunan kapaknya membuat si perampok menjatuhkan pistol dan lari.
Kejadian di Gresik juga sama, cuma bedanya, yang diserang tidak berpikir. Dia refleks. Niatnya hanya supaya pistol tidak ditujukan ke badannya. Siapa sangka ternyata malah si oknum TNI malah kagok, menekan pelatuk pas sedang mengarah ke kepala.
Lomba peluk2an di Citos: 30 November 2013
Lomba dorong2an di Candra Naya (dkt Glodok): 8 Desember 2013
sejak gw mencintai pisau, gw bawa2 pisau kesayangan gw kemana2.
gw cukup puas dengan pandangan negatif orang2, bahkan teman2 gw sendiri ada yg bilang gw paranoid.
mungkin dalam hati mereka mau bilang bahwa gw pengecut.
gw gak mau debat, biarin aja orang berpikir apapun.
gw merasa gw adalah orang yg rasional.
menurut gw, punya itu lebih baik daripada gak punya.
orang punya mobil gak berarti harus make mobil, tapi berarti saat dia perlu make mobil dia bisa.
kalau dia mau make kendaraan umum juga dia bisa.
jadi orang punya senjata tidak berarti dia harus make senjatanya, tapi artinya kalau dia perlu make senjata itu, dia bisa.
bagi gw punya pilihan lebih banyak adalah sebuah keputusan yg lebih rasional daripada sengaja membatasi pilihan.
Kalau lu sedang mengajar dikelas,
lalu tiba2 ada orang masuk dan memberondong murid2 disitu.
1. lu punya senjata
atau
2. lu gak punya senjata
kalo lu gak punya, lu cuma bisa pasrah memandangi anak2 kecil itu diberondong peluru.
kalo lu punya senjata, lu punya pilihan mau melawan, bisa. Atau mau diam dan memandangi anak2 kecil itu diberondong peluru, juga bisa.
Kalau lu berkata bahwa lu bisa pakai meja atau bangku untuk melawan...
betul. kalau itu yg menurut lu yg terbaik, maka dengan pistol di kantung pun lu tetap bisa memilih untuk menggunakan bangku atau meja untuk melawan.
Lu mau kasus di mana ada yang pegang senjata resmi tapi gak bisa menggunakan, Slan?
Ini:
http://www.kgw.com/news/Clackamas-ma...183593571.html
Kasus penembakan membabibuta juga.
Ada yang mau melakukan intervensi, persis seperti argumentasimu.
Dia juga sempat mengambil senjata dan menodongkan ke arah pelaku penembak membabi buta.
Dan... dia tidak bisa menembak bukan karena senjatanya macet.
Dia tahu persis, kalau meleset, dia akan mengenai orang lain.
Jadi yang dia lakukan adalah tetap menodong pistolnya, tidak menembak, tetapi sorot matanya menatap tajam ke si pelaku.
Dia beruntung, si pelaku penembak membabi buta kalah mental jadi akhirnya bunuh diri.
Pertanyaan gue adalah,
bagaimana seandainya si pelaku tidak gentar?
Lomba peluk2an di Citos: 30 November 2013
Lomba dorong2an di Candra Naya (dkt Glodok): 8 Desember 2013
ya kita ditembak mati...
sama seperti kalau kita gak punya senjata, mati juga.
melawan orang nekad seperti itu memang chance keberhasilannya kecil.
jadi gini...
untuk masalah senjata, ada 2 wilayah pembahasan:
1. di level negara, harus dibuat undang2 atau peraturan baru untuk memperbaiki situasi
2. di level pribadi, lakukan apapun yg kira2 paling rational untuk diri kita dan keluarga kita
ibaratnya...
kita harus melewati sebuah lembah yg sangat berbahaya karena banyak perampok, biasanya orang yg dirampok pasti dibunuh.
pilihan yg paling rasional adalah kita harus mempersenjatai diri, kalau bisa malah bawa pasukan keamanan sekalian.
lalu di level pemerintah, pemerintah perlu memikirkan cara membenrantas kriminal2 yg bercokol di lembah itu
tapi sementara pemerintah belum beraksi, kita kan tetap harus berada ditempat bahaya itu, ya kita lakukanlah semua opsi yg bisa memperbaiki chance survival kita untuk sementara waktu.
Well,
pandangan gue di level negara udah jelas di halaman sebelumnya.
Di level keluarga,
gue melihat masih banyak pilihan untuk bertahan hidup.
Walaupun jujur, rencana gue untuk melatih putri gue sampai sekarang banyak ditentang ama bini.
Lomba peluk2an di Citos: 30 November 2013
Lomba dorong2an di Candra Naya (dkt Glodok): 8 Desember 2013
Saya berubah pikiran , saya mau punya senjata dan berlatih senjata. Tapi saya ga mau membunuh orang. Saya pikir , kalo kita orang baik , kita pasti bisa melumpuhkan seorang penjahat dengan menembaknya , tapi ga sampe mati.
Ya paling enggak melumpuhkan aja , supaya ga lebi banyak korban. Misal tembak di kakinya...
Ini misal ya , bayangin aja udah ngeri.
---------- Post Merged at 12:04 AM ----------
Saya berubah pikiran , karena om Aslan tulis 2 contoh yang saat kelaparan ama yang saat lewat lembah berbahaya...
Apa kita sebagai manusia , emang harus memilih mengorbankan orang lain , supaya kita selamat ya...
Kayak di contoh dan pilihan yang om Aslan berikan di atas...
- I'm such a very lucky woman and have a very lucky life -
Pernah latihan menembak, Ly?
Gue pernah.
Gak semudah itu membidik.
Itu sebabnya kenapa para penembak membabibuta menembak di keramaian karena biarpun meleset dari target, pasti tetap kena orang.
Itu sebabnya, 'pahlawan' yang kukutip di atas sama sekali tidak menekan pelatuk dan hanya mengandalkan perang psikologis.
Kalau niatmu punya senjata untuk melumpuhkan, lebih baik lupakan.
Sekali pegang senjata dan kau dalam kondisi genting dan berbahaya, maka niatmu harus satu, 'bunuh'. Kenapa si 'pahlawan' itu berhasil selain faktor keberuntungan, karena dia punya latihan sebagai keamanan. Dia bisa tenang, bisa menilai bahwa dia tidak bisa menembak sasaran dengan tepat tanpa resiko. Dan dia tahu, dengan kekurangan itu, dia tetap harus mengancam.
Tanpa latihan semacam itu, tanpa ketenangan dan kemampuan memancarkan niat serius, hanya latihan menembak biasa, dan diberikan pistol, percayalah... kau cuma akan melukai orang lain, bukan si penembak buta.
Itu sebabnya, aku tidak setuju pendapat untuk membolehkan orang tanpa latihan (polisi, militer) menggunakan senjata api.
Sekedar intermezzo,
di kasus Sandy Hook,
jumlah korban bisa lebih banyak. Adam Lanza masih memiliki pistol di kantongnya. Tapi selain guru dan dua kelas, sisanya selamat. Kenapa? Karena strategi yang sudah dilatih, menerapkan sistem komunikasi dan kekompakan mengunci serta latihan menenangkan siswa.
Sekarang seandainya kau guru di sana dan punya pistol di sana,
seperti yang kubilang, kalaupun kau punya pistol, kau tidak akan menaruh di kantong. Kau pasti menaruhnya di laci meja atau di tas. Kalau pikiranmu untuk mengambil pistol, kau sudah telat bereaksi dan kau tidak akan menolong siapa pun.
Begitu juga seandainya kau di kelas ujung dan kau sempat ambil pistol dan mau jadi sok jagoan dan langsung keluar, dijamin tembakanmu akan meleset. Masih untung kalau tidak melukai anak-anak lain.
Mau menembak kaki? Bagaimana kalau meleset dan lantainya cukup keras dan sudutnya memenuhi faktor untuk mementalkan peluru dan malah jadi peluru nyasar ke arah lain?
Atau kasusnya dibalik,
bagaimana kalau putramu, O, entah bagaimana bisa mengambil senjatamu dan dia gunakan untuk melawan anak-anak yang lebih tua yang selama ini memukuli dia?
Lomba peluk2an di Citos: 30 November 2013
Lomba dorong2an di Candra Naya (dkt Glodok): 8 Desember 2013
kekeke...
langkah paling aman adalah menempatkan ex-navy
seal atau ex-delta sebagai koki disetiap kantin se
kolah![]()
Berarti gini,
Seperti hal apapun, punya senpi juga ada untung dan ruginya.
Untungnya ya punya kesempatan untuk balas menembak (kalo belon ditembak duluan sih)
Ruginya senpinya ada ksempatan untuk disalah gunakan (misalnya dicuri anak untuk melakukan penembakan masal)
Jadi tergantung pilihan masing2 sih. Kalo gue sih walau hidup di US, tetap memilih nggak punya senpi.
kan hanya misal dalf... tapi saya ga pernah latihan menembak sih , antara pengen belajar dan enggak sih gara - gara thread ini
itu sih tergantung pribadi masing - masing sih... contohnya... Papa saya , dia koleksi senjata dan jago menembak , tapi Koko saya juga ga pernah pegang senjata dan belajar menembak...
padahal dulu , kita semua tau dimana Papa taruh senjata nya , mulai dari pisau sampe senjata...
sekarang aja , udah ditaruh di loteng , yang ga mungkin kita kesana.
---------- Post Merged at 07:50 AM ----------
saya pernah diajari Mama gini...
saat kamu tinggal di lingkungan yang buruk , jangan kamu ikut - ikut menjadi buruk. tetaplah menjadi orang yang baik.
mungkin ga sekarang , tapi one day , orang yang buruk bisa menjadi orang yang baik , karena seorang kamu.
---------- Post Merged at 07:52 AM ----------
tapi kalo udah kejadian begini , kayanya sekolah di AS akan menyewa tentara ato penembak jitu kali ya , buat jaga sekolah mereka...
dan yang lebi baik , setiap guru , dilengkapi baju anti peluru , soalnya kan penembakan di dunia pendidikan , ga sekali ini aja terjadi disana.
- I'm such a very lucky woman and have a very lucky life -
Pake detektor metal aja di gerbang sekolah. Kayak di bandara gitu. Kan bisa buat menghadang senjata. Kecuali si anak bawa senjata kimia (air keras yg disemprotkan pake pestol air) atau senjata biologi (sekantong kresek semut api), ini mau gak mau musti digeledah tasnya kemudian ditelanjangin sebelum lewat gerbang sekolah.
![]()
Metal detektor gak berguna kalau si pelaku siap bunuh2an.
Si penjaga yg pertama kali diberondong.
Metal detektor cuma mencegah siswa nakal yg sok sok an bawa senjata buat pamer ke temen.
Kalo si penjaga diberondong, minimal pelurunya tinggal dikit. Malah bisa habis cuman buat berondong si penjaga doang. Jadi siswa2 lain banyak yg selamat.
Supaya si penjaga aman, pakein rompi anti peluru. Trus, seperti kata ndableg, pintu gerbang masih dlm keadaan tertutup. Jadi, meski si penjaga ambruk, pintu masih terkunci.
![]()