Bisa berbeda, Lily... karena banyak sekali variabel yang terjadi dalam masa lalu seseorang meski sama-sama mengalami kekerasan ketika kecil, misalnya bagaimana pola dukungan dari Mama ketika Lily dipukuli oleh Papa? Bagaimana sikap saudara-saudara yang lain?
Bisa jadi Lily tidak ingin pegang senjata, tapi (misalnya) suka mengasihani diri sendiri, atau suka mabuk-mabukan, atau terobsesi mencari sosok penyayang, atau susah sekali dekat dengan cowok? atau malah jadi manusia baik-baik tanpa kurang suatu apa... indahnya manusia adalah kemampuannya untuk cepat atau lambat melepaskan diri dari ikatan emosi dan memilih kehidupan yang menurutnya akan membahagiakan.
Hal yang sama dengan kepemilikan senjata, ada orang yang weapon freak, jatuh cinta setengah mati pada segala jenis senjata dan terobsesi untuk bisa menggunakan mereka semahir mungkin (saya salah satu diantaranya). Diantara freakies ini, ada yang membutuhkan senjata untuk menghapus rasa takutnya akan ancaman, ada yang memang psycho dan ingin membunuh, ada yang menganggap senjata sebagai benda seni, ada pula yang cuma hobi. Jadi bisa berbeda-beda.
Tapi saya tidak setuju kalau senjata api menjadi bagian dari pendidikan, misalnya dengan memiliki guru dan penjaga sekolah yang bersenjata, karena ini sama saja dengan mendidik anak-anak untuk hidup dalam moda peperangan. Hal yang saat ini dialami oleh anak-anak di Gaza, Irak, Afghanistan, dan banyak negara lain. Mereka tumbuh besar dengan naluri menyelamatkan diri yang sangat kuat, akibatnya sulit menerima konsep hidup berdamai dengan sesama manusia lain.
![kopimaya [dot] kom - Secangkir Kehangatan di Dunia Maya - Powered by vBulletin](images/misc/vbulletin4_logo.png)



Reply With Quote


