Results 1 to 1 of 1

Thread: Ajaran Theravada, Biang Kerok Intimidasi Rohingya

  1. #1

    Ajaran Theravada, Biang Kerok Intimidasi Rohingya

    Umat Buddha Therevada, khususnya para bikkhunya percaya dengan kekuatan sendiri dan tanpa bantuan siapa pun mereka bisa mengatasi masalah mereka. Mereka merasa tidak perlu sesiapapun diluar diri mereka. Jadi mereka belajar bagaimana bisa mengaktualisasikan diri mereka sebaik mungkin agar bisa terlepas dari alam penderitaan (samsara). Oleh sebab itu mereka tidak perlu boddhisatva, dewa-dewi apalagi Tuhan! jadi mereka belum insaf atas realita manusia yg rapuh, lemah, gampang terjatuh itu. mereka menganggap dirinya adalah Tuan bagi dirinya.

    Oleh sebab itu umat itu juga disebut Hinayana (hina=kecil, Yana=kapal) atau tepatnya sampan kecil yg muat seorg diri saja. Dengan sendirinya naik sampan menyeberangi lautan penderitaan. Bagi mereka panggilan hinayana itu tidak tepat, jadi mereka menyebutnya Therevada (there=yang dituakan, vada=ajaran) Buddhisme Therevada itu cenderung ke Pantheisme.

    Aliran Theravada itu adalah aliran selatan, tersebar di Thailand, Myanmar, Kamboja, dan negara Asia Tenggara lainnya. Ajaran aliran theravada itu adalah:
    - Ketaktergangguan (absolut/mutlak), tidak dapat menerima ajaran lain
    - Vipassana (Kualitas batin yang memiliki kemampuan untuk 'mengamati' segala sesuatu dalam hakekat yang sesungguhnya yang dicengkram oleh tiga sifat umum, yaitu tidak kekal, tidak memuaskan, dan tidak berkepemilikan pada saat itu (jadi bukan konseptual / sebutan / nama / gambaran).

    Faktor pendorong terjadinya intimidasi tersebut adalah efek psikologis dari penyimpangan meditasi samatha vipassana. kenapa ? berikut saya coba uraikan alasannya.

    Pertama, meditasi Samatha itu membangun kekuatan mental yang disebut dengan "upekha", yaitu ketenang seimbangan. barang siapa yang sampai pada tahap ini, maka orang tidak akan mengalami "hal menyenangkan" pun "hal menyakitkan". bagi mereka, ini adalah kondisi yang luhur dan mulia. mereka yang melatih meditasi samatha, walaupun belum mencapai sepenuhnya kondisi tersebut, tetapi mengarah atau menuju kondisi tersebut. Tetapi penyimpangan dan penyalah gunaan dari upekha ini adalah sifat "keras hati", mereka tidak akan tersentuh oleh hal-hal yang sebenarnya menyentuh, tidak akan kasihan keapda hal-hal yang sebenarnya mengundang rasa kasihan, tiak punya rasa empati dan simpati, hati mereka tidak bisa bergetar karena iba, apalagi menangis karena merasa kasihan. ras iba dan kasihan menjadi sesuatu yang tabu atau tercela bagi mereka. inilah manifestasi dari kekerasan hati. alih-alih membangun "kekuatan mental yang positif", mereka membangun kekuatan mental yang mengerskan hati dan bersifat destruktif.

    Kedua, meditasi Vipassana membangun kepada arah pemahaman diri. bentuk penyimpangan dari meditasi ini adalah ketidak pedulian sosial. secara ekstrem, apabila seorang meditator vipassana menyaksikan pembunuhan di depan mata sekalipun, ia tidak tergerak untuk melakukan pertolongan.

    Penyimpangan dari kedua bentuk sistem meditasi yang dipraktikan oleh seluruh umat buddhis di dunia tersebut akhirnya menciptakan umat yang keras kepala. Sangat ironi dengan ajaran-ajaran yang Buddha yang tampaknya menawarkan kelembutan dan kedamaian. Ketika anda memasuki komunitas budhis, anda akan merasakan aroma kekerasan yang lebih kuat dari pada di dalam komunitas muslim radikal.

    Maka dari itu kerusuhan dan intimidasi serta pembunuhan banyak terjadi di Srilangka dan Myanmar. Umat Buddhis dan bikkhunya melakukan intimidasi dan tindak kekerasan terhadap kaum minoritas Hindu, Kristen dan Islam.

    Jadi radikalisasi terhadap Muslim Rohingya sendiri dipengaruhi melalui doktrin pengajaran dan pengaruh bikkhu Srilangka dan Myanmar yang berlatar belakang ajaran Theravada.

    ajaran kekerasan berbalutkan welas asih
    Last edited by IndoManiak; 05-12-2012 at 09:04 PM.

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •