Suatu hari saya mendengarkan percakapan dua orang murid saya, sebut saja nama mereka Anto, 9 tahun dan Riko, 10 tahun.

“Mengapa kamu tidak minum jus wortel yang dibawakan papamu?” Tanya Anto kepada Riko yang ternyata sudah dua kali melihat Riko membuang jus wortel yang selalu dibawakan papanya.

“Uh! Aku benci jus wortel, tidak enak rasanya. Sudah berkali-kali aku bilang sama papa, jangan bawakan jus wortel, tapi papaku itu tetap saja maksa-maksa aku minum jus wortel. Papaku memang nyebelin.” Jawab Riko.

“Jus wortel kan sangat bagus untuk mata.” Sahut Anto lagi.

“Iya, memang papa menyuruh aku minum jus wortel supaya minus mataku berkurang.” Kata Riko lagi.

“Wah! Berarti papamu baik sekali.” Timpal Anto.

“Tetap saja jus wortel rasanya tidak enak dan aku tidak suka dipaksa minum itu.” Sahut Riko.

“Kalau papamu tahu bahwa jus yang dibawanya selalu kamu buang di kamar mandi, papamu pasti sedih sekali. Papamu kan berharap supaya matamu kembali sehat.. Kalau aku jadi kamu, aku pasti menuruti permintaan papaku.” Ujar Anto.

“Papamu pernah menyuruhmu minum jus yang tidak kamu sukai?” Tanya Riko.

Anto segera menggelengkan kepalanya. “Tidak! Papaku tidak pernah menyuruh aku macam-macam, karena aku sudah lama tidak punya papa. Papaku pergi waktu aku kecil dan sampai sekarang belum pulang-pulang.” Jawab Anto.

“Jadi… sampai sekarang papamu tidak ada? Jahat sekali papamu itu. Kamu dan mamamu pasti marah pada papamu ya?” Sahut Riko.

Saya yang memang dari tadi mendengar pembicaraan mereka pun merasa kaget dengan penuturan Anto. Saya tidak pernah tahu bahwa Anto telah ditinggalkan ayahnya. Mendengar pertanyaan Riko yang terakhir kepada Anto, saya ingin menengahi pembicaraan mereka agar Anto jangan merasa sedih, namun belum sempat saya bertindak, saya mendengar Anto menjawab pertanyaan Riko.

“Waktu hari-hari pertama papaku tidak kembali ke rumah, aku memang sangat sedih. Aku heran mengapa papa tidak pulang-pulang. Tetapi, setiap malam, mama, aku dan adikku selalu berkumpul. Mama bilang, memang sangat menyedihkan papa tidak mau pulang dan berkumpul dengan kami tapi mama selalu bertanya pada aku dan adikku, percaya tidak bahwa Tuhan sangat baik? Aku dan adikku akan mengangguk tanda percaya. Lalu mama akan bertanya, coba kita pikirkan apa yang Tuhan telah berikan pada kita? Aku dan adikku akan berlomba menjawab; aku sehat, aku punya tempat tidur yang empuk, aku bisa sekolah, aku punya kakek nenek yang baik, aku punya banyak mainan bagus , aku bisa makan sosis karena aku suka sosis, aku dapat nilai bagus di sekolah, dan… masih banyak lagi jawaban-jawaban berbeda yang bisa kami berikan hampir setiap malam. Begitu banyaknya jawaban yang kami dapat membuat kami selalu ingat bahwa Tuhan itu sangat-sangat dan sangaaaattt baik. Kata mama, papa tidak pulang, itu memang menyedihkan. Hal baik dan buruk sering terjadi di dalam hidup, tapi kalau kita sedih melulu, kita akan melupakan banyak hal-hal indah.” Kata Anto sangat bersemangat.