Lima menit yang dijanjikan bintang tiga polisi itu berlalu.

Aku menunggu tegang di lorong lift, di balik tanaman hias besar, di dekat pintu menuju tangga darurat. Mengintip ke arah kantorku, sama sekali tidak terlihat tanda-tanda pizza itu disentuh oleh mereka. Dua petugas yang berjaga di meja resepsionis kantor tetap siaga, berjaga-jaga atas segala kemungkinan.

Bintang tiga polisi itu membuktikan ucapannya, dia akan membawa Maggie pergi jika aku tidak menunjukkan batang hidung sesuai tenggat yang diberikan. Lima menit berlalu, dia bahkan tidak perlu repot-repot lagi berusaha meneleponku. Dia berteriak memberi perintah pada empat anak buahnya untuk segera membawa tahanan. Mereka bergerak. Senjata-senjata teracung, Maggie disuruh berdiri.

Dari balik tanaman hias, aku mendengar bentakan-bentakan menyuruh Maggie segera melangkah, suara mengaduh tertahan Maggie. Tanganku mengepal, situasi semakin serius. Kalau saja hendak menurutkan emosiku, saat ini juga aku akan menyerbu ruangan. Tapi itu tidak bisa kulakukan. Julia benar, itu hanya bunuh diri, dan aku bisa membahayakan Maggie secara tidak langsung.

Maggie melangkah patah-patah keluar. Dua petugas di meja resepsionis bergabung mengawal, seperti sedang mengawal penjahat besar paling berbahaya.

Bintang tiga polisi itu melangkah santai di belakang.

Aku mendongak, menatap langit-langit lorong. Apa yang harus kulakukan sekarang? Nafasku sungguhan tersengal, tegang, mencengkeram paha, berusaha mengendalikan diri.

Rombongan itu sudah menuju lift. Satu-dua kali Maggie didorong agar berjalan lebih cepat.

Tanganku mengepal keras. Hanya hitungan detik, dan Maggie sudah dibawa pergi entah kemana. Aku tidak akan pernah bisa lagi menyelamatkannya.

Rombongan itu beberapa langkah lagi menuju lift.

Aku kehabisan kesabaran, sekarang atau tidak sama sekali, aku siap lompat dari persembunyian, berlari menyerbu rombongan itu.

“Psst!”

Seperseribu detik. Bisikan pelan itu membuat gerakanku tertahan.

“Psst!”

Aku menoleh. Kejutan besar.

Adalah Rudi, si boxer sejati klub petarung. Kepalanya muncul di balik pintu tangga darurat dua langkah di sebelahku.

“Ikuti aku, Thomas. Waktu kita terbatas.” Dia tersenyum, matanya bersinar meyakinkan.

Aku menelan ludah, tertahan menoleh pada Rudi sejenak, menoleh lagi ujung sana, rombongan yang membawa Maggie sudah persis di depan lift.

“Cepat, Kawan. Atau staf kau yang cantik itu tidak punya kesempatan lagi.” Wajah Rudi hilang dibalik pintu darurat, suara kakinya yang menuruni anak tangga terdengar berderap dibalik pintu.

Aku mengusap wajah. Tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Kenapa tiba-tiba Rudi muncul dan menawarkan bantuan. Aku menoleh ke ujung lorong, salah-satu polisi menekan tombol ke bawah. Menunggu lift terbuka.

Baiklah. Pilihanku terbatas. Aku bergegas membuka pintu darurat, dengan cepat menyusul Rudi yang sudah satu lantai di bawah. Aku loncat ke pegangan tangga, dengan bantalan paha, meluncur.

“Jangan banyak bertanya dulu, Kawan.” Rudi menoleh, tertawa.

“Anggap saja aku sakit hati hanya bertugas mengatur lalu lintas di perempatan.”

Aku menelan ludah, kami sudah tiga lantai turun dengan cepat.

“Dari dulu aku selalu berharap bisa bertarung bersisian bersama kau, Thomas.” Rudi memicingkan matanya, “Itu pasti akan seru. Tetapi Theo dan pendiri klub petarung terlalu konservatif. Aku sudah mengusulkan berkali-kali agar kita membuat jenis pertarungan baru di klub. Dua lawan dua, misalnya. Atau empat lawan empat. Itu jelas lebih seru, bukan?”

Kami tinggal satu lantai lagi tiba di lantai lobi gedung.

Rudi mendorong pintu darurat, keluar, berlarian di lobi yang lengang, “Nah, inilah kesempatan besarnya. Dua lawan enam. Ini akan menjadi pertarungan hebat, Thomas. Pertarungan legendaris.”

Aku menelan ludah, dari tadi tidak berkomentar, terus mengikuti langkah kaki Rudi.

“Kita masuk dengan cepat, Kawan. Seperti angin puyuh.” Rudi mengatur nafas, menatapku yakin, “Lima detik pertama adalah segalanya.”

Aku akhirnya paham. Kami sudah berdiri persis di depan pintu lift lantai lobi. Aku mendongak, menatap petunjuk posisi lantai, lift masih bergerak turun, dua lantai lagi.

“Kau pasti tahu, senjata mesin otomatias yang mereka pegang tidak akan berguna dalam pertarungan jarak pendek. Ruangan lift terlalu sempit untuk mengambil ancang-ancang menembak. Kita akan menyerbu masuk persis pintu lift terbuka, kita langsung beradu punggung, Thomas. Kau urus tiga atau empat petugas, aku urus tiga yang lainnya.” Rudi bersiap-siap, mengenakan kedok di kepala, hanya terlihat matanya saja sekarang, dia memasang posisi bertinju.

Aku ikut memasang posisi, gigiku bergemeletuk oleh sensasi pertarungan, tanganku mengepal sempurna membentuk tinju, bedanya tidak ada sarungnya di sana sekarang.

Rudi benar, ini akan jadi pertarungan hebat.

“Pukul bagian badan yang mematikan, Thomas. Jangan mengasihani lawan kau. Aku tahu, dalam setiap pertarungan klub, kau bukan tipikal petarung pembunuh, kau kadang berbaik hati. Tetapi enam polisi yang akan kita hadapi ini terlatih untuk membunuh, aku tahu persis, mereka mantan anak buahku, jika kau tidak segera melumpuhkan mereka, maka mereka dengan senang hati melakukannya lebih dulu. Ingat, Thomas, satu kali pukulan yang mematikan. Tidak akan ada kesempatan tinju kedua atau ketiga”

Aku mengangguk. Lobi gedung yang lengang hanya menyisakan dengus nafas kami, tegang.

“Bersiap, Kawan. Bel ronde pertama sekaligus terakhir akan terdengar!” Rudi mendesis.

Cengklang! Lift berbunyi pelan, tanda lift sudah tiba di lobi.

Pintunya bergerak membuka. Amat perlahan rasa-rasanya.

Enam petugas bersenjata langsung terlihat. Satu bintang tiga polisi yang berdiri bersandar.

Maggie yang persis di tengah.

Aku dan Rudi sudah lompat masuk, bahkan sebelum pintu sempurna terbuka.

Lihatlah! Kami sudah bertarung puluhan kali di klub.

Tetapi ini sungguh pertarungan paling hebat yang pernah kulakukan. Kami seperti penari mahsyur yang sedang ekstase menari mengikuti gerakan tangan dan kaki, atau seperti konduktor orkestra yang sedang memimpin pertunjukan dengan segenap sensasi, atau seperti pelukis besar yang setengah sadar mencampur warna, menumpahkannya di kanvas, corat-coret penuh irama, membuat karya agung.

Master-piece.

Tanganku sudah bergerak cepat dalam ketukan pertama, satu tinju menghantam dagu salah-satu polisi. Tubuhnya terbanting, kepalanya menghantam dinding lift, senjatanya terlepas. Rekannya berteriak, “Awas!” belum hilang kata awas itu di langit-langit lift yang terasa sempit karena ada tujuh orang ada di dalamnya, tubuh polisi itu sudah menghantam dinding lift, Rudi meninju pelipisnya.

Aku dan Rudi adalah petarung terbaik klub, beringas menghabisi lawan, dua detik kemudian, dua polisi lain menyusul terkapar, salah-satu polisi itu terduduk, tanpa sengaja menarik pelatuk senjata mesin di tangannya, rentetan peluru melukis atap lift, lampu terburai, cermin pecah berderai, suara tembakan yang memekakkan telinga, aku dan Rudi menunduk, tanganku mendorong Maggie agar tiarap.

Tembakan terhenti, polisi itu sudah terkapar pingsan.

Aku lompat dengan cepat, meninju dagu polisi yang tersisa, pukulan yang mematikan. Petugas itu melenguh kesakitan, giginya rontok, keluar bercampur darah dan ludah. Rudi dalam waktu yang sama, sudah menghajar polisi lainnya, menghantam leher, polisi itu sejenak berdiri, lantas roboh tanpa suara.

Pertarungan selesai di detik kelima belas.

Rudi dengan cepat memegang kerah bintang tiga polisi yang sejak tadi termangu menatap kejadian super-cepat, ibarat menonton kereta shinkansen yang sedang melintas di hadapannya. Sekejap, enam anak buahnya sudah terkapar, tumpang tindih di ujung kakinya.

“Kau bahkan tidak layak untuk menerima tinjuku.” Rudi menggeram, mendorong bintang tiga itu jatuh terduduk. Meloloskan pistol di pinggang petinggi polisi itu. Membuang isi pistol, peluru berkelotakan di lantai lift.

“Ayo, Thomas, bawa staf kau pergi!” Rudi menoleh padaku, sembarang melemparkan pistol kosong.

Aku mengangguk, mencari kunci borgol di salah-satu pinggang petugas.

Membuka borgol Maggie, lantas membantunya berdiri. Wajah Maggie pias, tangannya gemetar tidak terkendali, matanya basah, dia menangis ketakutan, tetapi dia baik-baik saja.

Aku memapah Maggie keluar dari lift. Rudi berjalan di belakangku.

Lobi gedung lengang.

Jam besar yang diletakkan di salah-satu dinding lobi berdentang sebelas kali.

Kami sudah melangkah keluar, Julia menyusul bergabung dari toilet.



***bersambung