Page 1 of 4 123 ... LastLast
Results 1 to 20 of 75

Thread: [Novel] Bangs4t-Bangs4t Berkelas by Tere-Liye

  1. #1
    pelanggan tezar's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    499

    [Novel] Bangs4t-Bangs4t Berkelas by Tere-Liye

    Secara bersambung, Tere-Liye, salah satu penulis yang sedang naik daun, merangkai kata-kata dalam sebuah rangkaian novel baru dan memuatnya di akun Facebooknya. Tere-liye memberikan izin agar tulisan-tulisannya ini dimuat di berbagai fordis, sehingga secara berseri akan diposting di KopiMaya. Tapi jangan heran, kalau novel yang dimuat di sini akan dijumpai di fordis lain, karena memang Tere Liye meminta bantuan untuk dimuat di mana saja.

    berikut pernyataan tere-liye:
    Darwis Tere-Liye Penuh: maksud sy, kalau kalian sdh jd anggota forum di mana saja, tolong bantu upload, silahkan, nggak usah pakai ijin ke saya juga nggak masalah. Upload saja.
    List Episode
    01 | 02 | 03 | 04 | 05
    06 | 07 | 08 | 09 | 10
    11 | 12 | 13 | 14 | 15
    16 | 17 | 18 | 19 | 20
    21 | 22 | 23 | 24 | 25
    26 | 27 | 28 | 29 | 30
    31 | 32 | 33 | 34 | 35
    Last edited by tezar; 04-06-2011 at 10:15 AM. Reason: masukkan link episode

  2. #2
    pelanggan tezar's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    499
    Tere Liye
    author profile



    born: May 21, 1979 in Tandaraja (Palembang), Indonesia
    gender: male
    website: http://darwisdarwis.multiply.com

    lahir dan besar di pedalaman sumatera, anak keenam dari tujuh bersaudara. Dari keluarga petani.
    sekolah:
    SDN 2 Kikim Timur Sumsel
    SMPN 2 Kikim Timur Sumsel
    SMUN 9 Bandar Lampung
    Fakultas Ekonomi UI
    buku:
    1. Daun yg Jatuh Tak Pernah Membenci Angin (Gramedia Pustaka Umum, 2010)
    2. Pukat (Penerbit Republika, 2010)
    3. Burlian (Penerbit Republika, 2009)
    4. Hafalan Shalat Delisa (Republika, 2005)
    5. Moga Bunda Disayang Allah (Republika, 2007)
    6. Bidadari-Bidadari Surga (Republika, 2008)
    7. The Gogons Series: James & Incridible Incidents (Gramedia Pustaka Umum, 2006)
    8. Sang Penandai (Serambi, 2007)
    9. Rembulan Tenggelam Di Wajahmu (Grafindo, 2006; Republika 2009)
    10. Mimpi-Mimpi Si Patah Hati (AddPrint, 2005)
    11. Cintaku Antara Jakarta & Kuala Lumpur (AddPrint, 2006)
    12. Senja Bersama Rosie (Grafindo, 2008)

    buku-buku tere-liye bisa disapat di http://tbodelisa.blogspot.com
    *) link tersebut adalah toko buku tulisan tere-liye online yang dikelola oleh istri tere-liye sendiri. Saya mencantumkan link tersebut tidak bermaksud untuk iklan, tapi sebagai ucapan terima kasih, sudah memfree-kan tulisannya dan saya tidak memiliki kaitan dan tidak mengambil keuntungan dengan pencantuman link toko buku online tersebut
    Last edited by tezar; 04-04-2011 at 01:19 PM.

  3. #3
    pelanggan tezar's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    499
    episode 1



    Pesawat badan besar yang kutumpangi melaju cepat meninggalkan London.

    Penerbangan tanpa-berhenti menuju Singapura.

    Gadis dengan rambut dikuncir, ipad di tangan, berisi corat-coret daftar pertanyaan, tersenyum gugup di kursi berlapis kulit asli sebelahku. Aku sedang tidak berselera untuk tersenyum, cukup menyeringai, menatapnya datar. Silahkan.

    “Maaf kalau wawancara ini berkali-kali, berkali-kali ditunda. Kami sudah berusaha untuk menyesuaikan jadwal. Tapi begitulah, tidak mudah.” Sedikit percaya diri nampaknya, senyumnya lebih baik.

    Aku mengangguk, aku tahu, tidak perlu dijelaskan. Janji pertama bertemu di Jakarta kemarin pagi, batal, aku sudah berangkat menghadiri konferensi. Editor senior majalah mingguan itu spesial meneleponku, minta maaf, bilang wawancara ini amat penting, waktunya mendesak, pembaca setia mereka ingin tahu bagaimana cara terbaik menyikapi turbulensi ekonomi dunia saat ini. Apapun akan mereka lakukan untuk mendapatkan materi wawancara, termasuk menyusul ke London. Baiklah, aku memberikan waktu satu jam selepas konferensi. Lagi-lagi wartawan mereka datang terlambat di gedung konferensi, aku sudah menumpang taksi bergegas menuju bandara. Editor itu kembali terburu-buru menelepon, bilang mereka sudah berusaha mengirimkan wartawan terbaik mengejarku ke Eropa, tetapi jadwalku terlalu padat untuk diikuti, tertawa bergurau, “Kau tahu, Thom. Bahkan jadwalmu lebih padat dibanding Presiden.” Demi sopan-santun, aku ikut tertawa, lantas berkata pendek, kita lakukan saja sekarang di atas langit atau lupakan sama sekali.

    “Seperti yang mungkin sudah disebutkan dalam email, ini akan menjadi judul di halaman depan.” Gadis dengan blouse putih dan rok hitam konservatif selutut itu masih dengan kalimat pembukanya, “Kau tahu, terus-terang aku sedikit gugup. Bukan untuk wawancaranya, tetapi karena antusias, ya Tuhan, aku baru pertama kali menumpang pesawat besar. Ini mengagumkan. Lebih besar dibandingkan foto-foto rilis pertamanya, berapa ukurannya, paling besar di dunia? Tiga kali pesawat biasa. Dan aku menumpang di kelas eksekutif, teman-teman wartawan pasti iri kalau tahu redaksi kami menghabiskan banyak uang untuk membelikan selembar tiket agar satu pesawat denganmu.”

    Aku mengangguk, lebih asyik mengamati penampilan ‘kami akan mengirimkan wartawan terbaik’ di sebelahku itu. Bergumam, semoga isi kepalanya secantik penampilannya, ia lebih cocok menjadi pembawa acara kesayangan Anda di layar televisi dibandingkan kuli tinta, bergenit ria dengan dandanan dan kalimat, padahal kosong. Apa tadi kualifikasinya? Lulusan terbaik sekolah bisnis? Ada ribuan orang yang memiliki predikat itu—aku bahkan punya dua.

    “Sejak kapan kau menjadi wartawan?”

    Senyum riang gadis itu terlipat, meski ekspresi wajah terbaiknya tetap menggantung.

    “Aku?”

    “Ya, sejak kapan kau menjadi wartawan?”

    “Dua tahun.” Ia menjawab ragu-ragu.

    “Berapa usia kau sekarang?”

    “Usia? Eh, dua puluh lima.”

    “Ada berapa wartawan di kantormu?”

    “Eh?”

    “Ya, anggap saja aku yang sedang mewawancarai kau.” Aku menatapnya tipis, mengabaikan pramugari yang penuh sopan-santun berlalu-lalang menawarkan kaviar serta anggur terbaik.

    “Hampir tiga puluh.”

    “Menarik.” Aku menjentikkan telunjuk, “Dari tiga puluh wartawan di kantor review ekonomi mingguan yang mengklaim terbesar di Asia Tenggara, pemimpin redaksi kalian ternyata memutuskan mengirimkan juniornya yang berusia dua puluh lima dan baru bekerja dua tahun, melakukan wawancara yang katanya paling penting, topik paling aktual, yang judulnya akan diletakkan di halaman depan edisi breaking news. Amat menarik, bukan?”

    Wajah gadis itu memerah. Sepertinya aku berhasil menyinggung harga dirinya. Ia terdiam sejenak, meremas jemari, nafasnya tersengal. Boleh jadi, kalau tidak sedang di atas pesawat, dia sudah bergegas meninggalkanku, lupakan wawancara sialan ini. Boleh jadi pula, kalau aku bukan narasumbernya, bukan siapa-siapa, sudah dilemparnya dengan ipad atau sepatu, ia sepertinya belum pernah dipermalukan seperti ini.

    Aku mengembangkan senyum, santai melambaikan tangan, “Tentu saja aku begurau. Kau pastilah yang terbaik. Lagipula, aku hanya ingin membuktikan, apakah dugaanku saat bertemu di atas pesawat ini benar, ternyata kau memang jauh lebih cantik saat marah. Namamu, Julia bukan? Mari kita mulai wawancaranya.”
    Last edited by tezar; 04-04-2011 at 11:49 AM.

  4. #4
    pelanggan tezar's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    499
    Aku tidak terlalu suka bicara di depan ratusan orang—yang satupun tidak kukenal. Berada di tengah pakar, akademisi, penerima hadiah nobel ekonomi, birokrat, atau apalah yang mentereng sekali menyebut latar belakang masing-masing, mulai dari kartu nama hingga basa-basi moderator memperkenalkan, sebenarnya membuatku muak.

    Ruangan dipenuhi praktisi keuangan dunia. Pialang, petinggi sekuritas, direktur perusahaan raksasa, CFO, CEO, dan berbagai strata manajerial kunci. Mereka sejatinya adalah srigala berbalut jas, dasi mahal, sepatu mengkilat tidak tersentuh debu, dan diantar dengan mobil mewah yang harganya ratusan kali gaji karyawan hirarki terendah mereka. Buncah bicara tentang regulasi, tata kelola yang baik, tetapi mereka sendiri yang tidak mau diatur dan dikendalikan. Sepakat tentang penyelamatan dan bantuan global, namun sibuk mengais keuntungan di tengah situasi kacau-balau.

    Hanya satu alasan kenapa aku menghadiri konferensi ini, meluangkan satu jam menjadi pembicara, bayarannya mahal. Alasan paling masuk akal bagi seluruh umat manusia.

    “Si Om Teroris ini, maaf, aku bosan menyebutnya dengan krisis ekonomi global, subprime mortgage, atau apalah nama binatang itu, terlalu panjang dan mual mendengarnya, setiap hari ada di televisi, koran, radio, internet, bahkan sopir taksi tidak ketinggalan. Aku akan menyebutnya dengan Om Teroris saja. Ada yang keberatan?” Aku memulai sesi pagi dengan santai, bertopang dagu.

    Peserta konferensi antar bangsa tertawa.

    “Ya, ya, aku tahu di pojok sana keberatan.” Aku pura-pura memasang wajah serius, “Tetapi di dunia dengan sistem ekonomi saling bertaut, tidak ada batas pasar modal dan pasar uang, krisis seperti ini lebih menakutkan dibanding teror dari ekstrem kanan atau ekstrem kiri. Kita tidak pernah melihat indeks saham terjun bebas seperti hari ini ketika dulu menara WTC dihancurkan, bukan? Bahkan indeks tidak berkedut ketika kapal selam nuklir Soviet memasuki perairan Amerika di era perang dingin. Hari ini, semua orang panik, satu per-satu seperti anak kecil menunggu jatah permen, perusahaan raksasa mendaftar perlindungan kebangkrutan, dan harga surat berharga menjadi sampah, tidak lebih dari harga selembar kertas folio kosong.”

    Aku ekspresif menjentik selembar kertas, membiarkannya jatuh dari atas meja.

    “Orang-orang kehilangan dana pensiun, jaminan kesehatan menguap, tabungan puluhan tahun, rencana pendidikan. Kita amat tahu, untuk orang-orang seperti kita, inilah teror sebenarnya. Rasa cemas atas masa depan, detak jantung mengeras setiap melihat tukikan grafik harga, potensi kehilangan kekayaan, tidak bisa tidur, bahkan satu-dua eksekutif puncak memilih bunuh diri.”

    Peserta konferensi antar bangsa takjim mendengarkan. Aku diam sebentar, meraih gelas air mineral, senang memperhatikan wajah-wajah menunggu mereka.

    “Sayangnya,” Aku meremas rambutku, menghela nafas, “Om Teroris yang satu ini tidak bisa ditusuk dengan pisau. Presiden kalian, maksud aku Presiden di meja pojok sana bisa dengan mudah mengirim ribuan tentara, pesawat tempur, tank bahkan kapal induk untuk memburu satu orang teroris. Khotbah tentang preventif strike, memberikan rasa aman bagi segenap rakyat, mencegah teror meluas. Sial, Om Teroris yang satu ini bahkan tidak bisa dipegang batang lehernya.”

    “Bukan karena dia tidak bisa dilihat, tentu saja muasal kekacauan pasar modal dan pasar uang kita amat terlihat, tidak susah mengurai benang kusutnya. Kita tidak bisa menusuknya, karena kalau itu dilakukan, kita semua di sinilah yang pertama kali tertikam. Kitalah yang terlalu serakah dan kreatif menciptakan pola transaksi keuangan, membiarkan bahkan membuat nilai asset menggelembung tidak terkendali, mengabaikan resiko sebesar Gunung Everest di depan hidung, peduli setan? Sepanjang bonus tahunan terus membumbung, semua fasilitas pesawat jet perusahaan, hotel terbaik, liburan berkelas. Temuan audit dibungkus sebaik mungkin, peringatan awal dianggap angin lalu, dan mulailah kita terbiasa mematut informasi, pabrikasi kemasan, lupa semua ada batasnya. Ketika nilai surat berharga semakin lama semakin menggelembung, harga selembar kertas bisa setara berkilo-kilo emas, padahal sejatinya dia tetap selembar kertas.”

    “Kaboom!” Aku mengetuk mik dengan jari—membuat hadirin sedikit tersentak kaget, “Semua meledak, ekonomi dunia remuk, krisis ekonomi global pecah, dalam sekejap menjalar kemana-mana. Bursa New York tumbang, memangkas kapitalisasi dunia milyaran dollar, disusul London, Frankurt, Amsterdam, Paris. Dan hanya butuh sedetik berita mengerikan itu tiba di Bangkok, Singapura, Jakarta, Dubai, Sao Paolo, Sydney bahkan Johannesburg. Semua orang panik, kontrak future harga minyak dan komoditas turun, perdagangan dunia terkulai, perekonomian melambat, banyak negara menyatakan resesi. Bahkan ada yang bergegas menyatakan bangkrut, meminta pertolongan.”

    “Hari ini kita sibuk berdiskusi sana-sini, menganalisis, berandai-andai, andai itu tidak dilakukan, andai ada regulasi yang mengatur, tetapi lebih banyak yang berandai-andai, andai lebih dulu menjual lantas memasang transaksi short-selling, andai uang tunai di tangan siap sedia, andai dalam posisi transaksi sebaliknya. Itu akan jadi berkah tidak terkira, berpesta-pora di tengah kerugian massal.”

    “Tuan, maaf menyela.” Seorang peserta konferensi tidak sabaran, dengan bahasa Inggris sengau khas Asia Timur, membuat ruangan tertoleh padanya.

    “Sesi tanya jawab tersedia di lima belas menit terakhir.” Bergegas moderator, salah-seorang profesor sekolah bisnis ternama, mengingatkan.

    “Tidak mengapa. Silahkan.” Aku tidak keberatan, mengangguk.

    “Eh?” Moderator itu menatapku.

    “Terima kasih.” Peserta itu berdehem, dasinya miring, rambutnya tidak rapi, pasti sedang pusing dengan banyak hal, “Aku pikir, kami tidak akan menghabiskan waktu untuk mendengar lagi cerita seperti sesi akademis dan birokrat sehari penuh sebelumnya. Jauh sekali kami datang hanya untuk mendengar teori-teori, kami lelah, butuh keputusan cepat dan tepat. Tuan, Anda dipuji banyak media sebagai salah-satu penasehat keuangan terbaik, begini sajalah, sejak krisis ini terjadi, frankly speaking, perusahaan kami sudah limbung kiri-kanan, melaporkan kerugian yang menghabisi saldo laba dua puluh tahun, posisi kas negatif, dan klaim pembayaran nasabah hanya menunggu waktu. Apa yang harus kami lakukan? Atau tepatnya, apa yang eksekutif puncak perusahaan bernasib sama seperti kami harus lakukan? Menunggu vonis kematian?”

    Gumaman setuju terdengar dari banyak meja.

    Aku tertawa kecil, menyikut moderator di sebelah, “Nah, akhirnya bisa dimengerti kenapa aku dibayar mahal sekali untuk menjadi pembicara dalam konferensi ini. Kalian ternyata meminta nasehat keuangan secara gratis. John, jangan lupa kau bantu kirimkan tagihan ke seluruh peserta.”

    Peserta konferensi antar bangsa tertawa.

    Aku mengusap wajah, menunggu ruangan kembali hening, lantas berkata perlahan, “Kunci solusinya hanya tiga kata: rekayasa, rekayasa, dan rekayasa. Itu saja. Sejak jaman Fir’aun, sejak jaman Xerxes dari Persia, hanya itu solusi menghadapi krisis ekonomi besar. Termasuk bagaimana menyelamatkan uang kalian yang terlanjur terbenam di perusahaan terancam bangkrut.”



    *** bersambung

    Naskah ini tidak lazim, akan dipenuhi teori, rekayasa, bahkan intrik jahat ilmu ekonomi dan keuangan. Mulailah memberikan like, biar saya bisa mengabsen seberapa banyak yang bersiap membaca serial baru ini. Jangan jadi pembaca pasif, sejatinya like kalian tidak mempengaruhi mood menulis saya, tapi itu berguna untuk mengukur siapa saja yang membaca naskah ini.

  5. #5
    pelanggan tezar's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    499
    *******-******* Berkelas
    by Darwis Tere-Liye Penuh on Friday, March 25, 2011 at 7:03pm

    episode 2



    Pesawat badan besar melaju cepat meninggalkan London, sekarang sepelemparan batu di atas wilayah penerbangan Myanmar. Penerbangan tanpa-berhenti menuju Singapura.

    Tertawa kecil.

    “Kau bergurau, aku konsultan keuangan profesional, aku tidak peduli dengan kemiskinan. Yang aku cemaskan justeru sebaliknya, kekayaan. Ketika dunia dikuasai segelintir orang, nol koma dua persen, orang-orang yang terlalu kaya.”

    Kami sudah menghabiskan anggur gelas pertama. Pramugari selalu-tersenyum itu barusaja lewat (lagi), menawarkan gelas kedua. Aku menggeleng, selepas mendarat di Singapore, penerbangan lanjutan menuju Jakarta sudah menunggu, aku harus bergegas menuju lokasi klub tinju, aku punya pertandingan penting malam ini.

    “Bisa dijelaskan lebih detail?” Gadis dengan predikat ‘kami akan mengirimkan wartawan terbaik’ di sebelahku bertanya.

    “Ya, kau bayangkan, ketika satu kota dipenuhi orang miskin, kejahatan yang terjadi hanya level rendah, perampokan, mabuk-mabukan, atau tawuran. Kaum proletar seperti ini mudah diatasi, tidak sistematis dan jelas tidak memiliki visi-misi, tinggal digertak, beres. Bayangkan ketika kota dipenuhi orang yang terlalu kaya, dan terus rakus menelan sumber daya di sekitarnya, mereka sistematis, bisa membayar siapa saja untuk menjadi kepanjangan tangan, tidak takut dengan apapun. Sungguh tidak ada yang bisa menghentikan mereka selain sistem itu sendiri yang merusak mereka.”

    Dahi gadis di sebelahku terlipat, belum mengerti juga.

    “Kau tidak mengerti ilmu ekonomi?” Aku menyeringai.

    Gadis itu tidak setersinggung sebelumnya, “Maksudku, tidak semua pembaca kami memiliki kompetensi pengetahuan ekonomi, ilustrasi lebih sederhana akan membantu mereka.”

    “Baiklah. Coba kita misalkan dunia ini hanya sebesar kota. Ada seribu ribu penduduk di dalamnya. Sebagian menjadi petani, perajin, peternak, tukang, sebagian lainnya menjadi pedagang, tentara, semua profesi dan mata pencaharian hidup yang kita kenal. Katakanlah berabad-abad mereka hanya mengenal barter, ikan ditukar gandum, jasa cukur rambut ditukar perbaikan atap rumah, atau seporsi masakan lezat dibarter dengan jahitan baju. Hingga salah seorang jenius, well, kita sebut saja Mister Smith menemukan uang. Kehidupan primitif mereka dengan segera berubah drastis, perekonomian kota kecil itu bergerak maju. Transaksi lebih mudah dilakukan, itu fase pertama muasal kegilaan ini.”

    “Sejak uang ditemukan, berbagai teknologi juga ditemukan, era industri datang, sumber minyak, emas, batubara, timah, besi dekat kota mulai ditambang. Tenaga kerja semakin produktif, perhitungan efisiensi produksi dikenal, dan tuntutan atas kemudahan transaksi keuangan meningkat. Mister Smith kembali datang dengan ide mendirikan bank, membuat seluruh penduduk kota terpesona, benar sekali, mereka butuh modal untuk membuat perekonomian melesat lebih hebat. Tetapi mereka ragu-ragu, siapa yang akan percaya dengan selembar kertas? Mister Smith melambaikan tangan, tenang saja, bank akan mencetak setiap lembar uang dengan jaminan cadangan emas. Seratus dollar dijamin sekian satu gram emas, jadi uang tersebut dijamin aman, ada nilai pelindungnya di bank, dan semua orang harus menerima transaksi dengan uang. Penduduk kota semakin kagum. Luar biasa, itu ide yang brilian.”

    “Maka, bank mulai mencetak uang dengan jaminan cadangan emas. Sebagai pemanis, Mister Smith menjanjikan bunga untuk setiap orang yang bersedia menyimpan uang di bank. Mulailah, orang kaya berbondong-bondong meletakkan uang, sedangkan yang membutuhkan uang untuk modal usaha, juga datang ke bank dengan janji membayar cicilan ditambah bunga. Kau tahu, salah-satu penemuan klasik Mister Smith yang menjadi dasar ilmu ekonomi modern adalah bunga.”

    Aku berhenti sejenak, mengangguk kepada pilot pesawat yang keluar dari kabin, ramah menyapa penumpang, lantas tertawa kecil, bergurau pada salah-satu anak kecil di seberangku yang cemas kenapa Pilot meninggalkan kokpit, “Tenang, Nak, pesawat ini memiliki sistem otomatis handal.”

    “Nah, dengan adanya uang dan bank, akumulasi kekayaan mulai terjadi. Di tahun nol, total uang beredar hanya seratus dollar, katakanlah begitu. Di tahun ke sepuluh, total uang beredar di kota melesat menjadi satu miliar dollar. Bagaimana bisa? Karena begitulah sistem perekonomian baru bekerja, begitu canggih melipatgandakan kekayaan. Kau letakkan uang seratus dollar di bank yang dijamin setara satu gram emas, lantas uang itu dipinjam orang kedua, si tukang jahit. Orang kedua ini menggunakannya untuk membeli mesin jahit terbaru pada orang ketiga, si pembuat mesin. Si pembuat mesin punya uang seratus dollar sekarang, hasil menjual mesin, dia bawa uang itu ke bank lagi, ditabung. Jadi berapa uang dalam catatan bank? Dua ratus dollar.”

    “Bank lantas meminjamkan uang itu ke orang keempat, si nelayan, si nelayan belanjakan untuk membeli kapal terbaru pada orang kelima, si pembuat kapal. Orang kelima membawa uang seratus dollar itu ke bank, menabungkannya. Begitu terus siklus perbankan yang canggih.”

    “Jadi berapa uang seratus dollar itu sekarang dalam catatan bank? Tiga ratus dollar? Kau keliru. Uang itu tumbuh jadi tidak terhingga, semakin banyak yang terlibat dalam mekanisme simpan-pinjam itu, tanpa regulasi bank harus menyisihkan sekian persen sebagai cadangan, maka efek pengalinya berjuta-juta tidak terhingga. Padahal, come on, berapa sejatinya nilai uang yang dijamin oleh cadangan emas? Ya hanya seratus dollar, lantas bagaimana ribuan dollar lainnya? Itu hanya ada di kertas. Benar-benar ada di kertas, dalam catatan bank, dalam catatan kekayaan masing-masing.”

    “Perekonomian kota tumbuh tidak terbilang, semua sektor produktif, berlomba-lomba melaporkan keuntungan transaksi. Situasi berjalan aman-aman saja hingga puluhan tahun. Di tahun kesepuluh, uang beredar di seluruh kota menjadi satu milyar dollar, dan situasinya mulai rumit, hanya segelintir orang yang menguasai uang-uang, mereka adalah penduduk super-kaya, yang terus rakus menambah nominal angka kekayaan mereka. Tidak pernah puas.”

    “Katakanlah, di tahun itu, ada seribu penduduk kota yang butuh meminjam uang untuk membeli rumah, kita sebut saja ‘kredit rumah’. Uang pinjaman dari bank dibayarkan pada tukang-tukang untuk membuat rumah, dan tukang-tukang ternyata tidak menabung uang itu ke bank, melainkan dibelanjakan keperluan sehari-hari. Bank yang dikuasai segelintir orang kaya berpikir keras, kalau begini caranya, lambat sekali mereka bisa menambah kekayaan, uang itu tidak segera balik ke pundi-pundi bank, tidak ada uang yang bisa diputar lagi, lagi, dan lagi. Tanpa uang, maka sistem bunga tidak bekerja, kekayaan mereka melambat. Mister Smith datang dengan ide lebih cemerlang, dia ciptakan binatang yang disebut securization. Bagaimana caranya? Seluruh kredit rumah itu, jumlahnya ada seribu lembar surat perjanjian kredit, dikumpulkan saja jadi satu, lantas dianggap seperti produk, macam seribu potong tempe atau seribu ekor kambing, lantas dijual ke pemilik uang, penduduk super kaya lainnya, dengan imbalan bunga sekian persen yang dibayarkan setiap bulan plus cicilan. Tidak ada yang tertarik? Gampang, tinggal naikkan bunganya, tambahkan bumbu-bumbu janji semua aman, semua dijamin, kalau ada masalah, rumah-rumah itu bisa jadi jaminan.”

    “Ide cerdas! Tentu itu brilian, bank yang tadinya kekurangan uang, dengan cepat kembali punya uang. Banyak malah. Mereka tidak hanya sebagai pemberi pinjaman, tetapi sekarang sekaligus sebagai ‘nasabah’ bagi pembeli aset securization tadi. Ide itu berhasil tidak terkira, dengan uang hasil menjual seribu surat perjanjian kredit, bank leluasa mengucurkan kredit berikutnya ke penduduk kota. Bank menerima pembayaran dari nasabah setiap bulan, uang pembayaran itu untuk mencicil kepada pemegang aset securization. Semua terkontrol, semua baik-baik saja, hingga tanpa disadari aset yang pada dasarnya hanyalah selembar kertas itu menggelembung tidak terkira.”

    “Harga properti melesat naik, harga komoditas tidak terkendali, karena juga bermunculan derivatif transaksi keuangan lainnya, Mister Smith menciptakan transaksi future, minyak bumi atau gandum yang dibutuhkan enam bulan lagi, bisa dibeli sekarang, lantas uangnya bisa diputar kemana-mana, menjadi berkali-lipat. Dan boom! Ribuan kredit perumahan tiba-tiba macet total, orang mulai berpikir harga-harga sudah tidak rasional, harga komoditas jatuh bagai roller coaster, dan mulailah kekacauan merambat kemana-mana.”

    “Bank tidak bisa menagih kredit ke penduduk kota, sedangkan pemilik aset securization sudah mulai menagih. Panik, penduduk kota panik, si pembuat perahu, si pembuat mesin bergegas ingin mengambil uang di bank, padahal uang itu sudah dipinjamkan ke tukang jahit dan nelayan. Tidak ada uang di bank, hanya catatan pinjam-meminjam. Jaminan emas? Orang lupa kalau itu hanya untuk seratus dollar pertama. Posisi bank terjepit, atas-bawah. Tidak perlu seorang jenius untuk menyimpulkan hanya soal waktu seluruh surat berharga terjun bebas, tidak ada lagi harganya. Krisis aset securization ini merambat kemana-mana.”

  6. #6
    pelanggan tezar's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    499
    “Itulah yang terjadi di kota kecil tadi. Nah, itulah yang terjadi di dunia saat ini. Sama persis. Krisis dunia akibat kredit perumahan. Masalahnya, di dunia yang sebenarnya, nilai akumulasi uang ratusan tahun sejak ditemukan jumlahnya triliunan dollar, tidak terbayangkan. Kau tahu Julia, berapa total hutang negara kita? Hanya seratus dua puluh milliar dollar, kecil sekali dibandingkan akumulasi uang dunia yang berjuta kali lipat, hanya nol, koma nol nol. Dan uang-uang itu hanya dimiliki nol koma dua persen penduduk bumi, yang terus rakus menelan sumber daya. Uang itu butuh tempat bernaung, mereka sudah punya mobil, rumah, berlian, pesawat pribadi, pulau pribadi, membeli hutan jutaan hektar di Afrika, Asia dan Amerika Selatan, maka mereka ciptakanlah berbagai produk keuangan untuk menampungnya, tidak puas mendapatkan lima persen bunga bank, mereka menyerbu ke obligasi dan saham. Tidak puas juga, mereka menyerbu ke komoditas dan transaksi derivatif yang semakin rumit, uang itu seperti ratu lebah yang beranak setiap hari, terus tumbuh, serakah. Uang itu butuh tempat untuk berkembang-biak, persis seperti mutasi genetik tidak terkendali.”

    “Padahal kita lupa, semua hanya kertas, bukan? Secara riil, kekayaan dunia tidak berubah sejak uang pertama kali ditemukan, jumlah cadangan emas yang menjamin uang hanya itu-itu saja. Kau tadi bertanya apa? Julia, aku tidak peduli kemiskinan, peduli setan, karena daya rusaknya itu-itu saja, busung lapar, kurang gizi. Tetapi kekayaan, daya rusaknya mengerikan, bahkan karena di dunia ini terlalu banyak uang yang membuat orang tidak peduli wabah, kelaparan, perusakan alam, dan tragedi kemanusiaan lainnya.”

    “Kau pernah kuliah ekonomi, bukan?” Aku diam sejenak, menatap wajah gadis di depanku yang matanya membulat, masih mengunyah kalimatku, “Aku pernah, lima belas tahun lalu. Salah-satu dosenku adalah profesor penerima nobel ekonomi. Kau bisa membayangkan, mahasiswa modelku seperti apa di kelas, aku pernah bilang hipotesis bodoh padanya, andaikata dunia ini tetap menggunakan barter, andaikata dunia ini tidak pernah mengenal uang dan bunga, maka dunia boleh jadi akan jauh lebih adil dan makmur. Profesorku tertawa, Thomas, bagi pialang, pengelola danareksa, eksekutif puncak, orang-orang pintar, bagi kalian mahasiswa sekolah bisnis terbaik dunia, kalian pasti akan lebih bersyukur karena uang dan bunga pernah ditemukan. Kami berdebat, sia-sia. Profesor itu ringan melambaikan tangan, kau lupa petuah bijak bapak ekonomi modern, pasar memiliki ‘tangan tuhan’, Thomas. Dia akan selalu membuat keseimbangan, bahkan meski harus meledakkan keseimbangan sebelumnya. Jadi jangan pernah menulis macam-macam di kertas ujian, atau kau tidak lulus di kelasku. Nasehat yang bagus. Sejak saat itu aku tidak peduli omong-kosong kemiskinan, Julia.”

    “Apakah kau seorang sosialis?” Gadis di sebelahku akhirnya berkomentar setelah terdiam sejenak.

    “Apa aku terlihat seperti sosialis, Sarah?” Aku tertawa, menunjuk sepatu mengkilat yang kukenakan.

    Gadis itu tidak menggeleng apalagi mengangguk, balas menatapku datar, “Lantas apa pedulimu dengan jahatnya kekayaan. Bukankah kau sendiri hidup dari orang-orang itu. Konsultan keuangan dengan bayaran tinggi? Atau kau jangan-jangan tipikal orang berpendidikan tinggi, pintar, kaya, memiliki pengaruh, tetapi juga sekaligus paradoks dan memiliki kepribadian banyak?”

    Aku menatap mata hitamnya, nah, sekarang rasa percaya diri dan harga diri gadis ini sudah sempurna kembali. Ia sepertinya bersiap berdebat banyak hal di luar daftar pertanyaan. Sayangnya aku tidak berselera, aku harus beristirahat sejenak di atas pesawat besar ini sebelum mendarat, jadwal pertarungan pentingku menunggu, rileks melambaikan tangan, “Jika kau tertarik, kita diskusikan hal itu di lain kesempatan, Julia, mungkin makan malam yang nyaman. Tetapi kita lihat dulu akan seperti apa hasil wawancara ini di majalah kalian. Semoga kemampuan menulis kau sekinyis penampilan kau sekarang. Selamat malam.”

    Gadis itu tidak dapat menahan ekspresi gregetan, kesal. Boleh jadi kalau tidak sedang di kelas eksekutif penerbangan maskapai internasional, dengan pilot masih asyik beramah-tamah menyapa penumpang, ia akan menampar pipiku.



    ***bersambung

  7. #7
    pelanggan tezar's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    499
    *******-******* Berkelas - episode 3
    by Darwis Tere-Liye Penuh on Saturday, March 26, 2011 at 10:09am

    “Kau gila, hampir sebagian dari kita memang datang ke klub masih dengan pakaian rapi dan dasi langsung dari tempat kerja, tapi tidak ada yang datang kemari dengan tas bagasi, langsung dari London.” Theo, teman dekatku, orang yang pertama kali mengenalkanku dengan klub menyergah.

    “Aku tidak punya pilihan, Theo. Jadwal konferensi itu sudah disusun sejak sebulan lalu, juga jadwal sialan ini. Aku harus menunaikan keduanya sekaligus.” Aku melepas kemeja dengan cepat, menarik sembarang kaos lengan pendek dari koper yang kubawa sejak keluar dari hotel konferensi.

    “Kau sudah istirahat? Di pesawat misalnya.” Theo melemparkan sepasang sarung tinju.

    Aku tertawa, “Bahkan di langit masih saja ada yang menggangguku, Theo. Ada wawancara. Dan sialan, seharusnya aku sudah sampai di sini dua jam lalu, tetapi petugas imigrasi bandara menahanku.”

    “Petugas imigrasi?”

    “Siapa lagi? Pemeriksaan rutin mereka bilang.”

    “Mana ada pemeriksaan rutin untuk WNI, kecuali kau tersangkas kasus?”

    “Mana aku tahu. Dua jam yang sia-sia.” Aku mendengus kesal.

    Theo menggeleng prihatin, menatapku cemas, “Dengan semua kesibukan ini, kau tidak akan punya kesempatan, Thomas. Aku dengar, Rudi si penantang bahkan sengaja mengambil cuti tiga hari untuk menghadapi pertarungan ini. Tadi sempat kulihat wajahnya sangar, dan lihatlah kau, dengan wajah lelah, pupil mengecil. Kau bisa meminta penundaan waktu, itu hak yang ditantang.”

    Aku menggeleng, tidak ada penundaan, semua anggota klub menunggu pertarungan ini. Bahkan ruangan pertarungan belum pernah dipenuhi oleh penonton seperti malam ini. Suara dan teriakan antusias mereka terdengar hingga ruang ganti tempatku sekarang bersiap-siap. Aku masih punya waktu setengah jam, di sana masih bertarung dua anggota klub lain, saling menjual pukulan.

    “Selamat malam, Thomas.” Seseorang masuk ke ruang ganti, menepuk lemari baju, tertawa lebar.

    Aku dan Theo menoleh.

    “Kupikir kau tidak akan datang. Terlalu takut menghadapi penantang paling besarmu, mungkin.”

    Aku tidak menjawab. Theo mengacungkan tangannya, “Kau tidak boleh berada di sini, Randy.”

    “Ayolah, aku hanya menyapa salah-satu petarung terbaik klub.” Randy, salah-satu anggota senior klub masih tertawa lebar, “Beruntungnya malam ini aku tidak meletakkan uang taruhan pada kau, Thomas. Aku tidak punya ide akan bertahan berapa ronde kau dengan tampang kuyu seperti ini. Kau baru pulang dari London, bukan?”

    Gerahamku mengeras, tidak balas berkomentar.

    “Ngomong-ngomong, berapa lama kau tertahan di bandara? Dua jam?”

    Gerakan tanganku yang memastikan sarung tinju telah terpasang sempurna terhenti, aku menoleh, berpikir cepat, berseru galak, “Dari mana kau tahu aku tertahan di sana dua jam?”

    Randy terkekeh, “Seharusnya aku menahan kau lebih lama lagi, Sobat. Tiga-empat jam misalnya, tetapi kalah WO membuat uang taruhan batal, dan itu jelas tidak lebih seru dibandingkan melihat Thomas yang hebat tersungkur di lantai dengan wajah berdarah-darah.”

    Aku melompat, tanganku bergerak cepat hendak memukul Randy—sekalian menguji apakah sarung tinjuku sudah sempurna mencengkeram, “Dasar *******, ternyata kau yang sengaja menghambatku di loket imigrasi.”

    Theo lebih dulu menahanku, berbisik, “Simpan pukulan kau untuk Rudi. Jangan sia-siakan.”

    Aku tersengal, berusaha mengendalikan diri, tentu saja urusan ini bisa dimengerti. Randy adalah pejabat tinggi di kantor imigrasi, dia punya kekuasaan untuk melakukannya.

    “Kenapa kau harus marah, Thom. Semua sah dan boleh-boleh saja dalam pertarungan, bukan?”

    “Tutup mulut kau.” Aku berseru marah.

    Randy justeru kembali tertawa ringan.

    Suara teriakan di ruangan pertarungan terdengar kencang hingga ruang ganti, sorakan-sorakan menyuruh bangkit kembali, sepertinya ada salah-satu petarung yang terkena pukulan telak.

    Tiga tahun lalu, saat pertama kali Theo mengajakku pergi ke ‘klub’, aku hanya menggeleng malas. Itu bukan kebiasaanku, aku tidak suka menghabiskan waktu dengan nongkrong, minum, mendengar musik, melirik-lirik setelah pulang kerja. Theo santai mengangkat bahu, bilang itu juga bukan kebiasaannya. “Ini klub yang berbeda, Thom. Kau pasti suka.” Maka setengah terpaksa, daripada bosan menatap jalanan macet dari balik jendela tebal ruangan kantorku, aku ikut.

    Menakjubkan, belasan tahun tinggal di Jakarta, aku tidak pernah tahu kalau kota ini ternyata punya ‘klub bertarung’ seperti yang kusaksikan di film terkenal itu. Theo mengajakku ke salah satu gedung perkantoran, di lantai enam, dengan akses lift private langsung ke sana, bukan partisi ruangan kantor, meja penerima tamu, dan sebagainya yang ketemukan, melainkan ruangan luas dengan lingkaran merah mencolok di tengahnya. Beberapa anggota klub sedang berseru-seru, menyemangati, wajah-wajah tegang, wajah-wajah semangat, menonton dua orang yang saling bertinju persis di lingkaran merah.

    Aku menelan ludah, Theo benar, aku pasti suka. Ini sungguh keren, klub yang berbeda. Theo membiarkanku terpesona, dia sudah asyik menyapa anggota klub lain, sambil melambai memesan dua minuman ringan untuk kami.

    “Ini klub tertutup dan rahasia, Thom. Tidak banyak yang tahu. Anggotanya hanya boleh mengajak teman yang dia percaya kemari. Dan kau beruntung punya teman Theo, salah-satu penggagas awal klub ini, nama kau bersih dan terjamin.” Itu penjelasan Randy—dulu dia masih ramah padaku. “Kami berkumpul tiap akhir minggu, dengan jadwal sama seperti malam ini, menonton pertarungan. Di luar latihan setiap hari buat siapa saja yang mau datang. Lumayanlah mengusir penat setelah pulang kerja, apalagi jika jadwal kau yang bertarung, itu sungguh refreshing yang hebat, Sobat.”

  8. #8
    pelanggan tezar's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    499
    Aku mengangguk, bersepakat—dulu aku masih sering sependapat dengan Randy, melihat dua petarung saling pukul, menghindar, darah menetes dari luka di pelipis secara live sudah membakar seluruh penat, apalagi bertarung langsung, itu memicu adrenalin berkali-kali lipat.

    “Tidak ada yang peduli latar belakang kau siapa, Thom. Itu aturan main klub.” Theo berbisik, kami sudah berdiri di pinggir lingkaran merah, bergabung dengan wajah-wajah penonton yang berteriak sampai serak menyemangati, “Randy bekerja di kantor imigrasi, kudengar dia baru mendapat promosi minggu lalu, jadi kepala imigrasi bandara. Erik, kau lihat di sana, dia manajer senior di bank besar.”

    Aku mengumpat dalam hati, tentu saja aku kenal Erik, baru tadi pagi kami rapat bersama, bertengkar tentang ruang lingkup jasa konsultansi yang dibutuhkan corporate bank mereka.

    “Rudi, nah, yang sedang sangar bertarung adalah petugas penyidik di kepolisian atau komisi apalah, aku tidak tahu persis, tidak ada yang peduli. Di sini ada eksekutif muda, karyawan, dokter, pesohor, penulis, orang-orang pemerintah, pengusaha, itu yang berdiri di pojok bersama teman-temannya, anak salah-satu petinggi partai. Di sini, berkumpul orang-orang yang menyukai tinju, di luar itu, pekerjaan, latar belakang, siapa kau, lupakan. Meski sebenarnya hampir seluruh anggota klub tahu satu sama lain.”

    Aku masih sibuk menyapu wajah-wajah seluruh ruangan.

    “Dulu kami hanya amatiran. Ada enam orang pencetus ide. Tanpa jadwal, anggota klub yang mau bertarung tinggal menuju lingkaran merah, menantang siapa saja yang habis dimarahi bos, atau kesal dengan bawahan, atau mobil mewahnya habis tersenggol. Meski amatiran, selalu seru, satu-dua pulang dengan wajah lebam, mereka terpaksa berbohong pada istri masing-masing, bilang terjatuhlah.” Theo tertawa, “Semakin kesini, kami membayar pelatih profesional, membuat jadwal, melengkapi ruang ganti, bartender, dan seluruh keperluan seperti sasana tinju. Dan anggota klub bertambah dengan caranya sendiri, hanya boleh mengajak orang yang paling dipercaya, serta direkomendasikan anggota lama, kupikir sekarang anggota klub sekitar tiga puluh orang. Cukup banyak untuk membuat kau menunggu dua bulan hingga jadwal bertarung kau tiba, tapi itu bukan masalah, lebih banyak yang menjadi anggota klub hanya untuk menonton pertarungan, bertaruh, bersenang-senang. Atau sekadar mencari tempat memukuli sansak, latihan.”

    Ruangan klub dipenuhi tepuk-tangan, seruan-seruan salut, kemeja dan dasi penonton kusut karena kesenangan, di tengah lingkaran merah, Rudi baru saja membuat lawannya tersungkur. Aku menelan ludah. Theo ikut bertepuk tangan, berbisik, “Dia petarung nomor satu di klub. Jangan coba-coba menantanganya.”

    Wajah sangar Rudi sepanjang pertarungan terlipat, dia sudah membantu lawannya berdiri, tertawa dengan lawannya, saling peluk. “Satu-dua pertarungan bisa sangat emosional, Thom. Tetapi ini adalah klub dengan respek di atas segalanya, kita hanya bermusuhan di dalam lingkaran merah, di luar itu semua anggota klub adalah teman baik. Semua aktivitas pertarungan dirahasiakan, bahkan besok lusa kalau kau bertemu dengan anggota klub di manalah, tidak akan ada yang membahas kejadian semalam.”

    Aku mengangguk, masih tercengang dengan banyak hal. Saat Theo mengajakku pulang pukul dua belas malam, pertarungan terakhir sudah selesai, aku memutuskan menjadi anggota klub.

    “Selamat bergabung, Thom. Kalau kau mau, minggu depan kami bisa menjadwalkan pertarungan eksebisi, kau mau?” Randy yang menerima kartu kredit pendaftaranku mengedipkan mata.

    Aku bergegas menggeleng. Itu ide buruk.

    “Baiklah, minggu depan, pertarungan kedua. Tiga ronde, masing-masing lima menit, melawan, eh, Erik. Ya, Erik, dia sudah sejak sebulan lalu menuntut jadwal bertarung. Nah, kau harus bersiap-siap.” Randy tidak peduli, dia tertawa lebar.

    Itu kejadian tiga tahun lalu. Dan dengan segera aku menjadi bagian ‘klub bertarung’. Adalah Erik lawan pertamaku. Kalian bayangkan, seseorang yang tidak pernah bertinju, tidak pernah menguasai teknik bela diri apapun, memasuki lingkaran merah dibawah tatapan dan seruan penonton, aku gugup, meski Theo sudah memberikan kursus selama tiga sesi, setiap pulang kerja, itu tidak cukup. Erik membuat pelipisku robek, berdarah, dia membuatku tersungkur di ronde ke tiga, persis saat lonceng berdentang.

    “Anggap saja luka kau itu sebagai ganti rapat tadi siang yang menyebalkan, Thom. Kau seharusnya menyetujui presentasiku, bukan membantainya.” Erik menyeringai, membantuku berdiri.

    Kakiku gemetar, entah sudah seperti apa wajahku, dihabisi oleh pukulan terbaik Erik.

    “Ini hebat, Sobat. Untuk orang yang baru pertama kali bergabung dan langsung bertarung, kau membuat rekor.” Randy tertawa senang, membantu melepas sarung tinjuku, memberikan minuman segar, “Kau orang pertama yang bertahan hingga ronde ketiga.”

    Theo hanya nyengir, menatap wajah lebamku. Sedangkan belasan anggota klub lainnya menepuk-nepuk bahu, bilang selamat bergabung, menjulurkan tangan, berkenalan, memuji pertarungan seru barusan.

    Terlepas dari kondisiku yang babak belur. Ini sungguh hebat. Aku tidak pernah merasakan antusiasme, semangat, tegang, atau apalah menyebutnya saat bertarung, saat mengirim pukulan, dan saat menerima pukulan bertubi-tubi. Rasa-rasanya seluruh tubuhku meledak oleh ekstase kesenangan. Sejak malam itu, pertarungan pertamaku, aku memutuskan menjadi petarung. Tiga tahun berlalu, lebih dari belasan kali aku menghadapi anggota klub lain, dan hanya itulah pertama kali dan untuk terakhir kali aku tersungkur, sisanya jika tidak menang, kami sama-sama masih berdiri gagah hingga lonceng bel ronde terakhir berbunyi.

    Aku tumbuh menjadi petarung hebat. Aku membalas Erik di pertarungan setahun kemudian, bahkan aku membuat Randy, tersungkur tiga bulan lalu. Satu-satunya petarung klub yang tidak pernah kukalahkan adalah Rudi, dua kali kami bertarung, dua kali pula berakhir seri.

    “Jadwal kau sekarang, Thom.” Seseorang memukul pintu ruang ganti.

    Membuat wajah kesalku, wajah tenang Theo, dan wajah menyebalkan Randy tertoleh.

    “Bergegas, Thom. Mereka sudah tidak sabaran menunggu pertarungan ini sejak tadi. Satu dua malah sudah di klub sejak pukul empat sore.”

    Theo yang mengangguk, bilang segera menuju lingkaran merah.

    “Kau akan tersungkur kali ini, Sobat.” Randy masih sibuk mengoceh.

    “Thom akan mengalahkan Rudi.” Theo yang menjawab datar, “Sama seperti mengalahkan kau tiga bulan lalu. Aku bertaruh untuknya.”

    Randy melambaikan tangan, “Itu hanya kebetulan. Kalian curang, sengaja mengerjai, membuatku mulas saat bertarung. Kali ini kau tidak punya kesempatan.”

    Theo mengacungkan tinjunya, menyuruh Randy menjauh.

    Aku tetap tidak menjawab, melangkah memasuki ruangan pertarungan.

    “Tidak banyak bicara kau sekarang, Sobat.” Randy terkekeh, “Catat ini, kalau kau berhasil mengalahkan Rudi malam ini, akan kupenuhi permintaan kau, apa saja, bahkan jika itu termasuk meloloskan penjahat kelas kakap di gerbang imigrasi bandara.” Teriakan provokasi Randy terdengar di belakangku.

    Aku sudah tidak mendengarkan, terus menuju pusat perhatian penonton. Beberapa anggota klub berseru-seru, menepuk-nepuk bahuku, menyemangati, bilang kau harus menang, Thom, habisi dia, Thom. Ruangan klub penuh, beberapa orang tidak kukenali—selalu menjadi saat yang tepat mengajak anggota baru ketika pertarungan penting berlangsung. Antusiasme pertarungan memenuhi setiap jengkal ruangan. Dan di lingkaran merah yang diterangi lampu sorot, berdiri gagah penantangku.

    Rudi si boxer sejati klub.



    ***bersambung

    Empat bulan beroperasi, ‘Gerakan 1 juta buku untuk anak2 Indonesia’ sudah membagikan hampir 800 buku, ke 50 sekolah, dengan total murid 10.000 orang (tersebar dr Merauke hingga Sumatera). Kami menargetkan 1 tahun beroperasi bisa membagikan 2000 buku, ke 100 sekolah, dengan total murid 20.000. Bantulah gerakan ini, kunjungi group kami di (http://www.facebook.com/home.php?sk=...71221489561908), atau blog kami, www.satujutabuku.wordpress.com.

    Ada banyak cara membantu gerakan ini: Kalian menyisihkan 100 rupiah setiap membaca notes gratis ini (yg bahkan lebih mahalan biaya internet/aksesnya), lantas mentransfer ke rekening gerakan; atau membantu operasional basecamp dgn packing, berbenah-benah, membuat database, dll (cek di group utk melihat jadwal berkumpul relawan); atau dengan sekadar menginformasikan sekolah mana saja yg bisa menerima buku2 itu sudah amat membantu. Ketika seruan kebaikan datang, maka jangan bertanya lagi banyak hal, bantulah, bahkan meski itu hanya sekadar bantuan paling kecil.

  9. #9
    pelanggan tezar's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    499
    *******-******* Beerkelas - episode 4
    by Darwis Tere-Liye Penuh on Sunday, March 27, 2011 at 7:32pm

    Hampir pukul satu dinihari. Setelah mandi, berganti pakaian tidur, saatnya beristirahat.

    Badanku remuk lepas pertarungan.

    Sayangnya, suara dering menyebalkan telepon tiba-tiba memenuhi langit-langit kamar. Aku reflek menyambar bantal, menutup telinga sambil menyumpah, berusaha mengabaikan, melanjutkan tidur.

    Tidak sesuai harapan, aku mendengus mengkal, si penelepon pasti tidak pernah mendapatkan pelajaran etiket, nada panggil sekian kali, itu artinya yang bersangkutan tidak mau menerima, sibuk, tidur, tidak ada di tempat atau alasan logis lain yang bisa diterima akal sehat ras manusia. Siapapun penunggu meja depan hotel mewah malam ini, besok-lusa akan menerima komplain tanpa ampun yang pernah ada.

    Aku melempar bantal, bersungut-sungut, menyadari dua hal. Satu untuk telepon sialan ini tidak akan berhenti kalau aku tidak mengangkatnya, dua untuk bahkan menginap di kamar terbaik, hotel berbintang enam sekalipun, suara dering telepon di kamar selalu saja standar, mendengking-dengking berisik. Tidak adakah manajer keramah-tamahan kelas dunia punya ide mengganti nada dering dengan irama lagu jazz atau yang lebih ramah didengar, atau sekalian menyediakan opsi pengaturan dengan nada getar atau beep kecil. Mereka sepertinya lebih sibuk meletakkan bebek-bebekkan kuning di kamar mandi, buku petunjuk wisata kota penuh iklan atau ide sampah macam surat selamat datang yang ditandatangani massal. Atau salahku pula, mengapa tidak mencabut kabelnya sebelum tidur.

    “Maaf, Pak—“

    “Kau tahu ini pukul berapa, Shiong?” Sialan, aku mengenali suaranya.

    “Eh? Pukul—“

    “Ini lewat tengah malam, Shiong. Bukankah aku tadi berpesan tolak semua telepon ke kamarku.” Aku berseru marah.

    “Maaf, Pak. Ini mendesak.”

    “Persetan, bahkan besok dunia tenggelam oleh air bah Nabi Nuh.” Aku mengutuknya, bersiap menumpahkan kosa-kata makian beradab yang kumiliki, urung, terlanjur pintu kamarku diketuk.

    Apalagi? Aku menoleh.

    “Ada yang memaksa bertemu Bapak. Aku sudah bilang Bapak perlu istirahat, mereka memaksa naik ke atas. Aku tidak bisa menahannya, tidak ada petugas yang berani menahannya, Pak. Aku harus memberitahu Bapak, setidaknya sebelum mereka tiba.” Shiong bergegas menjelaskan, dengan intonasi hasil didikan keramah-tamahan kelas dunia belasan tahun.

    Baiklah. Aku meletakkan gagang telepon. Beranjak menuju pintu kamar lebih karena ingin tahu siapa yang mendatangiku malam-malam.

    “Selamat malam, Thomas.”

    Hanya ada dua orang yang berdiri di depan pintu. Satu orang kukenali, satunya tidak.

    “Kami sejak empat jam lalu mencari kau.” Tersenyum lelah, “Kebiasaan kau yang jarang tinggal di rumah, memilih menginap di hotel menyulitkan ka—”

    “Langsung saja, apa keperluan kalian?” Aku tidak punya waktu mendengar basa-basi.

    “Sudah tersambung, Pak.” Orang yang tidak kukenali berbisik, menyerahkan telepon genggam.

    Orang yang kukenali mengangguk, menerima telepon genggam itu, lantas memberikannya padaku, “Ada seseorang yang ingin bicara dengan kau, Thomas. Situasinya genting sekali.”

    Siapa? Aku ragu-ragu menerima telepon genggam itu.

  10. #10
    pelanggan tezar's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    499
    “Hallo, Tommi.”

    Suara tua, terdengar serak dan bergetar, suara yang justeru seketika membuat kemarahanku kembali memuncak.

    “Jangan, jangan ditutup teleponnya dulu Tom.” Terbatuk sebentar, “Aku tahu kau masih membenciku. Tetapi aku tidak punya pilihan, Nak. Aku harus memberitahu kau.”

    “Sungguh jangan tutup teleponnya dulu, Tommi. Aku tahu kau tidak peduli lagi denganku, kau juga tidak akan peduli kalau kuberitahu rumah orang tua ini sudah dikepung, satu peleton polisi berkumpul di halaman rumah, mereka seperti akan menangkap teroris saja. Tetapi, Tante kau, Tommi, kesehatannya memburuk sejak berita ini dimuat di koran-koran, dan empat jam lalu saat petugas berdatangan, memeriksa banyak hal, memasang barikade memastikan aku tidak lari, dia tidak kuat lagi, jatuh pingsan. Datanglah, Nak. Temui Tante kau, sebelum jatuh pingsan, dia berkali-kali menanyakan kau, menatap pigura foto saat kau masih kecil dan bersama keluarga besar kita.” Terbatuk sebentar.

    “Maafkan orang tua ini yang mencarimu malam-malam, Nak. Semoga kau tidak semakin membenciku. Selamat malam.” Sambungan telepon telah dimatikan.

    Lorong kamar hotel terasa lengang.

    “Bagaimana?” Orang yang kukenali bertanya setelah aku hanya diam satu menit.

    Aku meremas jemari. Mengembalikan telepon genggam.

    “Seberapa serius?” Aku mengeluarkan suara.

    “Yang mana? Situasi di rumah? Atau Keadaan Tante kau?” Orang yang kukenali tertawa prihatin.

    “Dua-duanya.” Aku menghela nafas.

    “Buruk. Dua-duanya buruk, Thom, apalagi situasi di rumah, kau pastilah tahu, hanya soal waktu wartawan mulai berdatangan, memastikan penangkapan besar. Mungkin lebih baik kita bicarakan di mobil, waktu kita amat terbatas. Sekali mereka memutuskan menahan Om kau, kacau balau semua urusan. Kau ikut dengan kami?”

    Aku terdiam.

    “Ayo, Thomas, putuskan.”

    Aku akhirnya mengangguk, “Berikan waktu satu menit untuk berganti pakaian.”



    ***

    Mobil melesat kencang. Jalanan Jakarta lengang, pukul dua dini hari, jika nekad kalian bisa memacu kecepatan hingga 120 km/jam di jalan protokolnya.

    “Kau mengikuti berita-berita?”

    Aku mengangguk. Duduk di kursi belakang, mendengarkan penjelasan.

    “Maka lebih mudah menjelaskannya. Bagai raja catur yang dikepung banyak musuh, Om Liem terdesak. Seminggu lalu otoritas bank sentral sudah memberikan peringatan ketiga untuk bank miliknya, dan tadi siang, sialnya mereka mengumumkan kalau bank milik Om Liem tidak bisa menutup kliring antar bank. Itu membuat kepanikan, padahal kau tahu, hanya kurang lima milliar saja. Mereka umumkan atas nama transparansi. Kau tahu akibatnya, saham Bank Semesta dihentikan perdagangannya di bursa, suspended. Nasabah panik, antrian panjang terbentuk di setiap cabang tadi sore. Dan di tengah krisis dunia, sedikit saja informasi negatif, semua orang panas-dingin.” Orang yang duduk di sebelahku menghela nafas.

    “Aku belum tahu soal kalah kliring.” Aku bergumam.

    Sopir sepertinya tidak mengurangi kecepatan, mobil meliuk menaiki fly over.

    “Tentu saja belum. Kau baru pulang dari London tadi sore bukan? Beruntung ini hari Jum’at, jadi kita semua punya waktu dua hari untuk menghadapi nasabah yang panik Senin lusa. Situasinya sudah kacau balau, Thom. Jika rush terjadi, semua nasabah berbondong-bondong menarik tabungannya, Bank Semesta pasti kolaps, bahkan seluruh aset dijual, seluruh harta Om Liem digadaikan, tetap tidak akan cukup. Come on, semua uang telah dipinjamkan ke pihak ketiga, bagaimana mungkin kau menarik uang dari mereka dengan cepat untuk mengembalikan tabungan nasabah. Dan situasi semakin rumit, karena kau pastilah sudah tahu dari berita-berita di media massa, penyidik kepolisian dibantu otoritas bank sentral sejak beberapa bulan memeriksa Bank Semesta. Urusan ini kapiran, seperti halnya kau membenci Om kau, aku juga tahu kalau terlalu banyak transaksi tidak bisa dijelaskan di bank itu. Enam tahun menguasai bank itu, Om Liem terlalu ambisius, tidak hati-hati, menggampangkan banyak hal, dan melanggar begitu banyak regulasi demi pertumbuhan bisninya.” Orang yang duduk di sebelahku itu kembali menghela nafas.

    “Kita sungguh tidak punya waktu hingga Senin lusa menghadapi polisi yang mengepung rumah, Thom, bahkan hanya karena Tante kau masih pingsanlah, mereka menahan diri belum memborgol Om Liem. Cepat atau lambat, besok atau lusa, wajah Om Liem akan terpampang besar di surat kabar, menjadi headline. Pemilik bank besar dan imperium bisnis raksasa telah tumbang.”

    Aku menelan ludah. Menatap deretan gedung tinggi dari atas jalan layang.

    “Bukankah dia punya banyak kenalan orang penting dan berkuasa untuk menyelamatkan bank itu?” Akhirnya berkomentar.

    Orang yang kukenali tertawa masam, “Dia punya lebih banyak lagi musuh dan orang-orang yang ingin mengambil keuntungan dari kolapsnya Bank Semesta, Thom. Berebut atas aset berharga yang dijual murah. Dia sudah terdesak. Kabar terakhir yang kuterima, tapi ini off the record, kepala kepolisian, jaksa agung serta gubernur bank sentral terlibat langsung atas penyidikan Bank Semesta. Semangat sekali mereka bekerja, seperti tidak ada kasus korup kroni-kroni mereka yang bisa diurus. Terlalu banyak misteri dalam kasus ini sejak peringatan pertama dari otoritas. Astaga, Thom, hanya kalah kliring lima milliar, rusuhnya sudah seperti kalah kliring lima trilliun. Buat apa coba?”

    “Itu sudah tugas mereka. Pengawasan.” Aku menjawab pelan.

    “Omong kosong, Thom. Puluhan tahun aku menjadi orang kepercayaan Om Liem, puluhan tahun mengendalikan bisnisnya, dalam beberapa hal, aku juga sepakat dengan kau, membenci cara dia berbisnis, tetapi kasus Bank Semesta ini terlalu banyak kepentingan, terlalu banyak misteri. Seolah ada hantu masa lalu yang memang sengaja mengambil alih seluruh keberuntungan Om Liem, membuat skenario, bersiap menusuk dari belakang. Dan itu benar, sekali Bank Semesta tidak terselamatkan, seluruh kekayaan keluarga Om Liem habis. Bukankah kau termasuk salah-satu ahli warisnya, Thom?”

    “Aku tidak peduli urusan itu.”

    “Tentu saja kau harus peduli, kau tidak sekadar mewarisi harta benda, Thom. Kau juga otomatis mewarisi hutang-hutang.” Orang di sebelahku tertawa prihatin, bergurau.

    Aku tidak menjawab. Mobil yang kami tumpangi sudah berbelok tajam, menuju salah-satu area paling elit di Jakarta.



    ***bersambung

    Absen, absen, biar sy tahu masih berapa orang yg bertahan mengikuti serial ini.

  11. #11
    pelanggan tezar's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    499
    *******-******* Berkelas - episode 5
    by Darwis Tere-Liye Penuh on Monday, March 28, 2011 at 7:01pm

    Mobil merapat ke halaman rumah yang sebenarnya luas—namun terasa sempit dengan pemandangan yang ada. Dua mobil taktis polisi terparkir, beberapa mobil lain yang entah milik siapa, ditambah dengan satu mobil ambulans yang merapat persis di depan pintu masuk. Belasan polisi berdiri mengawasi siapa saja yang keluar masuk pintu depan, dengan senjata lengkap di tangan. Aku mengeluh dalam hati, terlepas dari bisnis mereka yang menggurita, penghuni rumah ini hanya pasangan sepuh yang tinggal dengan pembantu. Tidak lebih, tidak kurang. Tidak ada penjaga bayaran. Mereka tidak akan melawan.

    Beberapa perawat terlihat sibuk menurunkan sesuatu dari ambulans.

    Aku melintasi ruang tamu, langsung menuju ruangan yang biasa digunakan Om Liem dan Tante beristirahat. Satu-dua petinggi bank dan perusahaan milik Om Liem duduk di ruang tengah, wajah kalut, berbicara pelan satu sama lain. Empat petugas polisi sedang mengeluarkan perangkat komputer dan dokumen dari ruangan yang biasa digunakan Om Liem bekerja di rumah, petugas mengenakan seragam seolah ada bom di dalam kardus-kardus dokumen serta bukti lain yang mereka gotong keluar.

    Aku menghela nafas pendek, ada yang lebih mendesak, Tante Liem.

    Pintu kamar langsung ditutup saat aku masuk.

    Pemandangan yang suram.

    Tetapi kabar Tante tidak seburuk yang kubayangkan. Tante terbaring di ranjang besar, Dokter berdiri di sebelahnya, dibantu dua perawat, berusaha memasangkan infus dan belalai selang lainnya.

    “Akhirnya kau datang juga.” Suara serak Om Liem lebih dulu menyapa sebelum aku menyapa Tante.

    Aku mengangguk—membiarkan dia memelukku.

    “Duduk dekatku, Tommi.” Itu suara Tante, memanggilku.

    “Kapan Tante siuman?” Aku menelan ludah, menatap wajah yang dulu terlihat segar dan menyenangkan berubah jadi pucat dan cekung hanya dalam waktu sebulan sejak kasus Bank Semesta menggelinding.

    “Lima belas menit lalu.” Dokter yang menjawab.

    Aku mengangguk, meraih tangan Tante Liem.

    “Semua sudah berakhir, Tommi.” Tante menatapku lamat-lamat, “Situasi tidak akan mungkin lebih buruk lagi, bukan? Jadi aku tidak akan pingsan lagi, Nak. Itu kabar baiknya.”

    Aku menatap getir wajah Tante, matanya berkaca-kaca.

    “Mereka hanya memberikan waktu sebentar.” Om Liem menjelaskan perlahan, berdiri di sebelahku, “Jika Tante kau sudah membaik, sudah siuman, mereka akan membawa orang tua ini pergi ke penjara. Itu berarti hanya tinggal beberapa menit lagi.”

    “Apakah tidak ada lagi orang yang bisa membantu?” Aku menoleh. Meski aku selama ini membencinya, melihat wajah kuyu Om Liem di hadapanku itu, sambil menyentuh tangan Tante yang dingin, aku banyak berubah pikiran.

    Om Liem menggeleng, tertawa suram.

    “Bukankah Om teman dekat dengan pejabat partai yang berkuasa? Menteri-menteri? Atau bahkan Presiden? Atau kolega bisnis, bukankah mereka bisa bantu menyelamatkan Bank Semesta?” Aku menyebut daftar kemungkinan.

    “Kau tidak mendengarkan Tante kau, semua sudah berakhir, Tommi. Tidak ada yang mau dekat-dekat dengan situasi buruk seperti ini. Alih-alih, kau yang dituduh bersekongkol. Perintah penangkapan sudah efektif, polisi yang berjaga di ruang depan membawa surat perintah.”

    Ruangan lengang, semua kepala tertunduk.

    Aku menelan ludah, “Bagaimana dengan Shinpei, rekan bisnis selama puluhan tahun? Bukankah dia akan senang hati membantu?”

    Om Liem menggeleng, “Group mereka juga dalam kesulitan, aku sudah menelepon Shinpei, bilang situasi buruk ini, dia hanya bisa ikut prihatin, tidak bisa membantu.”

    Aku menghembuskan nafas. Menatap wajah empat perawat yang menunggu perintah. Dokter yang berdiri takjim, prihatin, dan beberapa petinggi perusahaan Om Liem yang balas menatap kalut, tidak bersuara, tidak punya ide harus bagaimana.

    “Aku tahu kau tidak akan pernah mau mendengarkan orang tua ini, Tommi. Tetapi kali ini, tolong urus Tante kau, adik-adik sepupu kau selama aku di penjara. Pastikan mereka baik-baik saja.” Suara serak Om Liem memecah lengang.

    Astaga? Aku menelan ludah.

    “Sayangnya kami tidak punya anak laki-laki. Kaulah satu-satunya anak laki-laki di keluarga besar kita. Apapun yang tersisa dari bisnis ini, kaulah yang paling pantas melanjutkan. Senin, otoritas bank sentral akan menutup operasi seluruh cabang Bank Semesta. Senin pula, aku akan menanda-tangani surat pernyataan akan mengganti seluruh uang nasabah, tidak sepeser pun uang mereka akan dimakan orang-tua ini. Bahkan jika itu termasuk melego bisnis properti, otomotif, seluruh perusahaan kita.” Om Liem menyentuh tanganku.

    Ruangan semakin senyap.

  12. #12
    pelanggan tezar's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    499
    “Kau pernah masuk penjara, Ram?” Om Liem menoleh pada orang yang menjemputku di hotel, orang kepercayaannya di induk perusahaan, tertawa getir, “Aku pernah, Ram. Saat usiaku dua puluhan. Aku masuk penjara selama enam bulan. Bukan masuk penjaranya yang membuatku berkecil hati, melainkan saat aku di penjara, Papa dan Mamanya Thomas meninggal, dan sejak hari itu, Thomas membenciku.”

    “Hentikan!” Aku menyergah kasar, mataku panas.

    Semua kepala di ruangan terangkat, Tante menatapku.

    “Hentikan omong-kosong ini.” Aku tersengal, berusaha mengendalikan nafas, “Tidak akan ada yang masuk penjara malam ini.”

    “Ini bukan omong-kosong, Tom. Tidak ada lagi jalan keluar.” Om Liem menatapku datar.

    “Kau diam! Biarkan aku berpikir sebentar.” Aku meremas rambutku, berusaha mencerna banyak hal yang terjadi sejak konferensi di London, klub bertarung, dan rumah besar Om Liem.

    “Apakah polisi di luar tahu kalau Tante sudah siuman?” Aku bertanya pada orang-orang di dalam kamar.

    Dokter menggeleng, “Belum ada yang memberitahu mereka.”

    Itu kabar bagus, aku mengepalkan tinju.

    “Apakah kondisi Tante stabil?” Aku mendesak memastikan, waktuku terbatas.

    Dokter mengangguk.

    “Baik, dengarkan aku!” Aku meminta perhatian seluruh orang yang berada di dalam kamar, mataku menatap tajam ke setiap orang, “Kalian semua akan menutup mulut hingga semua urusan selesai.”

    Wajah-wajah bingung.

    “Kau, ya, kau segera ambil ranjang darurat dari ambulans!” Aku mengacungkan telunjuk pada salah-satu perawat.

    “Buat apa?” Dokter memotong perintahku, bingung.

    “Segera lakukan, Dok. Suruh dua perawat kau bergegas.” Aku berseru, “Bukankah kau sudah hampir dua puluh tahun menjadi dokter keluarga ini? Bukankah kau dulu salah-satu anak-anak yang disekolahkan Om Liem? Demi semua itu, laksanakan perintahku.”

    Dokter menelan ludah. Patah-patah menyuruh dua perawatnya.

    “Bilang ke polisi di luar, kondisi Tante Liem semakin parah.” Aku menarik salah-satu perawat itu sebelum keluar dari ruangan, “Kalau mereka bertanya detail, jangan dijawab, dan jangan pernah biarkan mereka mendekati pintu kamar ini. Kau mengerti?”

    Perawat itu mengangguk—meski masih dengan wajah bingung.

    “Apa, apa yang sedang kau lakukan, Tom?” Om Liem bertanya gugup.

    “Menyelamatkan seluruh keluarga ini. Apalagi?” Aku berseru cepat, “Kau, ya kau bantu melepas infus dari Tante Liem. Segera.” Aku meneriaki dua perawat yang tersisa di kamar.

    “Apa yang kau rencanakan, Tom?” Om Liem bertanya untuk kedua kali.

    “Kita tidak punya waktu untuk penjelasan, tapi jika semua berjalan lancar, setengah jam dari sekarang kita sudah ribuan kilometer dari kota sialan ini.” Aku berkata cepat pada Om Liem, “Dua hari, kita punya waktu dua hari hingga Senin untuk membereskan semua kekacauan. Bank Semesta akan diselamatkan, percayalah, tidak ada selembar pun saham milik perusahaan yang akan dijual. Dan sebelum itu terjadi, kau harus kabur dari mereka. Lari.”

    “Aku, aku tidak akan melakukannya, Tommi.” Suara Om Liem terdengar bergetar.

    “Tidak ada pilihan. Kau harus lari.” Aku berseru gemas.

    “Aku tidak mau jadi buronan, Tom.” Om Liem menggeleng, reflek melangkah mundur.

    “Kau harus mau. Astaga, sekarang bukan saatnya membahas prinsip-prinsip basi.” Aku membentaknya, “Turuti semua perintahku, dan semua akan baik-baik saja.” Aku menoleh ke sisi lain , “Ram, siapa nama petinggi kejaksaan dan bintang tiga di kepolisian yang memimpin kasus ini?”

    Ram dengan wajah tidak mengerti menyebut dua nama yang sudah ia sebutkan di mobil yang menjemputku dari hotel.

    “Nah, bukankah dua nama itu berarti buat keluarga ini?” Aku kembali menoleh pada Om Liem, menyebut nama itu kencang-kencang, “Mereka tidak akan berhenti, percayalah, kau tidak akan dipenjara enam bulan seperti masa lalu, kalau bisa, dua orang ini akan membuat kau dipenjara selamanya, agar tidak ada jejak yang tersisa.”

    Pintu kamar didorong dari luar, dua perawat sudah kembali, terburu-buru mendorong ranjang darurat, diikuti beberapa petugas polisi yang ingin tahu.

    Aku segera melesat ke depan pintu, menahan petugas yang hendak masuk.

    “Kalian tidak boleh masuk.”

    “Kami harus tahu apa yang terjadi?” Komandan polisi memaksa.

    “Astaga? Apalagi yang ingin kalian tahu,” Aku memasang badan agar mereka tidak bisa melihat apa yang terjadi di dalam, “Nyonya rumah terbaring sekarat, dia butuh segera dibawa ke rumah sakit. Tuan rumah tidak akan kemana-mana, lihat, dengan memakai tongkat, tangkapan kalian tidak akan bisa kabur dari sini, bahkan berjalan seratus meter pun dia tidak akan kuat.”

    Petugas polisi saling lirik satu sama lain.

    “Kalian akan terus menonton, atau lebih baik menunggu di ruang depan.” Aku melotot, “Percayalah, setelah Nyonya rumah dibawa pergi oleh ambulans, kalian dengan mudah bisa memborgol Tuan Liem. Dan besok kalian akan mendapatkan kenaikan pangkat atas tangkapan hebat ini.”

    Komandan polisi terlihat ragu-ragu, aku sudah balik kanan, kasar menutup pintu.

    “Kau naik ke atas ranjang dorong.” Aku mendesis.

    Om Liem bingung.

    “Pasangkan infus dan semua belalai selang di tangannya.” Aku menyuruh perawat yang juga masih bingung dengan apa yang sebenarnya sedang terjadi.

    “Aku, aku tidak bisa membiarkan ini, Thom.” Dokter berseru tertahan, sepertinya dia orang pertama yang mengerti apa yang akan kulakukan.

    “Kau akan membiarkannya, Dok.” Aku menatapnya galak, meraih stick golf di pojok kamar, “Aku akan memukul siapa saja yang menghalangiku. Kau naik ke atas ranjang.”

    Om Liem patah-patah naik, berbaring, aku segera menyuruh dua perawat bekerja di bawah ancaman stick golf. Mereka takut-takut segera menyelimuti tubuh tua itu, memasang masker di wajah, memasang penutup kepala, infus, alat bantu pernafasan, apa saja yang bisa membuat kamuflase.

    Adalah penting segera membawa Om Liem kabur. Tanpa tanda-tangan Om Liem, tidak ada satu pihak pun yang bisa membekukan Bank Semesta atau mengambil-alih perusahaan lain. Aku tidak bisa melarikan Om Liem begitu saja dari rumah, melewati belasan polisi yang sejak empat jam lalu tidak sabaran. Aku akan menukar Tante dengan Om Liem. Rencana ini nekad, meski perawat sudah berusaha membuat tampilan Om Liem yang terbaring tidak dikenali lagi dengan selimut dan peralatan medis, jika ada salah-satu petugas polisi yang detail memeriksa, mereka dengan cepat akan tahu. Tetapi dalam situasi panik, darurat, pukul dua dini hari, tetap ada kemungkinan skenario ini berhasil.

    “Berjanjilan, Tante akan baik-baik saja setelah kami kabur.” Aku berbisik pada Tante Liem sebelum mendorong ranjang darurat yang di atasnya sudah terbaring tubuh gemetar Om Liem.

    Tante masih menatapku bingung. Dan sebelum dia mengucapkan satu patah, aku sudah mengucapkan kalimat terakhir, “Percayalah, berikan aku waktu dua hari, semua kekacauan akan dibereskan.”

    Tante menelan ludah, mulutnya kembali tertutup.

    “Kalian,” Aku menunjuk empat perawat yang masih gentar melihat stick golf yang kupegang, “Bantu aku berpura-pura seperti situasi darurat. Berteriak-teriak, suruh menyingkir polisi yang berjaga di ruang tengah. Dan kau, Dok, pimpin rombongan paling depan, bertingkahlah seperti dokter yang galak dalam situasi darurat. Kau paham?”

    Dokter di hadapanku menelan ludah, aku mengacungkan stick golf tinggi-tinggi.

    “Ram, kau tetap tinggal di sini, pastikan kau mengurus Tante. Kalian tahan polisi selama kalian bisa, berbual, karang alasan, bilang Om Liem tiba-tiba sakit perut, ada di toilet, atau bilang Om Liem memanjat jendela, kabur ke taman belakang. Berikan kami waktu lima belas menit menuju bandara, Ram. Pastikan kau membangunkan salah-satu staf perusahaan untuk menyiapkan tiket, paspor dan dokumen perjalanan kami. Segera menyusul ke bandara. Ada penerbangan ke Frankurt, transit di Dubai pukul 3 dini hari, 45 menit lagi. Kita lakukan ini demi Om Liem, orang yang telah membantu banyak kalian selama ini.” Aku mendesis, menatap tajam semua orang dalam kamar.

    Mereka balas menatapku tegang. Mereka sepertinya sudah sempurna paham apa yang akan terjadi.

    Aku menatap pintu kamar lamat-lamat, lima detik berlalu, menghela nafas, mendesis, “Sekarang atau tidak sama sekali. Semuanya ikut aku!”

    Aku mendorong pintu kamar, mulai berteriak-teriak panik.

    Dokter yang sedetik terlihat ragu, juga ikut berseru-seru, menyuruh semua orang yang berdiri di ruang tengah menyingkir. Ranjang darurat didorong dengan kecepatan tinggi oleh dua perawat, dua lainnya menyibak siapa saja, membuat petugas polisi rebah jimpah reflek memberikan jalan.

    Jangan biarkan, bahkan sedetik sekalipun, jangan biarkan mereka tahu adalah Om Liem yang terbaring di atas ranjang, atau semua rencanaku akan gagal total.



    ***bersambung

  13. #13
    pelanggan tezar's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    499
    *******-******* Berkelas - episode 6
    by Darwis Tere-Liye Penuh on Tuesday, March 29, 2011 at 5:20pm

    Mobil ambulans yang kukemudikan menerobos gerbang halaman rumah Om Liem, sirenenya meraung, belum cukup, aku menambahinya dengan menekan klakson berkali-kali dan berteriak, meninggalkan belasan polisi yang memaki-maki karena mereka terpaksa loncat menghindar. Aku membanting kemudi, berbelok menaiki fly over, lampu ambulans segera hilang di jalanan lengang.

    Rencana menukar Om Liem dan Tante sejauh ini berhasil. Tadi, nyaris saja ketahuan, selimut Om Liem tersingkap, memperlihatkan lutut hingga sandal, salah-satu polisi yang curiga menahan, hendak memeriksa, aku segera membentaknya, mencoba mengalihkan perhatian dengan menceracau situasi darurat. Polisi itu menelan ludah, kehilangan fokus beberapa detik—bahkan satu detik amat berharga untuk rencana kabur ini.

    Ranjang darurat terburu-buru dinaikkan di belakang ambulans, empat perawat dan dokter ikut naik. Aku menyuruh menyingkir sopir ambulans, mengambil alih kemudi. Mobil segera melesat, pergi secepat mungkin dari rumah Om Liem. Dua menit, aku kembali membanting kemudi, ambulans meliuk menuju pintu tol. Waktuku sempit, paling lama lima belas menit, petugas polisi tahu apa yang sesungguhnya telah terjadi. Sekali mereka tahu, maka proses pengejaran dimulai.

    Aku teringat sesuatu, mengambil telepon genggam dari saku.

    “Angkatlah, ayo angkat.” Aku mendesis, tidak sabaran untuk dua hal, nada panggil dan dua truk yang berjalan di depanku, lupakan safety driving, satu tanganku memegang setir, satu tangan lain memegang telepon genggam.

    “Maggie, maaf membangunkan kau malam-malam.” Aku langsung berseru, sambil menekan klakson panjang, dua truk di depanku santai sekali di jalur cepat, apa mereka tidak mendengar sireneku.

    “Aku tidak punya waktu untuk menjelaskan, Maggie. Situasi darurat. Aku tahu, tentu saja aku tahu sekarang pukul dua dini hari, dan aku tidak sedang mabuk. Kau segera berkemas, aku butuh kau berada di kantor saat ini, ada banyak yang harus dikerjakan. Kau dengar aku, Maggie? Segera, bergegas, atau promosi kau minggu lalu kubatalkan.”

    Satu tanganku memutus pembicaraan, satu tanganku segera membanting setir, sialan, ternyata ada mobil lain yang bergerak santai di depan dua truk yang baru saja kusalip. Ambulans yang kukemudikan menyerempet pembatas jalan, membuat baret panjang di sisi ambulans.

    Aku mendengus, ambulans kembali stabil, ngebut.

    Telepon genggamku berbunyi, dari Ram, aku mengangkatnya.

    “Mereka sudah tahu, Thom.” Suara di seberang sana terdengar tercekat.

    Astaga, aku berseru, sekaligus menekan klakson, alangkah banyaknya truk kontainer di jalan tol.

    “Kami sudah berusaha menahan mereka, Thom, tetapi mereka mendobrak kamar, kau sekarang ada di mana? Masih jauh dari bandara?”

    Aku mengumpat dalam hati, baru lima menit, tentu saja masih jauh, yang dekat itu adalah rumah Om Liem di belakangku.

    “Kabar baiknya mereka tidak tahu kemana tujuan ambulans, Thom. Semua orang di kamar kompak bilang kau telah mengancam, lantas pergi begitu saja melarikan Om Liem, tidak tahu kau hendak kemana. Polisi mulai menyebar informasi ke seluruh patroli, melakukan pengejaran.”

    “Tiket, Ram. Bagaimana dengan tiket dan dokumen perjalanan kami?” Aku memotong.

    “Salah-satu staf perusahaan sedang menuju bandara. Semua tiket, paspor dalam perjalanan. Kau tinggal ambil di meeting point pintu keberangkatan.”

    “Bagaimana, Tante?”

    “Komandan polisi yang jengkel hendak menahan Tante Liem. Mereka juga sempat memukul beberapa orang di rumah. Tetapi tidak usah kau cemaskan, mereka akan bermasalah dengan belasan pasal dalam hukum pidana jika berani menahan Tante Liem. Dia baik-baik saja, dokter lain sedang menuju ke rumah. Yang tidak baik itu polisi, mereka terlihat marah sekali.”

    Aku menghela nafas, setidaknya Tante baik.

    “Kau suruh salah-satu staf lainnya mengubungi rumah sakit, klinik, apa saja yang buka dua puluh empat jam.” Aku berseru, teringat sesuatu.

    “Eh, buat apa?”

    “Lakukan saja, Ram. Telepon sebanyak mungkin rumah sakit, laporkan situasi palsu, bilang ada keadaan darurat di sembarang tempat, suruh mereka mengirim ambulans. Aku ingin satu menit lagi, ada belasan ambulans berkeliaran di jalanan kota, itu akan mengelabui polisi yang sedang melakukan pengejaran. Waktuku bukan menit, Ram, tapi detik, jadi bergegaslah.”

    Telepon genggam kumatikan. Aku juga harus mematikan sirene ambulans agar tidak menarik perhatian, membanting setir ke kanan, ambulans segera menaiki jalur tol menuju bandara, berpisah dengan barisan truk kontainer menuju pelabuhan peti kemas. Aku melirik penanda kilometer di pembatas jalan tol, bandara masih 20km lagi. Aku menekan pedal gas sedalam mungkin, dengan kecepatan 140km/jam, itu hanya delapan menit.

    Sekali ini, jalan tol lengang, menyisakan pendar cahaya lampu di aspal.

    Aku menghela nafas, mengusap keringat di pelipis.

    Baru beberapa hari lalu aku ceramah panjang lebar tentang sistem keuangan dunia yang jahat dan merusak, tapi sekarang, aku melarikan seorang tersangka kejahatan keuangan. Baru beberapa menit yang lalu aku masih terdaftar sebagai warga negara yang baik, bertingkah baik-baik dan selalu taat membayar pajak, tapi sekarang aku menjadi otak pelarian buronan besar.

    Aku menepuk dahi, teringat sesuatu, dengan cepat menekan kembali meraih telepon genggam.

    Hingga habis nada panggil, tetap tidak diangkat. Aku mendengus, mencoba nomor kedua, tetap sia-sia, tidak aktif. Masih ada nomor ketiga. Dua kali nada panggil, ayolah diangkat, aku mendesis, lima kali nada panggil, hanya ini satu-satunya harapanku, ayo diangkat.

    “Malam, Thom. Kau tidak tahu ini jam berapa? Atau jangan-jangan kau sengaja hendak mengolok-olokku lagi, mengangguku tidurku. Harus berapa kali lagi kubilang agar kau puas? Yang Mulia Thomas adalah petarung terhebat klub, tidak ada yang bisa mengalahkan Yang Mulia Thomas.”

    “Bukan soal itu, Randy.” Aku memotong suara mengantuk Randy.

    “Lantas hoaaaem apa lagi, Sobat?”

    Aku mengutuk Randy yang terdengar amat santai. Dengan cepat menjelaskan situasi, aku butuh akses untuk melewati gerbang imigrasi bandara. Tadi di rumah Om Liem bilang surat penangkapannya efektif sejak kemarin siang, untuk kasus besar, itu berarti seluruh gerbang imigrasi sudah menerima notifikasi pencekalan. Komandan polisi di rumah saat ini juga pasti sedang menghubungi bandara, pelabuhan, terminal, stasiun apa saja yang terpikirkan olehnya sebagai titik melarikan diri.

    “Aku tidak bisa melakukannya, Thom.” Randy akhirnya berkata pelan setelah terdiam.

    “Kau akan melakukannya, Randy.” Aku berseru galak.

    “Ini bisa membahayakan karirku.” Suara Randy ragu-ragu.

    “Omong-kosong, kau pernah melakukannya, belasan kali boleh jadi. Sudah berapa banyak buronan yang kalian loloskan ke luar negeri, hah? Bukankah dengan mudah kalian bisa mengarang-ngarang alasan.”

    “Yang ini berbeda, Thom.”

    “Apa bedanya, Randy.” Aku mulai jengkel, pintu keluar tol sudah terlihat, jarakku dengan bandara tinggal dua kilometer, jika Randy tidak bisa membantu, melewati pintu imigrasi bandara sama saja dengan menyerahkan diri.

    “Setidaknya berikan aku waktu setengah jam berkoordinasi dengan petugas imigrasi—“

    “Astaga, Randy. Aku butuh sekarang.”

    “Aku harus koordinasi dulu, Thom.”

    “Segera, Randy. Detik ini juga. Kau sudah berjanji di klub bertarung, jika aku mengalahkan Rudi, maka kau akan melakukan apa saja, termasuk meloloskan buronan negara. Janji seorang petarung, Randy.”

    Randy terdiam sejenak di seberang sana, “Baik, Sobat. Berikan aku satu menit, aku akan memberikan kau akses melintasi petugas imigrasi.”

    Aku menutup telepon, menerobos pintu tol keluar. Penjaganya berteriak, bilang aku belum membayar, aku hanya bergumam pendek, tidak pernahkah dia melihat ambulans yang terburu-buru? Darurat.

    Aku menghentikan ambulans lima belas detik sebelum memasuki gerbang bandara, menyuruh empat perawat dan dokter turun, “Kalian pulang ke rumah masing-masing dengan taksi, tidur, beristirahat, lupakan kejadian ini. Jika nanti ada polisi yang menginterogasi, kalian bilang kalian diancam olehku, di luar itu, tidak tahu dan tidak berkomentar, paham?” Dokter dan empat perawat mengangguk.

    Aku menyuruh Om Liem pindah ke bangku depan, infus, belalai selang dan masker yang pura-pura dipasangkan telah dilepas sepanjang perjalanan tol. Om Liem meringis, tubuh tuanya kelelahan, aku sudah menekan pedan gas, memasuki area bandara.

    Telepon genggamku berbunyi saat ambulans sudah terparkir di depan pintu gerbang keberangkatan, aku menuntun Om Liem agara bergegas menuju meeting point.

    Itu Randy, dia memberikan nomor loket imigrasi yang harus kutuju.

    “Terima kasih, Sobat.” Aku tertawa pelan—akhirnya aku tertawa setelah semua ketegangan, “Aku berjanji, demi bantuan ini, lain kali jika bertarung dengan kau, aku tidak akan menghajar kau habis-habisan.”

    Randy terdengar mengeluarkan sumpah-serapah. Aku sudah menutup telepon.

    Salah-satu staf perusahaan sudah menunggu di meeting point, menyerahkan amplop cokelat besar.

    “Semua tiket, paspor Tuan Liem, ada di dalamnya.”

    “Kau tidak kesulitan ke sini?” Aku basa-basi bertanya, menghela nafas lega melihat isi amplop.

    “Aku manajer hotel bandara, Pak. Sekaligus membawahi loket travel agent. Jadwalku berjaga malam ini. Hotel dan travel agent juga milik Tuan Liem, kami selama ini yang menyiapkan dokumen perjalanan, termasuk menyimpan paspor keluarga Tuan Liem. Jadi sama sekali tidak ada kesulitan.”

    Aku mengangguk, menuntun Om Liem memasuki ruangan check-in.

    Meski tidak seramai siang hari, aktivitas dini hari bandara tetap sibuk.

    Cahaya lampu. Calon penumpang mendorong trolley berisi koper. Meja check-in dengan antrian.

    Aku mengangguk lega. Sekali Om Liem duduk rapi di pesawat yang menuju Frankurt, maka butuh berhari-hari bagi polisi untuk mengembalikannya ke Jakarta. Itu lebih dari cukup memberikan aku waktu untuk membereskan PR lain.



    ***

  14. #14
    pelanggan tezar's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    499
    Dalam teori ekonomi modern, tingkat suku bunga bank sentral (sering dikenal dengan istilah suku bunga SBI, Sertifikat Bank Indonesia) memegang peranan penting sebagai instrumen pengendali. SBI adalah bunga bebas resiko suatu negara, disebut bebas resiko, karena tidak mungkin simpanan dalam bentuk SBI akan gagal bayar—berbeda dengan tabungan atau deposito bank umum, yang bisa default kapan saja dengan beragam alasan.

    Jika bank sentral menetapkan suku bunga SBI, misalnya 8 persen, maka itu menjadi patokan seluruh bank umum dalam menetapkan berapa besar bunga kredit yang akan mereka berikan, juga termasuk patokan bagi leasing, asuransi, dan berbagai perusahaan keuangan lainnya.

    Coba cek berapa bunga tabungan kalian saat ini? Paling tinggi hanya 4 persen per tahun. Nah, coba pikirkan logika sederhana ini, bank x menyimpan uang kalian hanya diberikan bunga 4 persen, tapi dia bisa menggunakan uang kalian untuk membeli SBI (menyimpan uang itu di Pemerintah) dengan bunga 8 persen. Jika bank x punya dana tabungan nasabah 100 triliun, kalikan saja dengan selisih bunga 4 persen, maka sambil ongkang-ongkang kaki, mereka bisa untung 4 triliun setiap tahun. Maka jangan pernah aneh dengan berita rasio penyaluran kredit perbankan rendah, fungsi intermediasi perbankan memble, jumlah simpanan SBI terus meroket, come on, kenapa pula kalian harus repot menyalurkan kredit (yang bisa saja macet, menjadi Non Performing Loan), kalau ada cara mudah mendapatkan untung selisih bunga? Bahkan jika anak SD dijadikan direktur utama bank x tersebut, maka bank x tetap akan untung. Siapa yang membayar 4 triliun itu? Pemerintah. Dari mana uangnya? Dari pajak rakyat.

    Tetapi ada yang lebih ajaib lagi. Pertanyaannya, bagaimana bank sentral bisa tiba-tiba memutuskan SBI 8 persen? Padahal mereka tahu selisih dengan bunga tabungan bank umum begitu lebar?

    Karena mereka diamanahkan oleh undang-undang menjaga stabilitas perekonomian. Stabilitas itu salah-satunya tercermin dari angka inflasi. Misalnya, ketika harga-harga diperkirakan naik, perekonomian tumbuh terlalu cepat, overheating, maka bank sentral mengantisipasinya dengan ikut menaikkan suku bunga SBI. Naiknya suku bunga, secara teoritis, akan membuat orang yang punya banyak uang memilih menabung dibandingkan belanja. Dus, uang beredar berkurang, aktivitas jual-beli menurun, harga-harga jadi turun. Juga sebaliknya, ketika harga-harga diperkirakan terlalu turun, perekonomian melambat, maka bank sentral akan mengantisipasinya dengan menurunkan SBI. Turunnya suku bunga SBI, otomatis akan membuat suku bunga pinjaman bank turun, dana murah, orang-orang berbondong pinjam uang, aktivitas jual-beli naik, perekonomian kembali bergairah.

    Dari penjelasan satu paragraf di atas, catat kata pentingnya: perkiraan.

    Inilah ajaibnya ilmu ekonomi, inflasi adalah fungsi dari ekspektasi (perkiraan, persepsi). Berapa tingkat inflasi tahun depan? 8 persen? 10 persen? Semua hasil dari perkiraan, antisipasi. Berapa inflasi bulan depan? 0,5 persen? 1 persen? Semua keluar dari kalkulasi erkiraan, eskpektasi.

    Ajaib bukan? Kita ternyata selama ini mempercayakan nasib perekonomian dunia, nasib periuk nasi banyak orang, kepada orang-orang yang di kelas diajarkan tentang: ekspektasi. Bukankah itu tidak beda dengan para penyihir, dukun, juru ramal, atau profesi dunia ghaib lain? Sialnya, jika kalian bisa menimpuk tukang ramal jika ramalannya salah (atau malah memilih tidak percaya sama sekali), kalian tidak bisa menimpuk menteri ekonomi atau petinggi bank sentral jika mereka salah mengambil kebijakan, “Ternyata variabelnya lebih banyak dari dugaan kami. Ini bukan salah kami. Siapapun pengambil keputusannya, pasti keliru memprediksi turbulensi ekonomi yang ada.” Omong-kosong.

    Profesor penerima nobel ekonomi yang adalah salah-satu dosenku sekaligus menjadi lawan debatku di sekolah bisnis ternama, hanya tertawa mendengar komentarku—dia pastilah terlatih menghadapi mahasiswa model aku. “Itulah menariknya ilmu ini, Thomas. Sejak jaman Nabi Adam, kita selalu tertarik dengan masa depan, berusaha mengintip rahasia langit, berusaha menjelaskan apa yang akan terjadi esok hari. Nah, dengan pendekatan ilmiah, ilmu ekonomi mengumpulkan bukti-bukti empiris yang ada. Pemegang kebijakan ekonomi bisa menyesuaikan akibat yang terjadi dari kontrol yang mereka punya. Bukan urusanku jika ternyata pemegang kontrol itu ternyata orang yang pengecut, korup dan lebih mementingkan pihak tertentu.”

    Diskusi ditutup tanpa kesimpulan.

    Aku menghembuskan nafas panjang. Aku dan Om Liem sudah duduk rapi di dalam pesawat. Lima menit lalu, petugas imigrasi menatapku datar, layar komputernya pastilah mengeluarkan alarm setelah proses scan paspor Om Liem, kode merah. Tetapi dia tanpa banyak bicara, menekan tombol, mematikan alarm. Seperti tidak ada yang terjadi, menyerahkan paspor kami, berseru, “Berikutnya.”

    Proses boarding hampir selesai, sebagian besar penumpang sudah duduk. Pramugari bahkan sudah menutup bagasi di atas kepala.

    Persepsi? Aku tiba-tiba memikirkan sesuatu. Apa yang sedang dilakukan polisi saat ini? Mereka pastilah telah menghubungi interpol, mengontak seluruh jaringan yang mereka punya di seluruh dunia. Ekspektasi? Kepalaku terus mengingat diskusi di kelas saat itu. Apa yang sedang dilakukan polisi untuk memburu buronan besar mereka sepuluh tahun terakhir? Tersangka kejahatan keuangan yang sudah mereka pegang tengkuknya, ternyata berhasil kabur dengan mudah.

    Aku menghela nafas tertahan. Meremas rambut. Memaki dalam hati.

    Tidak, kami bahkan tidak akan melewati loket transit Dubai. Petugas interpol pasti menunggu di sana, dan bersiap menggelandang kami kembali ke Jakarta. Jika aku dan Om Liem tertangkap, urusan semakin runyam, tidak ada celah sama sekali.

    Persepsi? Ekspektasi? Aku meremas jemari. Sekarang urusan tidak sesederhana membuat kamuflase Om Liem di atas ranjang darurat. Sekarang, aku harus menciptakan persepsi yang keliru di benak mereka. Kabur ke luar negeri adalah reaksi yang sesuai dengan ekspektasi mereka. Ini bukan pilihan yang baik.

    Aku harus membuat persepsi yang menipu. Tidak ada waktu lagi.

    Aku bergegas berdiri, berbisik, “Kita turun dari pesawat.”

    “Hah?” Dahi lelah Om Liem terlipat.

    “Bergegas. Mereka hampir menutup pintu pesawat.”

    Aku sudah membantu melepas safety belt Om Liem.



    ***bersambung

  15. #15
    pelanggan tezar's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    499
    *******-******* Berkelas - episode 7
    by Darwis Tere-Liye Penuh on Wednesday, March 30, 2011 at 7:01pm

    “Do you speak english or french?” Aku berdiri, mendekati pramugari yang berjaga di kabin eksekutif, dia sedang bersiap menutup pintu masuk dekat kokpit.

    “Both.” Gadis berambut pirang itu tersenyum menawan, gerakan tangannya terhenti.

    Aku mengangguk, jika begitu aku akan menggunakan bahasa Perancis.

    “Kami harus turun.” Aku berkata dengan intonasi sesopan mungkin, “Saya dokter profesional yang bertugas menemani Tuan ini berobat ke Frankurt. Sayangnya, menurut penilaianku beberapa menit lalu, beliau tidak cukup sehat untuk berangkat, daripada kalian terpaksa mendarat darurat, saya memilih menunda enam atau dua belas jam, penerbangan berikutnya.”

    Gadis itu berpikir sejenak, senyumnya masih mengembang.

    “Kau pastilah amat menyukai kota Merseilles?” Aku balas tersenyum, mengalihkan perhatiannya. Setidaknya biar dia tidak sempat mengingat bagaimana prosedur baku jika ada kejadian seperti ini.

    “Eh, bagaimana kau tahu?” Gadis itu tertarik.

    “Bros yang kau kenakan, kalau tidak salah, itu siluet timbul kastil yang indah. Menghadap langsung ke laut Mediterania, bukan? Kau pastilah pernah bermimpi suatu saat menghabiskan bulan madu, atau sekadar berwisata bersama seseorang yang spesial di sana.”

    Gadis itu tertawa renyah, malu-malu mengangguk.

    “Tetapi kenapa kau hanya memasang bros seindah ini di ujung kerah? Sedikit tersembunyi?”

    “Eh, sebenarnya kami dilarang mengenakan aksesoris di luar seragam resmi. Itu pelanggaran.” Dia malu-malu mengaku.

    Aku mengangguk, memasang wajah bersimpati, bagaimana mungkin hanya sekadar bros tidak boleh—sambil bergumam dalam hati, tipikal pemberontak peraturan, urusan ini lebih mudah lagi, “Bagaimana mungkin bros seindah ini sebuah pelanggaran?”

    Gadis itu memasang wajah setuju.

    Aku tersenyum, “Maaf, apakah kami bisa turun?”

    “Ohiya. Silahkan, aku pikir sepertinya tidak masalah kalian turun.” Gadis itu memberikan jalan.

    Aku mengangguk untuk kedua kalianya, “Terima kasih banyak.”

    Om Liem patah-patah dengan tongkat melangkah melewati bingkai pintu pesawat.

    “Maaf, saya lupa satu lagi.” Dua langkah dari pintu pesawat, aku dengan perhitungan waktu yang terencana kembali menoleh.

    “Eh?” Gadis itu menatapku, gerakan tangannya terhenti.

    “Kau bisa menolongku sekali lagi?”

    “Iya?”

    “Istri Tuan ini amat pemarah dan selalu curiga.” Aku berbisik, pura-pura merendahkan suara, menunjuk dengan ujung siku Om Liem yang terus berjalan di lorong garbarata, “Kalau saja istrinya tahu kami tertunda enam jam, apalagi dua belas jam, orang tua malang itu habis diomeli. Astaga, kau tidak bisa membayangkan bagaimana istrinya marah,” Aku meniru ekspresi galak seorang wanita tua, “Jadi demi istrinya yang pemarah itu, tolong catat di manifes penerbangan kalau kami tetap berangkat.”

    Gadis di hadapanku tertawa.

    “Kau bisa melakukannya?”

    Dia mengangguk.

    Aku ikut mengangguk takjim. Melambaikan tangan.

    Pintu pesawat ditutup dari dalam. Beberapa petugas ground handling sibuk membantu persiapan take off, aku menjawab pendek saat salah-satu dari mereka bertanya kenapa kami tiba-tiba turun, “Double seat, sialan, sistem buruk kalian membuat kami malu.”

    Petugas itu bingung, sedikit gugup memeriksa daftar penumpang di tangannya.

    ***

  16. #16
    pelanggan tezar's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    499
    Sebelum meninggalkan bandara, aku membeli belasan lembar penerbangan ke luar negeri sepanjang siang nanti, sengaja kudaftarkan atas nama Om Liem. Jika ada polisi yang memeriksa seluruh maskapai, maka mereka setidaknya akan menemukan sembilan kemungkinan tujuan kami.

    Pukul setengah empat pagi, setelah merobek seluruh tiket, melemparkannya ke dalam tong sampah, aku menyuruh Om Liem kembali naik ke atas ambulans. Tidak, kabur ke luar negeri bukan pilihan terbaik. Lagipula aku harus berada di Jakarta untuk menyelesaikan masalah ini, aku harus menemui banyak orang.

    Mobil ambulans melesat meninggalkan bandara, dengan kecepatan tinggi.

    Aku tahu tempat terbaik menyembunyikan Om Liem.



    ***

    Jalan tol keluar kota lengang. Ambulans yang kukemudikan melesat dengan kecepatan 140km/jam.

    “Jika ini tidak penting, hanya salah-satu lelucon kau, besok-lusa aku akan membalasnya, Thom.” Maggie, stafku yang paling gesit, paling supel, dan paling setia melapor sudah siap di kantor. Mungkin ini rekor paling pagi dia masuk kantor. Kalian pernah masuk kantor pukul setengah lima pagi?

    “Kau segera telepon enam-tujuh wartawan suratkabar, majalah, televisi, berita online, yang sering memintaku menjadi narasumber, kolega pers kita.” Aku mengabaikan keluhan Maggie, mulai mendikte apa yang harus segera dia lakukan, “Kau sertakan juga tiga-empat pengamat ekonomi, kawan dekat, yang sering sependapat dengan kita. Minta mereka berkumpul di salah-satu restoran hotel dekat kantor, bilang, kita punya rilis paling rahasia, paling gress tentang kasus Bank Semesta.”

    “Jangan tanya detail siapa saja yang harus diundang, Maggie. Ayolah, kau tahu persis harus mengundang siapa. Aku membutuhkan kaki tangan untuk membentuk opini di media massa—meskipun mereka sama sekali tidak merasa telah digunakan.”

    Terdengar suara coretan pulpen di seberang sana.

    “Aku tadi sudah menelepon Ram, salah-satu stafnya akan mengantarkan setumpuk laporan paling baru tentang Bank Semesta, kau pastikan menyimpan dokumen itu, aku akan mampir ke kantor. Aku juga butuh working paper audit Bank Semesta, harus sudah ada di mejaku sebelum pukul dua belas siang.”

    “Mana aku tahu caranya.” Aku sekali lagi mengabaikan keluhan Maggie, “Hubungi kantor auditor, cari partner, manajer atau auditornya, mereka pasti lembur hari Sabtu. Aku tahu itu dokumen confidential, astaga, kau ingin mengajariku soal itu? Nah, kalau tidak, pastikan seluruh working paper audit, terutama tentang debitor, rekening deposito, dan aset Bank Semesta tersedia. Kau juga kumpulkan semua berita, artikel, komentar, bahkan jika ada berita sopir taksi bergumam tentang Bank Semesta selama enam tahun terakhir, catat. Cari di internet, suratkabar, database media massa, gunakan seluruh resources yang ada, termasuk jika informasi itu harus dibeli.”

    Maggie mengeluh lagi, bilang dia tidak bisa melakukannya sendirian dan secepat itu.

    “Kau bisa, Maggie. Dan inilah poin terpentingnya, kau tidak boleh bilang siapapun. Kau paham?”

    “Nah, sekali urusan ini beres, aku berjanji akan memberikan kau dua lembar tiket berlibur. Terserah kau mau kemana dan mengajak siapa.”

    Aku memutus pembicaraan, mengabaikan seruan riang Maggie, kembali konsentrasi pada kemudi.

    Semburat merah muncul dibalik gunung. Pemandangan indah dari balik jendela ambulans yang melesat cepat, tapi aku tidak memperhatikan. Kami sudah puluhan kilometer meninggalkan kota Jakarta.

    “Orang tua ini benar-benar keliru selama ini.”

    Aku menoleh, Om Liem sedang menatapku datar. Aku pikir dia tertidur, hanya desis pendingin dan suaraku menelepon banyak orang sejak kami meninggalkan bandara tadi yang terdengar di kabin depan ambulans.

    “Dua puluh tahun aku berpikir kau membenciku karena kejadian itu, Tommi. Ternyata aku keliru.” Om Liem menghela nafas perlahan, antara terdengar dan tidak.

    “Kau sesungguhnya membenci diri sendiri, bukan?”

    Om Liem menatapku lamat-lamat.

    “Itu benar sekali, lihatlah kejadian sejak pukul dua dini hari tadi. Kau adalah pemikir sekaligus eksekutor yang hebat, Tommi. Pintar, berani, dan pandai mempengaruhi orang. Tidak pernah terbayangkan akan jadi apa group bisnis keluarga kita jika kau yang menjalankannya. Dia akan menjadi raksasa mengerikan di tangan seseorang seperti kau. Karena itulah kau membenci diri sendiri.”

    Om Liem menatap semburat merah yang semakin terang.

    “Dua puluh tahun kau pergi dari rumah, berusaha menjauhi kami, tidak ingin terlibat, tapi nyatanya kau belajar di sekolah bisnis terbaik, belajar langsung dari muasal kemunafikan. Kau membenci trik, rekayasa, tipu-tipu tingkat tinggi pemilik konglomerasi, eksekutif puncak perusahaan, nyatanya kau mempelajari itu semua, bahkan menjadi penasehat terbaik mereka. Kau berusaha menjadi anak muda yang idealis, dibasuh suci dengan kematian Papa dan Mama kau, nyatanya kau justeru terlahirkan menjadi seorang yang licin bagai belut, penari hebat dalam pertunjukan rekayasa keuangan modern. Orang tua ini keliru, Tommi, kau tidak pernah membenciku, kau selama ini sebenarnya membenci diri sendiri, berusaha mati-matian menjaga jarak, mengendalikan diri agar tidak menjadi sepertiku. Bukankah begitu, Nak?” Mata Om Liem menerawang jauh.

    Aku tidak menjawab, melambaikan tangan, “Sudah ceramahnya?”

    Om Liem kembali menoleh padaku.

    “Kalau sudah, kau seharusnya sekarang tidur, beristirahat.”

    Om Liem menggeleng, “Orang tua ini tidak mengantuk, Tommi.”

    “Kalau begitu lebih baik tutup mulut, diam. Aku sedang mengemudi.”

    Om Liem tertawa pelan, “Kau mirip sekali dengan Papa kau, Tommi. Selalu terus terang dan jujur meski itu kasar dan menyakitkan. Baiklah, bangunkan aku jika sudah dekat di rumah peristirahatan Opa kau.”

    Aku tidak mengangguk, kembali menatap jalan tol yang lengang. Hanya segelintir orang yang tahu tujuan kami, itu tentu termasuk Om Liem—meski aku tidak memberitahukannya sejak tadi.



    ***bersambung

  17. #17
    pelanggan tezar's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    499
    *******-******* Berkelas - episode 8
    by Darwis Tere-Liye Penuh on Friday, April 1, 2011 at 7:15pm

    Bendungan Tiga Ngarai, atau Three Gorges Dam yang membendung aliran sungai Yangtze, China, luasnya lebih dari 1.000 km persegi, itu berarti jika lebarnya 10 km, maka panjangnya 100km, bayangkan besarnya. Dibangun sejak tahun 1994, bendungan ini membuat 1,3 juta penduduk tergusur. Terlepas dari dana pembangunan yang ratusan triliun rupiah, proyek ini juga harus dibayar dengan ribuan desa, ratusan kota, besar-kecil, kuburan leluhur, lahan pertanian, situs arkeologi, hutan, binatang, semuanya terendam oleh proyek bendungan paling besar dan paling ambisius seluruh dunia. Itu semua untuk 20.000 MW listrik, jutaan hektare irigasi persawahan, kontrol atas banjir tahunan di sungai Yangtze, dan simbol dari pembangunan ekonomi dan peradaban besar negara China.

    Dalam skala yang lebih kecil, seperduabelas dari Bendungan Tiga Ngarai, adalah Waduk Jatiluhur (secara harfiah waduk berarti kolam). Luas ‘kolam’ ini hanya kurang lebih 83 km persegi. Dibangun sejak tahun 1957, waduk ini adalah yang terbesar di Indonesia. Berapa jumlah penduduk yang harus digusur selama proses pembangunanya? Bayangkanlah sendiri, mengingat lokasi waduk ini termasuk salah-satu lahan subur, area pertanian, dengan penduduk yang padat, itu setara menggusur penduduk seluruh kota Palangkaraya, atau Ambon, atau Palu.

    Aku tidak peduli soal penggusuran—toh, penguasa saat itu mungkin sambil mengupil menandatangani surat perintah penggusuran. Yang aku peduli, kalian pernah datang ke Waduk Jatiluhur? Rekayasa tangan manusia membuat lembah itu berubah banyak, dan kabar baiknya, dengan hamparan air luas, Waduk Jatiluhur terlihat indah bukan kepalang.

    Mobil ambulans yang kukemudikan memasuki jalan lengang menuju rumah peristirahatan Opa ketika semburat merah matahari memenuhi ufuk timur, kabut masih mengambang di pebukitan, dan permukaan waduk terlihat begitu mengkilat memesona. Aktivitas pegawai bungalow, hotel, bar, restoran, perkemahan, water park, lapangan tenis mulai menyeruak. Nelayan keramba, petani, pekerja, anak-anak sekolah dan penduduk setempat juga mulai terlihat sibuk.

    Mobilku terus melaju ke salah satu tepi waduk.

    Lima belas tahun lalu, Opa memutuskan membeli tanah seluas dua puluh hektar disudut paling eksotis waduk, lantas membangun rumah kecil yang nyaman dan menyenangkan. Seperti kastil negeri-negeri Eropa yang bukan saja memiliki halaman rumput luas terpangkas rapi, tapi juga halaman belakang berupa danau yang luas. Seperti ranch peternakan, seperti kebun anggur. Waktu aku masih belasan tahun, aku sering datang ke sini, berkemah, memancing, berburu, ngebut dengan speed boat, atau sekadar bengong duduk di beranda dermaga, menatap senja bersama Opa yang pat-pet-pot memainkan alat musik. Lantas Opa akan mulai bercerita, yang ceritanya itu-itu saja, seperti kaset rusak.

    Aku pelan menjawil lengan Om Liem, membangunkan, ambulans yang kukemudikan persis memasuki gerbang halaman. Lengang, hanya beberapa tukang kebun yang adalah tetangga sekitar waduk terlihat sibuk menyalakan mesin penyiram otomatis, belasan jumlah selangnya, muncrat tinggi-tinggi, membuat halaman seperti dipenuhi hujan lokal.

    “Kita sudah sampai?” Om Liem membuka mata.

    Aku tidak menjawab, memarkirkan ambulans di halaman belakang yang menghadap waduk. Sepagi ini, Opa pasti sedang duduk menghabiskan secangkir teh hijau sambil berkutat dengan not-not balok.



    ***

    “Kau tidak sarapan sebentar, Tommi?” Opa menatapku arif, tersenyum.

    “Ada banyak yang harus kubereskan.” Aku hanya mengantar Om Liem memasuki halaman belakang, langsung bersiap balik kanan, “Mobilku yang lama masih ada?”

    “Tentu saja masih,” Opa tertawa, “Tidak ada yang jahil belajar mengemudi dengan mobil itu, lantas tidak sengaja justeru menenggelamkannya ke waduk.”

    Aku ikut tertawa. Opa suka sekali mengenang kejadian lama.

    “Opa taruh di garasi, tanyakan pada bujang kuncinya. Ayolah, kita minum teh sebentar, mobil kau itu setidaknya perlu dipanaskan.”

    Aku menggeleng, mengangkat pergelangan tangan, “Waktuku tinggal 49 jam 45 menit hingga bank dan kantor-kantor buka pukul 8 hari senin lusa, Opa. Aku harus bergegas kembali ke Jakarta. Titip dia, sudah terlalu banyak kekacauan yang dia buat, pastikan dia tidak menambahkannya lagi satu.”

    Opa tertawa lagi, “Baiklah, Tommi. Terlepas dari aku belum tahu apa yang telah terjadi, aku sebenarnya senang sekali melihat kalian berdua beriringan memasuki halaman rumah beberapa menit lalu, terlihat kompak. Kalian bahkan sudah lama tidak bertemu. Hati-hati, Nak, jangan lupa makan.”

    Aku mengangguk, balik kanan menuju garasi mobil yang terpisah dari bangunan induk. Saatnya berganti kendaraan yang lebih memadai, aku butuh mobil tercepat untuk kembali ke Jakarta.

    Opa adalah kolektor mobil yang baik—meski tampilannya bersahaja. Koleksinya tidak banyak, tapi berkelas. Opa paling suka mobil Eropa, salah-satu koleksinya adalah seri merk mobil yang memenangkan Grand Prix Monaco untuk pertama kali. Salah-satu bujang mengantarkan kunci. Aku melepas cover mobilku, bersiul. Ini mobil seri kesekian dari merk yang sama, Opa mengoleksinya karena legenda hidup formula satu juga punya, mobil kesayangan Opa, saking sayangnya, dia jadikan hadiah ulang tahunku yang ke-17 lima belas tahun silam—perayaan yang justeru tidak kuhadiri, ada ujian sekolah.

    Setengah menit, mobil bertenaga itu sudah melesat meninggalkan garasi, melintasi halaman belakang, Opa melambaikan tangan. Aku hanya mengangguk, menyeringai menatap kasihan Om Liem. Satu jam ke depan, selama menemani Opa sarapan, pastilah Om Liem terpaksa mendengar Opa bercerita sambil manggut-manggut sopan.



    ***

  18. #18
    pelanggan tezar's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    499
    “Kau tahu Tommi, usia Opa baru lima belas saat datang dari pesisir China, menumpang perahu penuh tambalan, berlayar seadanya, bersama puluhan perantau yang mencari dunia baru, mencari kehidupan terjanjikan. Kami nyaris tenggelam di perairan Malaka jika tidak ditolong kapal nelayan, hingga akhirnya berhasil merapat di negeri yang sedang mengalami perang revolusi. Di radio-radio terdengar ceramah bersemangat pemuda bernama Soekarno. Dentuman granat dan suara tembakan memenuhi langit-langit kota. Opa bagai lepas dari mulut macan, masuk perangkap buaya.”

    “Tetapi Opa benar, Tommi, ini tanah yang dijanjikan. Lima belas tahun berlalu, umur Opa tiga puluh saat menikah dengan Oma, malam pengantin kami dihiasi dengan pidato tentang dekrit presiden, saat itu Opa baru menjejak kehidupan yang baik. Setelah bertahun-tahun menjadi pedagang keliling, buruh seadanya, pembantu juragan besar, Opa akhirnya punya toko tepung terigu kecil di pojokan jalan. Tidak ramai, cukup untuk menghidupi dua anakku. Papa kau, Edward dan paman kau Om Liem.”

    Ini dua paragraf standar pembuka cerita Opa. Dan aku yang masih berusia belasan tahun bergegas memasang wajah tertarik—karena setiap selesai cerita, kalau Opa merasa kau telah menjadi pendengar yang baik, dia biasanya memberikan hadiah.

    Mobil yang kukemudikan sudah melesat melewati jalanan yang semakin ramai.

    Opa bukan pebisnis yang baik. Dia (mengakunya) adalah pemusik yang baik.

    Suatu ketika Opa pernah tertawa lebar bilang kepadaku, yang masih bocah 6 tahun, “Kau lihat, aku baru menyentuh klarinet ini dua minggu, tapi sudah menguasai sepuluh lagu. Indah sekali bukan? Tidak kalah merdu dibandingkan Opera Peking.” Paaat-pooot-peeet, “Andaikata Opa punya uang membeli alat musik semasa muda, dan tidak harus bekerja keras, boleh jadi Opa menjadi pemusik China terbesar abad ini.” Opa menepuk dadanya, menunjuk poster opera-operas China yang terpajang di ruang tamu kami. Bagiku suara klarinet Opa berisik, tidak ada indah-indahnya, apalagi dia suka membangunkanku pagi-pagi dengan meniup klarinet kencang-kencang di telinga.

    Adalah Papa Edward dan Om Liem pebisnis yang baik. Mereka memiliki garis tangan yang hebat. Umur mereka baru dua puluh tahun saat mengambil alih toko tepung terigu dari Opa. Saat itu, Papa Edward dan Om Liem dengan yakinnya bilang ke Opa, “Kalau hanya menjual bungkusan sekilo-dua kilo tepung terigu, sampai negeri ini mendaratkan pesawat ke bulan, toko ini hanya begini-begini saja. Kami sudah belajar banyak. Sudah tahu banyak. Biarkan kami mengembangkannya.”

    Opa Liem menatap mereka berdua lamat-lamat, lantas mengangguk. Maka sejak hari itu Papa dan Om Liem penuh semangat mulai memutuskan berkongsi dengan tengkulak, petugas dan penguasa. Mereka membeli dan menjual tepung terigu setahun dalam jumlah yang jauh lebih banyak dibandingkan selama ini toko tepung terigu Opa bisa menjualnya. Maju pesatlah toko di pojok jalanan itu.

    Penduduk kota mulai membicarakan nasib baik Papa Edward dan Om Liem. Dalam pesta-pesta keluarga, meja-meja makan dipenuhi tawa sanjung dan kesenangan. “Astaga, bagaimana mungkin kalian tidak akan sukses?” Tuan Shinpei, pedagang besar dari Jakarta, importir tepung terigu, rekanan Papa dan Om Liem tertawa lebar, “Pagi-pagi tadi kau menandatangani kontrak penjualan denganku. Bilang pagi itu juga akan berangkat ke Singapura mengurus pengapalan. Malam ini, kita sudah bertemu lagi, makan-makan besar? Bagaimana mungkin kau begitu cepat bolak-balik mengurus banyak hal?”

    Meja makan dipenuhi tawa.

    “Ini anakku, Shinpei.” Papa Edward mengenalkanku dengan bangga.

    Aku yang sedang membawa nampan berisi cangkir mendekat.

    “Astaga? Sekecil ini sudah pandai sekali bekerja?” Tuan Shinpei menepuk jidat, tertawa.

    “Kalau kau tahu berapa gaji yang dimintanya dengan menjadi pelayan semalam, kau akan mengerti kenapa dia sangat pandai bekerja.” Papa Edward ikut tertawa.

    “Memangnya apa?”

    “Sepeda. Dia minta sepeda.”

    Pedagang dari Jakarta itu terbahak, mengacak rambutku.

    “Sayang, kau lupa mengancingkan pakaianmu.” Ibu yang duduk di sebelah Papa berbisik, lembut memperbaiki seragam pelayanku. Aku patah-patah menuangkan teko, bersungut-sungut melihat Papa yang masih tertawa.

    Lantas apa yang dilakukan Opa kalau semua urusan bisnis dipegang Papa dan Om Liem? Opa berusaha memenuhi takdir bakat besarnya: berlatih musik.

    Pertama-tama adalah Piano. Tiga bulan berlalu, “Ini bukan alat musik yang cocok untukku.” Dia menyuruh pelayan membawa piano itu ke atas truk, dijual

    Gitar. Baru satu minggu, “Ini terlalu rumit.” Dia menjual gitar itu ke pemulung, yg bersorak riang karena membelinya dgn harga murah sekali.

    Biola. “Meski aku terlihat eksotis dengan alat musik ini, tetapi belajar memainkan benda ini tidak esksotis.” Dia bercermin dengan biola di bahu, nyengir, kepala semi-botak Opa terlihat lucu.

    Juga harpa, seruling, drum, dan alat-alat musik lainnya. Sampai pemilik toko alat musik di kota kami menggeleng, tidak ada lagi alat musik yang belum pernah dicoba Opa.

    “Kau jangan mengejekku, Tommi. Suatu saat aku pasti menemukan alat musik yang tepat, Tommi. Ketika bakat musikku bersinar terang bahkan sebelum aku mulai memainkannya.”

    Yang bersinar terang itu bisnis Papa Edward dan Om Liem. Setahun terakhir, Om Liem bahkan memulai sesuatu yang baru. Aku menguping saat Papa dan Om Liem bertengkar.

    “Kita belum siap, Liem. Orang-orang sekitar juga belum siap. Cara kau mengumpulkan modal ini terlalu beresiko.” Suara Papa terdengar kencang.

    “Justeru itu poinnya. Ketika orang-orang lain sibuk memikirkan bisa atau tidak, terbiasa atau tidak, kita sudah berlari kencang. Aku tidak akan menghabiskan hidup hanya berdagang tepung terigu. Kita tidak akan jadi pengusaha besar disegani banyak orang dengan berjualan terigu.” Om Liem balas berseru.

    Malam itu rapat keluarga, Opa, Mama, dan Tante Liem ikut bicara.

    Opa yang sejak tadi mendengarkan, meletakkan klarinet, akhirnya berkata, “Cukup, Edward. Dewa bumi memberikan rezeki berkelimpahan utk keluarga kita. Saat terkatung-katung di kapal bocor empat puluh tahun silam, aku tidak pernah membayangkan akan memiliki keluarga sebaik ini.”

    Mama dan Tante Liem juga sependapat, “Opa benar. Kita tidak perlu memaksakan diri.”

    Empat lawan satu, keputusan diambil.

    Om Liem tetap memulai cara baru, meski empat suara jelas-jelas menentangnya.

    Aku tidak tahu benar apa nama cara baru itu. Koperasi bukan, bank bukan, simpan-pinjam jauh, hutang-piutang apalagi. Tapi soal ide bisnis canggih, Om Liem nomor satu. Tahun 80-an, saat bank masih hitungan jari, saat akses modal terbatas, Om memasang papan besar bertuliskan: ‘Arisan Berantai Liem-Edward’ di depan gerbang rumah kami.

    “Penjelasannya mudah saja.” Begitu Om Liem setiap kali memulai pertemuan di ruang tamu. Hari itu, hari pertama, hanya tiga kolega bisnisnya yang datang, bersedia mendengarkan gagasannya. “Kami butuh modal untuk menggelindingkan bisnis yang lebih besar. Kami akan memulai berdagang gandum, jagung, obat-obatan, semen, lempeng logam, keramik, sabun, semua kebutuhan. Orde lama sudah mati, orde baru tumbuh megah. Negeri ini sedang berlari. Pemerintah punya uang banyak dari minyak, dan mereka butuh barang-barang, apa saja untuk menghabiskan uang banyak itu. Kami akan membeli kapal-kapal, membangun relasi dengan penguasa, petugas, militer yang lebih tinggi, juga mengajak berkongsi dengan kalian. Kami butuh uang. Kalian berikan 100 perak hari ini, maka setahun kemudian akan kami gandakan jadi 150. Kami juga akan membayar bunga uang arisan dari kalian setiap bulan.”

    “Bukan hanya itu. Setiap kali kalian berhasil mengajak orang lain bergabung, maka kalian akan mendapatkan bonus tambahan. Semakin banyak rantai yang terlibat dalam arisan ini, maka semakin besar bonus kalian.” Maka, dengan iming-iming uang tumbuh itu, bonus untuk mengajak orang lain, hari berikutnya, belasan orang-orang datang mendengarkan Om Liem.

    Sebulan kemudian, bahkan banyak yang tidak aku kenali lagi. Ruang tamu keluarga kami kehabisan kursi. Dan setahun berlalu, sudah hampir empat ratus anggota arisan itu. Membawa uang mulai dari receh saja sampai menyerahkan seluruh tabungan mereka. Mulai dari masyarakat biasa, tetangga kiri-kanan, hingga pejabat dan pengusaha dari luar kota.

    Cara baru Om Liem berhasil, dan bisnis perdagangan keluarga melesat cepat. Sampai Papa Edward dan Opa lupa pernah menentangnya. Dua gudang baru dibeli di dekat pelabuhan. Tiga kapal besar melego jangkar setiap minggu. Dan hilir-mudik truk besar. Perhitungan Om Liem tepat, bisnis kami tumbuh, ada banyak orang kaya baru di negeri ini yang hendak membangun rumah-rumah besar, memenuhi rumah-rumah mereka, belanja apa saja.

    Waktu itu, umurku enam tahun. Opa masih asyik ber paat-peet-poot di beranda rumah, belajar klarinet. Papa Edward dan Om Liem sibuk dengan bisnisnya. Mama dan Tante Liem sibuk mengurus keluarga. Ketika konspirasi besar, tamak dan bengis itu datang menghancurkan keluarga kami.



    ***bersambung

  19. #19
    pelanggan tezar's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    499
    *******-******* Berkelas - episode 9
    by Darwis Tere-Liye Penuh on Saturday, April 2, 2011 at 6:03pm

    “Hallo, Thomas.” Salah-satu wartawan senior halaman ekonomi suratkabar harian dengan oplah paling tinggi di Indonesia berdiri, menyambutku, diikuti oleh beberapa wartawan lain.

    “Maaf terlambat dari jadwal.” Aku menyapa peserta pertemuan di ruang private salah-satu restoran elit kota Jakarta, menarik kursi kosong, bergabung. Sabtu, pukul 09.05. Sisa waktuku tinggal 46 jam, 45 menit hingga hari Senin pukul 08.00.

    “Hanya terlambat lima menit, Thom.” Dia tertawa, “Asal yang dijanjikan staf kau lewat telepon benar, ada rilis berita besar, menunggu lima jam kami tidak keberatan.”

    Aku balas tertawa, terkendali.

    “Astaga, Thom, kau kusut sekali, kau jangan-jangan tidak mandi sejak pulang dari London kemarin sore?” Wartawan televisi nasional gantian menepuk pundakku.

    “Boleh jadi. Dia jelas masih memakai kemeja saat di pesawat.”

    Hei, aku mengenali suara itu. Julia, lihatlah, gadis dengan predikat wartawan terbaik salah-satu reviewn mingguan itu duduk di salah-satu meja. Terlihat cantik dengan kemeja cokelat.

    Aku kali ini tertawa, lepas.

    “Saat di pesawat?” Wartawan tabloid ekonomi lain ikut nimbrung percakapan, “Kau satu pesawat dengannya dari London, Julia?”

    “Ya, dan itu perjalanan paling menyebalkan selama hidupku.”

    Sembilan peserta pertemuan lain sepertinya tertarik dengan kalimat Julia, memasang wajah ingin tahu. Aku melambaikan tangan, masih tertawa kecil, “Come on, kalian kesini bukan untuk mendengar tentang itu bukan? Nantilah, kalau situasinya lebih baik, Julia akan berbaik hati menjelaskan bagaimana mungkin pengalaman pertamanya naik pesawat terbesar, menghabiskan sepiring kaviar, meminta apa saja yang ada dalam daftar menu pramugari, menjadi sebuah perjalanan yang menyebalkan. Sekarang aku akan memberi kalian kabar yang hebat, kalian wartawan, editor, media massa pertama yang mendengarnya. Kabar hebat yang sekaligus mengerikan.”

    Peserta pertemuan kembali sempurna menatapku. Satu-dua mengeluarkan alat tulis atau perekam.

    Aku tersenyum, menatap peserta pertemuan, Maggie sepertinya mengerjakan PR-nya dengan baik. Dia berhasil mengundang seluruh media massa besar dan berpengaruh. Bahkan bergabung tiga pengamat perbankan, keuangan dan ekonomi nasional yang tulisannya sering mempengaruhi opini publik.

    Peserta pertemuan menungguku, gemas melihatku yang tersenyum.

    “Otoritas bank sentral akan menutup Bank Semesta.” Aku akhirnya membuka mulut.

    Gerakan tangan mereka terhenti.

    “Astaga? Kau tidak sedang bergurau, Thom?” Salah satu kepala editor media online menepuk dahi, “Maksudku, walaupun kita sudah lama mendengar Bank Semesta masuk ruang gawat darurat bank sentral, berada dalam pengawasan ketat, kabar ini tetap mengejutkan.”

    “Aku tidak bergurau, sumberku valid. Seratus persen yakin. Sama dengan seratus persen aku yakin kalau itu keputusan yang salah. Sama dengan seratus persen aku akan menjadi orang pertama yang menentangnya.” Kalimatku terdengar datar, dengan intonasi terjaga, “Dalam situasi kacau balau dunia, krisis subprime mortgage, institusi keuangan kolaps di mana-mana, menutup Bank Semesta, sama saja membawa mimpi buruk itu dengan pesawat VIP tercepat ke negeri ini. Satu saja bank atau lembaga keuangan kita ditutup, maka bagai barisan kartu remi, yang lain pasti menyusul roboh. Ini jelas bahaya dampak sistemik.”

    Akulah orang pertamya yang menyebut dua kata ajaib itu: dampak sistemik. Dua kata yang akhirnya memenuhi langit-langit perdebatan negeri ini berbulan-bulan ke depan, bahkan dalam toilet gedung anggota dewan sekalipun.



    ***

  20. #20
    pelanggan tezar's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    499
    “Lehman Brothers rugi hingga 3,9 milyar dolar sebelum mengumumkan pailit 15 September, belum habis kabar mengejutkan itu dibahas di media massa, institusi keuangan Amerika lainnya menyusul. Merril Lynch tumbang, Citigroup, Fannie Mae & Freddie Mac mengalami kesulitan keuangan, bahkan AIG, group keuangan besar dan tua Amerika diujung vonis kematian jika tidak diselamatkan oleh pemerintah. Tidak terbayangkan kekacauan yang terjadi di belahan dunia sana, dan itu tidak berhenti di sektor keuangan. General Motors, Ford, Chrysler mendaftarkan kebangkrutan, puluhan ribu karyawan dirumahkan, tidak terhitung sektor real merumahkan karyawannya, krisis ini nyata, bukan sekadar angka-angka pengangguran, angka-angka pertumbuhan ekonomi nasional yang negatif.

    “Kita sedang membicarakan sesuatu yang mengerikan, bahaya dampak sistemik. European Central Bank (ECB) mendefinisikannya sebagai, wide systematic shocks which by themselves adversely affect many institutions or markets at the same time. In this sense, systemic risk goes much beyond the vulnerability of single banks to runs in a fractional reserve system. Saya menyederhanakannya dengan definisi, satu kejadian yang sekali pukul membuat runtuh semua keseimbangan, bahkan bisa membuat hilangnya kepercayaan terhadap sistem keuangan dan perekonomian nasional—”

    “Maaf menyela,” Julia mengangkat tangan—ini sudah yang kedua kalinya dia menyela kalimatku sejak setengah jam lalu, “Semua yang kau sebutkan itu terjadi ribuan kilometer dari kita, fundamental dan situasi perekonomian kita jelas berbeda. Bagaimana mungkin—”

    “Julia, aku tahu kau masih punya banyak energi untuk mendebatku sejak kejadian di pesawat,” Aku segera memotong kalimat Julia, “Kau lupa satu fakta kecil, Julia. Dua puluh empat jam lalu, kita masih di London, bukan? Pagi ini kita sedang menghabiskan segela kopi nikmat di Jakarta. Bahkan dunia ini telah terkoneksi secara fisik, Julia. Jarak bukan masalah. Apalagi dalam sistem keuangan dunia, uang yang kau tabungkan di Bank Semesta, anggap saja kau punya tabungan di sana, berputar hingga ke Lehman Brothers dan Merril Lynch. Uang yang dimiliki oleh investor kecil di Surabaya misalnya, berpilin hingga New York bahkan New Delhi. Sistem keuangan dunia lebih rumit bahkan dibanding jaringan internet.

    “Dan bicara dampak mengerikan, peduli setan dengan fundamental ekonomi suatu negara. Kau tahu, dua hari setelah Lehman Brothers menyatakan bangkrut, 150 milyar dollar ditarik serentak dari pasar uang Amerika. Jumlah yang setara dengan seluruh hutang nasional kita. Kau tahu berapa total kehilangan aset pensiun Amerika, 1,3 trilliun dollar, itu belum termasuk aset simpanan dan investasi, aset retirement, totalnya nyaris 8,2 trilliun dollar. Kau tahu, selama 2007-2008, penduduk Amerika kehilangan seperempat kekayaan mereka, berapa jumlahnya? Ratusan trilliun dollar. Kita hidup dalam jaringan keuangan yang kait-mengkait, harusnya kau diajarkan soal itu di sekolah bisnis.”

    Ruangan private restoran dipenuhi tawa kecil.

    Wajah Julia berubah merah-masam, dia masih mengacungkan tangannya, “Tetapi Bank Semesta hanya bank menengah, kau juga tahu itu. Namanya tidak pernah masuk dalam daftar sepuluh besar bank. Menurut data yang kumiliki, jumlah uang yang mereka kelola tidak sampai 4 persen dari seluruh uang perbankan nasional.”

    Aku menatap tajam Julia, “Baik. Aku berikan kau satu contoh kecil, Northen Rock Bank. Dari sisi aset, jumlah nasabah, kapitalisasi, NRB, sebenarnya bank swasta kecil di Inggris. Tapi apa yang terjadi? Saat mereka melaporkan kesulitan keuangan, dalam situasi krisis dunia, dengan cepat kejadian ini menjadi sorotan publik seluruh Inggris. Antrian panjang nasabah yang bergegas mengambil uangnya di bank ini menjadi tontonan buruk semua pemirsa televisi. Penduduk Inggris panik, untuk pertama kalinya dalam 140 tahun terakhir, perbankan Inggris kacau balau. Bank of England, bank sentral Inggris akhirnya menasionalisasi NRB, setelah berbagai pinjaman darurat tidak membantu, mereka juga terpaksa melakukan rekapitalisasi di banyak bank swasta lainnya untuk menghentikan kartu remi yang terus roboh tidak terkendali.

    “Kita tidak membicarakan kecil atau besar, Julia. Bank yang terletak di pelosok dunia atau di tengah gegap gempita keuangan, sama saja. Kita membicarakan kepanikan, dampak sistemik dalam sistem perekonomian terbuka, membicarakan sektor yang sangat rentan terhadap berita buruk. Kalian wartawan ekonomi bukan? Coba lihat pasar Surat Utang Negara, SUN, kita, yield SUN naik tajam beberapa bulan terakhir, naik hampir 7 persen, padahal setiap kenaikan 1 persen itu berarti beban biaya bunga tambahan sebesar 1,4 triliun dalam APBN. CDS, credit default swap negara kita juga melonjak tinggi, itu berarti pasar dunia menilai country risk Indonesia tinggi. Belum lagi cadangan devisa turun dua digit persentase, rupiah menyentuh level 12.000, astaga, siapa bilang krisis dunia tidak mempengaruhi kita? Temporer? Kita bisa bertahan? Aku tidak yakin. Kita membutuhkan semua energi untuk segera keluar dari pengaruh buruk ini, atau kejadian tahun 1998 kembali terulang.”

    “Saya setuju soal data-data itu.” Julia kembali menyela, dia jelas gadis yang tidak mudah menyerah, Julia menunjukkan ipad miliknya—yang pastilah berisi laporan mutakhir perekonomian nasional, “Hanya saja dalam kasus ini, Bank Semesta layak ditutup mereka memang melakukan banyak kejahatan keuangan. Mereka melanggar banyak regulasi—”

    Aku melambaikan tangan, “Ayolah, kalimatku belum selesai, Julia. Tentu saja kau punya berita tentang Bank Semesta, rumor kejahatan pemilik bank itu. Tetapi bukankah kalian juga punya data tentang situasi terkini? Indeks saham kita menukik tajam sebulan terakhir, tinggal separuhnya, memangkas nilai pasar puluhan triliun rupiah. Pinjaman antar bank terhenti, kecemasan melanda investor besar hingga retail, dana pensiun dan perusahaan asuransi kehilangan banyak uang, dan jangan lupakan kemungkinan capital flight besar-besaran.

    “Semua situasi buruk ini hanya butuh satu saja kabar buruk, satu saja, maka boom, semua meledak, rantai kerusakan telah dimulai. Bank Semesta bobrok, mungkin. Bank Semesta melakukan banyak kejahatan keuangan, boleh jadi. Tetapi menutup bank ini, sama saja dengan membuat kepanikan massal, dan ini jelas bukan sebuah rumor, kemungkinan atau sebuah boleh jadi. Kau mau bertanggung-jawab atas kemungkinan itu, Julia? Otak cemerlang dan analisis hebat kau mau bertanggung-jawab kalau ternyata bahaya dampak sistemik itu benar-benar terjadi? Rush gila-gilaan, belasan bank menengah lain bertumbangan, krisis 1998 terulang dengan skala goncangan lebih tinggi? Kalian, media massa, mau ikut bertanggung-jawab?”

    Ruangan private restoran senyap sejenak. Beberapa wartawan menghela nafas.

    Aku takjim menatap wajah mereka satu-persatu.

    “Apakah keputusan penutupan Bank Semesta sudah efektif, Thom? Sudah keluar surat keputusan misalnya, mengingat belum ada rilis resmi dari bank sentral.” Shambazy, kepala editor media online bertanya, meletakkan alat tulisnya.

    “Belum. Tetapi itu seratus persen akan terjadi jika tidak ada second opinion. Kau tahu sendiri, ada banyak pihak yang bersemangat melihat Bank Semesta ditutup—diluar penyidik kepolisian, kejaksaan atau otoritas bank sentral yang sudah tidak sabaran sejak mereka menangani kemungkinan fraud di bank ini setahun lalu. Saya hanya sumber informasi confidential. Saya juga hanya menyatakan pendapat profesional, kalian boleh setuju, boleh juga tidak. Di luar sana, boleh jadi lebih banyak pihak yang emosional dan menganggap bahaya dampak sistemik hanya ilusi. Tetapi jika kalian setuju, saatnya membentuk opini yang berbeda. Masih ada waktu, menjadi headline koran besok misalnya. Atau liputan khusus di televisi nanti sore. Atau sebuah kolom opini yang bernas dan membuka mata banyak orang. Atau artikel pendek di media online kau, Shambazy.

    “Desas-desus ini sudah di tangan banyak pihak. Kalian bisa menggalinya lebih dalam pada pejabat bank sentral, menteri, pejabat tinggi, siapa saja. Dengan begitu, setidaknya kalian akan membantu menahan proses keputusan itu dibuat segera, setidaknya kalian memberikan pertimbangan lain, cover both side, sementara itu aku bisa melakukan negosiasi dengan pihak yang akan memutuskan.”

    “Kau sudah punya angka-angka, Thom? Maksudku, jika pemerintah akhirnya harus menyelamatkan Bank Semesta, berapa jumlah uang talangan yang harus diberikan?” Wartawan lain bertanya.

    Aku terdiam sejenak, menelan ludah, “Belum. Aku belum punya datanya. Tapi aku segera akan punya. Kita harus tahu petanya, bukan? Berapa biayanya. Sebagai catatan, pemerintah Amerika menalangai AIG hingga 150 milyar dollar, itu kecil saja dibandingkan jika seluruh sistem ambruk dan lebih banyak lagi yang harus ditalangi. Bank sentral eropa juga terpaksa membeli milyaran dollar aset bank bermasalah, tapi itu juga kecil dibandingkan kemungkinan buruknya. Kalian bisa mencari tahu lebih detail soal itu.”

    Aku melirik pergelangan tangan, sudah pukul 10,15 menit—pertanyaan barusan membuatku teringat sesuatu, aku memerlukan banyak data sekarang.

    “Nah, waktuku sudah habis, saya terpaksa pamit. Aku sudah ada janji lain.”

    Peserta pertemuan bergumam, hendak bertanya.

    “Maaf, aku sibuk sekali. Tidak ada sesi tanya-jawab seperti biasa.

    “Tentu saja.” Salah-satu wartawan menyahut, tertawa kecil, “Kami tahu jadwal kau bahkan lebih sibuk dibanding Presiden, Thom.”

    Aku ikut tertawa, “Terima kasih sudah datang dan mendengarkan. Maggie yang akan mengurus tagihan restoran. Selamat siang.” Aku melangkah cepat meninggalkan ruangan private restoran.



    ***

Page 1 of 4 123 ... LastLast

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •