Actually, bener aja sih, kalo mau diskusi soal cara standarisasi ke-insinyuran ke Jerman.
Karena mereka di sini emang udah punya sistem buat standarisasi/sertifikasi setiap profesi yang baku dan udah jalan kayak well oiled engine sejak lama.
Di Indonesia belom ada sama sekali yang kayak gini. Statusnya masih merintis. Dan itupun nggak jadi satu gerakan bersama yang komprehensif. Masih sendiri2 untuk tiap bidang profesi. Dan kalo ngobrol sama rektor2 itu aja... gue nggak jamin mereka ngerti secara penuh cerita yang kayak gini.
Yang bikin jalannya DPR itu ke Deutschland extra ngeselin(dan keliatan bodonya), adalah mereka mau diskusi soal standarisasi profesi sama orang dari DIN.
DIN itu adala lembaga yang fungsinya menjaga kualitas barang. Semacam lembaga perlindungan konsumen. Tapi pemerintah punya.
Ya, udah, mau pake bahasa apapun(english, deutsch, oder indonesia).... tetep aja nggak bakalan nyambung, blas.
Mustinya, soal stndarisai profesi, DPR itu ngobrolnya sama orang2 lembaga pendidikan di sini, kayak SMU-nya dan/atau Uni. Soalnya, di sini, lembaga2 ini yang bertanggung jawab soal memberikan ujian standarisasi kompetensi profesi.
Dan, untuk tau soal yang kayak gini, itu semudah dateng ke gedung kedutaan Jerman di Jakarta, dan nanya. Itu juga kalo males pake bahasa Inggris dan buka Wikipedia.
Bodo dan ngeselinnya DPR di situ. Kalo, mereka emang niat kerja dan mau rajin dikit, nggak akan mereka bisa 'di jebak' sama kedutaan Indonesia di Jerman. 'Jebakan' itu cuma buat membuktikan betapa nggak niat dan males-nya anggota DPR kita.
Gue cuma berharap mereka nggak minta di anter jalan2 ke distrik lampu merah lagi. Atau ngasi komentar kurang ajar ke penduduk lokal, lagi. Simplenya, yang male speciesnya, berangkat jangan sebagian besar di kemudikan oleh si otong-nya masing2. Sumpah, itu kejadian nista banget.
