-
pelanggan
gw sekarang berprofesi sebagai wartawan. Sebuah profesi yang tidak "mainstream" untuk lulusan fakultas hukum, apalagi di almamater gw. ini pilihan sadar karena gw tidak berminat untuk menjadi pengacara di kantor hukum, jadi legal di perusahaan, jadi HRD, ataupun kerja-kerja administratif lainnya.
Menjadi jurnalis membuat gw selalu "intellectually challenged", karena ritme kerjanya yang tidak membosankan dan selalu bertemu dengan isu2 terbaru.
PLUS:
1. selalu update dengan isu terbaru. (intellectually challenged)
2. di kantor sekarang, gelar sarjana hukum gw sangat terpakai, karena medianya sendiri memang dikhususkan untuk berita-berita hukum. berbeda ketika di kantor sebelumnya, ketika gw harus meliput launching produk gadget terbaru dan malemnya bisa ke diskusi politik.
3. Gaji yang lumayan untuk bujangan.
4. Flexi time. berhubung kantor media, jam kerja 9-to-5 tidak berlaku untuk jurnalis. Keuntungannya, gw bisa ngambil kuliah magister tanpa mengganggu jam kerja
MINUS:
1. Flexi time. ini plus sekaligus minus, karena seringkali flexi time ngebuat gw tidak bisa bertemu dengan rekan-rekan karena jam yang tidak sinkron.
2. Sering salah kostum. kalau ketemu temen2, gw sendirian yang berkostum seperti mahasiswa di jaman S1. sementara temen2 lain udah kayak eksekutif muda. BAHAHAHAHHA.
3. Sering dianggap sebelah mata. Khususnya di kultur gw, pekerjaan sebagai wartawan dianggap tidak menjamin dan tidak punya masa depan. Mereka masih menghargai pekerjaan yang dianggap mapan: PNS, militer/polisi, pengacara, dokter, dll
4. Tahu semua hal, tetapi tidak ada yang fokus. Nature kerjanya memang seperti ini sih. Tapi gw sendiri masih berupaya untuk memilih salah satu topik liputan yang akan gw optimalkan.
segitu dulu share-nya.
Posting Permissions
- You may not post new threads
- You may not post replies
- You may not post attachments
- You may not edit your posts
-
Forum Rules