Memang, Indonesia di masa lampau jadi lintas budaya termasuk di antaranya budaya Tionghoa sehingga sangat mungkin teknik-teknik Qinna masuk tetapi di Indonesia sudah diadaptasi jadi walau ada persamaan, kalau dibandingkan dengan mainan Qinna asli Tiongkok, tetap aja bakal berbeda.
Yang dimainin Luke Holloway itu gak ada apa-apanya dengan maenan kawannya Grandpa Alip (anak AK juga). Kalau udah selevel kawannya grandpa alip, lu gak butuh pisau buat melawan pisau. Senjata lawan bakal berbalik arah. Gue udah pernah lihat langsung dan juga di kesempatan lain pernah mencoba sendiri.
Kalau Taichi itu... ada banyak hal tentang keseimbangan dan mengefisienkan penggunaan tenaga. Pernah dibahas kok oleh grandpa Alip:
http://www.kopimaya.com/forum/showth...n-Taichi/page2
Sekilas kalau lu lihat, kayaknya gak ada gunanya. Tapi kalau lu sempat melihat pertandingan leitai-nya, pertarungannya gak seribet pakai teknik Luke Holloway atau seperti yang di film Taichi O atau semua film-film taichi. Malah cuma sekedar main dorong dan main tampar ke arah bawah.
Begini deh, coba lihat satu videonya Wang Zhanjun.
Kelihatan gak keren, kan?
Tapi pertimbangkan bahwa:
1. ada aturan;
2. bahwa di dunia nyata, begitu kehilangan keseimbangan maka lawan bisa segera memanfaatkan situasi tersebut.
Kalau merasa klip di atas, praktisi yang menang (Wang Zhanjun) hoki karena berat badan,
maka ini ada klip dengan aturan Tuishou (Dorong pakai tangan) melawan sumo yang beratnya melebihi 200 kg (Wang Zhanjun sekitar 95-98 kg).
Kalau di dunia persilatan Indonesia, yang agak-agak mirip seperti itu adalah cerita praktisi Cikalong dan Sabandar di Cianjur di masa kolonial (jadi jangan harap ada videonya di Youtube :p). Dua aliran tersebut tergolong 'halus' dibandingkan silat lain. Ketika masing-masing pendirinya (Raden Ibrahim dari Cikalong dan Mamak Kosim dari Sabandar) bersentuhan, konon keduanya sama-sama merasakan kekuatan lawan dan akhirnya sepakat tidak meneruskan pertarungan.
Sabandar kelak jadi aliran tenaga dalam tetapi konon awalnya tidak pakai tenaga dalam. Cikalong, beberapa orang menyebutnya mirip Aikido walaupun setelah ngobrol ngalor-ngidul, ternyata beda dengan aikido.