saya sendiri tidak yakin, apakah konflik Fatah-Hamas memang sengaja dibuat oleh intelijen Israel, atau justru memang konflik mendasar dari internal Palestina itu sendiri.

Sudah umum diketahui, Hamas dan Fatah memiliki garis perjuangan yang berbeda. Hamas memilih negara Islam untuk Palestina, mendukung konflik bersenjata untuk kemerdekaan mereka dan menolak eksistensi negara Israel (bisa dilihat di Hamas Charter, atau The Covenant of the Islamic Resistance Movement).

Sedangkan Fatah, seperti yang kita tahu, memilih bentuk sekuler untuk Palestina, lebih moderat, mengupayakan diplomasi, dan mendukung solusi dua negara (two-state solution); meski Fatah memiliki sayap militer (Brigade Al-Aqsa).

Saya semakin yakin bahwa pecahnya Hamas dan Fatah itu bukan karya intelijen Israel--meski itu masuk akal. Saya lebih yakin alasan pecahnya dua faksi terkuat di Palestina itu karena minimnya kharisma dan kepemimpinan dari tokoh-tokoh Palestina pasca kematian Yasser Arafat.

Ismail Haniyah, Mahmoud Abbas, Khaled Meshaal, dan tokoh2 lain tidak mampu menyaingi ketokohan Yasser Arafat untuk mewujudkan persatuan di Palestina.

Pada akhirnya, rakyat Palestina harus dihadapkan dengan konflik elit politik di negara mereka, sekaligus bertahan dari represi Israel.