Gak jugalah. Selama ini orang percaya bahwa yg punya pengalaman lebih tahu atau lebih mengerti dari pada yg tidak. Padahal belum tentu. Kadang dalam suatu diskusi utk mengatasi lawan, disodorkan argumen pengalaman yg lawannya gak punya. Misalnya diskusi ttg Minang antara orang Jawa dan Padang. Ketika kepepet, orang Padang langsung bilang, "gw kan orang Padang, pasti lebih tahu ttg Minang, dibandingin lo orang Jawa". Demikian juga sebaliknya. Gak bisa kan diskusi kayak gitu?
Meski TS belum menikah atau belum punya anak, bukan berarti dia tahu teori saja. Bisa saja dia ikut mendidik anak kakaknya misalnya karena kebetulan tinggal serumah. Atau dia mengamati tetangganya yg punya anak misalnya, dst. Jadi setidaknya dia tahu juga prakteknya, meski tidak langsung.
Juga yg punya pengalaman langsung mendidik anak belum tentu bisa mengambil pelajaran dari pengalamannya tsb sehingga pengetahuannya ttg mendidik anak lebih baik dari pada yg tahu teorinya saja. Jadi tidak ada jaminan bahwa yg punya anak lebih tahu dibandingkan yg tidak.
Pengalaman dan buku adalah guru. Murid yg baik adalah murid yg dapat mengambil pelajaran dari gurunya, tidak peduli siapa gurunya tsb.
---------- Post Merged at 04:35 PM ----------
Gak juga. Di KM ini banyak yg sudah menikah dan mempunyai anak bahkan sampe ngurus perusahaan yg karyawannya mungkin puluhan atau ratusan, tapi sosialisasi tetap jalan. Itu sih gimana ente pinter ngatur waktu saja.
![]()
![kopimaya [dot] kom - Secangkir Kehangatan di Dunia Maya - Powered by vBulletin](images/misc/vbulletin4_logo.png)





Reply With Quote