kalau 7 tahun yg lalu nikah... maka pemikiranku tahunya sebatas istri, kerjaan, hobi dan anak.. seperti yg aku lihat teman-temanku... dapat aku lihat dari isi status FBnya.. isinya kalau tdk maslaah kerjaan, ya istrinya, kalau pun ada yg dibahas, paling maslaah palestina atau mengkampanyekam ustadnya yg ikut Pilkada...
ambil sih ambil hikmah aja... aku jadi tahu kan ini dan itu karena aku tdk terbebani oleh anak dan istri... nah, setelah banyak baca sana sini.. akhirnya aku tahu.. apa yg harus di wariskan ke anak cucu...
tapi emang sih kriteria ku terlalu tinggi, harus smart, manis, tinggi minimal 155, berat badan tdk lebih dari 60 kg.. penghasilan baru 3 juta ya kagak bakal dapat... minimal 5 jutaan baru dapat yg seperti aku mau....
---------- Post Merged at 12:38 AM ----------
yup...
basicnya yg harus kuat di keluarga dulu... hanya saja.. si anak informasi tentang baik dan benar jangan bersumber hanya dari 1 sumber, tetapi dari berbagai sumber agar outputnya pribadi yg dewasa dan bijaksana, kalau hanya dari orang tua dan guru ngajinya.. ya jatuhnya seperti teroris itulah.. bahwa membunuh orang kafir, adalah salah satu perbuatan terpuji..
---------- Post Merged at 12:40 AM ----------
sepertinya deskripsiku kurang panjang.. maksudku disini pemikiran bahwa jadilah manusia yg tdk sekedar bermanfaat hanya untuk diri sendiri dan keluarga, tetapi jadi benar2 orang yg membawa manfaat bagi orang banyak..
Ahok itu seperti itu, karena didik dan dapat teladan langsung dari orang tuanya...
---------- Post Merged at 12:48 AM ----------
kata temanku... kalau gajah mati meninggalkan gadingnya... maka manusia mati harus meninggalkan nama (karya) nya..
jika orang bisa meninggalkan sebuah karya (sesuatu yg positif dimasyarakat) maka akan jadi sebuah kebanggaan (motivasi tersendiri) bagi anak..
Aku juga menarik sebuah kesimpulan...
jika kita mewariskan sebuah pemikiran yg baik dan benar.. maka kelak.. jika si anak miskin maka pemikiran baik dan benarnya akan membuatnya kaya, tetapi kalaupun tdk bisa kaya, maka ia akan menjadi orang yg sederhana (tdk berlebihan dalam hidup), jika ia juga terwarisi harta dari orang tuanya, maka ia akan menjaga dan mengembangkannya hartanya dan bisa jadi akan menyalurkan hartanay secara proposional kepada masyarakat, atau setidak-tidaknya jika ia pelit berbagi, setidaknya hartanya tdk menjadi sarang masalah di masyarakat, misalnnya menggunakan hartanya untuk buat bisnis judi dan rumah pela cu ran...
Seperti Ahok.. ia tahu.. ia memiliki keterbatasan dalam membantu orang lain.. maka jika uang 1 Milyar dibagikan 500.000 ke masyarakat maka hanya 500 orang yg dapat menikmatinya... tetapi jika ia gunakan 1 milyar untuk merebut kekekuasaan (jabatan), jika berhasil ia bisa membantu masyararakat jauh lebih luas... ternyata pemikiran Ahok memiliki kesamaan dengan dalam sebuah riwayat... sehari seorang raja (pemimpin) berbuat adil, jauh lebih baik dari pada ahli ibadah yg beribah selama 80 tahun lamanya. Bisa dibayangkan berapa besar pahalanya seorang pemimpin jika selama 5 tahun ia berupaya menciptakan keadilan selama memerintah...
Kita tidak pernah bisa melihat masa depan, tetapi kita bisa menatanya dengan baik sesuai keinginan kita hari ini ( Fitri Purnama Sari )
paling ngga yang udah punya anak ga sekadar cuap cuap di tataran teori seperti TS ini, mereka sudah lebih jauh berada di tataran praktik. lebih tahu kondisi sebenarnya di lapangan, lebih tahu gimana benturan di tataran ide ama realita, lebih tahu gimana menyiasati benturan tersebut, dan lebih sering ngikik baca postingan orang2 yang berada di tataran teori.
yang cuma tahu teori saja, kapan kalian memikirkan soal mewariskan hal baik pada anak? pas kebetulan posting di sini ?
yang punya anak tiap saat memikirkan nya...
praktik nya kalau mau ditulis tuh panjang, tiap tahap kehidupan anak beda2 pendekatannya. anak balita tentu beda cara mendidiknya dengan anak remaja.
secara garis besar, keteladanan ortu sangat penting dalam hal mendidik anak. jangan bicara soal kejujuran ketika ortu sendiri sering membohongi anak (misal dijanjikan beli coklat kalau ga nangis) sekedar untuk menenangkan
itu satu contoh, terlalu banyak lah... teorinya bertebaran di buku da media online ttg cara pengasuhan anak.
...bersama kesusahan ada kemudahan...
“Aku Rela di Penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” ― -Mohammad Hatta
“Aku Rela di Penjara asalkan bersama akses internet, karena dengan internet aku bebas.” ― -cha_n
My Little Journey to India
seperti yg aku bilang, kalau 10 tahun lalu aku tdk kejakarta, ya anak aku udah pasti 3, tetapi ya.. pengetahuanku pasti terbatas.. karena aku tdk akan memiliki kebebasan waktu untuk mempelajari hal-hal baru, karena aku pasti secara tdk langsung mendapatkan tekanan memastiakan bahwa anak istri hidup berkecupan...
aku melihat banyak orang seperti itu...
orang yg sudah mengetahui teorinya jauh lebih cepat menyelsaikan maslaah ketimbang mereka yg tdk (belum) tahu teorinya...
soal tiap kondisi memiliki permasalahan yg berbeda2... emang kambing, kagak bisa mikir gimana cara menyelesaikan masalah2 yg timbul..![]()
Kita tidak pernah bisa melihat masa depan, tetapi kita bisa menatanya dengan baik sesuai keinginan kita hari ini ( Fitri Purnama Sari )
ah lu teori doang. solusi soal anak yang mana yang mau lu selesaikan? anak aja lu ga punya.
tau dari mana kalau 10 tahun yll nikah bakal punya anak?
dan picik banget kalau bilang punya anak menghambat pendidikan dan pengetahuan ortu nya.
sangat picik.
punya anak bagi gw dan suami malah bikin kita termotivasi buat belajar lebih banyak. kita jauh lebih fokus, ga ngawang ngawang dan berteori dengan ngawur yang ngalor ngidul.
sekarang alhamdulilah gw juga dapat kesempatan beasiswa kuliah lagi, walau bayi masih merah, ga lalu menghambat buat tahu lebih banyak.
tipi bisa ditonton buat lihat berita terkini. internet akses 24 jam ga bakal bikin mati gaya karena ketinggalan informasi.
info apa yang ga ada di internet ?
mau bahas tentang tumbuh kembang anak, ikut aja milis sehat, atau di grup tatc facebook serta berbagai grup/forum juga ada diskusinya.
bahkan khusus popok anak aja ada grupnya kok. apalagi tentang asi. blom lagi yang selalu hot pembahasan soal vaksin.
lu tahu ga semua itu? kan lu blm merit jadi katanya lebih ngerti teorinya.
ikutan komunitas ayah edi kalau mau banyak input positif, bagus2 juga ilmu yang bisa digali dari sana.
seperti yang gw bilang, soal teori bertebaran di internet dan buku2. yang penting itu praktek
...bersama kesusahan ada kemudahan...
“Aku Rela di Penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” ― -Mohammad Hatta
“Aku Rela di Penjara asalkan bersama akses internet, karena dengan internet aku bebas.” ― -cha_n
My Little Journey to India
Startsmart meskipun belum punya anak tapi dia pernah jadi anak, sedikit banyak tahulah tentang bagaimana orang tuanya mendidik dirinya.
^mungkin, tapi itu bukan pengalaman dirinya, karena dia melihat dari sudut pandang dirinya selaku anak yg menerima pengasuhan dan pendidikan. Tetap akan berbeda dari orang yg mengalami keduanya, pernah dan selalu jadi orang yang menerima pengasuhan dan pendidikan (sebagai anak) dan sedang mengalami sebagai pengasuh dan pendidik anak (sebagai ortu).
Dan rasanya aneh bilang, kalo 7 thn yg lalu nikah maka hidupnya akan seboring yang TS paparkan, berarti TS tidak bisa menikmati hidup dan menggali apa saja yg ditemui, dialami dan dirasakan sebagai bagian dari pertambahan ilmu pengetahuan, wawasan dan pola pikir. Itu sih, salah sendiri tidak memaksimalkan hidupnya.
Saya baru nikah kurang lebih 9 thn yang lalu. Apakah hidup saya cuma berkisar anak, rumah dan suami? Wah tidak. Saya masih bisa ngenet dan cari2 info terbaru tentang apa saja yg lagi nyamber di otak saya, kalo saya mau, waktunya mungkin ga 24 jam, tapi orang single juga ga mungkin 24 jam ngetem depan kompi kan?
Saya masih bisa ikut arisan dan acara PKK, pengajian juga hang out sama temen2 deket, padahal saya ga pake jasa pembantu sekarang. Tapi rumah masih beres, masih bisa nyuci, masak dan prepare si sulung sekolah juga memantau sekolah si sulung sendiri tuh, karena suami kerja di luar pulau. Saya masih bisa nyoba2 resep jajanan baru, masih sempet kerja2 sampingan, masih bisa ngopi2 sama temen, masih bisa berdua sama suami. Suami pun masih bisa bersosialisasi dengan baik, masih menekuni hobby bilyardnya, masih update info2 terbaru padahal dia di pedalaman, masih bisa hangout berdua aja sama saya. Pengetahuannya pun bertambah karena dia mau menambahnya.
Memang boleh ngomong teori panjang2. Tapi kalo teori doang dikuasai, kapan taunya? Keburu ga sempet mempraktekkannya baru blingsatan![]()
Last edited by BundaNa; 19-11-2012 at 09:45 AM.
orang yang jadi ortu sudah pernah jadi anak juga, dan tahu bedanya dengan posisi jadi ortu.
jadi anak kita menerima pilihan ortu, paling jauh memberikan masukan, tapi itupun ketika anak udah cukup mengerti. sedang jadi ortu kita dihadapkan dengan berbagai pilihan pola pengasuhan. diharuskan mengerti dampaknya bagi anak, mempelajari prosesnya. sebelumnya juga harus mengerti bahwa setiap anak unik. polanya tentu disesuaikan dengan kondisi anak kita. anak orang lain bisa efektif dengan pola pengasuhan tertentu, belum tentu cocok sama kita.
kaya gitu bisa dipahami oleh orang yang blom punya atau belum pernah mengurus anak? amazing.
khusus etca, dirimu emang blum punya anak kandung tapi tiap hari menghadapi ponakan. aku rasa ilmuku malah kalah jauh, terutama tentang bagaimana menghadapi anak abg. soalnya anakku masih balita semua
...bersama kesusahan ada kemudahan...
“Aku Rela di Penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” ― -Mohammad Hatta
“Aku Rela di Penjara asalkan bersama akses internet, karena dengan internet aku bebas.” ― -cha_n
My Little Journey to India
Gak jugalah. Selama ini orang percaya bahwa yg punya pengalaman lebih tahu atau lebih mengerti dari pada yg tidak. Padahal belum tentu. Kadang dalam suatu diskusi utk mengatasi lawan, disodorkan argumen pengalaman yg lawannya gak punya. Misalnya diskusi ttg Minang antara orang Jawa dan Padang. Ketika kepepet, orang Padang langsung bilang, "gw kan orang Padang, pasti lebih tahu ttg Minang, dibandingin lo orang Jawa". Demikian juga sebaliknya. Gak bisa kan diskusi kayak gitu?
Meski TS belum menikah atau belum punya anak, bukan berarti dia tahu teori saja. Bisa saja dia ikut mendidik anak kakaknya misalnya karena kebetulan tinggal serumah. Atau dia mengamati tetangganya yg punya anak misalnya, dst. Jadi setidaknya dia tahu juga prakteknya, meski tidak langsung.
Juga yg punya pengalaman langsung mendidik anak belum tentu bisa mengambil pelajaran dari pengalamannya tsb sehingga pengetahuannya ttg mendidik anak lebih baik dari pada yg tahu teorinya saja. Jadi tidak ada jaminan bahwa yg punya anak lebih tahu dibandingkan yg tidak.
Pengalaman dan buku adalah guru. Murid yg baik adalah murid yg dapat mengambil pelajaran dari gurunya, tidak peduli siapa gurunya tsb.
---------- Post Merged at 04:35 PM ----------
Gak juga. Di KM ini banyak yg sudah menikah dan mempunyai anak bahkan sampe ngurus perusahaan yg karyawannya mungkin puluhan atau ratusan, tapi sosialisasi tetap jalan. Itu sih gimana ente pinter ngatur waktu saja.
![]()
maka itu lu baca lagi, ada tulisan gw, kalau belum punya dan blom pernah ngasuh anak apa bisa tahu?
contohnya etca udah gw tulis juga, dia blom punya anak kandung tapi udah ngurusi ponakannya yang abg, dia akan jauh lebih pengalaman dari gw.
dan gw ga percaya orang cuma ngamati tetangganya jadi bisa ngerti urusan anak.
butuh tanggung jawab yang besar buat siap memahami soal pengasuhan anak. ga cuman karena diskusi forum doang.
bedakan sama contoh lu kalau laki2 bisa ngomongin perempuan tanpa harus jadi perempuan. tanpa lu punya pasangan pun, semua orang otomatis ketemu perempuan dimana mana. ibu juga perempuan.
beda juga soal pembahasan mati. mati itu kejadian yang akan datang, kapan diomongin kapan dipersiapkan ? ya sekarang. kalau baru dibahas pas mati itu namanya ter-la-mbat
tapi, jadi ortu itu ga otomatis , ada anaknya dulu. entah itu ortu kandung atau bukan ya. yang jelas harus ada interaksi dengan anak dulu.
jadi bolehlah kalau mau ngomongin teori, tapi lagi2 cuma teori, di internet juga banyak
bedakan kalau diskusi dengan para ortu (yang ngasuh anak) yang ngerti teori dan udah praktek, jadi lebih jelas pengalamannya, bisa testimoni bener ga toeri sama prakteknya. apa kondisi x nya. strategi apa buat mengatasi problemnya.
...bersama kesusahan ada kemudahan...
“Aku Rela di Penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” ― -Mohammad Hatta
“Aku Rela di Penjara asalkan bersama akses internet, karena dengan internet aku bebas.” ― -cha_n
My Little Journey to India
Gwe beberapa kali tanya2 etca kalo nemu yg ajaib2 sama anak2, pertimbangan gwe etca pernah ngalamin ngasuh ponakannya dari ponakannya kecil, gwe lebih percaya sama yg pernah ngalamin daripada konsul sama orang yg blum pengalaman langsung
kalo teorinya startsmart ada yg salah, monggo ditunjukkan kesalahannya, bukan diserang orangnya atau kondisinya.
Sepakat dengan Aslan.
katakan tidak pada ad-hominim. :p
Lomba peluk2an di Citos: 30 November 2013
Lomba dorong2an di Candra Naya (dkt Glodok): 8 Desember 2013
^udah gwe jawab, tentang teori kalo berumah tangga dan punya anak menghambat dia untuk mencari wawasan dan pengetahuan. Menurut lo, yg udah punya anak...punya anak menghambat kekayaan berpikir lo, dalf?
Mungkin maksud Startmart dan Purba begini, "Parents might know but might not know the best".
Banyak contoh orangtua yang merasa sangat mengetahui anak nya, tiba-tiba harus bengong karena si anak tiba-tiba membangkang atau lari dari rumah atau yang paling menyedihkan akhir-akhir ini di kampung mbok, si anak ditemukan gantung diri. Mbok yakin sampai si anak itu gantung diri, orangtua nya menganggap mereka lah yang paling mengerti anak tsb. Ketika si anak gantung diri, orangtua nya shocked karena tidak pernah/tidak bisa melihat bahwa sebenarnya anak nya sedang bermasalah.
Menjadi orangtua tentunya merupakan anugrah yg luar biasa. Tapi seperti mendapatkan kenaikan pangkat jadi manager di kantor, gift tsb bisa membuat manusia lupa. Itu anakku, aku tahu karena aku orangtua nya, padahal yang paling tahu si anak ya si anak itu sendiri. Ketika si anak meninggalkan rumah, pergi sekolah misalnya, ketika itu pula orangtua tidak tahu apa yang terjadi atau dikerjakan si anak. Dari rumah buku lengkap dibawa, baju rapi disetrika, dibekalin nasehat siang malam, di sekolah si anak bolos, main ke mall, ngudud.
Apa jaminan bahwa anak dari keluarga baik-baik akan menjadi manusia yg baik-baik nantinya? Dulu mbok punya tetangga, anak dari keluarga baik-baik, cantik, terpelajar dan taat beribadah tapi belum selesai sekolah dia harus menikah karena sudah hamil. Orangtua nya kecewa banget, kurus kering memikirkan where they did it wrong.
Sebaliknya, kalau bilang "orang yg sudah mengetahui teorinya jauh lebih cepat menyelesaikan masalah ketimbang mereka yg tdk (belum) tahu teorinya...", itu juga gegabah. Mungkin banyak buku yang memuat teori tentang perkembangan anak tapi apakah buku itu juga memuat semua kemungkinan yg bisa terjadi, misalnya 'Reaksi-reaksi anak ketika dimarahi orangtua' atau 'Bagaimana memaafkan diri anda (orangtua) kalau anak anda bunuh diri'. Buku panduan yang selengkap itu bisa setebal kulkas.
kalau yang dimaksud adalah seperti mbok bilang, maka aku setuju sekali.
saya sama sekali ga pernah bilang kalau ortu adalah yang paling mengerti tentang anaknya.
yang saya pertanyakan adalah statemen orang yang sama sekali tidak pernah berinteraksi dengan anak, baik anak kandung atau anak yang diasuh kemudian berteori macam macam tentang mewariskan pemikiran pada anak keturunan.
sebagai orang tua, saya menyadari tidak akan pernah sempurna tapi tetap wajib berusaha sebaik baiknya.
teori juga dilalap, tapi yang tersulit adalah implementasinya.
tak perlu jauh jauh. mengajarkan anak hidup sederhana, mainan ga boleh beli terus, tidak boleh boros... eh pas ke rumah kakeknya bolak balik dibelikan mainan. belum lagi dibelikan coklat dan permen yang menurut kami ortunya berlebihan.kalau ngomong ke kakeknya juga ga mungkin keras, di sini kita menemukan dilemanya.
apa mungkin kondisi seperti ini dimengerti sekedar dari teori?
keteladanan ortu baru akan bisa dilaksanakan ketika ada anaknya. sama seperti ilmu ikhlas, banyak teorinya tapi semua nihil kalau tidak ada praktek nya
...bersama kesusahan ada kemudahan...
“Aku Rela di Penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” ― -Mohammad Hatta
“Aku Rela di Penjara asalkan bersama akses internet, karena dengan internet aku bebas.” ― -cha_n
My Little Journey to India
sering kali, ortu yang belajar dari anaknya. jadi tidak melulu ortu mewariskan pemikiran nya. ada kalanya anak2 lah yang menginspirasi ortunya.
...bersama kesusahan ada kemudahan...
“Aku Rela di Penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” ― -Mohammad Hatta
“Aku Rela di Penjara asalkan bersama akses internet, karena dengan internet aku bebas.” ― -cha_n
My Little Journey to India
^suka 2 postingan di atas...
Yang detail, dilema pengasuhan, praktek di lapangan itu yg sering membuat teori2 mesti dimodifikasi
ortu memang bukan dewa yg sempurna yang pasti mengantarkan anaknya sukses dalam hidup. Tapi blum jadi ortu juga ga mudah berteori A pasti jadi A ke si anak kelak.
Ketika "harus" mengasuh anak, entah anak sendiri ato anak asuh, otomatis pola berpikir dan bertindak kita harus terus up to date demi anak yang kita asuh menjadi lebih baik.
Di awal2 posting gwe bilang setuju kalo ortu adalah penyumbang utama pola pikir anak, kemudian ditunjang oleh lingkungan, keluarga, sekolah, dll. Pondasi memang dari ortu dan kemudian berkembang.
Yang gwe aneh itu kalimat "menikah dan punya anak membatasi pola pikir dan up to date wawasan" ya ampyun, jaman millenium begini, bisa mikir begitu...begitu kog ngomongin konsep, "mewariskan pola pikir kepada anak." Nah cara pandang TS aja masih seperti itu, gimana mau transfer ilmu ke anaknya kelak?
wow wow wow... keknya ada yang perlu diluruskan nih,
kalian terlalu tinggi menyanjungku
saya ngasuh ponaan kan boleh dibilang hanya temporary.
kebetulan aja pernah beberapa kali fisiknya sehari2 dekat dengan saya saat emaknya di luar kota.