Results 1 to 20 of 71

Thread: Mewariskan Pemikiran pada anak keturunan

Hybrid View

Previous Post Previous Post   Next Post Next Post
  1. #1
    seperti yg aku bilang, kalau 10 tahun lalu aku tdk kejakarta, ya anak aku udah pasti 3, tetapi ya.. pengetahuanku pasti terbatas.. karena aku tdk akan memiliki kebebasan waktu untuk mempelajari hal-hal baru, karena aku pasti secara tdk langsung mendapatkan tekanan memastiakan bahwa anak istri hidup berkecupan...

    aku melihat banyak orang seperti itu...



    orang yg sudah mengetahui teorinya jauh lebih cepat menyelsaikan maslaah ketimbang mereka yg tdk (belum) tahu teorinya...
    soal tiap kondisi memiliki permasalahan yg berbeda2... emang kambing, kagak bisa mikir gimana cara menyelesaikan masalah2 yg timbul..
    Kita tidak pernah bisa melihat masa depan, tetapi kita bisa menatanya dengan baik sesuai keinginan kita hari ini ( Fitri Purnama Sari )

  2. #2
    pelanggan tetap purba's Avatar
    Join Date
    Mar 2011
    Posts
    1,672
    Quote Originally Posted by cha_n View Post
    paling ngga yang udah punya anak ga sekadar cuap cuap di tataran teori seperti TS ini, mereka sudah lebih jauh berada di tataran praktik. lebih tahu kondisi sebenarnya di lapangan, lebih tahu gimana benturan di tataran ide ama realita, lebih tahu gimana menyiasati benturan tersebut, dan lebih sering ngikik baca postingan orang2 yang berada di tataran teori.
    Gak jugalah. Selama ini orang percaya bahwa yg punya pengalaman lebih tahu atau lebih mengerti dari pada yg tidak. Padahal belum tentu. Kadang dalam suatu diskusi utk mengatasi lawan, disodorkan argumen pengalaman yg lawannya gak punya. Misalnya diskusi ttg Minang antara orang Jawa dan Padang. Ketika kepepet, orang Padang langsung bilang, "gw kan orang Padang, pasti lebih tahu ttg Minang, dibandingin lo orang Jawa". Demikian juga sebaliknya. Gak bisa kan diskusi kayak gitu?

    Meski TS belum menikah atau belum punya anak, bukan berarti dia tahu teori saja. Bisa saja dia ikut mendidik anak kakaknya misalnya karena kebetulan tinggal serumah. Atau dia mengamati tetangganya yg punya anak misalnya, dst. Jadi setidaknya dia tahu juga prakteknya, meski tidak langsung.

    Juga yg punya pengalaman langsung mendidik anak belum tentu bisa mengambil pelajaran dari pengalamannya tsb sehingga pengetahuannya ttg mendidik anak lebih baik dari pada yg tahu teorinya saja. Jadi tidak ada jaminan bahwa yg punya anak lebih tahu dibandingkan yg tidak.

    Pengalaman dan buku adalah guru. Murid yg baik adalah murid yg dapat mengambil pelajaran dari gurunya, tidak peduli siapa gurunya tsb.



    ---------- Post Merged at 04:35 PM ----------

    Quote Originally Posted by startsmart View Post
    seperti yg aku bilang, kalau 10 tahun lalu aku tdk kejakarta, ya anak aku udah pasti 3, tetapi ya.. pengetahuanku pasti terbatas.. karena aku tdk akan memiliki kebebasan waktu untuk mempelajari hal-hal baru, karena aku pasti secara tdk langsung mendapatkan tekanan memastiakan bahwa anak istri hidup berkecupan...
    Gak juga. Di KM ini banyak yg sudah menikah dan mempunyai anak bahkan sampe ngurus perusahaan yg karyawannya mungkin puluhan atau ratusan, tapi sosialisasi tetap jalan. Itu sih gimana ente pinter ngatur waktu saja.


Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •