Page 1 of 3 123 LastLast
Results 1 to 20 of 42

Thread: Kerusuhan Lampung Selatan

Hybrid View

Previous Post Previous Post   Next Post Next Post
  1. #1
    pelanggan setia opi77's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    3,601

    Kerusuhan Lampung Selatan

    Soal kerusuhan di Lammpung selatan emank sich beritanya udah lumayan lama dan bisa dianggap basi....
    tapi gue bingung sejak ribut2 di koran,tv...emank tuch kerusuhan gara2 apa sich..maklum jarang nonton tv jadi gak tau tiba2 ada kerusuhan ampe Kapolda Lampung sendiri gagal jadi Kapolda Jawa Barat...katanya gara2 kerusuhan ini...
    ada yang tau infonya...kenapa sampe terjadi??...

  2. #2
    Barista AsLan's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    9,288
    wah gw malah gak tau sama sekali...

  3. #3
    pelanggan tetap jojox's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Location
    Jekardah
    Posts
    1,169
    Informasi yang masuk (tapi perlu di filter lagi) menyebutkan:

    Kesalahpahaman sepele mengenai tarif parkir antara etnis lokal dan etnis Bali. Dari individu-individu berkembang menjadi komunitas vs komunitas.
    Kemudian garis besarnya, massa lokal menyerang, membakar dan merusak ratusan rumah properti termasuk milik warga Bali.
    Polisi datang telat. Penanganan eskalasi konflik chaos, leadership memble. Beberapa jiwa harus melayang. Pati termasuk Kapolsek-Kapolda di shuffle.
    Forum perdamaian kemudian diwacanakan dan telah difasilitasi dengan Muspida (Pemda + Aparat TNI/Polri).
    Hasilnya, efek positif sikon kondusif dengan perjanjian diatas hitam putih, sejumlah tersangka diproses hukum.
    Beberapa lokal masih menghendaki pengusiran/sanksi tegas pelaku. Aslinya keadaan mulai cair, tapi msh potensi menghangat, tinggal seberapa banyak
    repetisi coverage di media massa. Harusnya highlight messagenya berisi bahwa konflik ini sudah berakhir.

    Sekali lagi, hal sepele bawa bendera SARA berbuah beberapa jiwa ter-sepele-kan.

    Budaya kerusuhan, gaduh2, senggol-bacok, tawuran, itu memang indo banget kali ya?
    Any views or opinions presented above are solely those of the author. Thus the author may disclaim accuracy on warranties and liabilities they may cause including loss of intellectual properties, economical benefit, and coordinated mental responses.

  4. #4
    pelanggan setia opi77's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    3,601
    kalo masalah soal tarif parkir...ini kaya rebutan lahan preman...
    beberapa hari yang lalu gue baca malah aparat gak setuju kalo etnis bali yang disana dugusur...gue jadi heran ini perang antar etnis atau gimana??...baru tau gue banyak juga orang bali yang tinggal di lampung..hehehehe..bukan bermaksud SARA yah...

  5. #5
    Baru nyadar,
    Mesuji itu di lampung ya?

    lifestylexkompasianaxcom/catatan/2011/12/19/tidak-semua-orang-lampung-begitu-bun/
    Di kantor-kantor, sekolah-sekolah, warung kopi dan semua tempat saat ini banyak yang membicarakan kasus Mesuji. Tidak heran, karena media begitu mengekspose berita ini. Namun, yang membuat saya heran adalah tanggapan dari beberapa teman dan kerabat saat melihat kasus ini. Mereka bilang “Yaah, biasalah orang Lampung mah.”

    Waw! Memang kenapa dengan orang Lampung? Saya memang pernah mendengar kabar burung. Ya, cuma kabar burung bahwa suku Lampung memang terkenal kasar dan mudah sekali mengeluarkan goloknya jika marah. Tapi, itu kan kabar burung yang tidak bisa dipertanggungajwabkan kebenarannya. Saya mempunyai sahabat-sahabat asli suku lampung, tetapi mereka dan keluarga besarnya begitu baik.

    Dan ternyata pendapat serupa keluar dari si Bunda tercinta. Beliau dari dulu tidak akan mengizinkan buah hatinya menikah dengan warga suku Lampung asli. Orang Lampung kasar-kasar katanya. Haduuuh, plis deh bun?

  6. #6
    pelanggan setia porcupine's Avatar
    Join Date
    Jun 2011
    Location
    Bintan
    Posts
    4,132
    @ opi77, setau gw orang Bali yg di lampung itu karena program transmigrasi akbat efek bencana meletusnya Gunung Agung di Bali dulu.
    Mereka disebut Bali KOGA disana (korban Gunung Agung)

    Cmiiw
    ~Radio Kopimaya~

  7. #7
    Chief Cook etca's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Location
    aarde
    Posts
    11,060
    Quote Originally Posted by porcupine View Post
    @ opi77, setau gw orang Bali yg di lampung itu karena program transmigrasi akbat efek bencana meletusnya Gunung Agung di Bali dulu.
    Mereka disebut Bali KOGA disana (korban Gunung Agung)

    Cmiiw
    peristiwa meletusnya gunung Agung kapan ya?
    Mau tau berapa lamanya,
    ko belum tjadi pembauran, malah sampai gontok2an gt.

  8. #8
    pelanggan tetap Serenade's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    943
    Mungkin karena semangat kesukuan masih kuat banget.
    Apalagi kalo sdh beda agama gitu, makin susah ngebaur.

  9. #9
    Barista BundaNa's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Location
    Na...Na...Na
    Posts
    12,679
    korbannya yang meninggal 12 orang, banyak orang Balinya...turut prihatin

  10. #10
    pelanggan setia kandalf's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    6,049
    Kutipan pesan di FB dari orang Jawa:
    pengalamanku tinggal sedaerah dengan suku komering, yg asli sumsel, mereka suka iri irian sama suku pendatang, terutama jawa, namanya juga orang jawa kan perantauan ya, jadi pada rajin rajin, ulet, buka sawah dll. nah suku komering ini rata rata punyanya kebun kebun warisan: duku, kopi, karet, dll tanaman perkebunan yang kasarnya ditinggal molor aja udah menghasilkan. Mereka suka iri kenapa pembangunan irigasi teknis cuma buat orang jawa...padahal mah yg namanya irigasi di indonesia emang buat tanaman pangan (sawah, kedelai, kc tanah, dll) yg kebetulah diusahainnya ama orang jawa. Gak ada cerita karet pake dibikinin saluran irigasi.
    Status kawan FB yang orang Lampung
    Selama berabad abad Tanoh Lampung dan entitasnya mulai dari Komering hingga Semaka, mulai dari Ranau hingga Way Handak, mulai dari peradaban purba saat masih di Sekala Brak Pesagi hingga saat menyeberang ke Cikoneng Banten, semua Anak Negeri Jurai Lampung dari setiap waktu dan entitas hidup berdampingan dan harmonis dengan semua Kuakhi [Pendatang] dari luar Lampung. Terbukti sejak zaman kuno sudah ada entitas Bugis di Melinting dan Tulang Bawang, entitas Ogan dan Semendo di Sekala Brak dan Abung, juga entitas Bengkulu di Krui, demikian seterusnya hingga masa transmigrasi etnis Jawa di Lampung, juga seterusnya saat Lampung dipenunuhi entitas yang multi etnis. Hal yang membuktikan bahwa Ulun Lampung adalah suku bangsa yang terbuka dan juga terbiasa bergotong royong sebagaimana Falsafah Ulun Lampung "Nengah Nyampur" dan "Sakai Sambayan".

    Menjadi hal yang kita sayangkan bersama, saat kebersamaan dari seluruh entitas etnis Pendatang di Lampung berjalan harmonis dan berdampingan, konflik dari etnis Bali dalam beberapa puluh tahun terakhir ini terus terjadi. Upaya perdamaian yang hakiki tidak pernah bisa terlaksana, semuanya tidak terlepas dari ekslusifitas etnis Bali yang tinggal selalu berkelompok tanpa ada silaturahmi yang intens dengan Masyarakat Adat Lampung, pun kehidupan etnis Bali yang tidak pernah membaur secara Adat, Sosial dan Falsafah Holistik dengan Masyarakat Adat Lampung. Selama beberapa puluh tahun terakhir telah terjadi konflik multifaktor di Lampung dan Sumbagsel pada umumnya, lokasi kerusuhan terjadi pada daerah daerah yang juga didiami etnis Bali seperti di Lampung Timur, Lampung Tengah, Lampung Selatan, Way Kanan Tulang Bawang dan Ogan Komering Ulu di Sumatera Selatan, hanya Krui di Lampung Barat wilayah yang juga didiami etnis Bali yang bisa hidup berdampingan dengan Masyarakat Adat setempat. Selama masa itu pulalah telah terjadi kerusuhan bahkan pembakaran pada kampung kampung Ulun Lampung diwilayah Lampung Timur, Way Kanan dan Tulang Bawang. Sehingga jelas bahwa peristiwa Lampung Selatan sepertinya adalah klimaks dari peristiwa peristiwa konflik sosial tersebut.

    Mengamati seluruh rangkaian peristiwa dan kejadian juga hal hal yang melatarbelakanginya, maka rekomendasi bagi kebijakan yang seharusnya diambil Pemerintah Lampung khususnya juga para fihak terkait Adalah:
    1. Merelokasi Etnis Bali yang bermasalah di Lampung dan Sumatera Selatan ke Pulau Bali atau transmigrasi ke Papua dan atau Kalimantan.
    2. Mengembalikan seluruh sendi sendi keLampungan dan kearifan lokal secara terintegrasi dengan mengejawantahkannya pada kehidupan sehari hari dengan perangkat Adat juga kurikulum pendidikan.
    3. Mengembalikan nama nama wilayah Lampung yang sudah berubah kembali ke nama aslinya karena berkaitan dengan sejarah dan identitas Ulun Lampung.
    4. Mereduksi potensi konflik dengan silaturahmi secara berkesinambungan secara non formal dan formal bagi semua entitas di Provinsi Lampung.

    "Betik Betik Dipa Khang Teppik, Helau Helau Pepakhda Anjau Silau"
    Lomba peluk2an di Citos: 30 November 2013
    Lomba dorong2an di Candra Naya (dkt Glodok): 8 Desember 2013

  11. #11
    Mau menyalahkan orang Bali yang tidak berasimilasi dengan Orang Lampung?

    Bagaimana dengan kasus 2010.

    Quote Originally Posted by kandalf
    29 Desember 2010 : Perang suku Jawa / Bali vs Lampung berawal dari pencurian ayam.
    news.mnctv.com/index.php?option=com_content&task=view&id=10441&It emid=6

    Aksi unjuk rasa di depan Polres Lampung Tengah, diwarnai ketegangan. Massa yang meminta warganya dibebaskan, bubar secara tiba-tiba saat kelompok warga lain mengancam.

    Unjuk rasa warga kampung Nambah Dadi, Wono Agung, di depan polres Lampung Tengah, menjadi tegang. Warga langsung berhamburan, saat sekelompok warga dari kampung Tanjung Ratu Ilir datang.

    Warga Nambah Dadi mendatangi polres Lampung Tengah, untuk memperjuangkan S-P, warga mereka yang ditahan akibat pengeroyokan terhadap W-A, tersangka pencurian motor. Namun, warga kampung Tanjung Ratu Ilir, yang merasa dirugikan tak terima begitu saja.

    Meski emosi warga dapat diredam, aksi ini sempat membuat jalan Sumatera, di depan polres Lampung Tengah, terhambat. Usai berunjuk rasa, warga kampung Nambah Dadi, tetap melakukan negosiasi dengan petugas polres Lampung Tengah. Namun, S-P, tetap ditahan karena terdapat sejumlah bukti pada kasus pengeroyokan beberapa waktu lalu.
    wewarahblog.blogspot.com/2010/12/nambahdadi-diserang-1-tewas-4-rumah.html
    Kampung Nambahdadi, Kecamatan Terbanggibesar, Lampung Tengah, diserang puluhan orang Kamis (30-12) siang. Seorang warga kampung lain yang melintas tewas dianiaya dan empat rumah dibakar.

    Sebelum menyerang kampung, puluhan orang itu sebelumnya membubarkan aksi demo 500-an warga Kampung Nambahdadi, di depan Mapolres Lampung Tengah, sekitar pukul 11.00.

    Awalnya, warga Kampung Nambahdadi berunjuk rasa menuntut Polres membebaskan Parno, warga Nambahdadi. Parno ditahan atas dugaan terlibat penganiayaan terhadap Weli Aprijal (22), warga Tanjungratu Ilir, Kecamatan Way Pengubuan, Lampung Tengah, pada 19 Desember 2010.

    Weli diduga mencuri Yamaha Mio BE-3044-HO milik Sutimin, warga Kampung Tandus, Kecamatan Bandarmataram, Lampung Tengah. Weli akhirnya tewas di Rumah Sakit Demang Sepulau Raya, Gunungsugih.

    Rombongan pengunjuk rasa dari Nambahdadi tiba di Mapolres dengan lima truk dan dua pikap sekitar pukul 11.00. Mereka diadang pasukan Dalmas dan Brimob Kompi 4 di Pos Sentra Pelayanan Kepolisian (SPK).

    Kepala Kampung Nambahdadi, Supriyanto, yang datang dengan pakaian dinas upacara mencoba menenangkan warga termasuk Anang Prihantoro, anggota DPD dan J. Natalis Sinaga, anggota DPRD Lamteng.

    Lima wakil warga—Supriyanto (kepala kampung), Suganda, Edi Suparlan, Dwi Nurcahyadi, dan Ismiyati—lalu berdialog dengan Kapolres AKBP Budi Wibowo di ruang rapat Mapolres.

    Edi Suparlan menjelaskan awalnya warga Nambahdadi berniat menolong seorang pengendara sepeda motor yang terjatuh di jalan rusak. Namun, ketika hendak ditolong, pengendara sepeda motor itu justru menodongkan pistol ke warga.

    "Kami tidak berniat menganiaya sebelum pelaku itu mengeluarkan pistol dan menodong. Memang di sana ada satu polisi, tapi tidak dapat berbuat banyak," ujarnya.

    Menanggapi itu, Kapolres menegaskan pihak kepolisian hanya menjalankan tugas. "Dalam permasalahan ini ada dua tindak pidana yang berbeda, curanmor dan penganiayaan," kata dia.

    Saat wakil warga dan Kapolres berdialog, pengunjuk rasa yang berada di tepi jalan depan Mapolres kocar-kacir karena diserbu massa bersenjata tajam.
    regional.kompasiana.com/2011/12/15/daerah-rawan-di-provinsi-lampung/
    Untuk daerah ini, penulis pernah melihat langsung di tempat kejadian ; “perang suku” antara orang-orang Jawa/Bali dengan orang Lampung di desa Nambah Dadi-Lampung Tengah. Waktu itu, tepatnya setahun yang lalu, tanggal 29 Desember 2010 pukul 3 sore . Permasalahannya pun sepele, salah satu warga dari salah satu kampung tertangkap mencuri dan diserahkan ke polisi, sehingga memancing “solidaritas” dari kampung tempat “pencuri” tersebut berasal. Untung kerusuhan ini dalam 2 hari cepat diredam oleh polisi dibantu dengan tentara.

  12. #12
    Mau menyalahkan orang Bali yang tidak berasimilasi dengan Orang Lampung?

    Bagaimana dengan kasus 2010.

    Quote Originally Posted by kandalf
    29 Desember 2010 : Perang suku Jawa / Bali vs Lampung berawal dari pencurian ayam.
    news.mnctv.com/index.php?option=com_content&task=view&id=10441&It emid=6

    Aksi unjuk rasa di depan Polres Lampung Tengah, diwarnai ketegangan. Massa yang meminta warganya dibebaskan, bubar secara tiba-tiba saat kelompok warga lain mengancam.

    Unjuk rasa warga kampung Nambah Dadi, Wono Agung, di depan polres Lampung Tengah, menjadi tegang. Warga langsung berhamburan, saat sekelompok warga dari kampung Tanjung Ratu Ilir datang.

    Warga Nambah Dadi mendatangi polres Lampung Tengah, untuk memperjuangkan S-P, warga mereka yang ditahan akibat pengeroyokan terhadap W-A, tersangka pencurian motor. Namun, warga kampung Tanjung Ratu Ilir, yang merasa dirugikan tak terima begitu saja.

    Meski emosi warga dapat diredam, aksi ini sempat membuat jalan Sumatera, di depan polres Lampung Tengah, terhambat. Usai berunjuk rasa, warga kampung Nambah Dadi, tetap melakukan negosiasi dengan petugas polres Lampung Tengah. Namun, S-P, tetap ditahan karena terdapat sejumlah bukti pada kasus pengeroyokan beberapa waktu lalu.
    wewarahblog.blogspot.com/2010/12/nambahdadi-diserang-1-tewas-4-rumah.html
    Kampung Nambahdadi, Kecamatan Terbanggibesar, Lampung Tengah, diserang puluhan orang Kamis (30-12) siang. Seorang warga kampung lain yang melintas tewas dianiaya dan empat rumah dibakar.

    Sebelum menyerang kampung, puluhan orang itu sebelumnya membubarkan aksi demo 500-an warga Kampung Nambahdadi, di depan Mapolres Lampung Tengah, sekitar pukul 11.00.

    Awalnya, warga Kampung Nambahdadi berunjuk rasa menuntut Polres membebaskan Parno, warga Nambahdadi. Parno ditahan atas dugaan terlibat penganiayaan terhadap Weli Aprijal (22), warga Tanjungratu Ilir, Kecamatan Way Pengubuan, Lampung Tengah, pada 19 Desember 2010.

    Weli diduga mencuri Yamaha Mio BE-3044-HO milik Sutimin, warga Kampung Tandus, Kecamatan Bandarmataram, Lampung Tengah. Weli akhirnya tewas di Rumah Sakit Demang Sepulau Raya, Gunungsugih.

    Rombongan pengunjuk rasa dari Nambahdadi tiba di Mapolres dengan lima truk dan dua pikap sekitar pukul 11.00. Mereka diadang pasukan Dalmas dan Brimob Kompi 4 di Pos Sentra Pelayanan Kepolisian (SPK).

    Kepala Kampung Nambahdadi, Supriyanto, yang datang dengan pakaian dinas upacara mencoba menenangkan warga termasuk Anang Prihantoro, anggota DPD dan J. Natalis Sinaga, anggota DPRD Lamteng.

    Lima wakil warga—Supriyanto (kepala kampung), Suganda, Edi Suparlan, Dwi Nurcahyadi, dan Ismiyati—lalu berdialog dengan Kapolres AKBP Budi Wibowo di ruang rapat Mapolres.

    Edi Suparlan menjelaskan awalnya warga Nambahdadi berniat menolong seorang pengendara sepeda motor yang terjatuh di jalan rusak. Namun, ketika hendak ditolong, pengendara sepeda motor itu justru menodongkan pistol ke warga.

    "Kami tidak berniat menganiaya sebelum pelaku itu mengeluarkan pistol dan menodong. Memang di sana ada satu polisi, tapi tidak dapat berbuat banyak," ujarnya.

    Menanggapi itu, Kapolres menegaskan pihak kepolisian hanya menjalankan tugas. "Dalam permasalahan ini ada dua tindak pidana yang berbeda, curanmor dan penganiayaan," kata dia.

    Saat wakil warga dan Kapolres berdialog, pengunjuk rasa yang berada di tepi jalan depan Mapolres kocar-kacir karena diserbu massa bersenjata tajam.
    regional.kompasiana.com/2011/12/15/daerah-rawan-di-provinsi-lampung/
    Untuk daerah ini, penulis pernah melihat langsung di tempat kejadian ; “perang suku” antara orang-orang Jawa/Bali dengan orang Lampung di desa Nambah Dadi-Lampung Tengah. Waktu itu, tepatnya setahun yang lalu, tanggal 29 Desember 2010 pukul 3 sore . Permasalahannya pun sepele, salah satu warga dari salah satu kampung tertangkap mencuri dan diserahkan ke polisi, sehingga memancing “solidaritas” dari kampung tempat “pencuri” tersebut berasal. Untung kerusuhan ini dalam 2 hari cepat diredam oleh polisi dibantu dengan tentara.

  13. #13
    pelanggan setia opi77's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    3,601
    Berarti dilampung sendiri udah sering terjadi kerusuhan yah...
    Emank sich waktu kasus majusi rame banget...gue gak setuju kalo orang lampung dibilank gampang marah..gue bukan belain orang la pung dan gue juga bukan dari sana...
    Susahnya orang indonesia yah itu masalah iri2an...mentalnya emank belum berunah gak bisa liat tetangga suksea dikit pasti diomongin macem2...
    Kenapa didaerah yah gak bisa berbaur...kalo dikota2 besar mereka bisa berbaur...

  14. #14
    pelanggan setia kandalf's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    6,049
    ^
    Mesuji mungkin maksudnya. ^_^
    Majusi mah nama agama Persia.

    Iya, Benar. Lampung termasuk daerah panas. Tapi Lampung bukan satu-satunya daerah panas. Masih ada Makassar, Maluku, Jawa Timur.
    Bali sendiri sebenarnya daerah panas, silakan tanyakan pada BundaNa atau Ga Genah yang tinggal di sana.


    Ini ada skrinsyut diskusi panas antara orang Lampung sendiri.
    Lomba peluk2an di Citos: 30 November 2013
    Lomba dorong2an di Candra Naya (dkt Glodok): 8 Desember 2013

  15. #15
    Barista BundaNa's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Location
    Na...Na...Na
    Posts
    12,679
    Quote Originally Posted by kandalf View Post
    ^
    Mesuji mungkin maksudnya. ^_^
    Majusi mah nama agama Persia.

    Iya, Benar. Lampung termasuk daerah panas. Tapi Lampung bukan satu-satunya daerah panas. Masih ada Makassar, Maluku, Jawa Timur.
    Bali sendiri sebenarnya daerah panas, silakan tanyakan pada BundaNa atau Ga Genah yang tinggal di sana.


    Ini ada skrinsyut diskusi panas antara orang Lampung sendiri.
    yang namanya pendatang cenderung ulet karena mereka mau gak mau harus berjuang untuk hidup mereka dan keturunan mereka yang mungkin akan menetap di daerah tersebut. Sedang penduduk asli, cenderung menyepelekan karena merasa tanah yang dia injak ini negerinya dan pendatang mereka anggap sebagai pengembara yang mesti patuh dan bayar upeti kepada penduduk asli.

    Dan konflik dimulai dari sana. Pendatang yang ogah diperas penduduk asli terus menerus dan penduduk asli yang merasa pendatang menyerobot hak hidup dan tanah miliknya.

    Pengelaman gwe di Bali suka sakit hati sama ceplosan2 orang asli Bali yang menghina para pendatang sebagai perampok padahal kebanyakan dari mereka sendiri yang malas, kalau kerja maunya enak dan gajinya besar dll....ditambah pemilik modal lebih suka ambil pekerja pendatang karena penduduk asli Bali cenderung slebor sedang pekerja pendatang mau kerja keras. Makin irilah si penduduk asli, dan pendatang diejek sebagai perampok hak kerja mereka, padahal sebagai pedatang kita pun BAYAR KE BANJAR tiap bulannya (jaman gwe berdua udah 150rebu), kenapa hak kerja para pendatang masih diungkit?

    Plus pasca Bom Bali I dan II, penduduk asli Bali makin manja dan menyalah2kan para pendatang atas segala permasalahan yang terjadi di tanah mereka.

    Sorry, saya gak mention siapa2, cuma menceritakan pengalaman gwe waktu tinggal di Bali. Meski masih banyak temen2 kerja penduduk Asli yang baik sama gwe dan menghargai pekerjaan dan pribadi gwe, gak melihat kesukuan dan agama gwe, tapi ada lah yang begitu dan yang berpikiran begitu cenderung berbakat jadi provokator.

    Well itu pengalaman gwe....entah yang kasus di Lampung Selatan. Sebagai pendatang, bagaimana pendatang Bali di sana? Mereka eksklusive? Jelas. Karena aturan hidup dari asalnya, Bali, banyak aturan adat yang njlimet, contoh sederhana, perempuan Bali yang menikah dan pindah agama pun ada tradisi upacara keluar dari adat Bali. Jadi kemungkinan ada benturan2 yang terjadi antara pendatang2 Bali (pendatang ya? padahal mereka sudah luama ya hidup di sana) dengan penduduk asli Lampung adalah masalah perbedaan konsep hidup dan adat.

    Pemerintah yang mesti menjembatani ini, harus ada rekonsiliasi....tidak selalu menyalahkan perbedaan kultur sebagai ijin atas terjadinya bentrok

  16. #16
    pelanggan tetap Serenade's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    943
    Quote Originally Posted by cha_n View Post
    suku anak dalam itu di jambi
    Quote Originally Posted by Ronggolawe View Post
    Suku anak dalam itu di Jambi, bukan Lampung.
    Ok. Thanks utk koreksinya.

  17. #17
    pelanggan setia opi77's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    3,601
    Quote Originally Posted by kandalf View Post
    ^
    Mesuji mungkin maksudnya. ^_^
    Majusi mah nama agama Persia.
    Thanks atas koreksiannya....

  18. #18
    Chief Barista cha_n's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    11,544
    masalahnya terletak dari ketidakadilan sosial nih. sangat mungkin juga ada kesenjangan ekonomi jadinya ada yang merasa disisihkan
    ...bersama kesusahan ada kemudahan...

    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” ― -Mohammad Hatta
    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama akses internet, karena dengan internet aku bebas.” ― -cha_n

    My Little Journey to India

  19. #19
    Barista AsLan's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    9,288
    masalah kesenjangan sosial mah selalu ada kapanpun dan dimanapun.

    yg penting pemerintah, hukum dan polisi berani tegas, siapapun yg melakukan tindakan melanggar hukum langsung ditindak tegas.

    sekarang ini di indonesia kan kesannya siapapun yg bertindak atas nama "massa" boleh bebas dari hukum.

  20. #20
    Chief Barista cha_n's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    11,544
    lain dong masalahnya lan

    ini kan para "penduduk asli" terpinggirkan dari orang2 pendatang
    tau2 pendatang dapat tanah, tahu2 mereka lebih secara ekonomi, mereka didukung pemerintah dst dst
    tentu ada perasan diskriminasi dari penduduk asli, ini terjadi bertaun2 tanpa dipahami sedari awal
    jadi isinya dendam aja

    kalau orang2 betawi, mereka sendiri yang emang jual tanah, lah kalau ini kan tanah ulayatnya diambil negara lalu dibagi2 ke warga laen
    ...bersama kesusahan ada kemudahan...

    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” ― -Mohammad Hatta
    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama akses internet, karena dengan internet aku bebas.” ― -cha_n

    My Little Journey to India

Page 1 of 3 123 LastLast

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •