Mau menyalahkan orang Bali yang tidak berasimilasi dengan Orang Lampung?

Bagaimana dengan kasus 2010.

Quote Originally Posted by kandalf
29 Desember 2010 : Perang suku Jawa / Bali vs Lampung berawal dari pencurian ayam.
news.mnctv.com/index.php?option=com_content&task=view&id=10441&It emid=6

Aksi unjuk rasa di depan Polres Lampung Tengah, diwarnai ketegangan. Massa yang meminta warganya dibebaskan, bubar secara tiba-tiba saat kelompok warga lain mengancam.

Unjuk rasa warga kampung Nambah Dadi, Wono Agung, di depan polres Lampung Tengah, menjadi tegang. Warga langsung berhamburan, saat sekelompok warga dari kampung Tanjung Ratu Ilir datang.

Warga Nambah Dadi mendatangi polres Lampung Tengah, untuk memperjuangkan S-P, warga mereka yang ditahan akibat pengeroyokan terhadap W-A, tersangka pencurian motor. Namun, warga kampung Tanjung Ratu Ilir, yang merasa dirugikan tak terima begitu saja.

Meski emosi warga dapat diredam, aksi ini sempat membuat jalan Sumatera, di depan polres Lampung Tengah, terhambat. Usai berunjuk rasa, warga kampung Nambah Dadi, tetap melakukan negosiasi dengan petugas polres Lampung Tengah. Namun, S-P, tetap ditahan karena terdapat sejumlah bukti pada kasus pengeroyokan beberapa waktu lalu.
wewarahblog.blogspot.com/2010/12/nambahdadi-diserang-1-tewas-4-rumah.html
Kampung Nambahdadi, Kecamatan Terbanggibesar, Lampung Tengah, diserang puluhan orang Kamis (30-12) siang. Seorang warga kampung lain yang melintas tewas dianiaya dan empat rumah dibakar.

Sebelum menyerang kampung, puluhan orang itu sebelumnya membubarkan aksi demo 500-an warga Kampung Nambahdadi, di depan Mapolres Lampung Tengah, sekitar pukul 11.00.

Awalnya, warga Kampung Nambahdadi berunjuk rasa menuntut Polres membebaskan Parno, warga Nambahdadi. Parno ditahan atas dugaan terlibat penganiayaan terhadap Weli Aprijal (22), warga Tanjungratu Ilir, Kecamatan Way Pengubuan, Lampung Tengah, pada 19 Desember 2010.

Weli diduga mencuri Yamaha Mio BE-3044-HO milik Sutimin, warga Kampung Tandus, Kecamatan Bandarmataram, Lampung Tengah. Weli akhirnya tewas di Rumah Sakit Demang Sepulau Raya, Gunungsugih.

Rombongan pengunjuk rasa dari Nambahdadi tiba di Mapolres dengan lima truk dan dua pikap sekitar pukul 11.00. Mereka diadang pasukan Dalmas dan Brimob Kompi 4 di Pos Sentra Pelayanan Kepolisian (SPK).

Kepala Kampung Nambahdadi, Supriyanto, yang datang dengan pakaian dinas upacara mencoba menenangkan warga termasuk Anang Prihantoro, anggota DPD dan J. Natalis Sinaga, anggota DPRD Lamteng.

Lima wakil warga—Supriyanto (kepala kampung), Suganda, Edi Suparlan, Dwi Nurcahyadi, dan Ismiyati—lalu berdialog dengan Kapolres AKBP Budi Wibowo di ruang rapat Mapolres.

Edi Suparlan menjelaskan awalnya warga Nambahdadi berniat menolong seorang pengendara sepeda motor yang terjatuh di jalan rusak. Namun, ketika hendak ditolong, pengendara sepeda motor itu justru menodongkan pistol ke warga.

"Kami tidak berniat menganiaya sebelum pelaku itu mengeluarkan pistol dan menodong. Memang di sana ada satu polisi, tapi tidak dapat berbuat banyak," ujarnya.

Menanggapi itu, Kapolres menegaskan pihak kepolisian hanya menjalankan tugas. "Dalam permasalahan ini ada dua tindak pidana yang berbeda, curanmor dan penganiayaan," kata dia.

Saat wakil warga dan Kapolres berdialog, pengunjuk rasa yang berada di tepi jalan depan Mapolres kocar-kacir karena diserbu massa bersenjata tajam.
regional.kompasiana.com/2011/12/15/daerah-rawan-di-provinsi-lampung/
Untuk daerah ini, penulis pernah melihat langsung di tempat kejadian ; “perang suku” antara orang-orang Jawa/Bali dengan orang Lampung di desa Nambah Dadi-Lampung Tengah. Waktu itu, tepatnya setahun yang lalu, tanggal 29 Desember 2010 pukul 3 sore . Permasalahannya pun sepele, salah satu warga dari salah satu kampung tertangkap mencuri dan diserahkan ke polisi, sehingga memancing “solidaritas” dari kampung tempat “pencuri” tersebut berasal. Untung kerusuhan ini dalam 2 hari cepat diredam oleh polisi dibantu dengan tentara.