yup, ini menyangkut etika bisnis.
namun, namanya etika, dia sangat absurd ya, tidak ada batasan yang jelas.
satu tempat ke tempat lain, bisa jadi standarnya beda.

dan kalau kita telaah lagi, cerita diatas penuh dengan kata2 yang sifatnya kualitatif, tidak terukur. semacam : hidup sulit (sesulit apa?) gaji kecil (sekecil apa?) harga murah (semurah apa) dll.
bisa saja kalau menurut si "eric" ini kecil, tapi bagi orang lain besar, batasannya apa?

setahu saya untuk menghindari subjektifitas memang perlu aturan yang jelas dari pemerintah, semisal UMR itu gimana, trus soal imigran, aturannya diperjelas, kalau memang ilegal, dan mempekerjakan imigran gelap itu bisa menyalahi hukum, artinya si pemilik kafe harus berurusan dengan hukum, jadi kita ga bingung lagi soal apakah bisnis ini layak atau tidak layak

maka itu aku bilang di awal, jadi inget bisnis yang dikelola startmart, dia udah ngerasa baik, ngerasa hebat, ngerasa gaji orang2 pantas, ngerasa pegawainya malas, merasa jam kerja pegwai wajar blablabla, semua itu ga terukur banget.
lebih enak tarik aja aturan dari pemerintah, supaya ga ada lagi subjektifitas, UMR berapa? kerja 10 jam/hari bahkan lebih tanpa lembur apa pantas?
gimana soal pesangon? dikash ga? THR? perhitungan lembur? dst yag jelas tertulis dan seharusnya ditaati oleh pelaku bisnis yang benar.