Quote Originally Posted by cha_n View Post
kalau masih salah2 yang keterlaluan, artinya masih ada SOP yang kurang pas.
tapi lagi2 kubilang sih salah itu wajar, selama bukan sengaja.
minimalisir dengan SOP yang jelas.
misal salah cetak karena ketidaktelitian.
buat SOP untuk menghindariya, misal sebelum naik cetak harus ada paraf customer di setiap halaman contoh cetakan yang akan naik plus paraf atasan tertinggi yang diberi wewenang hari itu.
semacam itulah (ga harus persis, ini contoh doang. tiap bisnis beda2 kondisinya beda SOP yang cocok)

dari pada nunjuk orang lain, coba tunjuk diri sendiri dulu. salahku apa sebagai bos, kok anak buah bisa salah mulu?
kurang sabar mendidik? SOP kurang jelas atau tidak sesuai? force majuer? faktor kesengajaan? dst. nah atasi sesuai masalahnya.

kalau emang orangnya ga niat kerja, tanya aja. kasih masa percobaan. kalau emang masih ga jelas pecat. tapi dia dipecat juga ga sakit hati. dia tahu dia salah dan layak dipecat
salah aku cuma satu, cara negur aku aja yg tdk santun, itu aja kok... salah mereka ya hanya 2, selalu melakukan kesalahan yg sama, dan ada menolak perintahku.. sebenarnya yg aku sesali keluar hanya 1 orang aja kok... yg lainnya tdk aku sesali..

---------- Post Merged at 10:57 PM ----------

Quote Originally Posted by cha_n View Post
soal pembagian, kalau emang sudah puas ya sudah. artinya ga ada urusan kamu mau kasih insentif ke karyawan. dan ga perlu pula mengungkit itu sebagai sebuah kebaikan. toh dengan itu yang dapat untung juga kamu karena bakal dapat tambahan kalau proyek cepat kelar atau proyek bertambah.
hal2 kayak gini (merasa baik, merasa berjasa, merasa udah kasih tambahan) adalah hal gak jelas dalam bisnis.
harusnya bikin SOP. Pada saat gimana karyawan dapat insentif , pas saat gimana dia bisa kena potongan gaji. saat gimana dia dipecat dst.

jadi ga perlu sok ngerasa baik, ini bisnis bukan kerja sosial. cari kondisi yang bikin sama2 untung
lah, siapa yg ngungkit kebaikan, aku cuma kasih tahu, sebagai pimpinan, aku sudah bersikap cukup baik soal pemberian bonus, intensif itu kan bonus... aku berikan ketika aku merasa puas dengan hasil kerja mereka.. masa itu bukan dibilang kebaikan.. kalau usaha ini milikku, udah pasti lebih besar lagi aku kasih..

emang kamu bisnis hanya kasih bonus ke karyawaran cuma waktu THR aja? kalau dapat job yg untungnya besar, di makan sendiri gitu?karyawan cukup dengan upah yg ada ?

aku emang baik kok, mereka mengakui itu, cuma emang nyebelin kalau soal kerja.. aku tdk bisa gitu bisnis adalah bisnis, bukan sosial, kerbau aja sama para petani di kasih bonus di mandiin dan dipijati.. masa manusia cuma diberi bonus ramah dan sabar doang, emang perut bisa kenyang apa kalau bos cuma kasih bonus begitu.. gue tdk bisa begitu... bagi sebagian orang, bisnis adalah mencari keuntungan yg sebesar2nya dengan modal sekecil-kecilnya. Tapi itu tdk denganku.. karena aku merasakan bagaimana rasanya jadi karyawan kecil, buatku Bisnis adalah manajemen berbagi keuntungan. Kalau Bos kaya, maka karyawan harus sejahtera.. bukan bos kaya, karyawan makan nasi garem.. dilarang sakit, tdk boleh kawin... banyak tuh bos2 seperti itu aku temui terutama untuk usaha2 kasar seperti itu...