Semua hal selalu berawal dari kepercayaan.

Contoh:

Premis 1: Semua manusia pasti akan mati
Premis 2: Silvercheeks itu manusia
Konklusi : Silvercheeks pasti akan mati

Silogisme diatas baru bisa berlaku kalau ada "Kepercayaan"
Orang harus -percaya- bahwa Premis 1 dan Premis 2 itu benar, meskipun tidak ada buktinya.

Hal ini juga berlaku dalam science, misalnya:

Teknik Radiometrik dating digunakan untuk mengukur usia fossil.
Scienctist tidak pernah tahu berapa jumlah daughter isotop mula2 yg ada pada saat fossil terbentuk, Scientist juga tidak pernah tahu gejala2 alam yg terjadi dimasa lalu yg mungkin mempengaruhi jumlah radio isotop pada fossil.

Dengan begitu banyak data cruisial yg tidak diketahui, mengapa ilmuwan bisa mengambil kesimpulan bahwa fosil2 berusia jutaan tahun ?

Caranya adalah dengan membuat asumsi2 untuk mengganti data2 yg mereka tidak tahu tersebut.

Asumsi itu dibuat atas dasar -kepercayaan- terhadap Teori Evolusi yg mengatakan bahwa Fosil2 itu usianya jutaan tahun.
Kalau ternyata teori Evolusi salah maka Radio dating juga salah.

Jadi Radio Dating tidak bisa digunakan untuk membuktikan Teori Evolusi, sebaliknya teknik radio dating dibuat atas dasar teori evolusi.

Teori Evolusi dibangun atas dasar kepercayaan bahwa segala sesuatu terjadi secara random tanpa adanya perancang cerdas.
Teori Intelegent Design dibangun atas dasar kepercayaan bahwa segala sesuatu dirancang oleh sang perancang cerdas.

Pengetahuan dibangun atas dasar kepercayaan2, cuma ada orang yg mau mengakuinya ada yg tidak mau mengakuinya.