Asyik nih...
Tapi kita bicara di ranah teori dulu ya... masalah apa yang sesungguhnya terjadi di Sampang biarlah kita tunggu penyelidikan lebih dalam.
@Eyang Purba,
konsep surga neraka sebenarnya hanyalah penggambaran dari konsep universal reward and punishment, carrot and stick. Kita melakukan ini dalam semua pola ajar, baik kepada orang kecil maupun ke orang dewasa, hanya caranya memang berbeda-beda.
Namun satu hal yang perlu kita pahami, bahwa ini adalah metoda dasar yang kemudian harus ditinggalkan. Kenapa? Karena sebagai metoda yang mengandalkan konsekuensi eksternal (hadiah dan hukuman) keefektifannya hanya berlaku di awal-awal. Jadi jika pada awalnya kita berharap bisa merubah perilaku seseorang dengan sistem reward and punishment, pada saat perilaku tersebut sudah ter-internalisasi pada diri si orang, maka dia akan memiliki sistem reward and punishment internal. Dia terus menerus melakukan perilaku baru tersebut karena dia suka melakukannya, dan menolak meninggalkannya karena dia akan mengalami perasaan tidak enak (internal) bila meninggalkannya.
Beberapa penelitian yang saya baca (sayang tidak bisa saya kutip jurnalnya karena lupa nyelip di rak buku yang mana) menunjukkan bahwa seseorang yang telah mencapai tahap internal reward seperti ini justru cenderung mengabaikan external reward, dan perasaan kenikmatan/kepuasan dari perilakunya justru berkurang ketika dia masih diberi external reward.
Dalam terminologi agama, kondisi ini digambarkan dengan konsep ketika seseorang sudah merasa bahwa surga neraka tidak lagi relevan dalam kehidupannya, satu-satunya yang relevan adalah kecintaannya terhadap Tuhan. Ini penggambaran seseorang yang sudah dewasa secara agama dan tidak lagi membutuhkan hadiah/hukuman eksternal sebagai penjaga perilakunya.
Sekarang kalau kita hubungkan dengan perilaku bantai membantai...
Saya tetap menduga bahwa ini datang dari pribadi yang insecure, baik karena kekurangan ekonomi, pendidikan, atau trauma-trauma psikis lainnya. Sayangnya, alih-alih menyembuhkan luka-luka ini (yang seharusnya merupakan peran agama), pendidikan agama ada yang justru mengipas-ngipasinya. Para guru agama bolak-balik menghembuskan sikap fanatik golongan yang menyebabkan seseorang merasa lebih baik secara semu karena merasa dia berada di jalan yang benar meskipun miskin, bodoh, dan cacat (pernah dengar istilah agama adalah 'candu'?)
Mengapa para guru agama melakukan hal seperti itu? Karena mereka dulu juga belajarnya seperti itu. Dalam kasus Islam, ini adalah fenomena yang sudah berjalan ratusan tahun. Ketika Islam bukan agama yang mendominasi percaturan dunia, ketika ilmu pengetahuan bukan datang dari kalangan ilmuwan muslim lagi, ketika dunia barat yang dianggap penuh kekafiran justru adalah dunia yang lebih maju, maka banyak guru-guru penderita inferiority complex yang butuh pembenaran atas ke-Islam-an mereka dan akhirnya membangun komunitas fanatik sempit yang membenci apapun yang bukan 'mereka'.
Jadi kalau kita simpulkan lagi surga neraka dan perilaku pembantaian, sesungguhnya konsep surga neraka hanyalah konsep pendidikan perilaku saja, sama seperti konsep eternal carrot (wortel yang digantung di depan keledai supaya dia mau jalan, tapi wortelnya ikut jalan seiring dengan langkah si keledai). Tidak ada konsep pendidikan perilaku yang bisa lepas dari awalan ini, reward and punishment. Seorang atheis sekalipun akan menggunakan konsep yang sama.
Cuma adalah salah kalau konsep ini terus menerus diterapkan tanpa ada internalisasi. Hal ini sama saja seperti menyuruh anak untuk tidak pernah dewasa dan berpikir sendiri.
Jadi apakah surga neraka merupakan pemicu proses pembantaian, atau kekerasan lainnya? Tidak. Surga neraka harus disalahgunakan dan dipertemukan dulu dengan insecurity, baru dia bermuara pada kekerasan.
Coba ancamkan neraka pada orang semacam Oom Sedge, paling dia akan tanya: "boleh bawa barbeque gak?"![]()
![kopimaya [dot] kom - Secangkir Kehangatan di Dunia Maya - Powered by vBulletin](images/misc/vbulletin4_logo.png)




) menunjukkan bahwa seseorang yang telah mencapai tahap internal reward seperti ini justru cenderung mengabaikan external reward, dan perasaan kenikmatan/kepuasan dari perilakunya justru berkurang ketika dia masih diberi external reward.
Reply With Quote