Ceritanya jadi tidak jauh-jauh dari Penolakan dan Pendambaan, Pengingkaran dan Pengharapan. Yang sudah jenuh dengan cerita chick-flik, sebaiknya dihindari saja. Terlalu banyak setting dan plot-line yang muncul secara ajaib dan mendadak. Time-linenya juga tidak jelas. Ada adegan yang terasa berhari-hari dan berbulan-bulan, lalu semena-mena beberapa minggu diskip begitu saja. Langsung loncat ke kegugupan Ana menghadapi malam BDSM nanti. Jeda antar malam hanya sekilas-sekilas, padahal akan jauh lebih menarik jika eksplorasinya difokuskan di sana. Makanya w baca buku ini skip-skip saja.
Seperti yang w sebutkan, di buku-buku semacam Bel Ami (dimana sang gigolo harus jatuh bangun dari satu ranjang ke ranjang lainnya), Madame Bovary (perempuan yang melacurkan diri dan diasingkan masyarakatnya), fokusnya bukan pada adegan ranjangnya. Tapi pada adegan-adegan diantara satu ranjang ke ranjang lainnya. Tapi ya memang, buku 50 Shades bukan buku serius apalagi mau disebut sastra
w merasa buku ini ditulis serampangan sekeinget si penulis saja saat dia sedang melamun dan mengkhayal.
![]()
![kopimaya [dot] kom - Secangkir Kehangatan di Dunia Maya - Powered by vBulletin](images/misc/vbulletin4_logo.png)






Reply With Quote