Perhatiin donk apa yg menjadi fokusnya. Di sini ada ajaran dan ada peyakin ajaran. Itu dua hal yg berbeda. Ane bilang tulisan pasing di atas karena pasing melihat peyakin ajaran. Sedangkan ane fokus ke ajarannya sendiri. Gampangnya begini. Ajaran Islam bilang babi haram, tapi tetap aja banyak muslim yg makan babi. Muslim yg makan babi itu adalah muslim yg gak konsisten dgn ajaran yg diyakininya. Sama aja ane berpendapat secara logika monoteisme punya konsekuensi eksklusivisme, tapi kalo melihat di lapangan, gak semua penganut monoteisme konsisten dgn ajaran yg diyakininya sendiri.
Maksudnya anomali? Kalo anomali, ya gak berarti sendiri, bisa juga banyak, tetapi minoritas.Lagipula, Gus Dur gak sendiri.
Semua kejawen seperti itu. Kejawen di sini baik Kejawen sebagai 'agama' maupun Kejawen sebagai tradisi yang bercampur dengan agama lain yang dia peluk (bisa Islam, Katolik, Buddha, atau Hindu). (Etca silakan koreksi gue..).
Bisa saja monolatri akhirnya menjadi monoteisme eksklusif. Monolatri sendiri sudah eksklusif. Meski mengakui banyak tuhan, tetapi hanya satu tuhan yg benar. Jika kemudian meniadakan tuhan2 yg lain, maka menjadi monoteisme eksklusif. Monoteisme inklusif lebih mirip politeisme atau henoteisme dan bisa saja berawal dari monisme.Monoteisme Yahudi kalau gak salah berawal dari Monolatri dulu, kan? Mungkin gak, Monoteisme eksklusif, berawal dari monolatri, sementara Monoteisme inklusif berawal dari monisme?
Sebenarnya yg ane pengen tuju adalah adakah korelasi antara terciptanya isme2 tsb dengan cara hidup manusia2 yg menciptakan isme2 tsb. Misalnya bangsa nomaden lebih cenderung monoteistik, sedangkan bangsa agraris lebih cenderung politeistik.
![]()
![kopimaya [dot] kom - Secangkir Kehangatan di Dunia Maya - Powered by vBulletin](images/misc/vbulletin4_logo.png)





).
Reply With Quote