Quote Originally Posted by purba View Post
Kayaknya ente sedang memperhatikan individunya. Memang bisa saja individu yg mengaku monoteis, tetapi bersikap inklusif. Itu ane lihat sbg anomali karena jumlahnya dikit. Misalnya Gus Dur. Dia muslim alias monoteis, tetapi sikapnya inklusif. Yg jadi fokus ane adalah konsekuensi logis dari suatu ajaran, dlm hal ini, monoteisme. Ajaran ini punya konsekuensi logis berupa eksklusivisme.
Kalau ente mengatakan eksklusif adalah hasil konsekuensi logis monotheisme tetapi ente mengakui pengecualian berarti ente sudah menyanggah pendapat ente sendiri dong..

Lagipula, Gus Dur gak sendiri.
Semua kejawen seperti itu. Kejawen di sini baik Kejawen sebagai 'agama' maupun Kejawen sebagai tradisi yang bercampur dengan agama lain yang dia peluk (bisa Islam, Katolik, Buddha, atau Hindu). (Etca silakan koreksi gue.. ).


Monoteisme Yahudi kalau gak salah berawal dari Monolatri dulu, kan? Mungkin gak, Monoteisme eksklusif, berawal dari monolatri, sementara Monoteisme inklusif berawal dari monisme?