Kayaknya ente sedang memperhatikan individunya. Memang bisa saja individu yg mengaku monoteis, tetapi bersikap inklusif. Itu ane lihat sbg anomali karena jumlahnya dikit. Misalnya Gus Dur. Dia muslim alias monoteis, tetapi sikapnya inklusif. Yg jadi fokus ane adalah konsekuensi logis dari suatu ajaran, dlm hal ini, monoteisme. Ajaran ini punya konsekuensi logis berupa eksklusivisme.
Gak selalu begitu, sing. Ahmadiyah jelas komunitas kecil dan lemah, tetapi mereka ekspansif. Mereka mempunyai doktrin utk menyebarkan kebenaran. Nah ini yg meletupkan potensi menjadi konflik terbuka. Yahudi kuat dan besar, tetapi secara ideologis tidak ekspansif.Ekspansionisme
Klo sudah membentuk kelompok/komunitas, kemudian merasa kuat, tentu ada potensi alias
"kecenderungan" melakukan abuse of power thd kelompok lain dlm hal saling memperluas
pengaruhnya, entah itu dng motif ideologi atau ekonomi. Itulah watak asli homo sapien pur![]()
Memang akar konflik tidak melulu ideologis. Tetapi ideologi2 tertentu memiliki potensi besar utk menghasilkan konflik. Ane melihat monoteisme punya potensi besar menghasilkan konflik ideologis.Klo diletakkan pada bingkai yng lebih luas (baca konflik peradaban)
akar konflik tdk semata-semata masalah ideologi, justru masalah ekonomi yng dominan
ingat sejarah peradaban, teori kepentingan (baca kolonialisme) misalnya.
Sektarian memang bisa terjadi di induk ideologi apa saja. Ini karena cara pandang. Tetapi sekte yg monoteistis cenderung eksklusif dibandingkan sekte yg politeistis.Sektarian
Ini juga diidap oleh semua ideologi/keyakinan
jadi bukan monopoli ideologi yng diberi cap sbg "agama"
paham atheis & agnostic misalnya, faktanya tidak hanya satu macam
spectrum jg (baca corak pemahaman), dng sendirinya itu juga
menegaskan adanya pengelompokan (sekte).
..... tambah lagi kopinya pur![]()
...sruput dulu kopinya sing...![]()
![kopimaya [dot] kom - Secangkir Kehangatan di Dunia Maya - Powered by vBulletin](images/misc/vbulletin4_logo.png)




Reply With Quote