Page 1 of 3 123 LastLast
Results 1 to 20 of 52

Thread: Monoteisme dan Sikap Eksklusif

Hybrid View

Previous Post Previous Post   Next Post Next Post
  1. #1
    pelanggan tetap purba's Avatar
    Join Date
    Mar 2011
    Posts
    1,672

    Monoteisme dan Sikap Eksklusif

    Sikap eksklusif adalah konsekuensi logis dari monoteisme. Monoteisme menyembah tuhan yang tunggal. Itu berarti hanya ada satu sumber kebenaran bagi monoteisme, yaitu tuhan yang tunggal itu sendiri yang dijadikan sesembahannya. Jika dihadapkan pada kenyataan adanya banyak keyakinan, maka monoteisme akan memandang rendah segala keyakinan yang ada di luarnya. Itu berarti menimbulkan potensi konflik yg bersifat ideologis. Mungkin ini yang bisa menjelaskan konflik2 ideologis dalam rumpun keyakinan monoteisme semit.

    Eksklusivitas monoteisme akan hanya menjadi potensi konflik selamanya (tidak termanifestasi) jika tidak ditambahkan doktrin menyebarkan kebenaran. Tapi pada kenyataannya doktrin menyebarkan kebenaran pun diajarkan oleh sebagian monoteisme semit. Doktrin tersebut yang menyebabkan potensi muncul menjadi konflik nyata.

    Untuk menguatkan argumen2 di atas, ane ambil kasus Ahmadiyah vs Islam mainstream di Indonesia. Dua kelompok tsb (Ahmadiyah dan Islam mainstream) adalah penganut monoteisme dan dengan begitu mereka eksklusif, artinya merekalah masing2 yg paling benar. Kemudian masing2 pun mempunyai doktrin semacam amar ma'ruf nahi munkar. Utk merealisasikan doktrin tsb, mereka perlu kontak dengan kelompok di luar mereka yg perlu diberikan pencerahan ttg kebenaran. Tetapi yg satu tidak terima pencerahan dari yg lain. Pencerahan dari yg satu dilihat sebagai penyesatan oleh yg lain. Di situlah awal mulanya konflik monoteisme.

    Dalam skala yg lebih besar adalah konflik antara Yahudi, Kristen, dan Islam. Mungkin hanya Yahudi yg tidak mengajarkan penyebaran kebenaran pada kelompok lain di luarnya mengingat mereka punya doktrin sbg bangsa pilihan tuhan yg cenderung eksklusif nonekspansif. Sementara Kristen dan Islam memiliki doktrin utk menyebarkan kebenaran dan itu yg menjadi akar konflik yg sempat membesar seperti Perang Salib. Sementara konflik Yahudi-Islam di Palestina berakar dari keangkuhan sbg bangsa pilihan tuhan (Yahudi) dan pemimpin di muka bumi (Islam).


  2. #2
    Doktrin eksklusif
    Monoteisme memandang rendah keyakinan yng ada diluarnya (sindrom superioritas?)
    (self proclaim of truth?), gw rasa hal spt itu bkn monopoli kalangan monoteis aja deh pur?
    misal, Hindu & Buddha (dapatkah dijadikan sampling non-monoteis?,CMIW) ini juga melakukan
    self proclaim, dan dlm batas2 tertentu juga melakukan eksklusivitas. Pada dasarnya semua
    ideologi memliki ciri doktrin/ajaran bersifat umum dan khusus (baca universal & special)

    Ekspansionisme
    Klo sudah membentuk kelompok/komunitas, kemudian merasa kuat, tentu ada potensi alias
    "kecenderungan" melakukan abuse of power thd kelompok lain dlm hal saling memperluas
    pengaruhnya, entah itu dng motif ideologi atau ekonomi. Itulah watak asli homo sapien pur

    Klo diletakkan pada bingkai yng lebih luas (baca konflik peradaban)
    akar konflik tdk semata-semata masalah ideologi, justru masalah ekonomi yng dominan
    ingat sejarah peradaban, teori kepentingan (baca kolonialisme) misalnya.

    Sektarian
    Ini juga diidap oleh semua ideologi/keyakinan
    jadi bukan monopoli ideologi yng diberi cap sbg "agama"
    paham atheis & agnostic misalnya, faktanya tidak hanya satu macam
    spectrum jg (baca corak pemahaman), dng sendirinya itu juga
    menegaskan adanya pengelompokan (sekte).

    ..... tambah lagi kopinya pur
    Last edited by pasingsingan; 20-03-2011 at 12:17 PM.
    mbregegeg ugeg-ugeg hemel-hemel sak dulito

  3. #3
    pelanggan tetap purba's Avatar
    Join Date
    Mar 2011
    Posts
    1,672
    Quote Originally Posted by pasingsingan View Post
    Doktrin eksklusif
    Monoteisme memandang rendah keyakinan yng ada diluarnya (sindrom superioritas?)
    (self proclaim of truth?), gw rasa hal spt itu bkn monopoli kalangan monoteis aja deh pur?
    misal, Hindu & Buddha (dapatkah dijadikan sampling non-monoteis?,CMIW) ini juga melakukan
    self proclaim, dan dlm batas2 tertentu juga melakukan eksklusivitas. Pada dasarnya semua
    ideologi memliki ciri doktrin/ajaran bersifat umum dan khusus (baca universal & special)
    Kayaknya ente sedang memperhatikan individunya. Memang bisa saja individu yg mengaku monoteis, tetapi bersikap inklusif. Itu ane lihat sbg anomali karena jumlahnya dikit. Misalnya Gus Dur. Dia muslim alias monoteis, tetapi sikapnya inklusif. Yg jadi fokus ane adalah konsekuensi logis dari suatu ajaran, dlm hal ini, monoteisme. Ajaran ini punya konsekuensi logis berupa eksklusivisme.

    Ekspansionisme
    Klo sudah membentuk kelompok/komunitas, kemudian merasa kuat, tentu ada potensi alias
    "kecenderungan" melakukan abuse of power thd kelompok lain dlm hal saling memperluas
    pengaruhnya, entah itu dng motif ideologi atau ekonomi. Itulah watak asli homo sapien pur
    Gak selalu begitu, sing. Ahmadiyah jelas komunitas kecil dan lemah, tetapi mereka ekspansif. Mereka mempunyai doktrin utk menyebarkan kebenaran. Nah ini yg meletupkan potensi menjadi konflik terbuka. Yahudi kuat dan besar, tetapi secara ideologis tidak ekspansif.

    Klo diletakkan pada bingkai yng lebih luas (baca konflik peradaban)
    akar konflik tdk semata-semata masalah ideologi, justru masalah ekonomi yng dominan
    ingat sejarah peradaban, teori kepentingan (baca kolonialisme) misalnya.
    Memang akar konflik tidak melulu ideologis. Tetapi ideologi2 tertentu memiliki potensi besar utk menghasilkan konflik. Ane melihat monoteisme punya potensi besar menghasilkan konflik ideologis.

    Sektarian
    Ini juga diidap oleh semua ideologi/keyakinan
    jadi bukan monopoli ideologi yng diberi cap sbg "agama"
    paham atheis & agnostic misalnya, faktanya tidak hanya satu macam
    spectrum jg (baca corak pemahaman), dng sendirinya itu juga
    menegaskan adanya pengelompokan (sekte).

    ..... tambah lagi kopinya pur
    Sektarian memang bisa terjadi di induk ideologi apa saja. Ini karena cara pandang. Tetapi sekte yg monoteistis cenderung eksklusif dibandingkan sekte yg politeistis.

    ...sruput dulu kopinya sing...

  4. #4
    Quote Originally Posted by purba View Post
    Kayaknya ente sedang memperhatikan individunya. Memang bisa saja individu yg mengaku monoteis, tetapi bersikap inklusif. Itu ane lihat sbg anomali karena jumlahnya dikit. Misalnya Gus Dur. Dia muslim alias monoteis, tetapi sikapnya inklusif. Yg jadi fokus ane adalah konsekuensi logis dari suatu ajaran, dlm hal ini, monoteisme. Ajaran ini punya konsekuensi logis berupa eksklusivisme.
    Kalau ente mengatakan eksklusif adalah hasil konsekuensi logis monotheisme tetapi ente mengakui pengecualian berarti ente sudah menyanggah pendapat ente sendiri dong..

    Lagipula, Gus Dur gak sendiri.
    Semua kejawen seperti itu. Kejawen di sini baik Kejawen sebagai 'agama' maupun Kejawen sebagai tradisi yang bercampur dengan agama lain yang dia peluk (bisa Islam, Katolik, Buddha, atau Hindu). (Etca silakan koreksi gue.. ).


    Monoteisme Yahudi kalau gak salah berawal dari Monolatri dulu, kan? Mungkin gak, Monoteisme eksklusif, berawal dari monolatri, sementara Monoteisme inklusif berawal dari monisme?

  5. #5
    pelanggan tetap purba's Avatar
    Join Date
    Mar 2011
    Posts
    1,672
    Quote Originally Posted by kunderemp View Post
    Kalau ente mengatakan eksklusif adalah hasil konsekuensi logis monotheisme tetapi ente mengakui pengecualian berarti ente sudah menyanggah pendapat ente sendiri dong..
    Perhatiin donk apa yg menjadi fokusnya. Di sini ada ajaran dan ada peyakin ajaran. Itu dua hal yg berbeda. Ane bilang tulisan pasing di atas karena pasing melihat peyakin ajaran. Sedangkan ane fokus ke ajarannya sendiri. Gampangnya begini. Ajaran Islam bilang babi haram, tapi tetap aja banyak muslim yg makan babi. Muslim yg makan babi itu adalah muslim yg gak konsisten dgn ajaran yg diyakininya. Sama aja ane berpendapat secara logika monoteisme punya konsekuensi eksklusivisme, tapi kalo melihat di lapangan, gak semua penganut monoteisme konsisten dgn ajaran yg diyakininya sendiri.

    Lagipula, Gus Dur gak sendiri.
    Semua kejawen seperti itu. Kejawen di sini baik Kejawen sebagai 'agama' maupun Kejawen sebagai tradisi yang bercampur dengan agama lain yang dia peluk (bisa Islam, Katolik, Buddha, atau Hindu). (Etca silakan koreksi gue.. ).
    Maksudnya anomali? Kalo anomali, ya gak berarti sendiri, bisa juga banyak, tetapi minoritas.


    Monoteisme Yahudi kalau gak salah berawal dari Monolatri dulu, kan? Mungkin gak, Monoteisme eksklusif, berawal dari monolatri, sementara Monoteisme inklusif berawal dari monisme?
    Bisa saja monolatri akhirnya menjadi monoteisme eksklusif. Monolatri sendiri sudah eksklusif. Meski mengakui banyak tuhan, tetapi hanya satu tuhan yg benar. Jika kemudian meniadakan tuhan2 yg lain, maka menjadi monoteisme eksklusif. Monoteisme inklusif lebih mirip politeisme atau henoteisme dan bisa saja berawal dari monisme.

    Sebenarnya yg ane pengen tuju adalah adakah korelasi antara terciptanya isme2 tsb dengan cara hidup manusia2 yg menciptakan isme2 tsb. Misalnya bangsa nomaden lebih cenderung monoteistik, sedangkan bangsa agraris lebih cenderung politeistik.


  6. #6
    Dan ketika ada orang dalam (dari suatu agama) mencoba untuk inklusif maka akan dianggap telah mengobok-ngobok atau menodai ajaran agama tersebut.

  7. #7
    pelanggan tetap purba's Avatar
    Join Date
    Mar 2011
    Posts
    1,672
    Quote Originally Posted by AsLan View Post
    Politeisme = Inklusive ? masa sih ?
    bukannya Hindu itu membuat strata2 bagi manusia ?
    Inklusif yg ane maksud adalah mengakui adanya jalan keselamatan di luar keyakinannya. Misalnya ente sbg penganut Kristen juga mengakui adanya jalan keselamatan di luar percaya pada Yesus. Nah itu berarti ente bersikap inklusif.

    Dikalangan Atheis juga bisa terjadi paham superioritas misalnya Ras Unggul atau Ras yg sudah lebih maju dalam Evolusi.
    Tapi apakah paham Ras Unggul adalah konsekuensi logis dari ateisme?


  8. #8
    Yang saya tahu monotheisme bisa bersifat inklusif maupun eksklusif.

    Monoteisme Inklusif : Mempercayai satu Tuhan namun Tuhan dapat ditampilkan
    dengan nama, perwujudan, aspek, emanasi yang berbeda-beda.


    Monoteisme jenis ini dianggap kompatibel dengan polyteisme dimana Tuhan
    yang berbeda-beda adalah representasi Tuhan Yang Satu yang disembah
    secara tidak langsung.


    Monoteisme Eksklusif : Mempercayai Tuhan Yang Satu dan Tuhan Selain
    yang ada dalam agama yang bersangkutan adalah salah. Islam, Kristen
    dan Yudaisme termasuk kategori ini.
    ´There are two ways to conquer and enslave a nation. One is by the sword. The other is by debt´
    -John Adams-

  9. #9
    pelanggan tetap purba's Avatar
    Join Date
    Mar 2011
    Posts
    1,672
    Quote Originally Posted by keremus View Post
    Yang saya tahu monotheisme bisa bersifat inklusif maupun eksklusif.

    Monoteisme Inklusif : Mempercayai satu Tuhan namun Tuhan dapat ditampilkan
    dengan nama, perwujudan, aspek, emanasi yang berbeda-beda.


    Monoteisme jenis ini dianggap kompatibel dengan polyteisme dimana Tuhan
    yang berbeda-beda adalah representasi Tuhan Yang Satu yang disembah
    secara tidak langsung.
    Bisa juga begitu. Ane melihat ini sebagai monisme.


  10. #10
    Saya pernah membaca kertas ilmiah seorang akademisi
    perihal agama Shinto. Disebut, bahkan Shinto pun
    bersifat monoteistik. Cuma, saya baru membacanya
    sekilas. Kerja ilmiah itu juga membahas interaksi
    Shinto dan Kristen di Jepang.
    ´There are two ways to conquer and enslave a nation. One is by the sword. The other is by debt´
    -John Adams-

  11. #11
    Chief Cook ndableg's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    5,910
    Lagian KELOMPOK mana yg ga eksklusip?

  12. #12
    Quote Originally Posted by ndableg View Post
    Lagian KELOMPOK mana yg ga eksklusip?
    Menurut saya, secara umum, Buddha dan Hindu tak kelihatan eksklusif,
    seperti halnya Islam, Kristen dan Yudaism. Atau mungkin karena saya tidak
    begitu mendalami keduanya.


    Tesis Purba kan sekadar menggarisbawahi bahwa monoteisme eksklusif
    memiliki potensi lebih besar untuk berkonflik ketimbang yang bukan.

    Namanya potensi, praksis pada akhirnya tergantung pada individu/umat.
    ´There are two ways to conquer and enslave a nation. One is by the sword. The other is by debt´
    -John Adams-

  13. #13
    Chief Cook ndableg's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    5,910
    Quote Originally Posted by keremus View Post
    Menurut saya, secara umum, Buddha dan Hindu tak kelihatan eksklusif,
    seperti halnya Islam, Kristen dan Yudaism. Atau mungkin karena saya tidak
    begitu mendalami keduanya.
    Buddha hindhu pun kalo udah mengelompok, ya exclusip lah. Akhirnya bentuk sekte2. Coba muslim2 ato kristen2 yg tidak mengelompok dgn kelompok apa pun (inklusip), apa masih merasa eksklusip?

    Tesis Purba kan sekadar menggarisbawahi bahwa monoteisme eksklusif
    memiliki potensi lebih besar untuk berkonflik ketimbang yang bukan.

    Namanya potensi, praksis pada akhirnya tergantung pada individu/umat.
    Loh apa itu berarti pada jaman dimana mayoritas polytheis lalu ga ada konflik? Aman sentosa? Apa politeis eksklusip ga ada?
    Semua yg (ud merasa) eksklusip ya jelas menimbulkan perbedaan hak, dimana yg eksklusif (merasa) lebih tinggi.

  14. #14
    pelanggan tetap purba's Avatar
    Join Date
    Mar 2011
    Posts
    1,672
    Quote Originally Posted by ndableg View Post
    Buddha hindhu pun kalo udah mengelompok, ya exclusip lah. Akhirnya bentuk sekte2. Coba muslim2 ato kristen2 yg tidak mengelompok dgn kelompok apa pun (inklusip), apa masih merasa eksklusip?



    Loh apa itu berarti pada jaman dimana mayoritas polytheis lalu ga ada konflik? Aman sentosa? Apa politeis eksklusip ga ada?
    Semua yg (ud merasa) eksklusip ya jelas menimbulkan perbedaan hak, dimana yg eksklusif (merasa) lebih tinggi.
    Eksklusif bukan sekedar mengelompok, tetapi juga tidak mengakui kebenaran kelompok lain. Contohnya Ahmadiyah. Mereka mengelompok dan tidak mengakui kebenaran di luar kelompok mereka. Nah itu namanya eksklusif. Kalo gak salah, Vatikan telah mengeluarkan pernyataan bahwa ada juga jalan keselamatan di luar Yesus. Nah itu namanya inklusif.


  15. #15
    Quote Originally Posted by ndableg View Post
    Buddha hindhu pun kalo udah mengelompok, ya exclusip lah. Akhirnya bentuk sekte2. Coba muslim2 ato kristen2 yg tidak mengelompok dgn kelompok apa pun (inklusip), apa masih merasa eksklusip?



    Loh apa itu berarti pada jaman dimana mayoritas polytheis lalu ga ada konflik? Aman sentosa? Apa politeis eksklusip ga ada?
    Semua yg (ud merasa) eksklusip ya jelas menimbulkan perbedaan hak, dimana yg eksklusif (merasa) lebih tinggi.

    Ini bukan soal ada atau tidak ada konflik. Bukan soal salah-benar.
    Mana ada entitas di dunia ini yang bebas dari konflik ? Itulah hidup.


    Ini soal sebuah tesis perihal potensi konflik yang termuat dalam ajaran
    (dalam hal ini agama). Agama dengan doktrin eksklusif tentunya lebih
    rentan berbenturan karena terdapat negasi terhadap kelompok lain.


    Sepanjang manisfestasi negasi itu pasif --> Saya menyakini agama saya satu-
    satunya kebenaran dan mereka (kelompok lain) adalah salah
    , tidak ada masalah


    Namun jika negasi itu aktif atau agresif---> Saya meyakini agama saya satu-
    satunya kebenaran, kalian harus menerima kebenaran agama saya, saya
    berhak memerangi atau memaksa kalian masuk agama saya
    atau


    Kalian tidak boleh mengekspresikan agama atau keyakinan kalian karena itu
    dosa atau kafir
    (dan diikuti oleh aksi tentu saja), ini masalah
    ´There are two ways to conquer and enslave a nation. One is by the sword. The other is by debt´
    -John Adams-

  16. #16
    Chief Cook ndableg's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    5,910
    Quote Originally Posted by keremus View Post
    Ini soal sebuah tesis perihal potensi konflik yang termuat dalam ajaran
    (dalam hal ini agama). Agama dengan doktrin eksklusif tentunya lebih
    rentan berbenturan karena terdapat negasi terhadap kelompok lain.
    Ya ndak juga lah mas. Berbenturan itu baru ada setelah orang beragama (ato orang2 yg se ide) membentuk kelompok dengan tujuan tertentu. Dengan terbentuknya kelompok maka mereka telah meng-eksklusif-kan diri dgn membawa ideologinya.

    Bayangkan anda memiliki sebuah geng (kelompok) di sekolah, misalnya. Ga usah geng preman, misalnya sebagai kelompok sains, di mana dalam kelompok itu lah anak2 pinter yg se ide bersama2 bergaul di sekolah. Tentunya begitu anda bergabung dalam kelompok tersebut, anda menjadi eksklusif, di mana anda adalah termasuk sbg saintis kelompok sains, kelompoknya anak2 pinter. Kalo mereka rapat, anda diundang, tapi tidak dgn yg bukan anggota. Dan jelas, kalian (musti merasa) bahwa kelompok kalian lah yg terbaik, karena kalian telah berusaha menjadikannya yg terbaik. Jadi, sebuah kelompok itu eksklusip. Sikap eksklusif bukan sikap orang beragama, tapi orang yg mengelompok. Ga cuman orang beragama yg menganggap kebenaran milik kelompoknya, supporter MU pun bisa bersikap sama.

    Sikap eksklusip bukan memancing konflik, melainkan memancing persaingan di mana bisa menimbulkan konflik kalo saingannya ga sehat.
    Last edited by ndableg; 26-03-2011 at 08:05 AM.

  17. #17
    Chief Cook ndableg's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    5,910
    Ya namanya ngelompok, mana mengakui kebenaran kelompok lain? Kalo mengakui ya sudah keluar dari kelompok lah..
    Kalo akhirnya ahmadiyah mengakui kebenaran kelompok lain, ya sudah ndak kelompok ahmadiyah lah. Artinya ahmadiyah mengelompok dgn kelompok lain yg punya kebenaran sama. Terjadilah koalisi.. :lol:

  18. #18
    pelanggan setia kandalf's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    6,050
    Bleg..
    mulai dari definisinya.

    Eksklusif : hanya mengikuti ajarannya sepenuhnya paling benar
    Inklusif : Kelompok lain bisa masuk surga/ mencapai nirwana (intinya selamat lah..) walau tidak secara resmi bagian dari kelompoknya.

    Tiba-tiba jadi ingat topik di Ajangkicrot, Al-Baqarah ayat 62

  19. #19
    Chief Cook ndableg's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    5,910
    Quote Originally Posted by kandalf View Post
    Inklusif : Kelompok lain bisa masuk surga/ mencapai nirwana (intinya selamat lah..) walau tidak secara resmi bagian dari kelompoknya.
    Bukan tidak secara resmi, tapi memang tidak masuk dalam kelompok itu. Bisa pindah kelompok lain, bisa berdiri sendiri (independen) tanpa kelompok. Seperti agnostik, ga ada agnostik mengelompok.
    Nah orang2 yg mengelompok dgn ide masing2 inilah yg memang eksklusip.

  20. #20
    Chief Cook ndableg's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    5,910
    Emang apa salahnya kasih argumen defensif? Kan ceritanya menyangkal bahwa monotheis pasti exclusip dan rentan konflik. Karena memang yg membuat orang menjadi eksklusip dan berpotensi konflik bukan pahamnya, tapi perilaku mengelompok. Liat aja geng2 preman, lagi rame2 berani, reseh, pas sendirian ayem..

Page 1 of 3 123 LastLast

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •