Hihihihi... kayaknya ngerti maksudnya Eyang Purba,![]()
bukannya mau mengecilkan arti saling pinjam tempat parkir seperti ini, tapi toleransi yang sesungguhnya harusnya dibangun dari hal-hal yang rutin dan mendasar. Saya percaya bila pada saatnya Indonesia diserang oleh sebuah negara antah berantah maka seluruh elemen masyarakat akan bahu membahu berjuang, tanpa memandang SARA. Tapi contoh macam itu memang amat bombastis. Saya rasa Eyang Purba berharap contoh yang muncul adalah gereja dan mesjid saling meminjamkan sapu ketika masing-masing tempat ibadah mau bersih-bersih sebelum ritual rutin mereka. Contoh sederhana seperti ini menunjukkan sikap toleransi yang sangat berakar dan dihayati dalam kehidupan keseharian, yang justru menggambarkan toleransi yang amat kokoh dibanding kasus-kasus insidentil.
Tapi bagus juga kok foto-foto seperti ini. Saya ingat dulu di Bali kita nggak takbiran karena Iedul Fitri jatuhnya bertepatan dengan hari raya Nyepi. Bagaimanapun juga ini mengingatkan kita bahwa di wilayah masyarakat, kita adalah orang-orang yang rukun dan bertoleransi.
Entah ke mana perginya ya... dulu waktu saya kecil, ketika Pak Ustadz mau mengungkapkan suatu perbedaan, beliau selalu berujar, "tanpa mengurangi rasa hormat pada saudara-saudara kita yang beragama ... , di dalam Islam yang kami yakini adalah .... " toleransi yang sangat mendasar....
Ho oh... kenapa sih?![]()
![kopimaya [dot] kom - Secangkir Kehangatan di Dunia Maya - Powered by vBulletin](images/misc/vbulletin4_logo.png)




Reply With Quote
pun media publik yg setidaknya harus menyampaikan segala sesuatu secara seimbang dan itu sudah dilakukan oleh etca.
