Dinasti Tang adalah zaman keemasan Cina di pentas Internasional. Pada masa itu Cina adalah salah satu pusat peradaban dunia. Orang dari segala penjuru datang ke Cina. Pada masa kejayaan Dinasti Tang, ibukota Tang yaitu Chang'an merupakan kota yang dihuni oleh orang dari segala suku bangsa. Kalau mau dibandingkan dengan kosmopolitan modern mungkin mirip seperti New York sekarang ini. Dengan penduduk hampir 2 juta orang, Chang'an adalah kota terbanyak penduduknya saat itu.

Sebagai tempat bertemunya berbagai budaya maka wajar apabila budaya-budaya asing seperti Turki, Persia, Yunani, Arab, India, dsb kemudian mempengaruhi budaya lokal. Penguasa-penguasa Dinasti Tang benar-benar individu yang terbuka terhadap hal-hal yang berasal dari luar. Banyak hal yang mendorong terjadinya iklim seperti ini, antara lain latar belakang pendiri Dinasti Tang sendiri yang campuran Han dan Xianbei. Pada masa Dinasti Tang, banyak sekali terjadi perkawinan campuran antara orang Han dan orang asing. Hal ini dilindungi secara hukum. Banyak orang asing yang menetap dan menikah dengan orang setempat sehingga di Chang'an tidak sulit menjumpai anak-anak yang berdarah campuran. Wanita dari keluarga kerajaan juga banyak yang menikah dengan orang asing. Sebagai contohnya, 7 dari 19 anak perempuan Kaisar Gaozu (Li Yuan) dan 8 dari 21 anak perempuan Kaisar Taizong (Li Shimin) bersuamikan orang asing.

Percampuran budaya yang terjadi juga merambah ke banyak bidang, termasuk bidang busana wanita. Bila sebelumnya busana wanita Cina dibatasi oleh aturan Confucian yang ketat, dengan ciri formal dan tertutup, maka pada masa Dinasti Tang busana wanita tampil lebih santai, longgar, dan terbuka.

Berikut ini beberapa contoh busana yang dikenakan wanita di istana Dinasti Tang.

Spoiler for :


















Spoiler for :