I'm out. Kalo di terapkan di dunia pragmatis sekarang, filosofi wayang banyak yang bikin garuk2 kepala.
kalo di update dengan situasi-budaya termutakhir, 'modernisasi' wayang bakal bentrok dengan kepercayaan...
i.e. yang bikin gue garuk2 kepala: Bima di ending-nya akhirnya masuk neraka, alasannya: sombong. Buktinya sombong, katanya, dia nggak pernah hormat(bersimpuh) sama pembesar, dewa, orang tua(tanpa pengecualian yang kebluk kayak Sengkuni), dan kalo bicara nggak pernah di sugar-coat, salah ya salah, bener ya bener. Dan, lagi, seinget gue itu orang bukannya dengkulnya emang nggak bisa di tekuk ? WTF, MAN ?! Cacat jadi dosa ?!
Salah ya salah aja, nggak peduli orang lebih tua atau pejabat.
Belom lagi kasus Arjuna dan Ekalaya. Dan setelah itu Arjuna masih di elu2 sebagai Hero ? WTF ?!
Kalo gue jadi strategy planner-nya Bharata Yudha, mendingan gue rekrut Ekalaya jadi main player dan nge-bench Arjuna. Arjuna yang, dengan full training, secara skill cuma second best dari Ekalaya, yang belajar dengan handicap. Plus lagi, Arjuna mikirnya pake 'otak kecil'-nya. Arjunanya ngambek ? BIARIN. Biar belajar... seharusnya...
Berbahagialah saat itu musuhnya adalah Kurawa. Kalo musuhnya adalah Amazonian... Arjuna udah jadi 'landak' dalam 5 menit pertama pertempuran.
Dan ngomongin R.A. Kosasih versus DC-Marvel, kenapa nggak sekalian ? 'R.A. Kosasih Vs DC-Marvel-Dark Horse-IDW-Shonen Jump-...'. Soalnya gue lebih ke 'Atomic Robo, V, Gundam'-guy ketimbang Superman-Capt.-guy.
Tapi gue pernah inget dulu, gue pernah baca cer-pen Ramayana yang punya interpretasi alternatif. And it's Awesome.
Di mulai dari penculikan Sinta oleh Rahwana yang ternyata di otaki oleh mereka berdua, dan cerita bergulir makin 'kusut' dari sana.
Very interesting story. Tapi kalo di film-in, atau di komik-in, bakalan banyak organisasi keagamaan unjuk rasa nggak ?
Last edited by TheCursed; 30-07-2012 at 09:36 PM.
A proud SpaceBattler now.