-

Judul buku : Padang Bulan
Penulis: Andrea Hirata
Penerbit: Bentang Pustaka
Jumlah Halaman: 350
ISBN: 978-602-8811-30-9
Tahun Penerbitan: 2011
Review
Masih tentang Ikal dan cinta sejatinya A Ling. Diselingi kisah jatuh bangun seorang Inong yang bercita-cita tinggi dan suka dengan Bahasa Inggris. Kali ini bercerita tentang Ikal pasca sarjana
Comment
Untuk penggemar novel pop seperti saya, PADANG BULAN adalah Dewa. Secara wajar, Andrea Hirata menceritakan serangkaian kisah dengan indah. Mungkin benar, bahwa orang Melayu dilahirkan untuk menjadi sastrawan.
Buku ini menceritakan kegetiran hidup dengan baik tanpa harus lebay dan norak. Satire dan menertawakan diri sendiri. Mana ada orang yang berani mengaku sebagai orang gila nomor 32, kalau bukan seorang Ikal?
Hampir tidak ada cacat dalam buku ini, almost perfect! Lalu dimana kekurangannya? Secara umum, tidak ada! Hanya untuk orang malasa dengan sastra seperti saya, membaca buku ini seperti dipaksa untuk membacanya sampai tuntas, dari awal sampai akhir cerita tanpa melompati halaman satu dengan yang lain, dan tidak boleh tertinggal satu detail pun. kalau tidak, maka akan ada something missing pada puzzle cerita ini.
Kalaupun tidak, untuk orag yang lahir dengan budaya pop. bahasa yang terttuang pada kisah ini bukanlah rangkaian kata-kata yang seketika mudah dicerna. Mungkin bisa disimak dan dibaca kemudian terpesona oleh keindahan bahasa melayu milik orang Bitong. Tetapi tidak mudah untuk dipahami. Butuh rasa yang mendalam dan membacanya berulang-ulang, dengan penasaran, untuk benar-benar menuntaskan buku ini.
PADANG BULAN menguatkan sikap, bahwa untuk cinta, apapun bisa terjadi. Seperti Ikal yang gelar sarjananya sudah didapat, mau saja menjadi pelayan warung kopi, demi cintanya pada A Ling. Dan juga kita dibuat terpana oleh kegigihan Inong. Anak perempuan yang terengut cita-citanya dan kesukaannya akan bahasa inggris, setelah ayahnya tewas mengenaskan di tambang timah. Dia harus jatuh bangun demi menghidupi ibu dan adik-adiknya. tetapi cita-citanya dan kesukaannya tidak pernah surut. Suka Bahasa Inggris dan ingin jadi guru Bahasa Inggris. Ada juga M Nuh yang menggelari diri sebagai detektif terbaik di kampungnya. Dia juga orang kepercayaan dan sahabat yang baik yang dimiliki Ikal. Meski digelari Ikal sebagai orang gila nomor 31, dia adalah penasehat yang baik untuk sahabatnya itu.
Semua tokoh dalam cerita ini menginspirasi pembacanya untuk selalu bersikap optimis, meski hidup yang kita lalui sungguh berat. Juga cerita tentang toleransi dari sebuah keberagaman etnis dan agama di Belitong sana. Diramu dengan sederhana tetapi mengena di hati pembacanya, yang tanpa perlu mengernyitkan dahi demi kata-kata toleransi itu. Buku ini bertutur dengan sederhana dan membuat kita yang membacanya menganggap bahwa toleransi itu sudah seharusnya ada, bukan slogan.
Buku ini komplit. Menertawakan sesuatu tanpa harus menghina. Menuturkan kejadian-kejadiaan monumental tanpa harus jadi keji, kejam, menyedihkan atau helpfull. Selalua da keoptimisan, meski tetap diselingi kegetiran. Tetapi tetap ada joke-joke segar dan sarat makna.
Ada satu dialog dari Ibu Ikal ketika lagi-lagi putranya yang sarjana itu batal berangkat cari kerja ke Jakarta. Ringan, tetapi sesungguhnya penuh gugatan.
Ada di halaman 175
"Kutaksir, ijazah-ijazahmu ini palsu, Bujang."
Betapa dalamnya. Seorang ibu yang lagi-lagi kecewa karena putra kebanggaannya tidak segera memenuhi impian besarnya. Terdengat sederhana, tetapi sesungguhnya cita-cita yang besar untuk ibu. Menjadi pegawai pemerentah, pakai baju dinas dengan banyak lambang di pundaknya, dapat pengsiun. (halaman 133)
Dan buku ini lebih dari sekedar layak dibaca, karena lewat PADANG BULAN (sebagai bagian dari dwilogi PADANG BULAN - CINTA di DALAM GELAS), kita akan menemukan banyak tokoh dan kisah inspiratif.
Hanya saja, saya sekali lagi penasaran, dimanakah kini A Ling?
---------- Post Merged at 07:02 PM ----------

Judul buku : Orang Ketiga
Penulis: Yuditha Hardini
Penerbit: Gagas Media
Jumlah Halaman: 246
ISBN: 797-780-394-5
Tahun Penerbitan: 2010
Review
Anggi tidak pernah membayangkan dirinya harus terlibat sebuah hubungan yang rumit, menjadi orang ketiga. Tetapi dia tidak pernah bisa keluar dari pesona Angga. Ada 1000 alasan untuk membenarkannya
Comment
Yuditha menuturkan cerita ini dengan alur progressive, mengalir dengan natural sehingga sayang banget kalau tidak segera dituntaskan. Bukan untuk segera tahu endingnya, tetapi karena jalan ceritanya yang mudah dicerna dan mengalir dengan enak. Meskipun bukan tipe buku yang akan dibaca berulang-ulang, karena menurut saya romansanya belum nendang abis sampe penasaran dan layak untuk diulang-ulang. Juga endingnya yang, jujur saja, gampang ditebak. Yaitu happy ending untuk si tokoh utama. Pepatah 'berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian' benar-benar mengena di buku ini. Tokoh utamanya boleh saja sepanjang jalan cerita jatuh bangun dalam rangka mencari cinta sejatinya, tetapi pada akhirnya toh bahagia. Happy, ever after.
Sebenarnya, ceritanya kurang greget. Saya sama sekali tidak gregetan dengan sikap Anggi yang piln-plan dan bimbang dalam menghadapi pesona Angga. Dan secara terang-terangan Yudith sebenarnya sudah "menanamkan" bahwa true love-nya Anggi bukan Angga, jadi ya itu, kurang greget. Juga kurang seru untuk cerita yang sedang mendeskripsikan pergolakan seorang yang sedang terlibat affair. Ada banyak sisi yang kurang tergali dari cerita ini. Bagaimana mereka musti kucing-kucingan dan backstreet dari seisi kantor dan terutama Ratri, sebagai cewek Angga yang "sah".
Sesepi apa sih kantor Alvee saat jam sembilan malam sehingga Anggi dan Angga leluasa berduaan di kantor? Masak satpam cuma sebiji orang sampai Angga bisa menyiapkan candle light dinner di lobby kantor, dengan menu lengkap? Bahkan beberapa menit setelah Lena, teman satu divisi Anggi turun untuk pulang?
Juga Lena sebagai teman dekat Ratri yang sempat memergoki Angga berduaan di lobby dengan Anggi, kog reaksinya biasa-biasa saja? Kog tidak ada ledakan dari ratri tentang insiden itu?
Rudi yang mantan jungkies dan sudah bisa menata hidupnya kembali, yang sudah dengan gagah berani pergi ke Jogja untuk menemui orang tua Anggi pun, masak melempem tiba-tiba begitu dapat lampu hijau dari orang tua Anggi hanya demi "malu" dengan masa lalunya? Dimana kegigihan dia ketika bersusah-payah mendekati Anggi dan melewati segala ujian dari orang tua Anggi?
Bagaimana dengan Dimas Hariwijaya yang berpotensi "mengganggu" hati Anggi?
Buku ini lebih berpusat pada pergulatan batin Anggi plus celetukan-celetukan segar Kayla mengenai Anggi yang ditampilkan dengan realistis dan mematikan.
Bisa dimaklumi kalau banyak sisi yang belum tergali karena keterbatasan kuota buku dan untuk menjaga alur cerita agar tidak melebar kemana-mana.
"ORANG KETIKA" mengingatkan saya akan "KOG PUTUSIN GUE"-nya Ninit Yunita. Hanya saja Amaya di "KOG PUTUSIN GUE" sukses balas dendam tanpa perlu mencari pelampiasan, sedang Anggi kebalikan dari Amaya.
Overall, cerita ini tetap menarik untuk dibaca dan recommended, mungkin saja bisa menginspirasi mereka yang sedang mengalami hal yang sama dengan Anggi, untuk segera sadar dan bangkit dari ilusi. "Hey! Di luar sana masih banyak cowok baik-baik yang single dan layak kamu kejar!"
Last edited by BundaNa; 06-07-2012 at 07:58 PM.
Posting Permissions
- You may not post new threads
- You may not post replies
- You may not post attachments
- You may not edit your posts
-
Forum Rules