-
"ada apa..? kamu membenciku sayang? maafkan aku berulang kali,baru datang sekarng, aku banyak melakukan kemoterapi,pengobatan herbal di Cina, hingga aku kembali ke korea, aku bertemu singmin, sigmin banyak bercerita tentang kisahku dan dirimu sayang.. dan singmin juga memberikan photo-photo ini padaku.."
Kulihat kumpulan photo-photo kami berdua, semasa ia tinggal diflat kecilku. Aku terenyuh, mataku mulai berairan.
"Aku ingin kembali padamu, jangan melarikan diri seperti ini terus.. aku ingin selalu bersamamu, aku ingat, kamu yang menjagaku,merawat hingga aku aman disaat aku masih sakit dulu, tapi ini bukan balas jasaku, Xing ling..."
Ia berhenti sesaat,ia manatapku lekat. Mata itu, mata kamu yang selalu aku rindukan, kini berhadapan pekat didepanku.
"aku membutuhkanmu, Xingling.. aku mencintaimu.. Maukah kamu hidup bersamaku selamanya..?" ia memegang tanganku erat. aku menangis. Apa ini mimpi Tuhan.
Bukankah dulu itu, aku membohonginya,, aku menipunya, mengapa dia bisa berbuat baik seperti ini.
" tidak..! , aku penjahat, sudah. Lupakan semua ini, aku harus pergi, terima kasih sudah membebaskan aku. jangan cari-cari aku lagi.." ucapku kasar,berairan mata,kulepas tangannya, lalu berjalan cepat menjauhinya.
Mengapa disaat aku ingin terus melupakannya, dia selalu hadir didekatku, mengapa membuatku begitu sulit membencinya,, mengapa begitu sulit aku tidak memikirkannya. Oh Tuhan, Bolehkah aku meminta satu hal, Jauhkan dia dari diriku. Aku ini orang jahat--dan tak pantas untuknya.
---
"Tunggu, Xingling...!, jangan menghindar lagi" Ucapnya lantang merenggut tangan kananku.
"Apa yang kamu takutkan xing ling..?"
Aku masih tak menjawab. Aku harus berusaha melepaskan genggaman tangannya, tapi ini terlalu kencang. sakit sekali ia mencekram diriku.
"Kamu tak sayang lagi padaku? apa kamu membenciku..? ada apa xing ling.."
Aku menatap wajahnya lekat, wajah ini. ingin sekali ku memeluknya.
"aku tak sama sekali membencimu, apalagi berkata aku tak sayang padamu, Yong Mon. Tapi aku tak bisa bersamamu.." ucapku kelu.
Kamu mengerlingkan matamu, aneh.
"Kenapa kamu tak ingin bersamaku..? aku membutuhkanmu xingling,, hatiku terlalu lekat mengenalmu, dan penyakit alzheimerpun tak mampu untuk menghapusnya, aku mencintaimu.."
"Yong mon, aku tahu itu. Tapi aku tak bisa bersamamu. Dulu kamu pernah bilang, perempuan yang berhak mencintaimu adalah orang yang mengenal hidupmu, dan sekarang kamu temukan itu. Dan kamu ingin mencintainya. Tapi aku tak bisa. Karena aku tak mau menjadi wanita yang mengenal hidupmu lalu aku hidup selamanya bersamamu.."
Kamu menatapku heran.
"apa maksudmu..?"
"Tahukah kamu, kamu boleh bilang dulu aku tak tahu apa2 tentang hidupmu, tapi aku bisa pastikan kamu juga tak tahu apa-apa tentang cintaku padamu lebih dari yang kau tahu... "
"iya, sekarang aku tahu, kita saling mencintai.."
Aku menggeleng lemah.
"apakah aku boleh meminta sesuatu yongmin?"
"yup" ucapmu sambil tersenyum padaku.
"tinggalkan aku?" ucapku sedih.
"Tidak" katamu lembut disampingku.
Aku langsung membuang mukaku.Keras kepalanya mulai lagi menjalari sifatnya.
"tak peduli, aku dulu tak menyukaimu karena kamu tak mengenalku.. tak peduli kamu dulu menyukaiku meski aku tak tahu, aku tak peduli xie ling, seleraku berbeda dengan seleramu.."
Aku kaget dengan ucapannya, tapi entah-- hatiku gembira. Meski ucapannya hanya sederhana.
"Xing ling sayang, aku tahu semua itu, tapi kamu tidak kah berpikir 8 bulan ini aku selalu mencarimu, bertanya tentang dirimu, orang yang selalu menemaniku saat aku sendiri, orang yang ada disaat aku lemah, aku merindukanmu xing ling, kekasih hatiku.. apakah kamu tidak begitu.. apakah kamu tidak merindukanku saatku memakan bubur ayammu yang gosong, atau bakmiemu yang terlalu lembek..." ucapnya melihat teduh kearahku.
Aku tersenyum, Dia ingat itu. aku ingat ucapannya dulu saat memakan makananku yang tak enak, "gak apa sayang, aku hanya tahu 2 rasa dihidupku, apalagi memakan masakan kekasihku, enak dan enak sekali..!" ucapnya dulu meyakinkanku.
Aku tertawa kini. Aku menatapnya lagi. Bolehkah aku memeluknya sekarang Tuhan? Bolehkan?!
"ada apa? kenapa kamu tak menjawab pertanyaanku, xing ling sayang..?"
aku menggeleng lemah, lalu sedikit kuat, agak kuat dan kuat yang banyak.
"tidak..tidak.. kamu tak perlu mendengar jawaban dariku" ucapku terisak tangis, sweter biru yang tadi dipundakku menjadi tempatku membersihkan air mataku.
" kamu betul-betul ingin pergi kah sayang..?"
aku menggeleng lagi, sama yang aku lakukan tadi diawal. menggeleng lemah, lalu sedikit kuat, agak kuat dan kuat yang banyak.
"bukan, bukan itu. Dari dulu aku tak pernah berubah, selalu mencintaimu, meski kau tak tahu, meski kau menyakiti hatiku, meski kau tak ada di tatapanku.. aku rindu.." suaraku parau, karena tangisku mulai membasahi wajahku.
Suaraku tertahan, pada pelukanmu di sekitar pundak belakangku,
"aku tahu itu sayang.. "
Pagi itu, serasa berbeda, meski hujan deras di pelataran teras Penjara Nottingham ini, tapi aku tak merasa sedingin saat aku berada di penjara. Hatiku hangat, dan bahagia.
-----
Tags for this Thread
Posting Permissions
- You may not post new threads
- You may not post replies
- You may not post attachments
- You may not edit your posts
-
Forum Rules