Penyadur itu membaca karya aslinya, kemudian menceritakan kembali dengan kata-katanya sendiri. Seberapa besar defiasinya memang tidak ada standar pasti. Tapi kalau untuk cerita silat, kebanyakan sih cuma menerjemahkan secara bebas saja, sehingga mungkin perbedaan kalimat-kalimat dari karya aslinya cuma 1%-2% saja .
Kho Ping Hoo [Xǔ PĂ*nghĂ© 許平和] jelas tidak mungkin menyadur karena beliau buta huruf Han. Apalagi dia tidak bisa berbahasa Mandarin, paling banter hanya Bahasa Hokkian saja. Ini hal yang sangat wajar untuk kaum peranakan Zhongguo di Jawa. Berbeda sekali dengan kaum totok, misalnya Gan KL.
![kopimaya [dot] kom - Secangkir Kehangatan di Dunia Maya - Powered by vBulletin](images/misc/vbulletin4_logo.png)




Reply With Quote