Results 1 to 20 of 175

Thread: Cerita Silat

Hybrid View

Previous Post Previous Post   Next Post Next Post
  1. #1
    pelanggan setia
    Join Date
    May 2011
    Posts
    4,958
    Koo Ping Hoo kayaknya menyadur deh, bukan ngarang sendiri. Jadi jalan cerita sama tapi pake kata2nya dia. Cerita Kwee Cheng itu aslinya karangan siapa? Kukira semacam folklore gitu.

    Karangan Koo Ping Hoo yang paling memorable di aku sih yang Pendekat Mata Keranjang. Soalnya judul itu yang pertama kali dibaca.

  2. #2
    Barista kupo's Avatar
    Join Date
    Dec 2012
    Location
    Jog Ja karta
    Posts
    3,850
    ooo... ok

    Kwee ceng dan Oey Yong itu jagoan di cerita Kisah Memanah rajawali bagian pertama dari trilogy Rajawali.

    lengkap nya
    1 Kisah Memanah Rajawali - Sia Tiauw Eng Hiong
    2 Sepasang Pendekar Rajawali - Sin Tiauw Hiap Lu
    3 Kisah Membunuh Naga - To Liong To

    cerita diatas ada hubungannya dengan cerita para pendekar negeri tayli, semuanya karangan Chin Yung (profil pengarang nya aku post diatas )

    cerita diatas itu bacaan wajib buat penggemar cerita silat

    kalau sudah baca cerita karangan pengarang asli Tiongkok ( Chin Yung - Khu Lung ) dll, baca karangan Kho Ping Hoo yang orang sini jadi terasa kurang menggigit ( walaupun karangan beliau juga bagus )

    Pendekar Mata keranjang karya Asmaraman S. Kho Ping Ho yang bro baca itu bagian dari seri Pedang kayu harum.


    Spoiler for serial pedang kayu harum:

    1. Pedang Kayu Harum
    2. Petualang Asmara
    3. Dewi maut
    4. Pendekar Lembah Naga
    5. Pendekar Sadis
    6. Harta karun Jengis Khan
    7. Siluman gua Tengkorak
    8. Asmara Berdarah
    9. Pendekar Mata Keranjang
    10. Si Kumbang Merah
    11. Jodoh mata keranjang
    12. Pendekar Kelana



    kalau bro belum baca, bisa dicoba, tapi hati2 kalau ga bisa berhenti


    Spoiler for profil Asmaraman S. Kho Ping Ho:

    Kho Ping Hoo atau Asmaraman Sukowati Kho Ping Hoo
    Dia legenda pengarang cerita silat. Kho Ping Hoo, lelaki peranakan Cina kelahiran Sragen, Jawa Tengah, 17 Agustus 1926, yang kendati tak bisa membaca aksara Cina tapi imajinasi dan bakat menulisnya luar biasa. Selama 30 tahun lebih berkarya, dia telah menulis sekitar 400 judul serial berlatar Cina, dan 50 judul serial berlatar Jawa.
    Bahkan setelah dia meninggal dunia akibat serangan jantung pada 22 Juli 1994 dan dimakamkan di Solo, namanya tetap melegenda. Karya-karyanya masih dinikmati oleh banyak kalangan penggemarnya. Bahkan tak jarang penggemarnya tak bosan membaca ulang karya-karyanya. Kho Ping Hoo bernama lengkap Asmaraman Sukowati Kho Ping Hoo.
    Dia juga banyak mengajarkan filosofi tentang kehidupan, yang memang disisipkan dalam setiap karyanya. Salah satu tentang yang benar adalah benar, dan yang salah tetap salah, meski yang melakukannya kerabat sendiri. Kho Ping Hoo berasal dari keluarga miskin. Dia hanya dapat menyelesaikan pendidikan kelas 1 Hollandsche Inlandsche School (HIS). Namun, ia seorang otodidak yang amat gemar membaca sebagai awal kemahirannya menulis.
    Ia mulai menulis tahun 1952. Tahun 1958, cerita pendeknya dimuat oleh majalah Star Weekly. Inilah karya pertamanya yang dimuat majalah terkenal ketika itu. Sejak itu, semangatnya makin membara untuk mengembangkan bakat menulisnya. Banyaknya cerpenis yang sudah mapan, mendorongnya memilih peluang yang lebih terbuka dalam jalur cerita silat. Apalagi, silat bukanlah hal yang asing baginya. Sejak kecil, ayahnya telah mengajarkan seni beladiri itu kepadanya, sampai 1959 baru ia berusaha "menciptakan" cersil. Cersilnya bukan saja populer sebagai cerita bersambung di majalah, melainkan ia sendiri pun menerbitkan dalam bentuk buku saku. Penerbit Gema di Solo adalah usaha yang dibangunnya. Selama 30 tahun, ia menulis 120 buah karya. Menurut pengakuannya, di antara karya-karyanya ada sebuah yang beijudul Bunga Teratai Emas yang merupakan karya terjemahan, sedangkan yang lain adalah ciptaannya.

    Karya cerita silat pertamanya adalah Pedang Pusaka Naga Putih, dimuat secara bersambung di majalah Teratai. Majalah itu ia dirikan bersama beberapa pengarang lainnya. Saat itu, selain menulis, ia masih bekerja sebagai juru tulis dan kerja serabutan lainnya, untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
    Namun, setelah cerbung silatnya menjadi populer, ia pun meninggalkan pekerjaanya sebagai juru tulis dan kerja serabutan itu, dan fokus menulis. Hebatnya, ia menerbitkan sendiri cerita silatnya dalam bentuk serial buku saku, yang ternyata sangat laris. Cerita silatnya pun makin bervariasi. Tak hanya cerita berlatar Cina, tetapi juga cerita berlatar Jawa, di masa majapahit atau sesudahnya. Bahkan, selain secara gemilang memasukkan makna-makna filosofis, dia pun menanamkan ideologi nasionalisme dalam cerita silatnya.
    Karya-karya Kho Ping Hoo, umumnya boleh dikatakan terbagi atas cersil, "novel sejarah" Jawa, novel spionase dan novel percintaan. "Novel sejarah" Jawanya konon dibandingkan dengan karya penulis pribumi ditulisnya lebih dini, mutunya pun cukup tinggi. Novelnya yang berjudul Darah Mengalir di Borobudur paling menyenangkan untuk selera semua orang. Novel ini menampilkan dua tokoh yang mengesankan: Raden Pancapanadan Indrayana. Teater di Jawa sudah mengubah novel ini menjadi sendratari dan dipentaskan berulang kali. DiJawa, ada grup pertunjukan yang disebut "Siswo Budoyo" yang dipimpin oleh Cokrojiyo, yang gemar mengubah bermacam-macam novel sejarah Kho Ping Hoo menjadi sandiwara radio. Di samping Darah Mengalir di Borobudur, novel sejarah Badai di Laut Selatan mendapat sambutan juga.
    Meskipun Kho Ping Hoo pernah menulis "novel sejarah" Jawa dan telah mendapat penghargaan yang tinggi atas usahanya, tetapi Jumlah karya yang terbesar dan yang membuat Kho terkenal adalah cersil.

    Latar belakang cersil Kho Ping Hoo ada yang di Tiongkok, dan ada juga yang di Indonesia. Lantaran Kho Ping Hoo tidak mempunyai dasar bahasa Tionghoa, maka ia tidak mampu menyalin cersil Tionghoa. Namun, dengan membaca cersil-cersilnya, orang mendapat kesan, Kho menguasai benar kisah cersil Tionghoa. la juga tahu tentang sejarah dan kebudayaan Tionghoa, walaupun kadangkala ia keliru tentang tahun-tahun dinasti Tiongkok.
    Jika diamati dengan saksama, seseorang yang pernah membaca cersil dan menonton beberapa film kungfu yang berdasarkan karya Ni Kuang dan Gu Long, kelihatanjalan ceritanya banyak persamaan, penyelesaiannya pun sangat miirip. Jadi, ketika Kho Ping Hoo menulis cersil pasti dipengaruhi kedua orang penulis tersebut.
    Kho Ping Hoo dalam cersilnya sering membicarakan perkawinan campur Tionghoa-Indonesia, meskipun ini dianjurkan tetapi mesti didasarkan percintaan. Kho mengharapkan para pembaca bisa menerima manfaat yang terkandung di dalam cersilnya. Menggunakan cersil untuk memberi "kuliah" ini mirip dengan novel peranakan yang terbit pada awal abad kedua-puluh. Cara ini jarang ditemui pada cersil-cersil terjemahan. Mungkin ada hubungan dengan situasi Indonesia ketika itu. Pada akhir 1980, di Indonesia baru saja terjadi peristiwa rasialis. Kho Ping Hoo pernah menganjurkan perkawinan campur Tionghoa-Indonesia untuk menyelesaikan bermacam-macam masalah rasial.

    Tujuannya menulis cerita silat, adalah untuk mengeluarkan isi hatinya dan menyampaikan saran-sarannya. la tidak berani mengeritik langsung pejabat pemerintah dan pegawai negeri yang korup. Akan tetapi dalam cersil-cersilnya, ia dapat mengatakan apa yang ia ingin sampaikan, tanpa mempertimbangkan hal-hal yang lain.

    sumber dari website kangzusi
    Last edited by kupo; 19-12-2012 at 06:34 PM.

  3. #3
    pelanggan tetap Parameswara Li's Avatar
    Join Date
    Aug 2011
    Location
    天京
    Posts
    1,093

    Cool

    Quote Originally Posted by tuscany View Post
    Koo Ping Hoo kayaknya menyadur deh, bukan ngarang sendiri. Jadi jalan cerita sama tapi pake kata2nya dia. Cerita Kwee Cheng itu aslinya karangan siapa? Kukira semacam folklore gitu.
    Penyadur itu membaca karya aslinya, kemudian menceritakan kembali dengan kata-katanya sendiri. Seberapa besar defiasinya memang tidak ada standar pasti. Tapi kalau untuk cerita silat, kebanyakan sih cuma menerjemahkan secara bebas saja, sehingga mungkin perbedaan kalimat-kalimat dari karya aslinya cuma 1%-2% saja .

    Kho Ping Hoo [Xǔ PĂ*nghĂ© 許平和] jelas tidak mungkin menyadur karena beliau buta huruf Han. Apalagi dia tidak bisa berbahasa Mandarin, paling banter hanya Bahasa Hokkian saja. Ini hal yang sangat wajar untuk kaum peranakan Zhongguo di Jawa. Berbeda sekali dengan kaum totok, misalnya Gan KL.

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •