A proud SpaceBattler now.
Yg di bawah ini aja gw tanggepin (yg lainnya ngaco):
Bagi ateis, kitab2 suci (Bible, Quran, dll) adalah kitab2 masa lalu. Setidaknya, kitab2 suci tsb menggambarkan bagaimana pemahaman manusia thd kehidupannya di masa lalu. Bisa jadi masih ada hal2 yg faktual, sedangkan sebagian besarnya malah sudah kadaluarsa.
Bagi ateis, menunjukkan kesalahan2 kitab2 suci tsb pada orang beragama, sama saja dgn ngobrol dgn batu alias usaha yg sia2. Mengapa begitu? Karena orang beragama sudah mengimani kitab suci sbg kebenaran mutlak. Seamburadul apapun kitab sucinya, tetapi karena sudah diimani sbg kebenaran mutlak, maka orang beragama tidak akan pernah melihat secuil kesalahan pun di dalam kitab sucinya.
Logika mbulet adalah konsekuensi dari keimanan orang beragama tsb. Karena apapun pertanyaan yg diajukan thd kitab suci tsb, jawabannya harus berujung pada kitab suci selalu benar.
---------- Post Merged at 02:53 AM ----------
Sorry, gw kagak ngatri apa yg lu omongin.![]()
Lo bilang: "Karena itu Logika tidak peduli Space and Time."
Gue yang datangnya dari dunia eksakta, nggak ngerti: Logika macam apa yang bisa kayak gitu ?
Karena di dunia gue, setiap logika, algoritma, selalu terkait dengan konsep ruang(himpunan, vektor, matrik, dst) dan/atau konsep waktu(detik, saat, ketika, pabila, dst).
Bahkan saat bicara tentang kucing Schroedinger.
Mungkin elo bisa kasi pencerahan dengan memberikan satu aja algoritma atau logika penyelesaian sebuah masalah yang sama sekali nggak terkait dengan kedua konsep ini ?
A proud SpaceBattler now.
masih ada kata akan. 'If Then'. Masih ada konsep waktu di situ.
Kalo gue jadiin program, yang ini masih punya sequence. Kalo ada sequence, bisa gue kasi clock(sekian MHz). Kalo gue kasi clock berarti bisa di kalkulasi waktunya....
Gue minta algoritma/logika yang tanpa sequence.
Gue minta algoritma/logika dimana nggak ada konsep sekarang, nanti, dulu, berikutnya, dst.
Bebas sama sekali dari konsep Ruang ataupun Waktu, seperti kata loe.
Sebuah logika/algoritma, dimana semua parameter input dan output-nya terjadi di masa lalu, sekarang, akan datang, dan tidak pernah, secara bersamaan. Dan di saat itu pula semua paramater input dan outputnya harus ada di semua tempat, di satu titik, dan tidak di manapun di saat bersamaan. Berada dalam ruang himpunan Possible, impossible, probable dan improbable di saat bersamaan. Ada nggak ?
Dan ngomongin kucing Schroedinger yang ada dalam kotak; maka yang gue minta adalah kucing yang ngga jelas hidup-matinya dan, paling nggak, di saat bersamaan kotaknya juga harus ada dan nggak ada. dan, oh, kucingnya sendiri juga harus real dan imajiner di saat yang sama.
Last edited by TheCursed; 29-06-2012 at 07:59 PM.
A proud SpaceBattler now.
sebenarnya sama saja...
faktanya:
Sang ghaib Maha Kuasa ini ngga bisa dibuktikan ke
beradaannya, dan juga tidak bisa dibuktikan ketidak
beradaannya.
"seperti" kucing schrodinger, loe ngga bisa buktikan
setelah loe buka tuh kotak (baca: mati dulu).
jadi yang beriman mbulet pada separuh kemungkinan
ada, dan yang atheist mbulet pada separuh kemungki
nan yang tidak ada...
Pertama, ateis menolak konsep tuhan karena konsep tsb penuh dengan kekacauan logika, paradoks, dan inkonsistensi. Antara pernyataan yg satu dgn yg lain bisa bertentangan, dst. Jika ditunjukkan semua kekacauan tsb, orang beriman akan menepisnya dgn mengatakan pengetahuan manusia terbatas, sementara tuhan tidak terbatas. Fuihh... itu logika mbulet...
Sekarang mengenai kucing Schroedinger. Yg jelas kucing tsb ada di dalam kotak tsb. Cuman yg jadi masalah, bagaimana keadaannya? Apakah hidup atau mati? Itu sangat berbeda dgn tuhan yg masalahnya justru pada ada atau tidaknya tuhan tsb. Kucing Schroedinger adalah masalah kuantum. Di situ perlu fungsi gelombang yg diasosiasikan dgn sesuatu yg sudah jelas keberadaaanya, bukan dgn sesuatu yg tidak jelas keberadaannya. Kecuali ente mau ngomongin apakah tuhan masih hidup atau sudah mati, bolehlah ente berdalih dgn kucing Schroedinger tsb.
![]()
kekeke...
itu sih konsep tentang tuhan... bukan fakta ten
tang eksistensi Tuhan...
jadi baik atheist maupun imanist, sama-sama cuma
ribut akan sesuatu yang tidak diketahuinya 100%
makanya gw nulisnya "mirip" (pake tanda petik)Sekarang mengenai kucing Schroedinger. Yg jelas kucing tsb ada di dalam kotak tsb. Cuman yg jadi masalah, bagaimana keadaannya? Apakah hidup atau mati? Itu sangat berbeda dgn tuhan yg masalahnya justru pada ada atau tidaknya tuhan tsb. Kucing Schroedinger adalah masalah kuantum. Di situ perlu fungsi gelombang yg diasosiasikan dgn sesuatu yg sudah jelas keberadaaanya, bukan dgn sesuatu yg tidak jelas keberadaannya. Kecuali ente mau ngomongin apakah tuhan masih hidup atau sudah mati, bolehlah ente berdalih dgn kucing Schroedinger tsb.
ada tidak ada, yang loe pegang cuma hampiran,
tidak ada yang pegang fakta 100% benar.