Quote Originally Posted by cha_n View Post
ya gpp tho om punya impian gitu. toh nyatanya ada juga yang coba membangun mimpi itu jadi kenyataan dan berhasil.
Loh, don't get me wrong. Saya bukannya berusaha menghancurkan impian seorang gadis untuk mendapatkan cowok idaman... itu sama jahatnya dengan menghancurkan cita-cita seorang anak. Masalahnya, mewakili para cowok idaman (ahem), saya berkewajiban untuk memberitahu kepada para cewek bahwa 'we are mere human too'.

Bagi yang tidak berhasil mendapatkan cowok idaman, mungkin karena you didn't help us to be cowok idaman... it takes two to tango, we all have the share of the problem...

Quote Originally Posted by cha_n View Post
dalam kasus cerita yang seren bawa juga bukan berarti dia tiba2 dapet cowo baik. dia sendiri aku yakin sudah jadi pribadi yang pantas untuk dicintai. ditempa oleh kehidupan sekian lama. punya anak 5 dan harus dibiayai sendiri tanpa suami.
bukan cerita putri di kerajaan yang tiap hri meni pedi, atau cinderella yang ujug2 didatangi peri trus ke pesta tiba2 pangeran jatuh cinta.

dalam kasus cerita diatas juga, si cowo ga lalu diam saja ketika menikah. dia tetap pupuk cinta mereka dengan selalu bersama sang istri berpegangan tangan kemana mana.
Buat saya cerita tersebut tetap kisah Cinderella,
  • apa bedanya antara mama yang tegar menghidupi lima orang anak dengan cinderella yang melayani para ibu dan kakak tiri? Cinderella juga nggak mengeluh kok.
  • seorang pria datang dan menyatakan cinta, mau menerima apa adanya... mencintai si mama dan melakukan hal-hal yang melepaskan si mama dari kesulitannya selama ini... sounds like prince in shining armor to me.
  • Baik kisah Cinderella maupun si mama berakhir dengan life happily ever after...


... tetap saja perempuan jadi pihak yang pasip dan diselamatkan oleh laki-laki...

Bagaimana kalau mengutip kisah Scarlett O'hara di buku klasik "Gone with the Wind"... itu dia cewek tangguh yang hanya layak berhadapan dengan cowok pilih tanding

Sekali lagi, bukan maksud saya menghancurkan fantasi dengan menggunakan realita, itu sama saja dengan menyuruh dunia menjadi robot tanpa perasaan, tapi seseorang membutuhkan healthy dose of realism agar bisa berfantasi secara sehat, khususnya datang dari sudut pandang pihak yang berlawanan (dalam kasus ini fantasi cewek perlu bertemu dengan gobloknya cowok )