Loh, don't get me wrong. Saya bukannya berusaha menghancurkan impian seorang gadis untuk mendapatkan cowok idaman... itu sama jahatnya dengan menghancurkan cita-cita seorang anak. Masalahnya, mewakili para cowok idaman (ahem), saya berkewajiban untuk memberitahu kepada para cewek bahwa 'we are mere human too'.
Bagi yang tidak berhasil mendapatkan cowok idaman, mungkin karena you didn't help us to be cowok idaman... it takes two to tango, we all have the share of the problem...
Buat saya cerita tersebut tetap kisah Cinderella,
- apa bedanya antara mama yang tegar menghidupi lima orang anak dengan cinderella yang melayani para ibu dan kakak tiri? Cinderella juga nggak mengeluh kok.
- seorang pria datang dan menyatakan cinta, mau menerima apa adanya... mencintai si mama dan melakukan hal-hal yang melepaskan si mama dari kesulitannya selama ini... sounds like prince in shining armor to me.
- Baik kisah Cinderella maupun si mama berakhir dengan life happily ever after...
... tetap saja perempuan jadi pihak yang pasip dan diselamatkan oleh laki-laki...
Bagaimana kalau mengutip kisah Scarlett O'hara di buku klasik "Gone with the Wind"... itu dia cewek tangguh yang hanya layak berhadapan dengan cowok pilih tanding
Sekali lagi, bukan maksud saya menghancurkan fantasi dengan menggunakan realita, itu sama saja dengan menyuruh dunia menjadi robot tanpa perasaan, tapi seseorang membutuhkan healthy dose of realism agar bisa berfantasi secara sehat, khususnya datang dari sudut pandang pihak yang berlawanan (dalam kasus ini fantasi cewek perlu bertemu dengan gobloknya cowok)
![kopimaya [dot] kom - Secangkir Kehangatan di Dunia Maya - Powered by vBulletin](images/misc/vbulletin4_logo.png)




), saya berkewajiban untuk memberitahu kepada para cewek bahwa 'we are mere human too'.
)
Reply With Quote