menurutku, perfect atau tidak perfect itu hanya masalah presepsi saja.
kalau banyak bersyukur, ikhlas dengan hidup. bersama pasangan punya rasa saling percaya, tujuan yang sama, masalah apapun akan menjadi bumbu penyedap, dan hubungan itu sendiri menjadi begitu sempurna dalam ketidak sempurnaan.
karena tak ada yang sempurna kecuali yang maha kuasa.
punya anak hubungan jadi ga sempurna?
bisa jadi itu pandangan beberapa orang, tapi bagi orang yang lain lagi, bagi saya, anak adalah penyempurna dari hubungan yang kami miliki.
anak adalah ikatan yang memperindah hubungan, hubungan tidak hanya sempurna, tapi sempurna yang indah.
beberapa orang lainnya, ketiadaan anak adalah sebuah penderitaan, rasanya hubungan mereka menjadi tidak sempurna, tapi tentunya lagi2, ini kembali ke presepsi.
apa karena sudah tua, tidak lagi bisa beraktifitas seksual lalu hubungan menjadi tidak sempurna?
lagi2 itu masalah presepsi,
kepuasan batin, ketenangan jiwa, ikatan emosional yang sudah terbentuk secara berpuluh tahun bisa jadi tidak bisa dibandingkan dengan kepuasan seksual masa muda.
ada lagi masalah finansial, mungkin di satu sisi anak dipandang jadi kekhawatiran soal akan berkurangnya kesenangan pasangan karena pengurangan jatah penghasilan.
tapi bagiku, anak adalah pemicu semangat dalam bekerja. sebelum menikah dan punya anak, bahkan tidak jelas semua aliran gaji kemana. ketika ada anak, hidup jadi lebih terarah, terstruktur, terukur, jadi bisa punya simpanan, bisa beli ini itu.
ajaib? ya, bagi saya. anak lagi2 jadi sebuah anugerah dalam hidup, dia lagi2 memperindah hubungan
lalu kenapa harus tidak berbahagia dan tidak berpikiran positif, bahwa ini hubungan sempurna yang sudah disiapkan Tuhan buat kita?
![kopimaya [dot] kom - Secangkir Kehangatan di Dunia Maya - Powered by vBulletin](images/misc/vbulletin4_logo.png)



Reply With Quote