Page 1 of 3 123 LastLast
Results 1 to 20 of 46

Thread: Albert Einsten and his Prof, an urban Legend?

  1. #1

    Albert Einsten and his Prof, an urban Legend?

    Ingat cerita Albert Einsten dengan Profesornya yanbg berdebat tentang binary opposition? (panas-dingin, kebaikan-kejahatan) dimana Einsten membela keberadaan Tuhan? Ada argumen menarik mengenai ini:

    You know that one? Good. Time to deconstruct it. Let's get started.

    First - this story is an urban legend. It never happened:

    http://www.snopes.com/religion/einstein.asp

    Second - Einstein was a Pantheist, not a theist. Practically an atheist in disguise.

    "I believe in Spinoza's God who reveals himself in the orderly harmony of what exists, not in a God who concerns himself with fates and actions of human beings." Upon being asked if he believed in God by
    Rabbi Herbert Goldstein of the Institutional Synagogue, New York,
    April 24, 1921, Einstein: The Life and Times, Ronald W. Clark, Page 502.

    "It was, of course, a lie what you read about my religious convictions, a lie which is being systematically repeated. I do not believe in a personal God and I have never denied this but have expressed it clearly. If something is in me which can be called religious then it is the unbounded admiration for the structure of the world so far as our science can reveal it." - Albert Einstein in Albert Einstein: The Human Side
    from: http://www.rationalresponders.com/de...k_of_something
    - - - Updated - - -

    dan ini adalah reformulasi dari kisah itu:

    Spoiler for cuma buat yang siap baca tulisan panjang dan gak PA apalagi SARA:
    Alkisah, seorang profesor filsafat menantang muridnya: "Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?”.

    Seorang mahasiswa menjawab, “Betul, Dia yang menciptakan semuanya”.

    “Tuhan menciptakan semuanya?”, tanya professor sekali lagi.

    “Ya, Pak, semuanya”, kata mahasiswa tersebut.

    Profesor itu menjawab, Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan Kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan.”

    Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab pernyataan professor tersebut.

    Seorang mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata, “Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?”

    "Tentu saja," jawab si professor, “itulah inti dari diskurus filsafat.”

    Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, “Profesor, apakah dingin itu ada?”

    "Tentu saja," ungkap si professor. Raut muka si professor tidak berubah karena ia sudah mendengar argumen buruk seperti ini berulang kali.

    Si murid menanggapi, “Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas.”

    Sang professor pun menjawab dengan tegas: "Kamu ingat bab mengenai kesesatan semantik dalam bukumu?"

    Si murid tampak bingung.

    "Biar saya ulangi secara singkat. "Panas" dan "dingin" adalah istilah subjektif. Menurut John Locke, keduanya merupakan contoh "kualitas sekunder". Kualitas sekunder merujuk kepada bagaimana kita merasakan suatu fenomena yang memang ada, dan dalam kasus ini pergerakan partikel atomik. Istilah "dingin" dan "panas" merujuk kepada interaksi antara sistem saraf manusia dengan variasi kecepatan dalam partikel atomik di lingkungan. Jadi apa yang sesungguhnya ada adalah suhu... istilah "panas" dan "dingin" hanyalah istilah subjektif yang kita gunakan untuk menjelaskan pengalaman kita mengenai suhu."

    "Maka argumen Anda salah. Anda tidak membuktikan bahwa "dingin" itu tidak ada, atau bahwa "dingin" ada tanpa status ontologis, apa yang Anda lakukan adalah menunjukkan bahwa "dingin" adalah istilah subjektif. Hapuskanlah konsep subjektif tersebut, dan suhu yang kita sebut "dingin" akan tetap ada. Menghapuskan istilah yang kita gunakan untuk merujuk kepada suatu fenomena tidak menghapuskan keberadaan fenomena tersebut."

    Murid: (agak shock) "Uh... oke... em, apakah gelap itu ada?”

    Professor: "Anda masih mengulangi kesesatan logika yang sama, hanya kualitas sekundernya yang diganti."

    Murid: "Jadi menurut professor kegelapan itu ada?"

    Professor: "Apa yang saya katakan adalah bahwa Anda mengulangi kesesatan yang sama. "Kegelapan" adalah kualitas sekunder."

    Murid: "Professor salah lagi. Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak. “Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya."

    Professor: “Gelap dan terang” adalah istilah subjektif yang kita gunakan untuk mendeskripsikan bagaimana manusia mengukur foton atau partikel dasar cahaya secara visual. Foton itu memang ada, sementara “gelap” dan “terang” hanyalah penilaian subjektif kita... yang sekali lagi terkait dengan interaksi antara sistem saraf manusia dengan fenomena alam yang lain, yaitu foton. Jadi, sekali lagi, hapuskanlah istilah subjektif itu dan foton akan tetap ada. Jika manusia menyebut “foton sebanyak x” sebagai “gelap” sementara kucing menyebutnya “cukup terang untukku”, foton sebanyak x yang kita sebut sebagai “gelap” tetap ada, dan akan tetap akan ada walaupun kita tidak menyebutnya gelap. Sudah paham, atau masih kurang jelas?”

    Sang murid tampak tercengang. Sang professor berkata, “Tampaknya Anda masih bingung dengan kesesatan dalam argumen Anda. Tapi silakan lanjutkan, mungkin Anda akan paham.”

    Sang murid berkata, “Professor mengajar dengan dualitas. Professor berargumen tentang adanya kehidupan lalu mengajar tentang adanya kematian, adanya Tuhan yang baik dan Tuhan yang jahat. Professor memandang Tuhan sebagai sesuatu yang dapat kita ukur.”

    Professor langsung memotong, “Berhati-hatilah. Jika Anda menempatkan Tuhan di luar jangkauan nalar, logika dan sains dan membuatnya “tak terukur”, maka yang tersisa hanyalah misteri yang Anda buat sendiri. Jadi jika Anda menggunakan dalih bahwa Tuhan ada di luar jangkauan untuk menyelesaikan masalah, Anda juga tak bisa mengatakan bahwa Tuhan Anda bermoral. Bahkan Anda tak bisa menyebutnya sebagai apapun kecuali tak terukur. Jadi solusi Anda tidak ada bedanya dengan membersihkan ketombe dengan memangkas rambut.”

    Murid tersebut tercengang, namun tetap berusaha melanjutkan, “Professor, sains bahkan tidak dapat menjelaskan sebuah pemikiran. Ilmu ini memang menggunakan listrik dan magnet, tetapi tidak pernah seorangpun yang melihat atau benar-benar memahami salah satunya..”

    Professor: “Anda mengatakan bahwa sains tak bisa menjelaskan pikiran. Saya sendiri kurang paham apa yang Anda maksud. Apakah Anda mencoba mengatakan bahwa masih banyak misteri dalam neurosains?”

    Murid: “Begitulah.”

    “Dan bahwa pikiran, listrik dan magnetisme itu kita anggap ada walaupun tak pernah kita lihat?”

    “Benar!”

    Sang professor tersenyum dan menjawab, “Bukalah kembali bukumu mengenai kesesatan false presumption. Perhatikan bab “kesalahan kategoris.” Kalau Anda pernah membacanya, Anda akan ingat bahwa kesalahan kategoris adalah saat Anda menggunakan tolak ukur yang salah untuk suatu entitas, misalnya menanyakan warna dari suara. Meminta seseorang melihat magnetisme secara langsung merupakan kesalahan kategoris.”

    “Namun, masih ada kesalahan lain dalam argumen Anda. Anda berasumsi bahwa empirisisme atau bahkan sains hanya didasarkan kepada pengamatan langsung. Ini tidak tepat. Penglihatan bukanlah satu-satunya cara untuk memahami dunia, dan sains juga bukan ilmu yang mempelajari apa yang kita lihat. Kita dapat menggunakan indera lain untuk melacak suatu fenomena. Dan kita juga dapat mempelajari pengaruh fenomena tersebut terhadap dunia.”

    “Lebih lagi, Anda kembali melakukan kesalahan dengan menyatakan bahwa karena sains itu belum lengkap berarti Tuhan itu ada. Mungkin Anda perlu mempelajari kembali kesesatan “argumentum ad ignoratiam” atau argumen dari ketidaktahuan.”

    “Dan juga, seperti yang dikatakan oleh Neil deGrasse Tyson, gunakanlah contoh yang lebih baik karena sains sudah mampu menjelaskan bagaimana pikiran terbentuk dan bahkan Maxwell sudah lama menggabungkan elektrisme dan magnetisme menjadi elektromagnetisme. Contoh yang lebih baik itu misalnya materi gelap yang membuat perluasan alam semesta menjadi begitu cepat. Fisikawan tak bisa menjawab itu, dan mungkin Anda akan mengatakan jawabannya Tuhan. Namun dengan begitu, Anda justru sedang menyusutkan Tuhan. Anda melakukan kesesatan ad ignoratiam bahwa yang belum dijelaskan sains itu adalah keajaiban Tuhan, dan itu berarti Anda menempatkan Tuhan untuk mengisi gap dalam sains. Nah, dahulu manusia juga tak mampu menjawab mengapa hujan terbentuk atau mengapa gunung meletus, dan orang-orang dulu menyebutnya karena Tuhan. Kini kita sudah memahami hujan dan gunung meletus, begitu pula pikiran, listrik dan magnetisme, dan ke depannya materi gelap juga mungkin akan kita pahami. Dengan begitu Tuhan yang mengisi gap pun terus menciut.”

    “Masih ada yang mau ditambahkan? Apakah penjelasan saya sudah cukup jelas?”

    Sang murid tampak bingung dan mencoba melakukan ad nauseam, “Em... kembali ke diskusi awal kita. Untuk menilai kematian sebagai kondisi yang berlawanan dengan kehidupan sama saja dengan melupakan fakta bahwa kematian tidak bisa muncul sebagai suatu hal yang substantif. Kematian bukanlah kontradiksi dari hidup, hanya ketiadaan kehidupan saja.”

    Professor pun berkata, “Apakah Anda jatuh cinta dengan kesesatan kualitas sekunder? Lagi-lagi Anda melakukan kesalahan yang sama.” “Kematian” dan “kehidupan” adalah istilah subjektif yang kita gunakan untuk menjelaskan fenomena keadaan-keadaan biologis. Menghapuskan istilah subjektif kematian tidak menghapuskan keberadaan kematian.

    Si murid pun mencoba mengalihkan pembicaraan, “Apakah imoralitas itu ada?”

    Si professor menggelengkan kepalanya dan berkata, “Keledai pun tidak akan jatuh ke dalam lubang yang sama. Ada yang masih kurang jelas, atau perlu saya ulangi lagi?”

    Sang murid yang terus berusaha menjustifikasi kepercayaannya berkata, “Begini.. imoralitas itu adalah ketiadaan moralitas. Apakah ketidakadilan itu ada? Tidak. Ketidakadilan adalah ketiadaan keadilan. Apakah kejahatan itu ada? Bukankah kejahatan itu ketiadaan kebaikan?”

    Sang professor menanggapi, “Jadi, jika seseorang membunuh ibumu malam ini, tidak terjadi apa-apa? Hanya ada ketiadaan moralitas di rumah Anda? Tunggu... dia tidak mati... cuma ketiadaan hidup kan?”

    Si murid berkata, “eh...”

    “Sekarang sudah mengerti di mana salahnya?”, ujar sang professor, “Anda mencampur kualitas sekunder dengan fenomena. “Imoralitas” adalah istilah deskriptif untuk perilaku. Istilah tersebut bersifat sekunder, namun perilaku tetaplah ada. Jadi jika Anda menghapuskan kualitas sekunder itu, Anda tidak menghapuskan perilaku yang sesungguhnya terjadi. Dengan mengatakan imoralitas sebagai ketiadaan moralitas, Anda tidak menghapuskan keinginan atau perilaku imoral, tetapi hanya istilah subjektifnya. Begitu lho.”

    Si murid masih kukuh, “Apakah professor pernah mengamati evolusi itu dengan mata professor sendiri?”

    Sang professor sudah bosan mendengar argumen “pernah lihat angin tidak”.

    “Evolusi itu bisa diamati karena hingga sekarang masih berlangsung. Misalnya, pada tahun 1971, beberapa kadal dari pulau Pod Kopiste di Kroasia dipindah ke pulau pod Mrcaru. Pulau Pod Kopiste tidak banyak tumbuhan sehingga memakan serangga, sementara di pulau Pod Mrcaru ada banyak tumbuhan. Setelah ditinggal selama beberapa dekade, ketika ditemukan kembali, kadal di pulau Pod Mrcaru mengalami proses evolusi. Kadal tersebut mengembangkan caecal valve, yaitu organ yang penting untuk mengolah selulosa dalam tumbuhan, yang sebelumnya tidak ada. Atau, jika Anda pergi ke laboratorium Richard Lenski di Amerika Serikat, Anda bisa saksikan sendiri bagaimana bakteri e **** yang sebelumnya tak bisa mengolah asam sitrat, karena evolusi dengan seleksi alam muncul e **** yang bisa mengolah asam sitrat.”

    "Lagipula, Anda lagi-lagi terjeblos dalam kesesatan ad ignoratiam. Jika ingin konsisten dengan logika Anda, Anda akan mengatakan bahwa pohon tidak pernah tumbuh karena Anda tak pernah melihat langsung bagaimana pohon tumbuh. Lebih lagi, Anda kembali melakukan kesalahan dengan mengasumsikan bahwa sains itu hanya terdiri dari pengamatan langsung.... “

    Si murid memotong, “Apakah ada dari kelas ini yang pernah melihat otak Profesor? Apakah ada orang yang pernah mendengar otak Profesor, merasakannya, menyentuhnya atau menciumnya? Tampaknya tak seorang pun pernah melakukannya. Jadi, menurut prosedur pengamatan, pengujian dan pembuktian yang disahkan, ilmu pengetahuan mengatakan bahwa professor tidak memiliki otak. Dengan segala hormat, bagaimana kami dapat mempercayai pengajaran professor?”

    Si professor tertawa dan menjawab, “Terima kasih sudah hadir di kelas ini sehingga saya bisa membenarkan kesalahan Anda walaupun Anda terus menerus mengulanginya. Sekali lagi, sains itu tidak terbatas kepada “melihat” sesuatu. Sains itu juga rasional. Kita dapat menyimpulkan berdasarkan bukti yang ada. Dan salah satu simpulan yang dapat saya tarik dengan mengamati perilaku Anda hari ini adalah bahwa Anda telah membuang-buang uang karena tidak membaca buku logika yang sudah Anda beli. Jadi saya sarankan bacalah buku itu kembali dari halaman satu agar tidak terus menerus mengulangi kesalahan yang sama.”

    - Dan murid itu adalah orang yang tidak banyak membaca...
    Last edited by Nowitzki; 14-06-2012 at 03:09 PM.
    Four tines is a fork. Three tines is a trident. One is for eating, one is for ruling the seven seas.

  2. #2
    dulu saya udah bahas tuntas di sini: http://www.kopimaya.com/forum/showth...ll=1#post72644

    - - - Updated - - -

    dan ya, itu kisah bisa dikatakan hoax
    you can also find me here

  3. #3
    ah mus, kau bener2 thread killer
    Four tines is a fork. Three tines is a trident. One is for eating, one is for ruling the seven seas.

  4. #4


    ya udah deh, kita bahas apa jadinya? relevansi harga kenaikan cabe terhadap tingkat kepedasan dan jatah sambel di rumah makan padang?

    you can also find me here

  5. #5
    Chief Barista cha_n's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    11,544
    *tepok pundak nowitzki

    @rumus
    Gw ketawa.baca thread sebelah... lu ngobrol ama tembok
    ...bersama kesusahan ada kemudahan...

    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” ― -Mohammad Hatta
    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama akses internet, karena dengan internet aku bebas.” ― -cha_n

    My Little Journey to India

  6. #6
    udah biasa kok cha_n, cuek aja

    eh, hati2 lho, itu bukan tepok pundah, tapi ngelap ingus
    you can also find me here

  7. #7
    pelanggan tetap purba's Avatar
    Join Date
    Mar 2011
    Posts
    1,672
    Ane masih gak ngeh, apa yg mau disampaikan oleh TS?


  8. #8
    Chief Barista cha_n's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    11,544
    ts tanya kisah einstein itu hoax apa bukan. dijawab rumus hoax dan udah pernah dibahas.
    lalu ts merasa sedih karena baru buka thread ternyata ga lama sudah langsung terjawab.
    mudah2an eyang purba bisa maklum
    ...bersama kesusahan ada kemudahan...

    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” ― -Mohammad Hatta
    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama akses internet, karena dengan internet aku bebas.” ― -cha_n

    My Little Journey to India

  9. #9
    Barista AsLan's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    9,288
    btw...

    Filsafat Tuhan dan Kejahatan adalah salah satu topik yang sudah dipikirkan dan diperdebatkan dalam kekristenan sejak ribuan tahun.

    Pertanyaan dasarnya adalah "Kalau Tuhan itu maha baik dan maha kuasa, mengapa ada evil ?"

    (evil maksudnya adalah kejahatan dan penderitaan).

    Cerita hoax Albert Einstein diatas itu mencatut pikiran seorang tokoh Kristen yang paling berpengaruh dalam budaya kekristenan yaitu Agustinus atau Saint Augustine (13 November 354 – 28 August 430).


    Saat itu Agustinus mengatakan bahwa "Evil is only privatio boni or an absence of good such as in discord, injustice, and loss of life or of liberty"

    Pendapat dari Agustinus ini masih belum cukup menyelesaikan perdebatan mengenai Tuhan dan Evil, maka dalam sejarah ke kristenan masih muncul tokoh2 yang menjawab semua pertanyaan ini secara filsafat.

    Tokoh lain yang menjawab pertanyaan ini dengan cukup tuntas adalah seorang ahli matematika jerman, Gottfried Wilhelm Leibniz (1 July 1646 – 14 November 1716), Filsafat Leibniz pernah dibahas selama beberapa minggu di gereja gw beberapa tahun yang lalu.

    Filsuf jaman modern yang membahas problem ini adalah Alvin Platinga, gw punya bukunya tapi jujur gak abis dibaca karena terlalu memusingkan

    (tapi kayaknya ada yg merangkum di wiki tuh, lebih simple, silahkan kalo mau baca: http://en.wikipedia.org/wiki/Alvin_P...e_will_defense)

    - - - Updated - - -

    kalo ada anak KM yang mau baca pendapatnya platinga dan bisa menyimpulkannya dalam bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti, gw akan berterima kasih.

  10. #10
    pelanggan setia Yuki's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Location
    Buitenzorg
    Posts
    6,365
    Pertanyaan dasarnya adalah "Kalau Tuhan itu maha baik dan maha kuasa, mengapa ada evil ?"
    inspirasi kebaikan dan kejahatan itu sama-sama datangnya dari Tuhan

    why? Tuhan ingin melihat, siapa-siapa saja yg memilih kebaikan dan siapa-siapa saja yg memilih kejahatan
    ELPHELT VALENTINE'S MARIONETTE.

  11. #11
    Quote Originally Posted by purba View Post
    Ane masih gak ngeh, apa yg mau disampaikan oleh TS?


    bukan nanya sih chan, udha tahu kalo hoax dari dulu

    sebenernya yang aq suka (dan mau kubahas) adalah reformulasi ceritanya (yang ku spoiler)

    - - - Updated - - -

    Quote Originally Posted by cha_n View Post
    @rumus
    Gw ketawa.baca thread sebelah... lu ngobrol ama tembok
    sama. aq pengen komen, tapi setelah kupikir2 lagi, biarin ah,
    rumus pasti bisalah nanganin kayak gitu sendiri ...
    Four tines is a fork. Three tines is a trident. One is for eating, one is for ruling the seven seas.

  12. #12
    Barista BundaNa's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Location
    Na...Na...Na
    Posts
    12,679
    Tuhan menciptakan segalanya kog, juga kejahatan dan kebaikan. Tapi Tuhan sudah memberikan arahan tentang kejahatan dan kebaikan serta akibat2nya.

    Tinggal pinter2 manusia yg dikasih otak juga hati untuk menggalinya.

    Menimpakan semua kejadian kepada Tuhan juga merupakan "kesesatan" berpikir

  13. #13
    Quote Originally Posted by AsLan View Post
    kalo ada anak KM yang mau baca pendapatnya platinga dan bisa menyimpulkannya dalam bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti, gw akan berterima kasih.
    udah baca. masih gak ngerti

    - - - Updated - - -

    As Plantinga summarised his defense:[12][13]

    A world containing creatures who are significantly free (and freely perform more good than evil actions) is more valuable, all else being equal, than a world containing no free creatures at all. Now God can create free creatures, but He can't cause or determine them to do only what is right. For if He does so, then they aren't significantly free after all; they do not do what is right freely. To create creatures capable of moral good, therefore, He must create creatures capable of moral evil; and He can't give these creatures the freedom to perform evil and at the same time prevent them from doing so. As it turned out, sadly enough, some of the free creatures God created went wrong in the exercise of their freedom; this is the source of moral evil. The fact that free creatures sometimes go wrong, however, counts neither against God's omnipotence nor against His goodness; for He could have forestalled the occurrence of moral evil only by removing the possibility of moral good.
    Kalo dari pemahamanqu sih, menurut Platinga, Tuhan menciptakan manusia yang free will. Tapi, dia gak bisa menciptakan manusia yang free will hanya dengan kemampuan untuk melakukan kebaikan, maka Tuhan juga harus memberikan kemampuan melakukan kejahatan. Tujuannya agar manusia bisa memilih kebaikan daripada kejahatan. Dan kalau sampai manusia melakukan kejahatan, maka itu dianggap sebagai hasil dari free will manusia itu sendiri.

    "Fakta bahwa makhluk bebas kadang-kadang salah, bagaimanapun, tidak berpengaruh atas kemahakuasaan Tuhan maupun atas kebaikan-Nya, karena Ia bisa mencegahnya terjadinya kejahatan moral hanya dengan menghapus kemungkinan baik moral."
    Four tines is a fork. Three tines is a trident. One is for eating, one is for ruling the seven seas.

  14. #14
    Barista BundaNa's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Location
    Na...Na...Na
    Posts
    12,679
    Kalau tidak ada kejahatn di muka bumi ini maka neraka kosong

    Seperti

    Kalau semua penjahat ngaku, maka penjara penuh? Apa gunanya polisi



    Sama kagak tuh?

    *berasa meteor garden

  15. #15
    Barista AsLan's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    9,288
    Quote Originally Posted by Nowitzki View Post
    udah baca. masih gak ngerti

    - - - Updated - - -



    Kalo dari pemahamanqu sih, menurut Platinga, Tuhan menciptakan manusia yang free will. Tapi, dia gak bisa menciptakan manusia yang free will hanya dengan kemampuan untuk melakukan kebaikan, maka Tuhan juga harus memberikan kemampuan melakukan kejahatan. Tujuannya agar manusia bisa memilih kebaikan daripada kejahatan. Dan kalau sampai manusia melakukan kejahatan, maka itu dianggap sebagai hasil dari free will manusia itu sendiri.

    "Fakta bahwa makhluk bebas kadang-kadang salah, bagaimanapun, tidak berpengaruh atas kemahakuasaan Tuhan maupun atas kebaikan-Nya, karena Ia bisa mencegahnya terjadinya kejahatan moral hanya dengan menghapus kemungkinan baik moral."
    kalimat yang terakhir koq malah kayak kontradiksi ya ?
    kalo Ia bisa mencegah terjadinya kejahatan moral dengan menghapus kebaikan moral kenapa hal itu tidak dilakukan ?

  16. #16
    Chief Barista cha_n's Avatar
    Join Date
    Feb 2011
    Posts
    11,544
    Quote Originally Posted by Nowitzki View Post
    bukan nanya sih chan, udha tahu kalo hoax dari dulu

    sebenernya yang aq suka (dan mau kubahas) adalah reformulasi ceritanya (yang ku spoiler)
    oh reformulasinya ya...


    tapi dah di bahas di thread sebelah juga sebenarnya, walau ga spesifik ya? dan kayaknya berpotensi thread sebelah pindah ke marih.
    gabung trus pindah ke forum ide?
    ...bersama kesusahan ada kemudahan...

    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” ― -Mohammad Hatta
    “Aku Rela di Penjara asalkan bersama akses internet, karena dengan internet aku bebas.” ― -cha_n

    My Little Journey to India

  17. #17
    You better exist God. Kalau tidak ada, siapa yang harus bertangung jawab atas semua kekacauan ini.

  18. #18
    gogon's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Location
    earth
    Posts
    4,845
    jadi di kisah hoax itu, einstein yg jadi muridnya ya..
    biarpun hoax, tapi cerita nya keren juga
    Spoiler for sensor:
    lucu juga ngeliat ec0|i disensor krn kata c0|i

  19. #19
    begini, bagi kaum theistik yg percaya bahwa tuhan memiliki sifat maha, secara umum, ada empat pandangan mengenai kejahatan

    1. Kejahatan adalah akibat yg diperlukan dari kebaikan. Contoh, api sifat dasarnya adalah bermanfaat untuk kebaikan (memasak dll) tetapi api juga tidak dapat ada tanpa sifatnya yg destruktif. Kejahatan ada karena akibat yg tak terhindarkan dari kebaikan. Menghapuskan kejahatan secara total sama artinya dg menghapus sebabnya yakni kebaikan. Seperti menghapus total sifat pamer/sombong, sama artinya harus dg menghapus total sikap dermawan. Tuhan memiliki sifat absolut dan maha baik, tapi kejahatan ada.

    2. kejahatan menambah keragaman di dunia dan karena itu membuat dunia kita menjadi dunia terbaik diantara dunia-dunia yang mungkin (diciptakan) (the best of all possible worlds). Menurut pandangan ini, kejahatan dibenarkan bukan karena klaim bahwa ia tak terhindarkan agar dapat memunculkan beberapa kebaikan yang penting, tetapi karena klaim bahwa ia memiliki nilai positifnya sendiri. Jika kejahatan dihilangkan kita akan mendapati kurangya keragaman (sebagaimana dikatakan oleh Leibnitz). Hadirnya kejahatan memberi dunia kita jumlah keragaman yang lebih besar dibandingkan jika tidak ada; karenanya, dunia ini akan lebih baik bila ada kejahatan dan akan lebih baik dari dunia apapun yang kurang memiliki campuran antara kebaikan dan kejahatan. Bayangkan dunia tanpa kejahatan, dunia bakal mati, dan buat apa ada manusia?

    3. Kejahatan adalah sarana menuju kebaikan. Menampar anak kecil adalah kejahatan, tetapi ini berguna untuk mendisiplinkan anak. Kejahatan adalah sarana menuju hal-hal yg lebih baik. bagaimana bisa dilakukan kebaikan (yg bersifat positif) jika sebelumnya tidak ada hal jahat (yg negatif)? Nelson Pike memandang kejahatan seperti ini sbg "higher good defense"/pembelaan atas kebaikan yg lebih tinggi. Jika ada seorang bapak menampar anaknya, jelas menampar anak kecil adalah sebuah keburukan, tetapi hal ini merupakan sarana menuju kebaikan yg lebih tinggi--untuk mendisiplinkan anak. Maka, seorang ayah, meskipun bertanggung jawab dalam hal menampar anaknya, terbebas dari kesalahan yang menimbulkan kejahatan: ia memiliki “alasan moral yang kuat.” Pike berpendapat bahwa argumen yang sama dapat diterapkan pada Tuhan.

    Tuhan, yang memiliki pengetahuan tentang penderitaan yang dialami oleh makhluk-makhluk tertentu ketika ditimpa penyakit, penderitaan, dan seterusnya, dan memiliki kuasa untuk mencegah penderitaan semacam itu, namun ternyata masih tetap tidak mencegahnya. Namun Tuhan tidak bisa dituduh jahat, karena alasan melakukan itu secara moral adalah kuat: Tuhan yang menyebabkan atau tidak mencegah kejahatan memiliki tujuan untuk menghasilkan kebaikan yang lebih tinggi, untuk individu yang ditimpa kejahatan atau untuk alam semesta secara keseluruhan. Dengan kata lain, Jika Tuhan mencegah menghasilkan beberapa kejahatan, maka sama saja Dia mencegah menghasilkan beberapa kebaikan yang lebih tinggi.

    Tetapi, bagi sebagian orang, analogi antara manusia dan Tuhan ini dapat menimbulkan pertanyaan lebih lanjut. Memang sulit bagi seorang ayah, dengan keterbatasan manusiawinya, mendisiplinkan anaknya tanpa menampar/membentak. Tetapi Tuhan dianggap memiliki kekuasaan yang absolut, dan karena itu pasti dapat menghasilkan kebaikan tanpa harus memakai sarana kejahatan. Karenanya, ada usulan yg keempat, yg bawa2 nama si Alvin Platinga,

    4. Kejahatan bukanlah tindakan Tuhan atau produk dari tindakan Tuhan, melainkan produk dari kebebasan kehendak manusia. Ini adalah pembelaan yang dipergunakan untuk membebaskan Tuhan dari tanggung jawab atas kejahatan moral, bukan kejahatan metafisis.

    Jika manusialah yang, karena kebebasan mereka, menimbulkan kejahatan moral, maka, ditegaskan bahwa hadirnya kejahatan semacam itu tidaklah bertentangan dengan kebaikan Tuhan. Tetapi harus dinyatakan pula bahwa merujukkan kejahatan moral kepada kebebasan kehendak manusia tidaklah dengan sendirinya menawarkan solusi yang sempurna atas masalah kejahatan. Di samping fakta bahwa solusi yang terpisah harus disediakan untuk kejahatan fisik dan metafisik, harus diuraikan pula dua hal penting berkenaan dengan kebebasan manusia: alasan Tuhan menyebabkan atau mengizinkan adanya kebebasan kehendak manusia, yang mengetahui bahwa dengan adanya kebebasan kehendak itu, kemungkinan kejahatan juga ada; dan apakah Tuhan dapat membuat orang berbuat benar setiap saat meski dengan fakta bahwa mereka itu bebas. Pembelaan yang memberikan jawaban kepada dua hal tersebut sekarang biasa disebut dengan “pembelaan atas kebebasan kehendak”.

    “Pembelaan atas kebebasan kehendak”/free will defense mengklaim bahwa dunia dengan makhluk yang memiliki kuasa untuk apa yang baik dan apa yang buruk secara bebas, adalah lebih baik daripada sebuah dunia yang di dalamnya makhluk hanya melakukan apa yang benar, tetapi tidak secara bebas. Ini adalah jawaban terhadap poin pertama yang disinggung di atas, tetapi ia hanya salah satu tesis dari “pembelaan atas kebebasan kehendak,” dan bukan yang paling fundamental. Garis argumen yang diambil untuk merespon poin kedua adalah garis argumen yang berada pada pusat perdebatan yang hangat dalam pemikiran kontemporer. Menurut argumen ini, Tuhan tidak dapat memberi kebebasan pada makhluk dan pada saat yang sama menjamin bahwa makhluk ini akan selalu melakukan apa yang benar secara bebas.

    Tesis yang kedua ini membutuhkan tesis yang pertama agar pembelaan itu bisa sempurna. Jika Tuhan tidak dapat memberi kebebasan pada orang dan pada saat yang sama membuat mereka selalu dan dengan bebas menjalankan perbuatan yang benar, mengapa Tuhan tidak menahan kebebasan mereka agar mereka dapat menghindari keberadaan atau kemungkinan kejahatan moral? Pembela atas kebebasan kehendak siap menyatakan bahwa kebebasan adalah lebih baik daripada tanpa-kebebasan, dan bahwa sebuah dunia dengan kebebasan semacam itu adalah lebih diinginkan dan lebih baik daripada sebuah dunia tanpa kebebasan.

    Dengan kata lain, “pembelaan atas kebaikan yang lebih tinggi” adalah langkah pertama yang harus diambil di dalam “pembelaan atas kebebasan kehendak”. Ketika langkah itu diambil, maka pembela atas kebebasan kehendak harus menegaskan ketidaksesuaian antara premis “Orang adalah bebas” dan premis “Tuhan dapat menentukan orang selalu berbuat benar secara bebas.”

    Ketidaksesuaian semacam itu dipertahankan dengan kuat oleh orang-orang seperti John Hick dan Alvin Plantinga. Tetapi ketidaksesuaian tersebut, sebagai inti dari “pembelaan atas kebebasan kehendak”, juga memiliki lawan yang tangguh, seperti John Mackie, Antony Flew, dan Dewey Hoitenga.


    *prett, saya nulis apaan?
    Last edited by E = mc˛; 15-06-2012 at 05:13 PM.
    you can also find me here

  20. #20
    pelanggan tetap Serenade's Avatar
    Join Date
    Apr 2011
    Posts
    943
    Terus John Mackie, Antony Flew, dan Dewey Hoitenga ngomong apa, Mus?

Page 1 of 3 123 LastLast

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •